Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROBLEMATIC
Kala memejamkan mata di saat gelombang cinta mulai datang. Malam ini, Kala dibuat kalang kabut akibat ulah Pevita. Sesi pertama mereka mencoba menggunakan pengaman, nyatanya dua mahasiswa yang punya ikatan sah itu sama-sama jujur, merasakan tidak puas tidak skin to skin, alhasil Pevita memutuskan untuk minum pil KB saja.
"Cil, lebih baik aku minum pil saja. Gak enak pakai pengaman, dan aku yakin kamu juga gak puaskan? Kita kan masih muda. Gejolak itu pasti tinggi, dan jujur aku kurang puas. Biarkan aku saja yang minum pil. Toh usia kita masih sangat muda, aku yakin kita bisa punya anak suatu saat nanti," jelas Pevita dan Kala mengangguk setuju.
Kalau pun dia yang harus memakai pengaman sih, gak masalah. Tapi ternyata Pevita mengaku kurang puas, ya sudah senyaman sang istri saja, asalkan jatah bercumbu tak distop. Gila aja kalau sampai distop, bisa pusing 7 Alhasil, sesi dua, Pevita minum pil sesuai kemauannya. Pevita menjadi sangat liar dan Kala dibuat tak berdaya. Ternyata memiliki istri dengan usia lebih banyak manfaatnya. Sangat tahu kebutuhan lelaki, dan dia tak pernah malu untuk mengakui kepuasan dalam hal itu.
“Nakal!” ledek Kala sembari memeluk tubuh polos sang istri, Pevita tak menggubris. Dirinya masih sibuk mengatur nafas setelah mempimpin sesi dua ini. “I love you,” ujar Kala sembari mengecup surai hitam sang istri.
Panasnya hubungan Kala-Pevita sebanding dengan suasana panas di ruang IGD rumah sakit. Refan yang seharusnya menjadi dokter jaga, tiba-tiba taka da di ruangan dokter, sedangkan pasien saat tengah malam tiba-tiba membludak. Perawat senior terus mengomel, meminta perawat PKL untuk mencari keberadaan Refan, sembari melakukan tindakan medis kepada beberapa pasien. Sangat hectic tapi sang dokter tidak ada. Terpaksa perawat senior menelepon kepala IGD, tentu saja dokter Rahman sedikit emosi mendengar laporan dari perawat. Beruntung beliau baru sampai rumah setelah ada acara, sehingga langsung meluncur ke rumah sakit.
Efek dari situasi ini, dokter Rahman akan menunggu Refan sampai muncul, tak peduli kalau sampai pagi. Tanggung jawabnya sebagai dokter jaga hampir saja merusak citra rumah sakit, baru juga lulus internship sudah berulah begini. Saat studi dulu, banyak yang bilang Refan adalah dokter andalan para senior, nyatanya saat terjun di dunia kerja mengecewakan. Perawat senior masih saja mengomel, sengaja mengomentari kinerja Refan agar didengar oleh dokter Rahman.
“Maaf saya ketiduran,” ucap Refan saat pukul 3 pagi, datang. Kaget karena kepala IGD sudah duduk anteng dengan stetoskop menggantung di leher. Tatapan dokter Rahman sangat mematikan, spontan Refan menunduk.
“Ketiduran di mana?” tanya dokter Rahman santai, sembari mengetik list obat untuk pasien yang datang di IGD dan masuk rawat inap. Suaranya masih santai. Tak ada nada intimidasi, namun hal itu malah yang membuat Refan gemetar ketakutan, ditambah wajah sinis perawat senior. Makin menciut saja Refan untuk menjawab.
"Anu, tidur di, ruang, ruang," terlihat sekali kalau sedang mencari alasan, ruangan mana yang akan dijadikan kambing hitam oleh Refan. Dokter Rahman berdiri, dan menepuk pundak Refan. "Integritas seorang tenaga medis salah satunya adalah objektif dan jujur, agar diagnosa pasien murni tanpa karangan," sebuah pengingat dari kepala IGD langsung menembus ulu hati Refan. Ia hanya bisa menunduk, karena sangat paham kebohongannya sudah terkuak. Kalau pun menjawab ruang tunggu dokter, jelas akan menjadi masalah, karena pasien sebanyak ini, para perawat jelas mencari di ruangan tersebut.
Dokter Rahman masih melayani para pasien yang kembali datang, Refan menjadi kikuk karena saat tanya ke rekan kerja senior, sang perawat langsung bilang saya bantu dokter Rahman dulu. Alhasil Refan bekerja sendiri mengatasi pasien baru, tapi perawat lain pun segera membantu tanpa ada obrolan receh seperti biasa. Suasana IGD yang heboh, semakin suram dan dingin.
