NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: CINTA DITOLAK, IBU NEGARA BERTINDAK

Hari ini, ksatrian Bukit Raya yang biasanya tenang dan diselimuti oleh barisan pohon beringin hijau yang rindang, mendadak mengalami ketegangan laten yang tidak kasat mata. Hal itu bermula dari sebuah panggilan telepon darurat yang dilakukan oleh Kolonel Victor kepada ibu kandungnya, Ibu Hedy, malam pasca penolakan telak di rumah dinas Ayu. Victor yang frustrasi dan tidak tahu lagi harus menggunakan taktik militer apa untuk meruntuhkan tembok ego Ayu, akhirnya menceritakan segalanya dengan nada pasrah yang jarang ia tunjukkan sebagai seorang komandan.

Mendengar putra sulung kembar kesayangannya—perwira tegap yang ditakuti ribuan prajurit—merana karena ditolak untuk kesekian kalinya dengan alasan yang itu-itu saja, darah tinggi Ibu Hedy seketika naik ke ubun-ubun. Beliau tidak bisa tinggal diam. Tanpa membuang waktu, wanita paruh baya yang memiliki pembawaan anggun namun berwibawa laksana seorang permaisuri itu langsung menyusun rencana taktis pribadinya.

Pagi-pagi sekali, Ibu Hedy sudah memesan tiket pesawat. Beliau terbang langsung dari bandara Ibu Kota Pusat Timur, melintasi pulau menuju kota pusat pesisir, dan melanjutkan perjalanan darat yang cukup panjang selama beberapa jam menggunakan mobil dinas menuju ke kabupaten yang letaknya lumayan masuk ke dalam daerah pedalaman, yaitu Kota Bukit Raya. Sebuah wilayah ksatrian militer yang masih teramat asri, berhawa sejuk, dan dikelilingi oleh lanskap kehijauan perbukitan yang menyejukkan mata.

Sepanjang perjalanan darat yang berbatu dan berkelok, bibir Ibu Hedy tidak berhenti merapal omelan kecil dengan nada gemas yang tertahan. Sersan yang bertindak sebagai pengemudi di depan hanya bisa sesekali melirik dari spion tengah, tidak berani berdehem sedikit pun melihat sang "Ibu Negara" keluarga kolonel sedang dalam mode siap tempur.

"Berani-beraninya anak itu menolak putra tampanku," gerutu Ibu Hedy pelan sembari menatap ke luar jendela mobil, melihat hamparan pohon karet di kanan-kiri jalan. "Alasannya selalu saja konyol. Tidak sempurna katanya? Karena statusnya yang janda anak satu? Astaga si Ayu itu. Memangnya sejak kapan keluarga kita memandang rendah hal-hal seperti itu?"

Bagi Ibu Hedy, urusan status sosial atau masa lalu Ayu sama sekali bukan masalah, bahkan tidak bernilai seujung kuku pun. Target utamanya sangat sederhana dan mutlak: Victor harus segera menikah sebelum rambutnya memutih karena terlalu lama mengurus barak prajurit! Lagipula, Ayu bukanlah orang asing. Wanita itu sudah seperti anaknya sendiri, sahabat putrinya yang sudah Hedy ketahui dengan sangat jelas asal-usul, bobot, bibit, dan bebetnya sejak zaman memakai seragam putih-abu-abu dulu bersama putri bungsunya, Shaneen.

Memang benar, jika mengingat masa lalu, ada ganjalan sejarah yang sempat membuat hati mereka terluka. Dulu sekali, saat Victor dan Ayu masih muda dan dimabuk asmara, kedatangan Ibu Hedy dan keluarga besarnya untuk berniat baik melamar Ayu pernah ditolak mentah-mentah secara sepihak oleh mendiang kakek Ayu. Alasannya sangat prinsipil saat itu: perbedaan keyakinan di antara kedua keluarga yang tidak bisa dinegosiasikan. Akibat penolakan itu, Victor memilih mundur, dan terpaksa melangkah di jalurnya sendiri dengan hati yang patah.

Namun sekarang? Keadaannya sudah berbalik seratus delapan puluh derajat! Tuhan dengan skenario indahnya telah menuntun keluarga itu menjemput hidayah, dan kini mereka berdua sudah berdiri di atas keyakinan dan keimanan yang sama. Jadi, apa lagi yang mesti dipermasalahkan? Benteng terbesar itu sudah runtuh, lalu mengapa Ayu justru membangun benteng baru bernama ketidakpercayaan diri?

"Anak itu... awas saja ya kalau sampai berani menolak aku menjadi ibu mertuanya kali ini. Tidak akan kubiarkan dia lolos lagi!" begitulah kira-kira bunyi omelan kecil Ibu Hedy yang menggema di dalam mobil, menutup persiapannya sebelum memasuki gerbang utama penjagaan Mako Pusdikmil Bukit Raya.

Secara administratif dan untuk mengelabui mata-mata penggosip di asrama, kedatangan Ibu Hedy siang itu dibungkus dengan agenda resmi: kunjungan rindu seorang nenek kepada cucu kembarnya, yaitu anak-anak kecil yang menggemaskan dari pasangan Lettu dr. Shaneen dan Letkol Reyes yang juga berdinas di ksatrian yang sama diatas kepimpinan Secaba. Tidak ada yang menaruh curiga, kecuali Kolonel Victor dan Sersan Satu Johan yang sudah tahu bahwa "pasukan bantuan tingkat tinggi" telah mendarat dengan selamat di wilayah kekuasaan mereka.

