NovelToon NovelToon
DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR

Status: tamat
Genre:Romantis / Balas Dendam / Mafia / Pembunuhan / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Tamat
Popularitas:195.2k
Nilai: 5
Nama Author: V I P E R

"Kau seharusnya membunuhku!!!" teriakan Fawnia memenuhi ruangan. Tapi pria dalam jas merah terang itu hanya tersenyum tenang.

"Di mana kesenangannya kalau aku membunuhmu?"

"Kau psikopat."

"Aku tau."


---



Sebagai asisten pribadi nona Indira Rashid yang hendak menikah dengan keluarga Caspian, sudah tugas Fawnia Alder melindungi Indira dari beragam bahaya. Bahkan bila itu berarti menyamar menjadi Indira dan diculik oleh musuh yang berusaha menggagalkan pernikahan Indira.

Fawnia sudah merelakan nyawanya untuk keluarga Indira, ia sangat tau bahwa misinya akan berakhir sebagai misi bunuh diri.

Malangnya bagi Fawnia, alih-alih berakhir terbunuh di tangan sang musuh, ia berakhir di penjara oleh pria yang merupakan musuh utama keluarga Indira.

Arcelio Hunter!

Mafia psikopat itu!

Apa yang akan pria itu lakukan padanya? Fawnia bertanya-tanya dengan ketakutan yang merayap di seluruh tulangnya.

Ia lebih berani mati daripada bernapas di ruang yang sama dengan Arcelio.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V I P E R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. HITAM TOTAL

...FAWN pov...

...----------...

Aku sedang berbaring di tempat tidur dengan mata menatap kepada langit-langit kamar yang berwarna gading. Pikiranku sedang melayang-layang, memikirkan banyak hal yang sedang terjadi tapi di saat bersamaan juga tidak terjadi sama sekali. Ah, itu pasti terdengar aneh.

Maksudku adalah, aku sedang memikirkan tentang situasi yang terjadi di tempat aku berada sekarang, dan bagaimana situasi itu tidak mengefek pada kehidupanku tapi masih mengganggu pikiranku, begitu?

Kematian Fabian, pengkhianatan, pertikaian yang terjadi keras di luar kamar saat aku sendirian, aku mendengar semuanya. Aku duduk di balkon dan mendengar bagaimana para pengawal bergosip di halaman depan tentang pertikaian Ace dan nona Margot yang mencengangkan. Bahwa, tanpa melakukan apa pun, keberadaanku tetap berpengaruh dalam menambahkan kekacauan di rumah ini.

Aku seharusnya merasa senang. Memikirkan kalau Ace dan nona Margot bertikai lantaran keberadaanku yang mampu menciptakan perang keluarga, itu adalah hal yang luar biasa. Rasakan! Siapa suruh sudah mengurungku!

Aku ingin berpikir begitu, tapi--di saat bersamaan aku tidak merasa nyaman. Aku sudah terbiasa bertemu dengan nona Margot. Walaupun dia perempuan yang menjengkelkan dan banyak maunya, aku tidak ingin dia menerima kekasaran Ace.

Wanita itu--bagaimanapun adalah orang yang sudah membuat masa pengurunganku menjadi sedikit berwarna. Dia membawakan banyak mainan, dia memutarkan drama, dia juga membawakan cemilan. Aku cukup menyukai nona Margot, mengesampingkan sikap menuntut dan bawelnya yang luar biasa.

"Huffttt!" Napasku berembus panjang, dadaku berat oleh perasaan resah. Ini tidak baik. Aku pikir aku sudah menjadi gadis tolol. Dikurung di sini menyusutkan IQ-ku menjadi satu digit. Di mana kamu menemukan seorang tawanan yang mencemaskan kondisi penawannya? Hah..., apa ini yang dinamakan stockholm sindrome? Sungguh lucu, aku ingin melubangi kepalaku sendiri.

"Apa yang kau pikirkan?" Ace--pria yang baru keluar dari kamar mandi, menebarkan aroma sabun mandinya yang segar dan tajam ke sepenjuru ruangan. Dia melenggang santai tanpa atasan, melangkah menuju tempat tidur. Ketika dia datang, aku spontan menarik diriku duduk. Harus waspada kapan pun dan dimana pun. Tidak ada yang tau kapan sisi psikopat pria itu keluar.

"Aku dengar kau bertengkar dengan nona Margot?" Aku menarik diriku mundur dan bersandar di kepala ranjang, aku berpura-pura mencari sandaran semata untuk menghindari jangkauan Ace. Laki-laki itu mulai bertingkah semakin mencurigakan belakangan ini. Kelembutannya seperti tenang sebelum badai.

Aku takut atas kenyamanan yang dia berikan.

"Kau mempunyai pendengaran yang tajam." Ace menjawabku sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia nampak tidak terganggu oleh pertanyaanku. Padahal di sini aku takut-takut bertanya, takut ditampar.

