"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilmu Turun Temurun
Beberapa hari berlalu
"Gimana bisa dapet job nya jadi peran pembantu?" tanya Rena
"Gak mbak, mbak Tina yang kepilih, lagian aku juga masih baru perlu banyak latihan lagi" ujar Zofa lesu
"Padahal suara kamu bagus banget, kalau cuma ngambil take beberapa kali pasti bisa lagian pemeran pembantunya cuma ngomong lima kali doang, nasib-nasib gak punya orang dalam" ujar Rena yang menggelengkan kepalanya
"Ah mbak Rena gak boleh soudzon ihh" tegur Zofa
"Bukan soudzon tapi fakta, dia kan pacarnya pak kepala makanya dia yang kepilih, lagian satu kantor kita pada tahu kok anak baru yang paling top suara ya kamu" ujar Rena
"Iya paling top dalam memanfaatkan anak orang" gerutu Zofa
Layaknya senior dan junior pada umumnya pasti apa-apa yang menjadi babu adalah junior, kapan hari Zofa pernah menirukan suara Tina untuk meredakan kemarahan pak kepala yang menarik bonus upah mereka karena suatu kesalahan, ia melakukan itu dengan via telpon no kantor, tentu bukan hal yang mudah baginya untuk menirukan suara orang lain butuh latihan berhari-hari agar ia dapat menirukan suara Tina, pasca menelpon pak kepala ia benar-benar gugup takut suaranya tak mirip sama sekali dan takut ketahuan tapi ternyata ntah pak kepalanya yang oon atau apalah yang jelas beliau percaya dengan mudahnya, yah meski awalnya ia bingung kenapa Tina menelpon menggunakan no kantor ke ruangannya padahal biasanya makai no hp dia
Sepenggal ingatan Zofa yang merayu pak kepala
"Hallo sayang" sapa Zofa manja dari balik telpon, padahal dalam hatinya ia jijik dengan ucapannya sendiri
"Sayang ini kamu, kenapa menelpon ke no hp kantor?" tanya pak kepala bingung
"Ehmmm itu, sayang aku lupa no hp kamu, ini aku pakai hp temen"
"Kamu melupakanku sayang" ujar pak kepala yang merajuk
Sungguh antara takut dan geli bercampur jadi satu
"Emmm sayang...... Bagaimana bisa aku melupakanmu, jangan marah ya hati ini khusus untuk kamu sayang" bujuk Zofa manja
"Sayang kangen butuh kehangatan" lanjut Zofa genit, ia benar-benar menjelma menjadi Tina dengan kegenitannya
"Uhhh sayang aku juga sangat merindukanmu, tunggu kamu pulang aku akan menghangatkan mu dengan tubuh gagah ini"
Hampir saja Zofa muntah kalau mulutnya tidak di bekam oleh Rena, sungguh ini pengalaman menggelikan yang pernah ia alami, membayangkan ekspresi pak kepala dengan perut bundarnya serta bertubuh pendek saat ini saja sudah membuat ia jijik, untung kepala pak kepala tidak botak
"Uhhhh sayang, kau benar-benar nakal" suara genit itu terus terucap dari mulut Zofa, tentu saja ia mengucapkan itu dengan membaca teks yang telah di tulis secepat kilat oleh salah satu rekan timnya, suaranya ia speaker agar satu timnya dapat mendengar suara pak kepala, bahkan enam orang itu mengelilingi Zofa dengan tugas masing-masing, ada yang menulis jawaban apa yang harus Zofa berikan, ada yang memando agar suara Zofa lebih bertingkah genit, ada pula yang menyediakan minum kala suara Zofa dirasa agak melenceng dan mulai berubah
Hasil kerja keras tim mereka membuahkan hasil, benar saja pak kepala percaya sepenuhnya, dan lagi kini pak kepala pulang dengan hati yang berbunga-bunga hingga akhirnya membatalkan penarikan uang bonus mereka, dan bahkan menambah sedikit uang bonusnya
Sepenggal cerita usai
"Hahaha nasib memang nasib jadi begini, semuanya apa apa dilakukan junior, lama-lama mumet juga eh kalau begini bisa resign kantor resign kantor" senandu Rena
