Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.
Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.
Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.
Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.
Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan yang Abu-abu
"Bagaimana pelaku bisa begitu tahu titik buta kamera pengawas? Staff hotel?" tanya Gerry lebih kepada diri sendiri. Arga melirik Gerry yang masih menatap layar komputer.
"Siapa saja yang dapat mengakses ruang kontrol CCTV?" tanya Arga. Gerry menoleh ke arah Arga.
"Menurut investigasi, ruang kontrol hanya dapat diakses oleh petugas keamanan dan pihak managemen hotel," kata Gerry.
Arga mengerutkan kedua alisnya. Teori bahwa pelaku pembunuhan kemungkinan staff hotel sepertinya terlalu mudah disimpulkan —mengingat sejauh ini pelaku begitu rapi dalam melakukan aksinya.
"Bagaimana dengan pihak luar?" tanya Arga. Gerry mengernyit sesaat sebelum akhirnya menjawab.
"Jika ada tamu atau pihak luar ingin melihat rekaman CCTV, pihak managemen hotel dan keamanan tetap melakukan pendampingan, seperti saat tim kita meminta salinan video ini kemarin," kata Gerry.
Arga kembali menatap ke arah layar komputer yang menampakkan momen saat pintu kamar dua kosong lima terbuka. Tak ada yang tahu apa yang terjadi pada waktu itu. Bahkan tak ada yang tahu siapa yang ada disana saat pintu itu terbuka.
Gerry kembali menggeser mouse dan menekan tombol play pada layar komputer, untuk melihat lebih teliti lagi, apa yang bisa dia temukan dari rekaman itu. Gerry kembali menghentikan video.
"Pak," panggil Gerry. Arga yang sedang terpekur menoleh cepat ke arah Gerry.
"Ada lagi yang janggal?" tanya Arga sambil mencondongkan tubuhnya kembali ke layar komputer.
"Ternyata hal yang sama terjadi tiga puluh menit sebelumnya," kata Gerry sambil memutar kembali video dan menunjukkan waktunya. Arga kembali mengernyit.
"Itu artinya..."
"Orang yang sama datang dua kali?" tanya Gerry. Kedua alis Arga masih mengerut. Dia memutar bola matanya seiring otaknya berputar mencari kemungkinan lain.
"Datang dua kali?" gumam Arga. Dia menarik tubuhnya menjauhi layar komputer.
"Untuk apa?" tanya Arga sambil mengernyit.
Gerry kembali menatap komputer di hadapannya seolah akan menemukan jawabannya disana.
"Pertanyaannya..." kata Arga sambil menatap tajam video yang berhenti di layar komputer.
'Apa yang sebenarnya terjadi?'
***
"Bagaimana menurut Anda?" tanya Misty pada Anjas yang sedang membaca halaman naskah yang Misty tunjukkan.
Rania merasa ngeri.
Dua pembunuhan.
Cara yang sama.
Tertulis di naskah yang sedang dia tulis.
Rania merasa berada dalam area abu-abu, dimana dia sendiri mempertanyakan dirinya sendiri:
Mungkinkah aku yang melakukan semua itu?
Rania menatap layar laptopnya dengan nanar. Ide yang dia pikir akan menjadi karya yang menghebohkan dunia, justru malah menghancurkan dirinya sendiri.
Dalam ketakutannya, Rania menekan tombol delete pada keyboard. Lalu tersenyum.
Aku bebas.
"Endingnya..." gumam Anjas sambil menoleh ke arah Misty.
Misty menggigiti kuku jarinya sambil menatap naskah di tangan Anjas. Anjas dapat melihat kecemasan dalam dirinya.
"Nona Misty," panggil Anjas sambil meletakkan The Novelist kembali ke atas meja. Misty menoleh.
"Apakah Anda merasa..."
"Rania adalah... Anda?" tanya Anjas hati-hati.
Misty berhenti menggigiti kuku jarinya. Dia menatap Anjas dalam-dalam. Anjas menangkap sedikit keraguan di mata Misty.
"Anda mungkin tidak mempercayai saya," kata Anjas, sangat hati-hati.
"Tapi, satu atau dua informasi dari Anda akan sangat membantu mengungkap kasus ini," lanjut Anjas, mencoba membujuk Misty untuk lebih terbuka.
Misty meremas jari-jarinya. Dia terdiam. Bukan karena dia tidak ingin menjawab, melainkan dia tidak tahu darimana dia harus menceritakan apa yang dia pikirkan dan rasakan.
"Mungkin... apa yang akan saya tanyakan... membuka luka lama," kata Anjas, berusaha sangat hati-hati dalam memilih kata. Misty menarik napas dalam-dalam, menyiapkan diri mendengar apa yang akan Anjas tanyakan.
"Pernahkah Nona mengalami... hal yang... menakutkan sebelumnya?" tanya Anjas akhirnya.
Dia melihat Misty tertunduk, masih meremas jari-jarinya.
"Anda bisa menceritakannya kapanpun Anda siap, Nona," kata Anjas.
