𝓐𝓼𝓼𝓪𝓵𝓪𝓶𝓾'𝓪𝓵𝓪𝓲𝓴𝓾𝓶 𝓦𝓻. 𝓦𝓫.
Ini adalah karya kedua dari saya. Mohon dukungan dan do'anya selalu!🙏😊
Dan ini adalah kisah fiksi, imajinasi dari author 🤗🙏.
Dan kisah ini hendaknya hanya dibaca untuk ***.
Menjadi kondektur kereta api bagi seorang Dimas adalah hal yang patut untuk ia syukuri. Dari situ ia belajar tanggungjawab, kepercayaan dan kebijaksanaan yang lebih besar didalamnya.
Nama lengkapnya "Dimas Adityama Putra Wijaya" Ia bertugas membantu sebagai juru langsir membantu masinis dan bertugas pula dalam menertibkan setiap perjalanan pada transportasi darat. Transportasi darat ini adalah kereta.
Suatu ketika Dimas dipertemukan dengan wanita yang cukup galak pada kali pertemuan mereka. Namun kegalakan wanita itu seketika langsung berubah, menjadi penuh kasih sayang saat sedang bersama dengan wanita yang nampak seperti Ibu dari wanita galak tersebut.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Dimas akan menaruh hati padanya? Ataukah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadaan Zalfa
Edo diringkus dan dimasukkan ke sel tahanan oleh pihak kepolisian, sambil menunggu untuk segera diadili dan mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
...----------------...
Suasana sedih berbalut cemas dan khawatir begitu mendominasi di depan sebuah ruangan saat beberapa insan manusia masih gusar menanti hasil operasi yang dilakukan oleh beberapa dokter untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bagian tubuh Zalfa.
Kurang lebih 1 jam 30 menit operasi Zalfa berjalan, namun belum ada pemberitahuan terbaru mengenai kondisi Zalfa. Hingga tiba-tiba ada seorang perawat yang membantu dokter melakukan operasi keluar dari ruangan operasi tersebut.
Keluarnya perawat tersebut tentu membuat Dimas, Bu Ambar, Ica, Bu Anis, Pak Wijaya dan Ayunda begitu penasaran apa yang telah terjadi dan bagaimana hasil operasinya.
Dengan cepat perawat menyatakan kepentingannya keluar dari ruang operasi.
"Saat ini pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya, dikarenakan di rumah sakit sedang kekurangan kantong darah golongan A, dari keluarga pasien yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien bisa ikut saya ke ruang donor darah." ucap perawat tersebut.
"Golongan darah saya tidak sama dengan golongan darah Zalfa suster, golongan darah Zalfa sama dengan golongan darah Papanya ..." Isak tangis Bu Ambar yang tidak bisa memberikan pertolongan untuk putrinya.
"Saya Suster, golongan darah saya A." Dimas angkat bicara dengan menggebu.
"Dimas," sergah Pa Wijaya ingin membantu Zalfa, ingin membalas kebaikan Zalfa selama ini. Zalfa telah menjadi guru yang baik dan taat padanya. Karena kebetulan golongan darah Pak Wijaya juga A.
"Pa ... Papa jaga kesehatan Papa saja!" Dimas melerai Papanya karena ia tau Papanya yang tak lagi dalam kategori usia muda dan pastinya itu akan mempengaruhi kondisi papanya nanti.
Dengan cepat Dimas mengikuti suster dan mendonorkan darahnya untuk Zalfa. Sesaat kemudian suster memasuki ruang operasi dengan membawa kantong darah Dimas.
Dimas menilik Zalfa yang pucat dan lemas dibalik celah kecil transparan yang terlihat pada ruang operasi. Dimas juga mampu melihat
darahnya yang perlahan namun pasti mengalir ke tubuh Zalfa.
"Zalfa ..."
Bibir Dimas bergetar hebat menyebut nama Zalfa dengan sembalut pilu yang ia rasa dalam hatinya bahkan linangan bulir-bulir air mata pun turut meliputi rasa pilunya.
Untuk sesaat Dimas menyetuh kaca kecil transparan yang menampakkan proses operasi Zalfa. Dan untuk sesaat pula ia tak mampu mengkondisikan hatinya. Ia mengempalkan tangannya mendekatkan dengan kepalanya seperti orang yang begitu menyesal dan mempertanyakan mengapa ini harus terjadi pada kamu Zalfa? Kenapa bukan ia saja? Kenapa? Dimas merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Ya siapa yang kuat dan takkan menangis pilu melihat dan mengetahui seseorang yang dicintai harus terkulai lemas dan tak berdaya. Siapapun orang itu pasti takkan kuat untuk menanggung rasa sedih tersebut. Ketika tak sengaja menyakiti perasaan seseorang yang kita cintai dengan lisan saja itu sudah membuat kita begitu menyesal dan merasakan sakit berlipat ganda. Dimas begitu sangat sakit karena kini ia harus melihat orang yang dicintainya terbaring begitu lemah. Kalau saja Dimas bisa menggantikan posisi Zalfa maka Dimas pun siap untuk melakukannya. Selain itu, Dimas juga sangat menyesal karena ia terlambat mengetahui ada peluru yang sudah siap untuk mengenai salah satu dari ia dan Zalfa. Andai ia tak terlambat, ia akan berusaha sekuat tenaga yang ia mampu, agar peluru itu tak mengenai Zalfa.
Rasa sesal pun menghampiri dirinya. Sampai tanpa Dimas sadar, kakinya yang tadi berdiri menilik Zalfa, kini sudah beringsut ke bawah lantai dengan mata yang benar-benar sembab.
Tak tega melihat kondisi Dimas, Bu Anis yang mengetahui keadaan hati putranya itu berangsur mendekat dan memberi spirit untuk Dimas.
