Mohon maaf, karya sedang dalam revisi agar semakin lebih baik.
--------------------
SINOPSIS :
Hanssel Adamson merupakan pria casanovo yang awalnya tidak menyukai sekertaris kunonya yang menyebalkan. Siapa sangka dia justru mendadak bucin pada Karennina yang ternyata sudah memiliki putra dari pernikahan sebelumnya yang telah gagal.
Siapa yang tahu ternyata Karennina merupakan wanita yang berasal dari keluarga ternama negeri tetangga. Demi menyelesaikan misinya dia menyamar sedemikian rupa untuk menutupi status sosial serta keterlibatannya dalam jaringan hitam.
Yuks kepoin kisah mereka!!!
---------
Please give me some appreciation, don't forget to smash Like, comment, vote, gift and love! Saranghae ♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayang aku ga?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 - Kebahagian Singkat dari Sebuah Pernikahan Kilat
Hanssel tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Nina yang tengah menyuapi Jimmy dengan penuh kasih sayang. Senyum lembut tak pernah lepas dari wajah istrinya, membuat suasana makan siang mereka terasa hangat dan damai. Kontras sekali dengan ekspresi tajam dan dingin Nina saat ia menyaksikannya melalui CCTV, bertengkar dengan Jessica pagi tadi.
"Kamu wanita yang tangguh, Nina..." batin Hanssel. "Kamu tahu bagaimana membawa dirimu dalam situasi apa pun. Dan kamu... kamu selalu berusaha menjadi istri yang baik untukku. Terima kasih. Terima kasih sudah membuatku merasakan sesuatu yang bahkan tak pernah aku bayangkan sebelumnya."
Namun, rasa hangat di hatinya perlahan digerus oleh kenyataan. Pesan dari masa lalu—dari Catherina—masih membayanginya. Ia belum siap, belum cukup kuat untuk menceritakan semuanya kepada Nina.
“Papa Hanssel! Hari ini kita main ke Timezone ya!” seru Jimmy penuh antusias.
Hanssel tersenyum lebar, menyambut semangat itu. “Oke, Prince!”
“Yuhuuu!!” Jimmy bersorak, membuat suasana meja makan semakin riuh dengan kebahagiaan.
Nina mengusap lembut rambut anaknya, ikut tersenyum. Sudah lama ia tak melihat Jimmy sebahagia ini. Tidak ada canggung, tidak ada jarak—Jimmy benar-benar telah menganggap Hanssel sebagai papa kandungnya. Bahkan dibandingkan Erick atau Rangga, hanya Hanssel yang mampu mengisi kekosongan itu.
Nak… maafkan Ibu. Jika suatu hari nanti, Papa Hanssel tak lagi bersamamu. Waktu kami tinggal dua minggu. Dan setelah sebulan... semua ini akan berakhir. Termasuk kebahagiaan pura-pura yang diam-diam telah menjadi nyata di hatiku.
Usai mengantar Jimmy pulang, Nina dan Hanssel kembali ke perusahaan.
“Dua hari lagi kita buka tender gabungan untuk proyek konstruksi Lee Hi,” ucap Nina, memecah kesunyian.
“Hm.” Hanssel hanya mengangguk pelan.
“Kamu benar-benar memasukkan Suho ke dalam daftar peserta?” tanya Nina, ragu.
“Of course. Bukankah itu bagian dari rencanamu?”
“Iya, hanya saja... Suho lebih familiar dengan lini fashion. Ini pertama kalinya dia masuk ke proyek konstruksi.”
“Dan justru itu bagus.”
Nina menatap Hanssel heran. “Bagus? Bukankah itu akan memancing curiga dari para kompetitor? Bisa saja mereka menyadari jebakan ini.”
“Aku ingin mereka curiga. Karena dari sanalah kesalahan mereka dimulai. Kita tak bisa menjatuhkan musuh yang sempurna, Nina... Kita harus membuat mereka lengah.”
Nina terdiam. Beban yang dulu terasa ringan kini berubah. Dulu, ia menjalankan ini demi ambisi. Tapi kini, hatinya ikut bicara. Ia takut... takut kehilangan Hanssel dalam proses ini.
“Kamu mikirin apa sih?” tanya Hanssel lembut, menangkap kecemasan di mata istrinya.
“Aku hanya...” Nina menunduk, suara lirihnya nyaris tenggelam. “Risikonya besar. Aku takut kamu terseret...”
Hanssel mendekat, tangannya terangkat membelai pipi Nina dengan penuh kelembutan. Ia menunduk, mengecup bibir Nina dengan hangat. Ciuman itu bukan sekadar hasrat, ada janji yang tersembunyi di baliknya.
“Aku tahu apa yang aku lakukan, Nina. Kamu bukan satu-satunya yang mempertaruhkan segalanya. Aku juga... Dan kamu harus tahu, aku tidak akan membiarkan siapapun melukai kamu atau Jimmy.”
“Terima kasih, Hans...” gumam Nina lirih, menatap dalam mata suaminya.
Tapi Hanssel hanya tersenyum nakal. “Aku nggak suka kamu cuma bilang makasih lewat kata-kata.”
Nina mengerutkan dahi. “Maksudnya?”
“Aku akan minta hakku nanti malam.”