Misty berhenti meremas jarinya. Dia mendongak, menatap Anjas. Anjas tersenyum.
"Saya akan kembali lagi," kata Anjas sambil beranjak dan berjalan menuju pintu depan. Misty menatap Anjas yang beranjak. Saat Anjas berjalan dua langkah, Misty membuka mulutnya.
"Saya..." kata Misty, menghentikan langkah Anjas. Anjas membalikkan badannya, menatap Misty yang menatapnya dalam-dalam.
"Saya... mungkin melakukannya," kata Misty akhirnya. Anjas perlahan kembali duduk di dekat Misty.
"Pembunuhan itu? Atau..."
"Tulisan itu?" tanya Anjas.
Anjas menatap kedua mata Misty yang terlihat bingung.
"Mungkin... keduanya," kata Misty. Anjas mengernyit.
"Apakah ada sesuatu yang membuat Anda ragu?" tanya Anjas hati-hati.
Misty tertunduk, terdiam. Dia kembali meremas jari-jarinya. Anjas menatap Misty dengan perasaan yang tak bisa dia jelaskan —kasihan, penasaran, prihatin, semua jadi satu.
"Ingatan saya..." kata Misty setelah terdiam cukup lama. Anjas menunggu dengan sabar.
"Saya merasa... terkadang seperti mengingat sesuatu," wajah Misty terlihat bingung.
"Tapi... kemudian saya merasa... saya tak mengingatnya," lanjutnya.
Anjas menarik napas dalam-dalam.
"Bolehkah... saya tahu penyebabnya?" tanya Anjas pada Misty.
Misty menatap Anjas cukup lama. Bayangan kejadian malam itu terlintas cepat di benaknya. Misty sempat memejamkan mata sesaat. Lalu membuka matanya perlahan.
"Kecelakaan..." kata Misty dengan suara serak dan bergetar. Anjas menatap Misty dalam-dalam.
"Sepuluh tahun yang lalu..." lanjutnya. Tubuhnya tiba-tiba bergetar. Dia memeluk erat tubuhnya sendiri.
Anjas menghela napas pelan. Untuk sesaat dia tak bisa menanyakan apapun. Dia melihat, kecelakaan itu memberi efek yang cukup berat untuk Misty.
Tiba-tiba Misty memejamkan matanya rapat-rapat, seperti menahan sakit. Tangannya memijit pelipis kuat-kuat.
"Nona Misty?"
Anjas segera mendekat ke arah Misty.
"Anda baik-baik saja?"
Misty merasakan kepalanya berdenyut. Suara panggilan Anjas tenggelam, melebur bersama suara mendengung yang bercampur suara klakson mobil dan ban berdecit keras kembali terdengar. Misty coba membuka matanya. Wajah Anjas yang panik terlihat kabur.
'Rachel,'
***
Gerry dan Arga sudah kembali ke ruang pengawas CCTV Hotel Harmoni. Keduanya ingin meminta pendapat pegawai keamanan terkait bagian video rekaman yang mereka temukan.
"Ini..." gumam petugas keamanan sambil memeriksa bagian yang ditunjukkan Gerry.
"Area blind spot," lanjut petugas. Gerry mengangguk.
"Apakah seluruh petugas keamanan mengetahui titik buta setiap kamera pengawas?" tanya Arga.
Petugas keamanan terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.
"Saya sendiri bahkan baru mengetahuinya hari ini," kata petugas itu. Gerry dan Arga saling tatap.
"Selain petugas hotel, adakah pihak luar yang bisa mengakses ruangan ini?" tanya Arga. Petugas keamanan hotel menggeleng.
"Tidak semua staf hotel bisa masuk kemari dengan bebas. Hanya pihak managemen hotel dan kami, petugas keamanan yang diperbolehkan masuk," kata petugas.
Arga mengernyit. Bola matanya bergerak perlahan. Otaknya berpikir keras.
"Bukankah sebulan yang lalu ada wanita yang masuk kemari bersama Pak Manager?" tanya petugas keamanan yang lain. Arga dengan cepat menoleh ke arah petugas itu.
"Wanita?" tanya Arga. Petugas itu sedikit terkejut lalu mengangguk.
"Saya ingat. Wanita itu memiliki mata yang cantik," kata petugas itu.
"Mata yang cantik?" tanya Arga. Petugas itu mengangguk.
"Dia memakai masker, jadi hanya terlihat matanya," kata petugas itu.
"Untuk apa dia masuk kemari?" tanya Gerry cepat. Petugas keamanan sedikit terlihat sedikit takut.
"I-itu. Dia bilang... dia merasa diikuti seseorang saat akan ke kamarnya,"
"Kamar? Nomor?" kini giliran Arga yang bertanya dengan nada tak sabar.
"Dua kosong enam,"
Arga dan Gerry saling tatap sejenak sebelum akhirnya keluar ruang pengawas meninggalkan para petugas keamanan yang saling tatap. Keduanya bergegas menuju meja resepsionis hotel.
***