Waktu bergulir dengan cepat, hingga matahari siang mulai bergeser ke arah barat, merambat perlahan memancarkan semburat warna jingga di langit Bukit Raya. Jam dinding di gedung staf Satdik telah menunjukkan waktu pulang kantor bagi para personel administrasi.

Dari kejauhan, di koridor beton di depan gedung utama tempat para perwira staf bekerja, tampak dua siluet wanita berseragam dinas harian Korps Wanita Angkatan Darat melangkah keluar bersama. Mereka adalah Kapten Ayu dan Lettu Yunita. Keduanya berjalan sembari berbincang ringan mengenai evaluasi data intelijen yang baru saja mereka selesaikan, tanpa menyadari bahwa di ujung selasar dekat area parkir VIP, sebuah kejutan besar telah menanti.

Saat Ayu mendongakkan kepalanya untuk membetulkan posisi jilbabnya, langkah kakinya mendadak terkunci di atas semen. Sepasang matanya membelalak sempurna, menatap tidak percaya pada sosok wanita paruh baya bertubuh anggun dengan tunik batik premium yang sedang berdiri tegak di samping mobil, didampingi oleh Shaneen yang menggendong salah satu anak kembarnya.

"Ibu...?"

Ucapan itu meluncur kompak secara refleks dari bibir Ayu dan Yunita. Ya, bagi lingkaran sahabat sejati yang terdiri dari tiga serangkai sejak masa sekolah dulu—Shaneen, Ayu, dan Yunita—aturan tidak tertulis di antara mereka sangatlah jelas: Orang tuamu adalah orang tua kami juga. Ibumu adalah ibuku juga. Ikatan emosional mereka sudah teruji oleh waktu dan badai kehidupan.

Mendengar suara yang teramat ia rindukan, Ibu Hedy langsung menoleh. Wajah kerut halusnya seketika merekah, memancarkan binar kehangatan seorang ibu yang begitu tulus. Beliau membuka kedua lengannya lebar-lebar ke arah depan.

"Ah, sayang... Anak-anak Ibu!" seru Ibu Hedy dengan suara yang sarat akan kerinduan yang mendalam.

Tanpa memedulikan protokoler militer atau fakta bahwa mereka masih mengenakan seragam dinas lengkap dengan atribut pangkat di pundak, Ayu dan Yunita langsung setengah berlari menghambur ke dalam pelukan hangat Ibu Hedy. Ketiganya berpelukan sangat erat di bawah rindangnya pohon ksatrian. Ayu menyembunyikan wajahnya di ceruk pundak Ibu Hedy, menghirup aroma parfum melati khas yang selalu menenangkan hatinya sejak dulu, sementara Yunita mendekap wanita paruh baya itu dari sisi sebelah kanan.

Shaneen yang berdiri di samping mereka, menyaksikan pemandangan emosional tersebut, tentu saja tidak bisa menahan senyum lebarnya. Kebahagiaan membuncah di dadanya melihat formasi lengkap orang-orang yang paling dicintainya kini berkumpul di satu tempat. Dengan gerakan cepat namun hati-hati agar tidak mengganggu bayi di gendongannya, Shaneen ikut merapatkan tubuhnya, bergabung dalam pelukan melingkar keluarga besar tersebut.

"Ibu kok tidak memberi kabar dulu kalau mau datang ke Bukit Raya? Kalau tahu, Ayu pasti akan menjemput Ibu ke bandara pusat pesisir bersama Yunita," bisik Ayu pelan setelah mengurai pelukan mereka, menatap wajah Ibu Hedy dengan binar mata yang berkaca-kaca karena terharu.

Ibu Hedy tersenyum misterius, sebuah senyuman khas yang membuat Shaneen di sampingnya harus menahan tawa karena tahu persis misi rahasia apa yang dibawa oleh sang ibu. Ibu Hedy mengusap lembut pipi Ayu yang tampak sedikit tirus, lalu merapikan kerah baju dinas Yunita dengan gerakan keibuan yang teramat luwes.

"Kalau Ibu kasih tahu kalian, namanya bukan kejutan dong, Sayang," jawab Ibu Hedy dengan nada suara yang sengaja dibuat renyah dan santai, mengaburkan gemuruh niat perang yang sebenarnya sedang membara di dalam dadanya untuk menyidang Ayu. "Ibu sengaja mendadak ke sini karena rindu setengah mati sama cucu-cucu Ibu dan tentu saja, Ibu juga sangat rindu melihat anak perempuan Ibu yang keras kepala ini."

Mendengar kata "keras kepala" meluncur dari bibir Ibu Hedy, firasat seorang perwira intelijen di dalam diri Ayu mendadak berdenting waspada. Ia melirik ke arah Shaneen, namun sahabat bungsunya itu justru membuang muka sembari pura-pura sibuk membetulkan bedung bayinya. Ayu menelan ludah pelan, ia mulai menyadari bahwa kunjungan mendadak sang "Ibu Negara" ini pastilah memiliki keterkaitan erat dengan konflik senyap jam sepuluh malam yang melibatkan dirinya dan Kolonel Victor kemarin. Taktik pengepungan emosional tingkat tinggi tampaknya baru saja dimulai di Bukit Raya.

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!