Pipi Nina langsung bersemu merah. Ia tahu pasti maksud suaminya dan itu membuat jantungnya berdebar tak karuan. Sejujurnya, setiap malam mereka selalu saling menemukan. Bukan sekadar gairah, melainkan kebiasaan yang telah berubah menjadi kebutuhan, seolah mereka tak bisa tidur tanpa terlebih dahulu saling mencintai.
***
Nina berjalan tertatih sambil mengusap perutnya yang masih terasa ngilu. Kimono satin warna merah marun yang ia kenakan hanya menambah kesan dramatis setiap langkah kecilnya menuju kamar mandi.
"Astaga... Dia ini manusia atau iblis dari Neraka!" gerutunya pelan.
Ia mengelus bagian pinggangnya sambil meringis. "Kalau begini terus, aku kudu ikut kelas yoga khusus istri korban cinta barbar!" katanya pada diri sendiri sambil meringis kesal sekaligus... malu-malu bahagia.
Hanssel, pria pemilik segala hasrat tanpa rem itu, masih tergolek santai di atas ranjang dengan wajah polos seolah dia tak habis-habisan semalam.
"Hans..." panggil Nina pelan.
Tak ada sahutan.
"Hans... Bangun!" kali ini Nina menggoyang bahu suaminya yang hanya bergeliat manja dan menarik tubuh Nina kembali dalam pelukannya.
"Hmm..." gumam Hanssel malas. "Masih jam segini, Babe..."
"Jam segini? Ini udah siang, Yang Mulia! Kita ada rapat koordinasi proyek JK. Inget?"
Hanssel membuka satu matanya, menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Kenapa kamu arrange minggu ini sih, hm?"
Nina mencibir manja. "Karena minggu depan aku mau konsentrasi menekan SUHO. Kamu kan tahu, mereka cuma butuh sedikit goyangan buat ambyar."
Hanssel tertawa pelan, lalu mencium pipi Nina mesra. "Baiklah, aku ikuti skenario jenius istriku."
Dengan lesu dan sedikit tertatih, Hanssel akhirnya beranjak menuju kamar mandi.
Tring!
Ponsel Nina bergetar di atas meja rias. Sebuah pesan muncul:
[Karenn... Aku pulang sore ini. Kamu jemput aku okay!]
Tanpa banyak pikir, Nina mengetik cepat:
[Okay!]
Kemudian, hapus chat. Hapus history. Hapus dosa juga kalau bisa sekalian, batin Nina sambil mendesah.
***
Di Kantor Adamson Group
Nina berdiri di depan meja konferensi, memandangi berkas dari pihak Suho yang di submit untuk ikut tender konstruksi gabungan. Alisnya terangkat setinggi tower crane.
"Yang bener aja... kayak gini mau ikut tender gede? Ini berkas atau naskah ujian anak TK?"
Ia membalik satu per satu halaman, lalu membanting mapnya ke meja. "Nyali Erick bisa dijadikan bahan penelitian, ini mah beyond nekat!" gumamnya ketus.
Tangannya menyambar pulpen, lalu menandai berbagai kekeliruan dokumen itu sambil mendecak kesal.
"Apa perlu aku kasih contekan biar mereka bisa lolos? Biar makin seru dramanya! Huh!"
Nina merebahkan kepalanya ke meja, lalu berteriak pelan tapi penuh tekanan emosional.
"AAARRGGHHH!!"
Di dalam pikirannya, Nina hanya bisa bergumam lirih.
Suho... setelah aku pergi, kalian bak kapal pecah. Tapi, kok bisa-bisanya minggu ini saham kalian stabil? Bulan kemarin jeblok, sekarang malah kayak naik daun.
Matanya menyipit curiga. "Siapa dalang di balik bangkitnya SUHO?"
"Persetan semuanya. Besok aku akan jadi si buruk rupa lagi. Tapi ingat... Si buruk rupa satu ini, kalau udah main, bisa bikin semua putri ratu langsung gugur di ronde pertama." Nina tersenyum licik.
Bersambung…
------------------------------------------------------------------------
🌸 Hai, Readers Sayang~ 🌸
Kenalin dong~
Aku Author dari cerita ini, yang suka banget bikin kalian senyum-senyum sendiri, kesel sendiri, bahkan kadang pengin nyubit karakternya wkwk 😝
Terima kasih ya, udah baca sampai bab ini!
Dukungan kalian itu semangat terbesar buat aku terus nulis, walau kadang ide suka ngambek dan tokohnya suka hidup sendiri 🤯💕
✨ Kalau kamu suka sama kisah ini, jangan lupa ya:
👉 Klik Like
👉 Tap Love
👉 Tinggalkan Komentar yang bikin Author makin semangat
👉 Vote dan kirim Gift juga kalau berkenan 🥺✨Support kecil dari kalian itu artinya BESAR banget buat aku~
Bikin aku semangat terus kasih yang terbaik buat kalian semua 💖
Love you to the moon and back!
Stay tuned ya, next bab dijamin makin bikin deg-degan dan gregetan 😆Sekarang...
🎁 BONUS VISUAL DULU YAAA~ o(〃^▽^〃)o
Karena ini sapaan kedua, othor mau minta maaf, ada perubahan visualnya ya!
pusing,, pusing,, pusing,, pusing,, kepala ini 🤕