NovelToon NovelToon
AJIAN RAJAH

AJIAN RAJAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Misteri
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: Alvian Adi Pratamaa

Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.

"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 PERBURUAN DI CANDI CETHO

Angin di lereng Gunung Lawu menusuk sampai tulang.

Candi Cetho berdiri diam di atas ketinggian, batu-batunya hitam legam seperti sudah diminum waktu selama seribu tahun.

Raka berhenti 50 meter sebelum gapura utama.

Napasku berat. Bukan karena lelah lari dari pasar Matesih.

Tapi karena di dadaku, tato macan itu berdenyut seperti jantung kedua.

*"Dia ada di dalam,"* gumam Raka. Suara serak, bukan suaraku. Suara Kala Rahu.

*"Wangi darah... wangi pengkhianatan."*

Di belakangnya, 8 orang turun dari 4 motor trail. Wajah mereka tertutup sarung batik hitam. Di tangan masing-masing, keris tua yang bergetar pelan.

Para Wali.

Yang di depan melangkah maju. Postur tegap, sorot mata tajam. Suaranya berat seperti tanah longsor.

*"Raka Wiraatmaja,"* katanya. *"Kembalikan pusaka Keris Kyai Kala Naga. Dan serahkan dirimu untuk diadili."*

Raka tersenyum. Tapi yang tersenyum bukan dia.

Mulutnya menganga sedikit, gigi taring memanjang setengah senti.

*"Adili?"*

*"Aku yang akan mengadili kalian."*

---

Tanpa aba-aba, 8 Wali bergerak bersamaan.

Keris di tangan mereka berpendar biru. Udara di sekitarnya jadi dingin, bau kemenyan dan tanah kuburan menyembur.

*"Tutup pintu langit!"* teriak sang pemimpin.

Empat keris ditancapkan ke tanah. Empat lainnya mengarah ke Raka.

Cahaya biru membentuk kubah, mengurung area 20 meter persegi.

Garis-garis aksara Jawa kuno menyala di udara, berputar seperti rantai.

*"Pagar Gaib Walisongo!"*

*"Kau tak bisa lari, iblis!"*

Raka tidak lari.

Dia menutup mata.

Dan membiarkan Kala Rahu keluar.

*KRAAAKKK!!!*

Tato macan di dadanya robek. Darah hitam menyembur, membentuk pola cakar di udara.

Langit mendadak gelap. Awan menggumpal, petir merah menyambar di kejauhan.

*"ROAAARRR!!!"*

Suara raungan bukan manusia.

Dari tubuh Raka, muncul bayangan macan setinggi 3 meter. Tubuhnya transparan, matanya nyala api. Cakarnya panjang seperti sabit.

Kala Rahu merasuki penuh.

*"Pagar gaib?"*

Suara Raka berubah. Berat, bergema, seperti berasal dari dalam perut bumi.

*"Aku yang menciptakan pagar untuk menjerat kalian 1000 tahun lalu!"*

Macan bayangan menerkam.

*BUAAAKKK!!!*

Salah satu Wali terpental 10 meter. Tulang rusuknya patah. Keris di tangannya hancur jadi debu.

Tiga Wali lainnya langsung melompat, menusukkan keris ke kaki macan bayangan.

*SRRRAAAKKK!!!*

Darah hitam muncrat. Tapi macan itu tidak merasakan sakit.

Dia merobek dada satu Wali dengan cakaran, meremukkan jantungnya di udara.

*"SATU!"*

*"SIAPA LAGI YANG MAU MATI DEMI AJARAN PALSU?!"*

Sang pemimpin Wali tidak gentar. Dia mencabut keris pusaka di pinggangnya.

Bilahnya emas, gagangnya ukiran kepala naga.

*"Kyai Kala Naga!"*

*"Waktunya kau kembali ke tuannya!"*

Keris itu dilempar.

Berputar cepat, mengarah tepat ke jantung Raka.

Raka tidak menghindar.

Dia menangkapnya dengan tangan kosong.

*SLEPPPT!!!*

Telapak tangannya tembus. Darah hitam dan emas bercampur.

Tapi di wajah Raka, tidak ada rasa sakit. Hanya senyum lebar yang gila.

*"Bagus..."*

*"Sekarang... aku punya 9 pusaka."*

---

Di luar pagar gaib, tanah bergetar.

Dari dalam perut Candi Cetho, terdengar suara rantai besi ditarik.

Dan suara tawa perempuan.

*"Kikiki... akhirnya... akhirnya dia datang..."*

Tujuh Wali yang tersisa menoleh. Wajah mereka pucat.

*"Nyi Blorong..."*

Gapura utama Candi Cetho terbuka sendiri.

Debu dan asap hitam keluar seperti napas naga.

Dan dari kegelapan itu, melangkah keluar sosok perempuan.

Rambutnya panjang sampai tanah. Gaunnya terbuat dari sisik emas.

Matanya merah. Di tangannya, sebilah keris kecil berlumuran darah.

*Keris Kyai Kala Rahu.*

Nyi Blorong tersenyum. Menatap Raka.

*"Anakku..."*

*"Waktunya kau memilih."*

*"Ikut aku... dan 9 pusaka Majapahit akan tunduk padamu."*

*"Atau lawan aku... dan aku akan memakan jiwamu... bersama jiwanya."*

Raka menoleh ke 7 Wali yang masih berdiri.

Lalu menatap keris di tangannya.

Lalu menatap Nyi Blorong.

Dia mengangkat keris Kyai Kala Naga tinggi-tinggi.

*"AKU PILIH... KEDUANYA!"*

*KRAAAKKK!!!*

Petir merah menyambar Candi Cetho.