"Lalu..., apa yang terjadi?" Aku menahan suaraku agar terdengar tidak terlalu obsesif dan penasaran. Bertingkah biasa, Fawn, bertingkah biasa!

"Aku hanya mendisiplinkannya." ucapan si keparat ini membuatku mau menendang mukanya.

"Apa maksudmu disiplin? Kau--kau memukulnya, kan?"

"Seriusan? Siapa yang memberitahumu?" Ace malah penasaran pada hal yang tidak penting.

"Seperti yang kau bilang, aku punya pendengaran yang tajam." Aku tidak akan membocorkan nama siapa pun, aku tau pria ini gila. Dia bisa membunuh bawahannya hanya karena masalah sepele.

"Jadi, katakan..., apa kau benar-benar memukul nona Margot?"

"Ya." Ace menjawab dengan sepasang bola mata hitam yang menyorot lurus ke arahku. "Aku melakukannya, dan sebelum kau menghakimiku, dia berhak menerim--"

"Kau keparat!" Aku memotong ucapannya dengan kejengkelan. "Apapun alasannya, apa kau pikir kau berhak menggunakan kekerasan pada siapa saja?"

"Ya, tentu saja. Aku adalah kepala keluarga ini. Aku berhak mendapatkan penghormatan dari orang-orangku."

Seseorang, tolong panggil psikiatris untuk laki-laki ini.

"Kau butuh terapi, Ace. Kau..., apa kau pikir kekerasan akan membuahkan rasa hormat dan loyalitas?"

Ace tersenyum, "Tentu saja tidak. Tapi itu akan melahirkan ketakutan."

"Kau sangat jahat." Aku tidak memahami pria ini sama sekali. Apa yang membuatnya seperti ini? Apakah dia monster dalam wujud manusia?

Sementara aku menatap Ace dengan perasaan muak, Ace memutar duduknya membelakangiku. Dia kembali mengeringkan rambutnya sementara matanya menerawang jauh menuju balkon yang terbuka. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan. Aku ingin berpikir kalau dia adalah laki-laki yang memiliki sedikit kebaikan di dalam hatinya, abu-abu. Tapi harapanku selalu mengecewakanku..., kepribadian Ace hitam. Total hitam.

Hari ketika aku berpikir dia sedikit manusiawi hanya ketika dia menangis di sampingku hari itu.

Aku memang sangat naif.

"Kau tau Ace, menggunakan kekerasan dalam menakhlukkan orang-orang adalah metode yang baik dalam mengendalikan orang. Tidak salah lagi, ketakutan manusia adalah salah satu hal yang dapat dimanipulasi. Itu adalah cara paling praktis.-

Akan tetapi..., metode itu hanya dapat kau lakukan bila kau lebih kuat dari orang lain. Jika kau mempunyai kelemahan, kekuatanmu akan ditelan oleh kekuatan yang lain."

Kau tidak akan pernah benar-benar memimpin, kau hanya akan menjadi simbol yang ditakuti dan menjadi target dari orang-orang yang membencimu.

Aku tau cara Ace memimpin adalah pilihannya sendiri, tapi aku tetap ingin menyampaikan pendapatku. Tidak peduli bagaimana reaksinya mendengar perkataanku, aku harap dia berhenti dalam metode kekerasannya ini. Dia tidak akan pernah menang bila hanya menggunakan kekuatan.

"Lalu, menurutmu apa metode terbaik dalam menakhlukkan orang-orang?" Ace menggantungkan handuk kecil itu di lehernya dan menoleh ke arahku. Sepasang bola matanya menyorotku dengan ketenangan yang tidak bisa kudefinisikan maknanya.

"Kau bisa menjadi orang baik dan bijak."

"Pfffffftttttt!!!" Ace menyemburkan tawa, matanya berubah jenaka. Dia jatuh berbaring di tempat tidur sambil memegang perutnya. Tertawa terbahak-bahak.

Bagus, tertawalah. Aku memang melucu tadi. Siapa yang kuharapkan bertindak baik dan bijak? Pria ini adalah iblis!

"Apa kau tau kau mempunyai pemikiran yang sangat murni, Fawn?" Ace mengelap sudut matanya yang basah, lalu bertopang miring menghadapku. Tawa yang merekah buas di parasnya, menyusut menjadi senyuman yang jenaka.

"Aku merasa sangat tersentuh dengan kemuliaan hatimu."

"Tidak perlu sarkastik. Katakan saja aku tolol. Nona Margot sudah mengatakan itu padaku." Aku duduk bersila dengan bahu merosot lesu. Penyesalan setelah bicara panjang lebar menghantam wajahku seperti pukulan tak kasat mata. Aku malu dan ingin memaki diriku sendiri.

"Aku tidak bermaksud sarkastik. Kau memang tolol kadang-kadang, tapi pemikiranmu barusan tidak salah sama sekali. Hanya saja, itu terdengar sangat polos." Ace bangkit duduk dan menautkan jemarinya di lutut. "Kau sangat baik, Fawn. Aku serius."

