Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8: Praktisi
Tubuh anak tersebut terlihat turun, dengan tubuh tegap dan tatapan tajam.
“Guru, aku berhasil”
Sang pembawa pedang tersenyum.
“Bagus”
“Apakah kau menyadari apa aliran ini namanya?”
“Menurutku lebih bagus kultivasi”
“Karena kegiatan ini mirip dengan bagaimana aku memupuk sedikit demi sedikit qi”
“Nama yang bagus”
“Lalu apakah kau memberikan tingkatan?”
“Untuk yang pertama saat aku latihan menguatkan tubuh itu kuanggap body tempering”
“Untuk yang kedua ketika aku berhasil merasakan qi secara sempurna dan membentuk dantian akan kusebut sebagai tahap fondasi”
“Dan yang terakhir akan kuanggap sebagai golden core karena aku bisa membentuk dantianku menjadi sebuah bijih emas”
“Tingkatannya sudah teratur dan apakah kau ingin mengetes kemampuannya?”
“Ya” sang anak menjawab dengan semangat.
Mereka berjalan ke sebuah gua dimana gua tersebut berisi seekor kera besar.
“Hei keluar kau”
Terdengar suara auman monster dari dalam.
“Kau… berani menggangguku?”
“Apakah kau lupa padaku?” sang pembawa pedang menatap dengan marah.
“KKK-Kau bagaimana mungkin kau masih hidup?” sang kera menunjuk ke arah pembawa pedang yang sudah berjenggot
“Berlatihlah dengan anak ini”
“Apa? anak ini?”
“Walau tubuhnya terlihat cukup kuat tapi aku tak merasakan energi ksatria Bintang berapapun disini?”
“Apakah kau yakin?”
“Ya aku yakin” sang anak menjawab.
“Apakah kau takut atau meremehkanku?”
“Baiklah… tapi kita pindah tempat untuk bertarung”
Sang kera melompat diikuti oleh pemegang pedang dan si anak, mereka terlihat mencari sebuah tanah kosong.
“Disana” Sambil menunjuk sebuah tanah kosong.
Mereka turun, mereka mengatur posisi mereka untuk bertarung. Angin sejuk mengitari mereka, terlihat Binatang Binatang juga mendekati mengintip dari rerumputan. Sang anak mengeluarkan pedang miliknya, dan sang kera mengambil sebuah pohon untuk menjadi senjata. Sebelum mulai sang pemegang pedang mengatakan aturan.
“Tidak boleh membunuh”
“Dan berlatihlah dengan cukup”
“Diperbolehkan mengeluarkan kekuatan penuh jikalau adu senjata pertama kalian merasakan kekuatan kalian seimbang”
Kedua sisi mengangguk tanda mereka paham, setelah dikatakan mulai sang anak dan kera bergerak langsung menerjang kedepan mengayunkan senjata. Ketika senjata diayunkan dan bertemu terjadi ledakan udara yang cukup kuat.
“Tak kukira kekuatanmu cukup kuat”
Kembali bersiap mengayunkan senjata sang kera mengayunkan senjata ke samping, si anak yang melihat gerakan mengayunkan senjata langsung mengayunkan ke arah sebaliknya. Terjadi lagi angin kuat, setelah itu mereka saling membalas serangan berkali kali. Sang kera dan anak pun mulai kehilangan kesadaran akan area sekitar mereka mulai memakai kekuatan penuh yang membuat pohon disekitar hampir rata dengan tanah. Bahkan batuan besar pun terpotong oleh angin dari mereka beradu senjata.
*Clank *Clank
Tebasan tiap tebasan dilemparkan, mereka juga menjauh lalu menerjang kembali. Sang pembawa pedang sibuk menyelamat para Binatang yang hampir tertebas. Selain itu ketika tebasan hampir keluar dari area hutan yang pembawa pedang melemparkan tebasannya sendiri yang bisa menahan tebasan kedua orang tersebut.
