Saat mata Rara terbuka, yang pertama ia rasakan bukan kasur empuk kamar kosnya, melainkan bantal sutra yang lembut dan bau aroma ruangan yang sangat mewah. Kepalanya terasa berdenyut hebat, dan seolah-olah sebuah aliran memori asing langsung masuk ke dalam otaknya.
Ia bukan lagi Rara, mahasiswi biasa yang baru saja mati tertabrak truk saat menyeberang jalan. Sekarang ia adalah Elena Vareza, seorang tokoh figuran dalam novel berjudul Cinta Berdarah di Atas Tahta Kekuasaan.
Dalam cerita aslinya, Elena hanyalah latar belakang yang tak terlalu penting. Ia berasal dari keluarga Vareza, penguasa kekayaan dan jaringan mafia peringkat ke-2 di dunia. Sudah diatur sejak kecil untuk bertunangan dengan Damian Aditya, pewaris keluarga Aditya—keluarga terkaya dan paling berkuasa, peringkat nomor satu di dunia. Damian bukan orang sembarangan; ia dijuluki “Malaikat Maut” di dunia bawah, dingin, kejam, dan tak pernah ragu menghabisi siapa pun yang menghalangi jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
figuran tunangan antagonis
Hari pertama memasuki gerbang kampus terasa seperti melangkah ke dunia lain. Suasana lebih ramai, gedungnya lebih tinggi, wajah-wajah di sekitarnya belum dikenal, dan jadwalnya tidak lagi seragam setiap hari.
Elena berdiri sejenak di halaman fakultas Sastra dan Sejarah. Ia menatap tulisan di atas pintu utama dengan napas tertahan. Rasanya baru kemarin ia duduk di bangku SMA, dan sekarang sudah berdiri di ambang pintu pengetahuan yang lebih luas.
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pelan bahunya. Elena menoleh dan tersenyum lega melihat Damian berdiri di sana. Kampus mereka memang masih dalam satu kota, hanya terpisah jarak sekitar dua puluh menit perjalanan.
“Gugup?” tanyanya lembut.
“Sedikit,” aku Elena jujur. “Banyak hal baru, belum kenal siapa-siapa.”
Damian tersenyum, lalu merapikan kerah seragam Elena. “Wajar kok. Semua orang di sini juga merasakan hal yang sama. Kamu cuma perlu jadi dirimu yang tenang dan tulus. Nanti pasti bertemu teman yang cocok.”
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. “Aku harus segera ke arah sana. Tapi nanti jam makan siang aku jemput, ya? Kita cari tempat makan enak di pinggir jalan.”
“Janji?” tanya Elena sambil mengulurkan kelingkingnya.
Damian tertawa kecil, lalu mengaitkan kelingkingnya. “Janji. Tidak akan lupa.”
Saat Damian berbalik melangkah, Elena menyentuh kalung di lehernya—setengah lingkaran yang menjadi pengingat bahwa meski jalan terpisah, mereka tetap satu kesatuan.
Menemukan Warna Baru
Minggu-minggu awal berlalu sangat cepat. Elena mulai menyukai dunia barunya. Ia mendengarkan kisah masa lalu dari berbagai penjuru, belajar cara merawat naskah kuno, dan menyadari bahwa setiap orang membawa cerita yang berharga.
Ia pun bertemu dengan teman-teman baru: ada yang suka berpuisi, ada yang hobi menjelajah perpustakaan tua, dan ada juga yang ternyata memiliki kakek yang dulunya sahabat baik Kakek Wira. Dunia rasanya semakin sempit namun semakin luas maknanya.
Sementara itu, Damian juga sibuk. Ia menghabiskan waktu di laboratorium, pergi ke lapangan untuk mencatat kondisi tanah dan air, serta berdiskusi tentang cara menjaga keseimbangan tanpa merusak kemajuan. Kadang ia pulang dengan baju berdebu dan wajah lelah, tapi matanya selalu berbinar saat menceritakan hal baru yang ia temukan.
Namun, semakin lama berjalan, semakin mereka menyadari satu hal: sulit rasanya jika tidak mengatur waktu dengan baik.