"Gak ya mbak gak sampai resign juga, tunggu saya jadi senior mihhh ilmu turun temurun yang selama ini mbak, mas, pak, bu yang ajarkan di sini saya akan terapkan kepada junior junior saya di masa mendatang" ujar Zofa dengan senyum liciknya
Mereka hanya menggeleng melihat ucapan Zofa
"Zofa" panggil pak Arif
"Iya pak, ada yang bisa di banting eh maksudnya dibantu" sahut Zofa
Pak Arif menyodorkan cangkirnya, dan Zofa dengan khidmat mengambil cangkir tersebut, dia sudah hafal apa maksudnya ini, apalagi kalau bukan di bikinin kopi, Zofa sudah biasa akan hal itu rekan-rekan di tempat kerja dulu dan disini ternyata menyukai racikan kopi buatan Zofa, ya jelas mantan barista di salah satu cafe pinggir jalan ketika dulu ia mengambil kerja part time selama setahun
***
Motor Ammar berhenti di dekat perusahaan Zofa lebih tepatnya depan cafe, tadi pagi mereka berdua memang berangkat bareng karena motor Zofa mongok, motor bekas milik ayahnya memang kurang dihajar, bukannya menghemat uang malah kerap kali memeloroti uang miliknya, bagaimana tidak ia beberapa kali harus membayar uang servis motor, maklum motor matic tua
"Assalamualaikum" sapa Ammar di seberang sana
"Waalaikumsalam, kamu dimana?" tanya Zofa sembari berbisik-bisik
"Udah sampai di depan cafe yang tadi pagi" ujar Ammar
"Ok aku ke sana" Zofa memutus panggilannya, ia keluar perusahaan dengan celingak-celinguk sembari mengendap-endap, setelah di rasa aman terhindar dari rekan tukang gosipnya ia menyebrang jalan dan berjalan tiga puluh lima langkah hingga akhirnya sampai di depan cafe, dasar Zofa kurang kerjaan sampai langkah kaki pun ia hitung
Ammar tersenyum kala Zofa telah berdiri di samping motonya, ia menyerahkan helm untuk Zofa
Zofa menerima helm tersebut dan langsung menaiki motor Ammar
"Ayo buruan" ujar Zofa
Ammar menghela nafas "Segitu gak mau ketahuannya ya kalau sudah punya suami" ujar Ammar kala motor telah berjalan dengan semestinya
"Iyalah, apa kata mereka kalau tahu aku itu istri kedua" gerutu Zofa di belakang Ammar
"Pegangan nanti jatuh" tegur Ammar
"Gak perlu gak bakal jatuh, udah biasa di bonceng tanpa pegangan"
"Kalau gitu jangan di biasakan lagi" Ammar mencari kedua tangan Zofa di belakang saat lampu merah, setelah dapat ia menaruh tepat di kedua pinggang Ammar
"Ok aku akan pegangan setiap di bonceng orang naik motor, lumayan bisa pegang abang abang grab yang masih muda" ujar Zofa santai
"Gak boleh, bukan mahram" tegur Ammar
"Tadi ada yang nyuruh biasakan pegangan kalau di bonceng" ujar Zofa
"Maksud saya kalau saya yang bonceng kamu harus pegangan"
"Kenapa harus pegangan?" tanya Zofa
"Biar gak jatuh"
"Nah kan kalau alasannya seperti itu berarti semua orang yang gonceng aku, aku harus pegang mereka biar aku gak jatuh" ujar Zofa dengan smirk di wajahnya
Ammar menarik gas dengan kuat hingga membuat Zofa terlonjak kaget, untung tangannya masih berada di pinggang Ammar jadi dengan mudah ia mencengkram jaket Ammar kuat-kuat untuk menahan tubuhnya agar tidak jungkling ke belakang
"Oi kamu mau buat aku mati muda ya biar bisa cari mangsa buat di jadiin istri kedua lagi" teriak Zofa kesal
"Astaghfirullah, ada apa denganku" batin Ammar
***
Ingat ingat ingat untuk tinggalin jejak kalian, thanks a lot, bagi yang request dua episode hari ini terselesaikan, tapi... bisa jadi besok gak up 🤣🤣🤣
oh ya jangan lupa bershalawat agar kelak mendapatkan syafaat dari Rasulullah, see you next time guys 👋