“Ah mereka berdua sepertinya terlalu terbawa suasana”
Sang pembawa pedang terus menjaga selama 1 jam. Setelah si anak dan si kera tumbang baru mereka menyadari keadaan sekitar, hutan hampir benar benar rata dengan tanah untungnya saat itu seekor burung bangau lewat menebarkan semacam serbuk ke lingkungan hutan yang rubuh membuat seluruh pohon kembali berdiri. Sang pembawa pedang dari jarak jauh terlihat muncul membawa 2 ekor monster.
“Eh guru, siapa kedua monster ini?”
“Hmm mereka ini adalah monster dari puncak gunung kan?” kera tersebut berbicara.
“Ya mereka terlihat terbang dekat, sepertinya ingin menangkap burung pembawa benih” sang pembawa pedang menjawab.
“Memang mereka ini gak tau aturan?” si anak bertanya.
“Bukan begitu, monster monster ini adalah mahluk yang hidup di tanah tandus dan menginginkan untuk mahluk tersebut juga menebar benih di tempat mereka” sang kera menjawab.
“Hanya saja mahluk mahluk itu gak mau menerima jikalau mereka itu berada di tanah mati”
Anak tersebut terlihat paham lalu tak lama setelah itu seekor burung besar muncul, burung tersebut turun berbicara dengan pemegang pedang lalu membawa kedua monster sebelumnya pergi. Tak lama setelah itu sang pembawa pedang pamit bersama sang anak kembali ke rumpun bambu. Di sana sang anak terlihat menulis sesuatu akan pemahamannya hari ini, anak tersebut juga mulai bereksperimen dengan menebas pedang. Tebasannya terlihat bisa mengeluarkan sejenis energi.
“Oooh apakah ini otomatis”
“Sekarang rasanya setiap tebasanku bisa mengeluarkan ini hanya saja….”
“Aku merasa qi ku juga lebih cepat habis”
Si anak juga mulai bisa berpuasa, lebih lama dia sekarang mampu bermeditasi berjam jam tanpa makan sama sekali. Dirinya mulai mengembangkan kemampuan jiwa, selain itu di pil emas miliknya mulai didalamnya terasa terbentuk sebuah jiwa kecil. Si anak pun naik ke atas gunung untuk mencoba mencoba cara lain bermeditasi, sang pembawa pedang yang melihat membiarkan si anak untuk mencoba. Anak tersebut merasakan jikalau dirinya diatas gunung bisa mendapat qi alam yang lebih baik untuk bisa beresonansi dengan jiwa yang tumbuh dari pil emas miliknya.
Dia mulai bertahun tahun sekarang dirinya mulai ditumbuhi lumut bahkan mirip dengan batu. Sang pembawa pedang terus mengawasi anak ini, dia juga merasakan jikalau ada sesuatu yang tubuh dari inti energi milik anak tersebut. Tapi dirinya tak tau apakah anak itu akan bangun dalam waktu dekat. Di dunia ini tiba tiba muncul mahluk yang sangat kuat tercipta dari energi polusi disebut dengan iblis, tapi mahluk ini gak puas dan bisa menginfeksi mahluk lainnya. Untuk itu manusia mulai mundur ke kota kota Kerajaan.
“Haaaah….”
“Apakah belum ada yang mampu mengalahkan para iblis itu?”
“Mereka bahkan sekarang mengontrol para monster”
“Kami juga kesulitan” seorang prajurit tiba tiba masuk dan berbicara.
“Tanpa kekuatan yang bisa membersihkan energi kotor hal ini hampir gak bisa dimusnahkan”
Seorang penyihir tiba tiba muncul.
“Kami tak tau kenapa, tapi sepertinya para iblis muncul karena sesuatu”
Di gunung, si pembawa pedang masih belum pulang dari posnya. Dirinya tak menerima perintah penarikan pasukan sama sekali. Dia masih tetap menjaga walau desa desa mulai menjadi kosong. Tak lama setelah itu di kebun bambu ungu, terlihat seekor serigala keluar dari dalam rumpun bambu. Mahluk ini menatap sang pembawa pedang setelah itu terbang keluar, di gunung sebuah fenomena terjadi lagi. Mirip dengan saat si anak menembus inti emas tapi kali ini intensitas awan sangat gelap.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...