Aku tidak percaya ucapan Ace. Maksudku..., pria ini sangat random dan aneh. Kenapa dia tiba-tiba memujiku atas sebuah kebodohan?

"Dengar," Ace kembali bicara. "Cara memimpin dengan kebaikan dan kebijakan adalah salah satu metode yang benar juga. Kau tidak salah. Tetapi..., untuk melakukan itu..., aku akan memanipulasi orang-orangku menggunakan kebaikan. Apa kau pikir aku mampu melakukan itu?"

Aku tidak tau.

"Jawabannya adalah tidak. Bertingkah baik dan bijaksana adalah cara Jem dan Anggara dalam memimpin. Aku..., aku lebih suka mendominasi orang-orang dengan ketakutan. Karena aku butuh hasil yang praktis, bukan idealis."

"Bagaimana kalau kau dikalahkan?"

"Itu akan menjadi akhir bagiku."

"Jadi, apa kau akan terus memukul Margot, memukulku dan siapa saja yang kau pikir tidak menghormatimu?"

"Tidak."

Hah? Apa dia baru saja menyangkal maksud ucapannya sendiri?

Ace tiba-tiba menjatuhkan kepalanya ke pangkuanku, membuatku terkejut dan membeku. Dia berbaring di sana, dengan basah rambut yang menimbulkan kejutan elektrik di tubuhku.

"Aku akan memberi situasi spesial untukmu," Ace menusuk daguku dengan telunjuknya. "Aku tidak akan memukul peliharaanku."

"Bagaimana dengan nona Margot?" Abaikan tentang Ace yang lagi-lagi menyebutku sebagai peliharaannya, aku menanyakan situasi nona Margot.

"Aku memberi batasan dalam seberapa jauh orang mampu memicu amarahku. Margot bukan pengecualian sama sekali."

"Well...," aku menunduk dan kembali memalingkan muka saat mataku dan mata Ace bersua. Cukup mengejutkan melihat tatapan pria itu jatuh di mataku. Seperti aliran listrik yang menyentuh permukaan air. Jantungku berdesir.

"Kau sepertinya tidak suka aku memukul Margot. Apa kau sudah jatuh cinta padanya?"

"Nona Margot bukan orang jahat." ucapku susah payah. "Aku harap kau tidak memukulnya."

"Aku akan menoleransinya lebih banyak kalau itu maumu."

"Serius?"

"Dengan satu imbalan," Ace menyeringai tipis. Tanpa menanyakan apa yang dia maksudkan, aku sudah memahami tujuan pria itu ketika dia bangkit dari posisi berbaringnya dan memanjat lebih dekat untuk menyudutkanku. Matanya yang jernih menyorotku dengan binar nafsu. Sebelum aku sempat menolaknya, dia sudah bergerak maju dan memblokir segala penolakanku.

Aku bersandar di kepala ranjang dengan Ace yang memberikanku ciuman dalam. Aku tidak tau kenapa perbincangan kami mengarah ke sini. Tapi aku tau satu hal..., malam ini, hanya menilai dari intensitas pagutan Ace dan bagaimana tangannya menggapai laci untuk mengambil pengaman, aku tau aku akan terjebak dalam gairahnya lagi.

Pria psikopat ini!!!

...-------...

1
matcha
saling mw membunuh tp saling mencintai..please pada prg periksakan mentalnya k psikiater.. ckckck
matcha
udahlah udh sma2 gak sehat mentalnya ni tokoh2 utama
matcha
mmmmh kalo bgni jalan ceritanya hopeless akan happy ending..hiks
matcha
duh kok susah yaa bayangin fawn versi mw bunuh Indira..
matcha
astaghfirullah ace.. terlalu serakah jg ndk baik😆
Witha Alfarabye
novel sbgus ni Bru sadar
ein
🥰🥰🥰
ein
ace
ein
sukaa
ein
novel yg sangat bagus
ein
kerenn thor
Lalatime
aih.... novelmu Thor. bikin ampe subuh kejar selesai.
mau ambil bagian akhirnya juga segan soalnya bahasamu dan alur ceritamu gak bisa membuatku langsung ke chapter akhir...
seru Thor... apalagi pas si Vera teriak fawnia bulu kudukku langsung berdiri dan aku take a break dulu...
wuhhhh ..... terimakasih ceritanya Thor
Ivy: makasih udah mampir 😭😭😭🤌🤌💕💕💕💕💕 Makasih udah suka cerita saya...❤❤🤗🤗🤗
total 1 replies
Lalatime
skenarionya bagus banget thor
Ivy: makacciiiii 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Lalatime
wow
Lalatime
cinta mengalahkan segalanya
Lalatime
cinta mengalahkan segalany
Lalatime
hiks., cinta mengalahkan segalanya
Lalatime
ampun aku yang kaget thor
Kholifah Nur Ijazati
aku meleleh liat perlakuan Ace hummmm
Gex Candra
duhhh gemes sma couple ini,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!