"Dimas!" Bu Anis menyebut nama putranya dengan menggelangkan kepalanya sebagai maksud bahwa Dimas tak boleh seperti ini, Dimas harus kembali kuat dan harus tegar dan tangguh menghadapi situasi saat ini.
Dimas hanya menatap diam ke arah sang Mama (Bu Anis), tanpa berkata lebih banyak lagi sang Mama hanya menepuk bahu Dimas dan kemudian bangkit kembali. Ia kembali menunggu di kursi tunggu bersama Bu Ambar, Ica, Pak Wijaya dan Ayunda.
Jam demi terus berjalan, hingga tak lama kemudian operasi pun selesai.
Masih dalam ruangan operasi, dokter dan perawat yang menangani jalannya operasi Zalfa saling tatap dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
Dengan langkah cukup berat pula, dokter yang berpakaian serba hijau secara bergilir keluar dari ruang operasi.
Dimas yang masih duduk dilantai begitu ia tau dari arah pintu operasi tampak dokter yang sudah selesai melakukan operasi, maka dengan cepat ia bangkit dan ingin tau keadaan Zalfa.
"Dok bagaimana keadaan Zalfa, dok? Bagaimana?"
Dimas sudah tak sabar lagi.
Bu Ambar, Ica, Bu Anis, Pak Wijaya tak tertinggal pula Ayunda yang masih berada di sana menghampiri dokter dengan raut wajah cemas bercampur ingin tau dengan sangat kondisi Zalfa.
"Dok bagaimana keadaan putri saya dok, bagaimana?" Bu Ambar yang juga tak bisa lebih sabar lagi.
Dokter melepas maskernya dan berkata, "Kami sudah berupaya melakukan yang terbaik untuk pasien, tapi pasien mengalami koma. Jadi untuk hari ini dan seterusnya Anda semua harus bersabar terlebih dahulu!" ucap dokter prihatin namun juga memenangkan dan menguatkan keluarga Zalfa yang sedari tadi menunggu berjalannya operasi.
"Kakak saya koma?"
tanya Ica memastikan kemudian menutup mulutnya saat dokter menyatakan kalau apa yang Ica katakan benar adanya.
"Zalfa putri Mama ..." Bu Ambar terkulai lemas namun dengan cepat Bu Anis membersamainya dan menguatkannya kembali.
Tak cuma Bu Ambar dan Ica yang shock mendengar informasi mengenai keadaan Zalfa, Bu Anis dan Pak Wijaya juga Ayunda pun demikian. Apalagi dengan Dimas, tak cuma shock dia pun kembali rapuh dan tak bersemangat. keyakinannya Zalfa akan pulih kembali seakan-akan pergi begitu saja.
"Enggak ini enggak mungkin! Enggak mungkin!"
Ia langsung menerobos masuk ruangan dimana Zalfa baru selesai operasi. Upaya dokter mencegahnya pun percuma karena Dimas bagai hilang kendali. Tujuannya adalah memastikan sendiri bahwa ucapan dokter itu tidak benar adanya.
Dalam ruangan tersebut,
Dimas melihat Zalfa yang terbaring lemah dan begitu pucat padahal baru tadi malam selepas waktu Magrib ia melihat wajah itu belum sepucat saat ini. Selepas waktu Magrib pula ia masih bisa saling melempar senyum kebahagiaan satu sama lain dan memasang cincin sebagai tanda pinangannya ke Zalfa. Tapi beberapa jam berlalu dan dengan cepatnya semua tiba-tiba berubah begitu saja tanpa seorang pun ketahui. Bahkan Dimas sendiri pun tak tau karena itu diluar kendalinya.
"Zalfa, bangun Zalfa! Bangun! Kamu tadi belum selesai mengucapkan kalimat yang ingin kamu ucapkan pada saya Zalfa, maka dari itu, ayo Fa! Kamu bangun dan kamu ucapin lagi ya Fa! Dan saya akan mendengarkan dengan senang hati di sini." Ucap Dimas menyuruh Zalfa melanjutkan kalimat terakhirnya saat di stasiun saat Zalfa berada di pangkuan Dimas, tepatnya saat Zalfa masih sadar sebelum pingsan dan dinyatakan koma seperti sekarang.
Beberapa menit telah berlalu, Dimas masih menunggu reaksi Zalfa, tapi Zalfa tak merespon apapun.
"Zalfa, kamu tidak mau melanjutkannya?" tanya Dimas masih yakin yang diucapkan dokter itu tidaklah benar,
"Baiklah enggak papa kalau kamu tidak mau melanjutkannya yang penting sekarang kamu bangun ya Fa!"
Dimas mengenggam tangan Zalfa, menatap baik-baik Zalfa dan ia pun menlanjutkan ucapannya kembali,
"Kita sama-sama merancang hari pernikahan kita dan bagaimana pernikahan kita"
Zalfa masih tak bereaksi dan itu membuat Dimas terus memanggil namanya Zalfa,
"Fa? Faaa?" Panggilnya dengan cukup halus.Dan untuk sejenak Dimas sadar bahwa Zalfa tidak bisa sadarkan diri dalam waktu dekat.
Dimas pun tenggelam dalam kesedihannya sekaligus berusaha menerima kenyataan di depannya.
...----------------...
Mohon maaf kalau ada kesalahan ataupun semacamnya dalam episode kali ini. Sekali lagi, cerita ini merupakan fiktif belaka dan tidak bermaksud menyinggung ataupun merugikan pihak manapun itu.
Sekali lagi mohon maaf dan terimakasih🙏
Salam manis+sayang+semangat dari saya ... 🤗
btw profilmu juga mengundang bawang @A.bahtiar Lfc 😭🤭🙂🙈