Ada hari di mana Elena baru selesai pukul lima sore, sementara Damian sudah harus berangkat ke kegiatan lapangan. Ada saat telepon berdering berkali-kali tidak terjawab karena keduanya sedang sibuk mendengarkan penjelasan dosen.
Suatu sore, mereka baru sempat bertemu menjelang malam. Elena menunggu di halte dekat rumah, menggigil terkena angin. Saat Damian tiba, wajahnya terlihat sangat bersalah.
“Maaf,” katanya segera. “Rapatnya berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.”
Elena tersenyum, lalu memeluk lengannya erat. “Aku tidak marah. Aku cuma kangen.”
Mendengar kalimat itu, hati Damian terasa tersentuh. Ia sadar, kesibukan bukan alasan untuk melupakan hal yang paling berharga.
Cara Sederhana Menjaga Hati
Malam itu mereka duduk di teras rumah Elena, meminum teh hangat yang disiapkan Ibu.
“Kita buat kesepakatan baru, yuk?” usul Damian pelan.
“Apa itu?” tanya Elena.
“Sesibuk apa pun kita, jangan pernah lupa memberi kabar singkat. Bisa pesan pendek, bisa foto hal yang kita lihat, bisa sekadar tulis ‘aku di sini, baik-baik saja’. Dan setiap hari Minggu adalah waktu kita berdua—kecuali ada hal yang sangat mendesak.”
Elena mengangguk setuju. “Setuju. Dan kita tidak boleh menyimpan kesal hanya karena bertemu sebentar saja.”
Mereka pun menjalankannya. Perubahan kecil itu membawa dampak besar. Elena mengirim foto prasasti tua saat istirahat, Damian mengirim rekaman suara air sungai di lokasi pengamatan. Hal-hal sederhana itu membuat jarak tak lagi terasa menganga lebar.
Satu minggu kemudian, Damian datang membawa kejutan. Ia menjemput Elena lebih awal, lalu mengajaknya naik ke sebuah bukit tak jauh dari kota.
“Ke mana kita?” tanya Elena penasaran.
“Lihat saja nanti,” jawab Damian misterius.
Dari atas bukit terlihat lampu-lampu kota berkelap-kelip bagaikan bintang yang jatuh ke bumi. Di sana sudah terhampar alas, bekal makanan kesukaan Elena, dan dua cangkir cokelat hangat.
“Kamu menyiapkan ini semua sendiri?” tanya Elena takjub.
“Bantuan Ibu sedikit,” aku Damian sambil menggaruk kepala tersenyum malu. “Aku cuma ingin bilang: terima kasih sudah sabar. Terima kasih mau menunggu dan mengerti bahwa aku sedang berusaha membangun masa depan agar layak untukmu.”
Elena menatapnya lekat-lekat. Matanya berbinar diterangi cahaya bulan.
“Damian, kamu tidak perlu membuktikan kelayakanmu. Bagimu berusaha sekuat tenaga dan tetap mengingatku, itu sudah lebih dari cukup.”
Ia mendekat, lalu memeluk Damian erat. “Aku bangga sekali padamu. Bangga kita berjuang bersama-sama.”
Malam itu mereka menghabiskan waktu saling bercerita, tertawa, dan menikmati kebersamaan yang begitu berharga.
Jejak Lama yang Menemukan Kita
Tepat saat mereka mulai nyaman dengan ritme baru, sebuah kejadian tak terduga membawa mereka kembali ke masa lalu.
Dalam tugas penelusuran sejarah, Elena diarahkan ke gudang arsip kota yang jarang dikunjungi. Di tumpukan naskah yang berdebu, ia menemukan sebuah buku harian tua milik salah satu penjaga zaman dulu.
Halaman demi halaman dibacanya dengan napas tertahan. Isinya bukan hanya catatan tugas, melainkan kisah cinta antara dua penjaga yang terpisah tugas jauh layaknya dirinya dan Damian.
Penulisnya menulis tentang rindu yang tak bertepi, tentang hari-hari yang berat karena jarang bertemu, namun juga tentang keyakinan bahwa cinta yang sejati akan semakin kuat jika diuji waktu dan jarak.
Hati Elena bergetar hebat. Ia segera menghubungi Damian, memintanya datang secepat mungkin.