Kinerja dokter Refan dini hari itu jelas menjadi pembicaraan oleh perawat lain, bahkan sampai ganti shift, masih ada pembahasan itu. Kalau dokter Rahman memang bijak, tak mengumbar kinerja Refan. Begitu shubuh datang, beliau langsung pulang dan akan kembali sesuai jam kerja beliau nanti.
"Lah aku kemarin waktu cek pasien sekitar jam 11 siang, papasan sama dokter Refan ke kamar VVIP kok. Apa mungkin dia tidur di ruang VVIP ya," tebak Inez, salah satu perawat yang ikut mengomentari kejadian dini hari itu.
"Ada keluarganya yang sakit?" tanya perawat lain. Inez mengedikkan bahu, karena ia tak tahu siapa yang ada di ruang VVIP.
"VVIP berapa?" tanya perawat senior.
"2", jawab Inez yakin. Mereka yang di nurse station mulai berspekulasi tentang dokter Refan. Citranya semakin buruk setelah kabar tak jadi menikahi anak dokter Adi dan peristiwa di IGD tadi malam.
Mereka pun bertanya pada perawat bagian ruang VVIP dan tidak ada yang melihat dokter Refan di area itu. “Gak ada dokter Refan gitu Nez?” tanya perawat lain meragukan info dari Inez.
“Berarti bukan dokter Refan, aku yang salah lihat!” begitu Inez membela diri.
Sejenak para tenaga medis pun fokus pada tugas masing-masing, merekam apa saja riwayat tindakan masing-masing pasien. Semua berjalan pada semestinya hingga saatnya shift malam. Seperti biasa, para perawat akan berkeliling ke kamar inap para pasien untuk menyuntikkan antibiotik sesi malam, ataupun mengganti infus dan pemberian obat sesuai jadwal. Yekti, perawat yang hari ini bertugas di area VVIP. Masih jam 8 malam, Lorong area rumah sakit masih ramai, penunggu pasien masih mondar-mandir.
Yekti pun sampai di ruang VVIP 2, ia mengetuk pintu dan mengucap selamat malam, tak ada jawaban. Yekti mengetuk lagi dan responnya pun sama, daripada jam penyuntikan antibiotik lewat, Yekti pun membuka pintu ruangan tersebut.
Kaki Yekti lemas seketika, matanya melotot hampir keluar malah, bagaimana tidak di kamar inap seorang dokter yang Yekti kenal, melumat bibir pasien sampai ketukan pintu tak didengar. Duh, Yekti ingin berdehem, tapi khawatir membuyarkan tautan bibir itu. Kalau enggak dipisahkan sekarang, penyuntikan antibiotik bisa terlewat. Yekti pun mundur dan mendekati pintu, ia mengetuk lebih keras dan menyapa dengan lantang. “Selamat Malam!” ucap Yekti memberanikan diri, untungnya berhasil. Dokter Refan langsung menundukkan kepala dan masuk ke kamar mandi. Yekti berusaha bego, dan bertugas seperti seharusnya.
“Sampai saat ini ada keluhan, Bu?” tanya Yekti usai menyuntikkan antibiotic, lanjut cek infus, ingin tahu seberapa lama dokter Refan akan bertahan di kamar mandi.
“Tidak ada Sus, hanya saja bekas jahitannya masih kerasa nyeri!” jawab perempuan cantik yang terdiagnosis usus buntu.
“Wajar, Bu. Baru kemarin operasinya, masih terasa nyeri. Makan protein seperti telor dan ikan gabus akan mempercepat penyembuhan luka pasca operasi,” sahut Yekti dan tak lama kemudian pamit.
Tanpa berlama lagi, Yekti langsung mengambil ponsel dan mengabarkan ke grup khusus perawat.
Guys, Inez benar. Dokter Refan masuk ke VVIP 2. Buh,,, mala mini malah gak masuk lagi, tukar ludah. Hot pisan euy. Sesi ghibah dimulai.
Hah iya kah. Yek? Balas perawat lain.
Ya elah, aku baru saja dari sana. Duh badanku merinding disko. Dokter Refan seperti pelahap maut coba sama bibir si pasien. Yekti masih melindungi identitas pasien.
Dementor dong 😅😅😅😅, sahut perawat lain, semakin ramai saja grup chat tersebut.
Dokter ganteng tapi problematic banget.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh