Yang mau ngobrol shantuy dengan saya, bisa langsung follow instagram saya ya (@kangrebahan_03). Kebetulan saya baru aktif lagi di instagram, insya allah nanti saya infokan jadwal up di sana.
*******
"mari bermain"
Bagi siapa pun yang mendengar kalimat itu dari mulut seorang gadis cantik yang bernama Elza, lebih baik memilih untuk segera mengakhiri hidupnya dari pada mati di tangan gadis berhati iblis namun berwajah malaikat itu. Kecantikannya bisa menjadi daya pikat untuk memancing targetnya agar memasuki perangkap dalam jebakan maut yang sudah ia buat.
Ya itulah Elza, gadis mungil yang memiliki wajah super cantik membuat siapa pun akan tertipu dengan mudah. Di balik itu semua, ada iblis di dalam diri Elza yang siap bangkit kapan pun ketika ia lepas kendali.
***
Melvin Andrea Micheal.
Nama itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Melvin itu bisa di bilang suami idaman bagi kaum hawa. Dia tampan, kaya, seorang pengusaha sukses juga. Paket konplit bukan? Maka tidak heran jika Melvin menjadi rebutan cewek cewek.
****
Misi nya di New York membawa petaka bagi seorang Elza. Ciuman pertama nya di ambil paksa oleh bajingan tampan, bernama Melvin. Elza tidak terima dengan kelakuan Melvin yang secara tidak langsung sudah menodai bibirnya yang suci, maka dari itu Elza langsung memberikan pelajaran kepada Melvin berupa tendangan super kencangnya di area sensitif Melvin.
Harusnya Melvin marah dengan perlakuan gadis itu kepadanya, tapi melihat wajah kesal gadis itu membuat seringai muncul di wajahnya yang tampan.
"mine"ucapnya.
+++++
Hanya penulis pemula yang ingin menuangkan kehaluan nya😴. Berhubung ini karya pertama saya, mohon bantuannya untuk para senior yang sudah banyak pengalaman nya. 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vifinefianti_033, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Melza
Semua orang sudah masuk kedalam lift darurat, kecuali Elza dan Angga yang masih diam menatap pintu yang sebentar lagi tertutup.
"Lo ngapain di situ, cepetan masuk! "
"Angga! "
"Kalian duluan ajah" ucapq Angga
"Lo yakin? "
"Ya"
Elza langsung merangkul tangan Angga dengan posesif.
Para karyawan yang melihatnya hanya bisa geleng geleng melihat Angga akan bersenang senang dengan wanita cantik di situasi kebakaran, gila. Tentu saja.
"Jalan! "Bentak Elza pelan.
Angga dan Elza langsung melangkah pergi meninggalkan lift yang sudah tertutup rapat.
"Apa mau lo? "Tanya Angga berusaha menyingkirkan rasa takutnya itu.
"Jawaban" Jawab Elza santai.
"Jawaban? Apa maksud lo? Gue nggak ngerti"
"Nanti juga lo ngerti"
Keduanya langsung berhenti melangkah saat Elza sudah sampai di depan pintu lift, ia masuk kedalam sana setelah Angga masuk lebih dulu. Elza menekan lantai teratas, lalu pintu lift pun langsung tertutup kembali.
"Sebaiknya singkirkan pistol mainan lo itu" Kesal Angga karena sendari tadi gadis cantik ini terus mengarahkan moncong pistol kepadanya.
"Mainan? "Elza menaikan sebelah halisnya sambil tersenyum penuh ejekan "Mau di coba? "
Angga memutar bola matanya malas.
"Lo mau bawa gue kemana? "
Elza tidak menjawab.
"Vian udah di posisi, Leo udah ada di atap gedung"
Ting...
Pintu lift terbuka.
"Jalan! "Bentak Elza menatap Angga tajam.
Tapi Angga tidak mengikuti perintah Elza.
"gque bilang jalan! "Bentak Elza lagi.
Angga menatap Elza dengan malas lalu melangkahkan kedua kakinya mendekat kearah Elza, Angga tersenyum sinis ketika melihat gadis yang berusaha menyandera tampak lemah. Bahkan tingginya hanya sebatas dadanya saja.
"Sebenarnya gue nggak mau melukai lo" Angga mengelus pipi halus Elza dengan ibu jarinya "Gue nggak mau melukai perempuan cantik"
Elza menepis tangan Angga dengan kasar, ia langsung melayangkan tamparan keras nya di wajah menyebalkan Angga.
"Jangan sentuh gue dengan tangan sialan lo itu"Bentak Elza mendorong Angga dengan amat kuat hingga punggung Angga membentur dingding lift.
Sekarang Elza lah yang melangkah mendekat kearah Angga, seringai muncul di wajah cantiknya saat melihat raut wajah Angga menatap dirinya tidak percaya.
Bughhh..
Baghhh..
Berhubung tangan Elza sudah gatal, jadi ia tidak bisa menahan dirinya untuk segera memukul wajah menyebalkan Angga.
"Berhenti Elza, lo bisa bikin dia mati terbunuh! "
Teriakan Calvin berhasil membuat Elza tersadar dari aski brutal nya itu, Angga adalah kunci. Ia tidak bisa melampiaskan amarah nya jika belum mendapatkan informasi tentang Noir.
"Suruh Leo kesini! "
"Leo lagi di jalan menuju ke lokasi lo"
Elza mendudukkan bokongnya di pojokkan sambil menatap Angga yang sedang meringis kesakitan karena pukulannya tadi.
"Sebenarnya siapa lo? Mau lo apa? "Tanya Angga kesakitan.
"Jawaban"
"Jawaban apa yang lo maksud? Gue nggak paham"
Elza menghela napas kasar, ia langsung melepaskan kacamata sekaligus handset di telinganya. Ia menatap wajah Angga dengan serius.
"Alberth, Thomas"
Mendengar nama itu membuat tubuh Angga langsung menegang.
"bagaimana lo tahu tentang mereka? "
"Tentu saja gue tahu"
"Jangan jangan lo salah satu anggota hantu? "
Elza menaikan kedua bahunya acuh.
"Kenapa lo ingin mereka mati? "
"Bukan gue, tapi seseorang tiba tiba nyuruh gue" Jawab Angga dengan tubuh bergetar "Dia tiba tiba menyuruh gue untuk membunuh Alberth dan Thomas"
"Siapa orang itu? "
"Orang itu... "
Ucapan Angga langsung terhenti begitu saja saat sebuah peluru berhasil melukai lehernya.
Mata Elza terbelalak kaget, ia menoleh kearah peluru itu berasal.
Buru buru Elza langsung menangkap tubuh Angga, ia menekan luka di leher Angga dengan kedua tangannya.
Darah yang keluar dari luka tembak Angga begitu banyak, walau hanya sebuah goresan saja tapi peluru itu berhasil mengenai tenggorokan Angga. Elza menekan leher Angga dengan kedua tangannya, agar darah yang keluar tidak terlalu banyak.
"Jangan mati! "Bentak Elza panik.
"Gue mohon bertahan lah"
Tidak, Angga tidak boleh mati. Elza belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan, jika Angga mati maka Noir tidak akan pernah di temukan olehnya.
Kedua mata Elza sudah memerah karena menahan air matanya yang sebentar lagi menetes.
"Jangan mati sialan! "Umpat Elza.
Angga tidak boleh mati, ia harus mendapatkan jawaban agar ia bisa membalas kematian Rio.
"Mendekat"
Kerutan langsung muncul di kening Elza, pada saat itu Elza tidak punya pilihan selain mendekatkan telinganya di mulut Angga.
"Alan Micheal "Ucap Angga dengan nada yang begitu lemah dan pelan.
Selesai mengucapkan itu Angga tidak lagi bernapas, bahkan tangan yang semula menggenggam tangan Elza langsung terjatuh dan terkulai lemas begitu saja.
Mata Elza masih terpaku melihat wajah Angga, yang posisi kepalanya berada di pangkuan Elza.
Leo yang baru saja datang ke lokasi Elza terbelalak kaget saat melihat Angga berada di pangkuan Elza dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
"Elza" Panggil Leo.
Leo langsung menghampiri Elza yang tampak diam mematung sambil menatap Angga yang sudah meninggal.
"Kita harus pergi sekarang! "
Leo menyentuh bahu Elza agar gadis itu tersadar dari lamunannya.
Ada pengkhianat
Elza tersentak kaget, ia langsung menoleh dan menatap Leo sebentar.
"Lo urus dia" Elza memberikan perintah kepada Leo yang sedang menatap dirinya dengan khawatir.
"Gue harus kejar orang itu"
Pada saat itu lah Elza langsung beranjak dari sana, ia menatap Leo sebentar sebelum akhirnya Elza berlari dengan kencang meninggalkan Leo bersama Angga yang sudah tidak bernyawa lagi.
Terik matahari langsung membakar kulit putih Elza ketika ia keluar dari pintu, kini Elza berada di atap gedung pemerintah.
Elza celingak celinguk mencari keberadaan penembak jitu yang berhasil membunuh Angga, sebelum Elza berhasil membawanya.
Udara panas berhembus dengan kencang, menerpa tubuh mungil Elza sehingga rambut Elza yang tadinya tertata rapih kini terlihat berantakan. Tidak hanya itu saja, penampilan Elza di perparah oleh darah Angga yang mengotori sebagaian bajunya dan kedua tangan Elza yang penuh dengan darah Angga.
Elza mempertajam penglihatannya untuk mencari titik lokasi yang tepat bagi si penembak jitu untuk membunuh Angga.
Tatapan Elza berhenti di satu titik yang menurut nya tempat itu sangat cocok untuk membunuh Angga dari jauh, dugaan Elza semakin di perkuat saat merasakan udara yang berhembus cukup tenang di area yang ia duga.
Gue akan tangkap lo sialan!
Menangkap Noir adalah sebuah obsesi besar yang di inginkan oleh Elza, maka dari itu Elza tidak ingin menyia nyiakan kesempatan apa pun untuk menangkap budak budak Noir.
"Elza, apa yang akan lo lakukan? "Teriak Leo saat melihat Elza bersiap siap untuk menyeberangi ke sisi gedung lainnya.
Leo benar benar tidak habis pikir jika Elza akan berbuat segila ini, ia tidak punya pilihan lain selain menghentikan Elza.
"ELZAAAAAAA!! " Teriak Leo dengan kedua matanya membulat dengan sempurna, bahkan matanya nyaris keluar dari tempatnya.
Nyatanya Leo tidak berhasil untuk mencegah Elza yang melompat dari atas gedung ini, Leo hanya diam terpaku saat tubuh Elza meluncur dengan brgitu cepat ke bawah. Elza persisi seperti seekor burung elang yang hendak memangsa buruannya di tanah.
Elza meluncur begitu indah menembus udara yang menghalangi jalannya, bahkan sesekali Elza menabrak beberapa serangga yang kebetulan sedang terbang berlawanan arah dengannya.
Gila, mungkin sebutan itu yang paling cocok untuk Elza. Kehilangan, berhasil merubah Elza jadi orang yang tidak takut dengan kematian. Bahkan Elza seolah olah menantang maut dengan melakukan hal hal gila seperti sekarang contohnya.
Tali ini yang akan menentukan hidup Elza selanjutnya. Jika tali ini jauh lebih panjang dari tinggi gedung ini, maka Elza akan mati karena jatuh. Jika tali ini terlalu pendek, maka Elza akan bergelantung di udara. Namun jika ukuran tali ini pendek, dan ikatan tali di perut nya tidak kuat maka Elza akan mengalami patah tulang. Itulah spekulasi Elza kira kira.
Kedua mata Elza terpejam erat saat permukaan tanah semakin dekat dengannya, jantung Elza berdebar begitu cepat, dan wajah Elza memucat saat permukaan tanah tinggal 2 meter lagi.
"Akhh" Pekik Elza kaget.
Tubuh Elza langsung bergelantung diudara saat tali itu sudah mentok, buru buru Elza melepaskan ikatan tali di perutnya sehingga tubuhnya langsung terjatuh ke permukaan tanah.
Untuk beberapa saat Elza terdiam dalam posisi yang terlentang menghadap kearah langit yang berwarna biru cerah, dada Elza naik turun untuk mengatur napasnya yang tidak beraturan. Bahkan kepalanya terasa begitu pening, rasanya Elza mau pingsan.
Mendengar suara mesin mobil yang baru saja di nyalakan membuat Elza langsung menoleh, kedua matanya membulat sempurna saat melihat seseorang mengenakan pakaian serba hitam baru saja masuk kedalam mobil. Buru buru Elza beranjak dari posisi telentang, ia berlari dengan kencang diatas aspal untuk mengejar mobil hitam.
Semua orang yang sedang berjalan diatas trotoar menatap Elza dengan tatapan bingung sekaligus ngeri saat melihat ada noda berxak darah di pakaian dan tangannya, Elza tidak mempedulikan telapak kakinya yang harus menyentuh aspal panas karena teriknya matahari.
"Sialan!!"
Elza langsung membelokan arah larinya ketika melihat mobil itu semakin jauh darinya, Elza harus menggunakan jalan pintas agar ia bisa mengejar mobil hitam itu.
Elza masuk kedalam gang kecil, sesekali ia akan melompat saat pagar rumah menghadang jalannya. Tak hanya itu, Elza juga harus melewati gerombolan orang orang yang tengah berkumpul. Tentu saja mereka sangat terkejut ketika melihat seorang wanita berlari seperti orang kesetanan dalam keadaan berantakan seperti itu.
Tittt... Tittttt
Suara klakson motor langsung membuat kaki Elza berhenti melangkah, ia melihat ada seorang pemuda yang sedang mengendarai motor matic.
"Woyyy orang gila, minggir lo! "Bentaknya.
Senyum tipis langsung terbit di wajah cantik Elza, ia langsung melangkahkan kakinya mendekat kearah anak remaja itu. Elza mendorong anak smp itu hingga terjatuh dari motornya, kini Elza lah yang mengambil alih motor anak smp itu. Sebelun pergi, Elza mengeluarkan beberapa lebar uang kepada anak itu sebagai biaya sewa motor.
Tittt... Titttt
Berulang kali Elza akan menekan klakson agar orang orang memberikan jalan kepadanya, persetan dengan umpatan orang orang terhadapnya Elza tidak peduli.
Ia terus memacu laju motor dengan kecepatan tinggi agar ia bisa mengejar mobil itu.
Dari gang ini Elza bisa melihat mobil yang melintas di jalan raya, begitu pun dengan mobil yang sedang di incar oleh Elza tidak luput dari pengawasan nya.
"Satu.... Dua....... Tiga.. "
Brummm...
Elza langsung melompat dari atas motor itu, lalu tubuhnya berguling guling diatas trotar jalan.
Pada saat itulah motor yang ia naiki langsung menabrak bagian mobil yang sejak tadi di incar olehnya, mobil hitam itu langsung berhenti saat mobilnya tidak bisa melaju karena terhalang oleh badan motor yang masuk ke kolong mobil.
Kedua lutut Elza sudah mengeluarkan darah, bahkan telapak tangannya tidak jauh berbeda dari lututnya.
Ia memaksakan dirinya untuk bangun, walau langkahnya tertatih tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk mendekat ke mobil hitam. Elza mengeluarkan pistol yang sejak tadi ia sembunyikan di panggangnya.
Tok tok
Elza mengetuk kaca mobil itu agar seseorang didalaminya keluar dari mobil.
Melihat tidak ada tanda tanda seseorang yang akan keluar dari sana, membuat Elza dengan amat terpaksa mengarahkan moncong pistol kearah jendela kaca itu.
Elza menujukan tangannya yang tengah bergerak seolah olah menghitung dalam hitungan tiga detik saja.
Pada saat Elza hendak menekan pelatuk pistolnya. Pintu mobil langsung terbuka, lalu muncullah seorang pria yang mengenakan pakaian hitam hitam.
Tubuh Elza langsung membeku, bahkan pistol yang ada di tangannya langsung terjatuh saat melihat seorang pria di depannya.
"Nggak mungkin" Elza menggelengkan kepalanya hingga air mata yang menumpuk di pelupuk matanya langsung terjatuh ke pipinya.
"Maaffin gue Za"
Kedua pipinya sudah sangat basah ketika air matanya semakin banyak yang menetes, dadanya begitu sesak, pasokan oksigen di paru parunya terasa berkurang hingga Elza kesulitan untuk bernapas.
Di khianati oleh teman yang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri lebih menyakitkan dari pada di khianati oleh musuh sendiri.
Seperti ada beban berat yang baru saja menghantam Elza, ia tidak percaya jika seseorang yang dekat dengannya memilih untuk mengkhianati dirinya. Padahal Elza sudah menaruh kepercayaan besar kepada pria di depannya, tapi pria ini malah mengkhianati nya.
"Ambil pistol lo Elza! "
"Bunuh gue"
"Bunuh musuh lo"
Elza menggelengkan kepalanya cepat.
"Gue nggak bisa! "
"Kenapa? "
"Kenapa lo nggak bisa bunuh gue? "
"Gue musuh lo, Elza"
"Lo harus bisa memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menghabisi misi lo"
"Cepat Elza! "
"Elza yang gue kenal nggak akan selemah ini"
"Elza yang gue kenal selalu menghabisi musuhnya tanpa ampun"
"Ayolah Elza"
"Bunuh gue"
"GUE NGGAK BISA CALVIN, GUE NGGAK BISA! " Jerit Elza histeris.
"Kenapa? "
"Kenapa lo nggak bisa bunuh gue Za? "
"Apa sekarang Elza berubah jadi gadis yang lemah? "
"LO KELUARGA GUE SIALAN, MANA MUNGKIN GUE MEMBUNUH KELUARGA GUE SENDIRI"
Marah, kecewa, lelah. Itulah yang Elza rasakan saat ini.
Ingin rasanya Elza meluapakan seluruh perasaannya kepada Calvin, tapi ia tidak bisa melukai keluarga nya. Selama ini Elza berjuang keras untuk melindungi keluarganya, bagaimana bisa Elza membunuh Calvin yang notabenya sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri?.
"Cinta dan keluarga adalah sebuah kelemahan Elza"
"Lo salah! "Bentak Elza dengan suara seraknya, ia menatap Calvin dengan tatapan terlukanya bahkan air matanya masih terus menetes tanpa henti "Keluarga dan orang yang gue cinta adalah alasan gue untuk tetap bertahan hidup sejauh ini"
"Mereka adalah kekuatan yang gue miliki untuk menghadapi para ********"
Calvin tersenyum tipis.
"Sekarang, gue bukan bagian dari keluarga lo lagi Elza"
"Ya lo bener" Elza menganggukan kepalanya sambil berusaha menampilkan wajah kuatnya "Lo bukan keluarga gue, mungkin alasan Rio meninggal karena lo. Bukan karena Leo"
"Kalau begitu cepat ambil pistol lo, lalu bunuh gue Elza"
"Gue nggak bisa! "Tolak Elza menggelengkan kepalanya cepat.
Helaan napas keluar dari mulut Calvin.
"Kalau begitu gue yang akan bunuh lo"
Tepat pada saat itu Calvin mengarahkan pistolnya kearah Elza.
"Bagus Calvin" Elza menampilkan sebuah senyuman terlukanya "Lo bisa bunuh gue sekarang"
Elza melangkahkan kedua kakinya mendekat kearah Calvin, hingga jarak di antara mereka begitu dekat. Elza meraih tangan Calvin agar pria itu menempelkan moncong pistol tepat di pelipis nya.
"Lo bisa bunuh gue sekarang"
Melihat tatapan Elza yang terluka membuat hati Calvin mendadak sakit, bahkan tangannya yang memegangi pistol gemeteran. Padahal Calvin hanya perlu menekan pelatuknya saja, tapi rasanya begitu sulit hingga berulang kali Calvin memantapkan hatinya untuk membunuh Elza.
"Gue kangen Mamah, kangen kak Elsa, dan.... Rio" Elza tersenyum begitu lebar ketika mengatakan nama nama itu, bahkan tidak ada rasa takut di dalam dirinya ketika nyawanya berada di ujung tanduk "Bunuh gue, bantu gue bertemu dengan mereka"
Calvin langsung menurunkan todongan pistolnya di pelipis Elza, sekuat apa pun Calvin berusaha membunuh Elza tapi rasanya begitu sulit bahkan saat Elza sudah mengetahui jika dirinya adalah pengkhianat.
"Kenapa? Lo nggak bisa bunuh gue, Calvin? "
Calvin diam.
"Gue musuh lo Calvin!"
Calvin menghela napas kasar.
"Gue akan bunuh lo kalau keadaan lo jauh lebih baik"
Setelah itu Calvin membalikan badannya dan masuk kedalam mobilnya.
Tubuh Elza masih dian mematung di tempatnya ketika melihat mobil yang di naiki oleh Calvin sudah pergi meninggalkan dirinya.
Cuaca berubah jadi mendung saat awan hitam berhasil menyingkirkan awan putih, kini awan hitam lah yang memegang kendali atas langit.
Jderrrr...
Suara petir tiba tiba menggelegar begitu kencang, membuat orang orang terpekik kaget ketika siara menggelegar itu menyerang bumi.
Pada saat itu juga, hujan pun langsung turun dengan begitu deras. Membasahi sebagaian bumi.