Saat Damian tiba dan ikut membaca, ia terdiam lama.
“Mereka merasakan hal yang sama persis seperti kita,” bisik Damian kagum. “Berabad-abad lalu, ada yang mengalami persis apa yang kita rasakan hari ini.”
Elena mengangguk. “Dan mereka berhasil melewatinya. Mereka tetap bersatu sampai akhir hayat.”
Damian menatap Elena dalam-dalam. Ia menggenggam tangan gadis itu di atas kertas tua itu.
“Ini jawaban keraguan kita, Elena. Jarak dan kesibukan bukanlah akhir cerita. Ini adalah cara kita membuktikan bahwa cinta kita lebih kuat dari sekadar kehadiran fisik.”
Mereka pun meminta izin untuk mempelajari naskah itu lebih lanjut. Ternyata di halaman terakhir tertulis pesan yang menyentuh:
“Jangan takut melangkah sendiri sesaat. Langkah yang sejajar tidak harus selalu berjalan beriringan sepanjang waktu. Yakinlah, kita menuju rumah yang sama.”
Pulang Menuju Rumah yang Sama
Semakin hari, semakin mereka paham makna kalimat itu.
Damian kadang harus pergi berhari-hari ke daerah pegunungan atau pesisir. Elena menyambut kepulangannya bukan dengan pertanyaan panjang, melainkan dengan senyum dan pelukan yang menghapus lelah.
Elena kadang larut malam menyusun tulisan atau menyalin naskah kuno. Damian memastikan ia makan tepat waktu dan tidak lupa beristirahat.
Suatu hari, saat duduk bersama di perpustakaan, teman baru Elena bertanya,
“Kalian jarang terlihat kemana-mana berdua, tapi kenapa terasa makin lengket saja?”
Elena dan Damian saling berpandangan lalu tertawa bersama.
“Karena kita tidak mencari kehadiran fisik semata,” jawab Damian tenang. “Kita belajar membawa keberadaan satu sama lain di dalam hati, ke mana pun kaki melangkah.”
“Dan setiap kali bertemu,” tambah Elena, “rasanya seperti pulang ke tempat yang paling nyaman.”
Mereka tidak lagi takut pada jarak atau kesibukan. Mereka sadar, cinta yang dewasa justru tumbuh subur di ruang yang saling memberi kebebasan untuk berkembang.
Senyum Menuju Esok
Menjelang libur semester pertama, keempat sahabat berkumpul kembali. Luna dan Arga pun memiliki cerita serupa—tentang penyesuaian, tentang rindu rumah, dan tentang makna kebersamaan.
“Kita tumbuh sangat cepat,” kata Luna sambil memandang ketiga temannya. “Tapi aku senang kita tetap tetap sama.”
Malam itu Damian dan Elena berjalan pulang beriringan. Langit bersih bertabur bintang.
“Kamu tahu,” kata Elena pelan. “Dulu aku mengira agar cinta tetap utuh kita harus selalu berdampingan. Ternyata benar kata naskah itu: kita hanya perlu menuju rumah yang sama.”
Damian berhenti melangkah, lalu memutar tubuh menghadap Elena. Ia memegang bahu gadis itu lembut.
“Rumahku bukan tempat tertentu,” ucapnya tulus. “Rumahku adalah kamu. Ke mana pun kamu pergi, ke mana pun aku melangkah, pada akhirnya kita akan pulang ke hati satu sama lain.”
Ia mengusap pipi Elena dengan punggung jarinya.
“Terima kasih sudah bersedia tumbuh bersamaku. Bahkan saat jalannya terpisah sebentar.”
Elena tersenyum bahagia, matanya berbinar indah.
“Terima kasih sudah percaya padaku. Selamanya kita akan saling mencari, untuk saling menjadi tempat pulang.”
Mereka berdiri di bawah cahaya remang, membiarkan kehangatan menyelimuti. Masih panjang jalan yang harus ditempuh, masih banyak hal yang harus dipelajari, dan masih banyak rindu yang harus ditukar dengan pertemuan. Namun kini mereka melangkah dengan hati yang jauh lebih tenang dan mantap.
(Bersambung )