"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Ruang Dalam Cincin
"Mana cincin itu, Wira?" tanya Dinda cepat, menatap langsung ke dalam manik mata pria di hadapannya.
"Ada. Tapi untuk apa?" sahut Wira dengan dahi berkerut bingung.
"Berikan padaku, biar kulihat! Apakah model dan bentuknya seperti ini?" Dinda lantas mengangkat tangan kirinya, menunjukkan jari tengahnya di mana sebuah cincin kuno tersemat di sana.
Wira melongokkan kepalanya, mengamati cincin Dinda dengan saksama. Matanya seketika membelalak. "Ya... itu sama. Cincin itu persis seperti milikku yang kubeli dari bapak tua malam itu," membenarkan dengan nada terkejut.
Pria bertubuh kekar itu lantas bangkit dari duduknya. Ia melangkah menuju sudut ruangan, membungkuk pelan mendekati kolong amben kayunya. Tangan kekarnya terulur meraih sebuah kotak kayu kecil yang berdebu. Setelah ditiup pelan, Wira membuka tutup kotak tersebut.
Di dalamnya, terbaring sebuah cincin logam kuno berbentuk bulan sabit. Sekilas dilihat, cincin itu memang tampak biasa saja seperti aksesori loak pada umumnya. Namun, jika diperhatikan lebih lekat di bawah pendar lampu pelita, cincin milik Wira memiliki sisi unik yang membedakannya—di bagian ujung lengkungan bulan sabitnya memperlihatkan sebuah retakan atau patahan yang sedikit samar, seolah cincin itu dipaksa terpisah dari pasangannya.
"Wira...! Ini benar-benar sama! Modelnya, guratan logamnya, semua sama persis!" ucap Dinda takjub saat Wira menunjukkan benda itu di depan wajahnya. "Kau tahu? Di dalam cincin ini, ada sebuah ruang ajaib yang tidak akan bisa kaupercaya begitu saja sebelum melihatnya sendiri. Tapi ini benar-benar nyata."
Dinda mengambil cincin itu dari kotak kayu. "Sekarang, pakailah cincin ini."
Dengan lembut, Dinda meraih jemari kasar Wira dan memasangkan cincin bulan sabit itu ke jarinya. Ajaibnya, ukuran cincin itu langsung bergeser pas, tersemat dengan begitu indah di jemari tegap sang pemburu.
"Sekarang, lihat aku," kata Dinda memberi instruksi.
Gadis itu lantas menautkan kedua telapak tangannya di depan dada. Dengan perlahan, ia mengusap permukaan cincin bulan sabit miliknya sendiri, lalu memejamkan mata dengan khusyuk.
Wuzzzh!
Tepat di hadapan mata kepala Wira, tubuh ramping Dinda mendadak lenyap begitu saja. Gadis itu menghilang seolah-olah baru saja ditelan oleh embusan udara malam.
"Hah...?! Dinda...?! Kau di mana?!" panggil Wira berteriak dengan nada tertahan, matanya bergerak panik mengitari seluruh penjuru kamar yang mendadak sepi.
Sama sekali tidak ada jawaban. Atmosfer kamar terasa senyap selama beberapa detik, sampai akhirnya...
Wuzzzh!
Udara di depan amben kembali berdesir, dan tubuh Dinda dengan tiba-tiba muncul kembali di tempat semula sambil menyunggingkan senyum tak bersalah.
"Dinda!" Tanpa babibu lagi, Wira yang dirundung kepanikan hebat langsung merangsek maju dan memeluk erat tubuh Dinda ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Jantung pria itu bertalu-talu karena takut wanitanya hilang arah.
"Hei... tenang, Wira! Aku tidak ke mana-mana, aku aman," ucap Dinda tertawa kecil, membalas tepukan menenangkan di punggung tegap Wira.
Wira mengembuskan napas lega yang berat, perlahan melepaskan pelukan eratnya meskipun kedua tangannya masih betah bertengger di bahu Dinda.
"Coba lihat aku, dan ikuti gerakanku..." ucap Dinda membimbing.
Dinda kembali memperagakan taktiknya. Ia menautkan tangan, lalu ibu jarinya mengusap cincin bulan sabit dengan mata terpejam. Dan wuzzh! Tubuhnya mendadak menghilang lagi untuk kedua kalinya.
Wira kembali terkejut, namun kali ini ia tidak sepanik yang pertama. Pria itu mengingat dengan baik setiap kata dan instruksi Dinda. Ia lantas mencoba menautkan kedua telapak tangan kasarnya, menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mengusap permukaan cincin bulan sabit di jarinya sembari memejamkan mata rapat-rapat.
Wuzzzh!
Sensasi melayang yang aneh seketika menggelitik kesadaran Wira. Saat pria itu perlahan membuka kembali kelopak matanya, ia mendapati pandangannya tidak lagi menatap dinding bambu rumah pohon yang remang.
Wira sangat terkejut melihat hamparan tanah hijau, udara yang teramat segar, dan pemandangan asing yang begitu indah di sekelilingnya.
"Aku... di mana ini?" ucapnya bingung dengan suara bergetar. "Dinda...?! Dinda, kamu di mana?!" teriak Wira memanggil nama gadis itu dengan cemas.
"Wira...! Aku di sini!" teriak Dinda menyahut dari balik sebuah pohon kelengkeng yang berdaun sangat lebat tak jauh dari sana.
Wira bergegas berjalan cepat mendekati sumber suara, begitu pula dengan Dinda yang setengah berlari menghampiri prianya.
"Dinda! Sebenarnya tempat apa ini? Bagaimana bisa ada dunia lain di dalam rumah kita?" tanya Wira benar-benar bingung menatap cakrawala di ruang tersebut.
"Inilah ruang ajaib yang ada di dalam cincin kita, Wira. Coba lihat tanganmu, cincin itu sudah tidak ada di jari kita selama kita berada di dalam sini, kan?" kata Dinda menunjuk jemari mereka yang polos. "Cincin itu adalah kuncinya, dan ini adalah dimensinya."
"Lalu... bagaimana caranya kita bisa kembali ke kamar?" tanya Wira masih meraba-raba logika fiksi ilmiah yang mendadak jadi nyata ini.
"Jika ingin kembali ke luar, cukup pejamkan saja matamu, lalu pusatkan seluruh pikiranmu pada tempat tujuan yang ingin kau tuju," ucap Dinda memberikan kunci rahasianya.
Wira mengangguk paham, merasa tertantang untuk mencoba. Pria itu memejamkan matanya kembali, menghela napas, lalu memusatkan seluruh fokus pikirannya pada suasana kamar miliknya di rumah pohon Mbok Ginem.
Wuzzzh!
Seketika itu juga, tubuh kekar Wira menghilang dari hadapan Dinda, menyisakan embusan angin lembut, dan langsung bermaterialisasi kembali dengan mulus di atas lantai bambu kamarnya yang hangat.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