Orang orang tampak berlarian mencari tempat untuk berlindung dari ganasnya air hujan yang turum dari langit.
Tapi tidak bagi seseorang yang tengah kacau itu, Elza membiarkan tubuhnya di guyur oleh hujan, ia tidak peduli dengan hawa dingin yang terasa membekukan tulang tulangnya. Pikirnya yang kacau membuat dirinya tidak mempedulikan kondisi tubuhnya.
Air mata yang sejak tadi menetes ikut mengalir dengan air hujan, bergabung sehingga orang yang melihatnya tidak sadar jika Elza tengah menangis. Darah yang ada di kedua lutut dan telapak tangannya sudah tersapu bersih, bahkan hanya ada bekas kemerahan disana. Hujan seakan akan sedang menutupi luka fisik sekaligus luka hati yang Elza rasakan.
Untuk pertama kalinya Elza bersyukur atas turunnya hujan.
Ia tidak perlu berusaha keras untuk terlihat baik baik saja di hadapan orang lain, ia tidak perlu menyembunyikan lukanya, ia tidak perlu menampilkan senyuman lebarnya, ia tidak perlu menjadi aktris yang hebat di hadapan orang orang.
Hanya hujan yang mampu menutupi kesedihan Elza dengan sempurna.
Kaki Elza berhenti melangkah saat ia berada di sebuah jembatan. Kedua matanya menatap aliran sungai yang arusnya begitu deras, bahkan air sungai tampak berwarna kecokelat. Sesekali Elza melihat ranting pohon dan kayu terbawa arus di sungai itu.
Sungai di bawahnya seperti memanggil manggil dirinya untuk segera melompat dari atas sana, bahkan sungai itu seperti mengatakan kalau Elza bisa hidup tenang jika dia memilih untuk melompat.
Helaan napas keluar dari mulut Elza, ia mengambil ponsel yang ada di kantung rok span nya. Ia menatap layar ponsel itu lama, sebelum akhirnya Elza mengaktifkan benda pipih yang sudah sangat lama tidak ia aktifkan.
Saat ponsel nya berhasil di nyalakan, ponselnya tidak bisa berhenti bergetar saat ada ribuan pesan yang masuk ke ponsel nya.
Melvin (999+)
Alex (5)
Remi (200)
Lucas (300)
Raka (50)
Orang orang itu pasti sangat mengkhawatirkan dirinya karena Elza menghilang dalam waktu yang lama, bahkan Elza tidak memberikan kabar apa pun kepada orang orang yang ia tinggalkan.
"Maaf" Gumam Elza pelan.
Drttttttt...
Sebuah panggilan dari Melvin membuat ia sedikit tersentak kaget, Elza menghela napas panjang sebelum akhirnya Elza menerima oanggilan dari Melvin.
"Elza"
"Ya"
"Akhirnya aku bisa telepon kamu, sayang. Kamu dimana sekarang? Kamu baik baik ajah kan? Kamu nggak kangen sama aku"
Elza terkekeh pelan.
"Elza, kamu dimana? Kok aku denger suara hujan. Kami lagi do luar? "
"Ya"
"Dimana? Biar aku jemput sekarang, aku nggak mau nanti kamu sakit karena kedinginan. Kamu nggak lagi hujan hujanan kan? "
"Nggak"
"Elza, ada masalah? Kenapa suara kamu kaya orang abis nangis? Kamu nggak apa apa kan? "
"Melvin"
"Ya, ada apa? "
"I love you"
Sambungan telepon langsung Elza putuskan begitu saja, bahkan setelah itu Elza membanting ponselnya karena tidak sanggup untul berbicara lebih lama lagi dengan Melvin.
Kedua kakinya tidak mampu untuk menopang berat badannya lagi sehingga Elza terduduk tepat di hadapan ponselnya yang sudah hancur, Elza menekuk lututnya lalu memeluknya dengan begitu erat.
"Maaf maaf maaf maaf maaf... Maaf"
"Aku kangen Mamah, kak Elsa, dan... Rio"
"Maaffin Elza Pah"
"Maaffin gue Bang Remi, Bang Lucas"
"Maaffin gue, Raka. Ini bukan salah lo"
"Maaffin aku Vin, aku harap kamu bisa hidup bahagia dan menemukan seseorang yang menggantikan aku"
"Elza minta maaf"