Pagar gaib retak.

Dan perburuan... baru dimulai.

Keris Kyai Kala Naga bergetar di tangan Raka.

Emas dan darah hitam bercampur, mengeluarkan asap panas yang berbau besi dan kemenyan terbakar.

*"KEDUANYA?"*

Suara Nyi Blorong melengking. Matanya menyipit berbahaya.

*"Kau kira bisa mempermainkan aku, anak haram?"*

Tujuh Wali mundur selangkah. Pagar gaib yang retak mengeluarkan suara retakan kaca.

Sang pemimpin Wali menelan ludah. Suaranya serak.

*"Tutup formasi! Jangan biarkan dia menyentuh pusaka kedua!"*

Terlambat.

Raka menghentakkan kaki ke tanah.

*DUAAARRR!!!*

Tanah di sekitar Candi Cetho retak membentuk lingkaran.

Dari celah itu, keluar rantai-rantai hitam berukir aksara Jawa kuno.

Rantai itu melilit kaki 7 Wali dalam sekejap.

*"APA INI?!"*

*"AJIAN APA INI?!"*

*"Ajian Rajah Kala."*

Suara Raka bukan lagi suaranya. Bergema, berat, seperti datang dari dasar jurang.

*"Rantai yang mengikat 1000 jiwa pengkhianat Majapahit."*

Kala Rahu tertawa di dalam kepala Raka.

*"BAGUS ANAK MANUSIA! INGAT... KEKUATAN INI DATANG DENGAN HARGA!"*

Di atas, Nyi Blorong mengangkat Keris Kyai Kala Rahu tinggi-tinggi.

Sisik emas di gaunnya bergerak hidup, seperti ular.

*"Kalau begitu..."*

*"Aku akan mengambil semuanya SEKARANG!"*

Keris itu dihunjamkan ke dadanya sendiri.

*JLEBBB!!!*

Darah emas menyembur.

Tapi Nyi Blorong tidak mati.

Tubuhnya berubah. Sisik emas merambat ke wajahnya, kukunya memanjang jadi cakar 20 cm. Matanya menjadi pupil vertikal seperti ular.

*"Naga Emas Bangkit!"*

*ROAAARRR!!!*

Suara raungan mengguncang Gunung Lawu.

Dari tubuh Nyi Blorong, muncul bayangan naga emas sepanjang 10 meter. Tubuhnya tembus pandang, tapi setiap sisiknya menyala seperti bara.

Dua kekuatan besar bentrok di udara.

*Macan Hitam Kala Rahu vs Naga Emas Nyi Blorong.*

*BUAAAKKK!!! CRAAAKKK!!!*

Gelombang kejut menghancurkan 3 anak tangga Candi Cetho.

Batu-batu kuno berhamburan. 2 Wali yang lemah mental langsung pingsan.

Raka terlempar 5 meter. Punggungnya menghantam batu.

Darahan hitam keluar dari mulutnya. Tapi dia tertawa.

*"INILAH YANG AKU MAU!"*

*"RASAKAN KEKUATAN SEJATI, WALI-WALI PALSU!"*

Dia merangkak, meraih keris Kyai Kala Naga yang terjatuh.

Darahnya menetes ke gagang keris.

Dan keris itu... menyala.

Aksara Jawa kuno di bilahnya bergerak hidup. Membentuk kalimat:

*"YANG MEMILIKI 9 PUSAKA... ADALAH RAJA BARU MAJAPAHIT."*

Sang pemimpin Wali melihat itu. Matanya membelalak.

*"TIDAK! JANGAN BIARKAN DIA!"*

*"BUNUH DIA SEKARANG JUGA!"*

Tiga Wali menerjang. Keris mereka mengarah ke leher Raka.

Tapi Raka sudah tidak ada di sana.

*SWOOSH!*

Dia muncul di belakang mereka. Kecepatan yang tidak manusiawi.

Tangan kirinya masih menyatu dengan bayangan Macan Kala Rahu.

*SRRRAAAKKK!!! SRRRAAAKKK!!! SRRRAAAKKK!!!*

Tiga kepala terpisah dari badan dalam 1 detik.

Darah muncrat ke batu candi. Mengalir ke ukiran-ukiran kuno, mengaktifkan simbol yang sudah mati 1000 tahun.

Candi Cetho... hidup.

*GROOOANNNGGG!!!*

Seluruh kompleks candi bergetar.

Api biru menyala dari celah-celah batu.

Suara ribuan orang berbisik terdengar dari dalam tanah.

*"RAJA... RAJA SUDAH KEMBALI..."*

Nyi Blorong yang sedang bertarung dengan Kala Rahu tiba-tiba berhenti.

Dia menoleh ke Raka. Wajahnya berubah dari marah... menjadi takut.

*"Tidak mungkin..."*

*"Dia... dia berhasil membangkitkan Candi!"*

Raka berdiri di tengah genangan darah.

Rambutnya basah. Matanya hitam pekat tanpa putih.

Di tangan kanan, Keris Kyai Kala Naga.

Di tangan kiri, rantai hitam yang masih mengikat 4 Wali yang tersisa.

*"Dengar kalian semua!"*

Suara Raka menggema sampai ke lembah Matesih.

*"Mulai malam ini... aku bukan lagi Raka Wiraatmaja!"*

*"Aku adalah... KALA RAJA!"*

*KRAAAKKK!!!*

Petir merah menyambar puncak Candi Cetho.

Dan untuk pertama kalinya dalam 1000 tahun...

Bendera Majapahit berkibar lagi.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!