Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032
Tanggal 28 Juli dimulai dengan aroma kaldu ayam.
Kiana membuka mata sebelum alarm berbunyi. Untuk beberapa detik, ia tidak langsung ingat hari apa. Cahaya pagi masuk melalui celah tirai apartemen, tipis dan lembut. Dari luar pintu, ada suara kecil mangkuk diletakkan di meja.
Ia bangun, mengenakan cardigan, lalu membuka pintu.
Di meja makan sudah ada semangkuk mi ulang tahun. Kuahnya bening, di atasnya ada irisan ayam, sawi hijau, daun bawang, dan dua telur ceplok yang pinggirnya sedikit garing. Di samping mangkuk, secarik kertas ditempel di bawah gelas.
Tulisan Hans pendek dan rapi.
Selamat ulang tahun. Makan sampai habis. Malam ada kejutan.
Kiana berdiri lama di depan meja.
Dalam kehidupan sebelumnya, ulang tahunnya selalu ramai tetapi kosong. Vila Lim penuh bunga pesanan, Jovian datang dengan hadiah mahal, Vanya tersenyum di sisi ruang tamu, dan semua orang memuji betapa beruntungnya ia menjadi calon istri keluarga Loe. Tidak ada yang bertanya apakah ia sudah makan.
Pagi ini, tidak ada pesta.
Hanya semangkuk mi, dua telur, dan kalimat yang terdengar seperti perintah, tetapi membuat matanya panas.
Ponselnya bergetar.
Hans: Tugas pagi. Makan.
Kiana menatap pesan itu, lalu mengetik sambil tersenyum kecil.
Aku belum bilang terima kasih.
Balasan datang hampir langsung.
Makan dulu.
Kiana tertawa pelan. "Benar-benar."
Ia duduk dan memakan mi itu sampai habis. Kuah hangat turun ke perutnya, membuat pagi yang seharusnya biasa terasa seperti ada seseorang yang diam-diam menyalakan lampu di dalam dadanya.
Namun kehangatan itu tidak bertahan sepanjang hari.
Menjelang siang, setelah rapat singkat dengan tim Navara Tech dan telepon dari Bu Hendro tentang jadwal pembahasan Vista Home tahap dua, Kiana pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan untuk mengambil dokumen cetak dari vendor presentasi. Ia hanya berniat singgah sebentar.
Di lantai dasar, aroma kopi dan roti panggang dari sebuah kafe terbuka membuatnya berhenti. Ia belum makan siang. Ia memilih meja kecil dekat dinding kaca, memesan iced latte tanpa gula, lalu membuka tablet untuk mengecek revisi slide.
Baru tiga halaman, suara yang terlalu manis masuk ke telinganya.
"Kiana?"
Kiana mengangkat mata.
Vanya Pai berdiri di samping meja, memakai gaun putih pendek dan cardigan tipis. Di belakangnya, Jovian Loe berdiri dengan kemeja biru muda, ekspresinya berubah kaku begitu melihat Kiana.
Hari ini juga ulang tahun Vanya.
Tentu saja.
Kiana hampir lupa bahwa di kehidupan sebelumnya, setiap ulang tahunnya selalu dibagi dengan perempuan itu. Semua orang berkata kebetulan itu manis. Padahal yang manis hanya untuk Vanya.
"Kebetulan sekali," kata Vanya, senyumnya lembut. "Aku kira kamu sibuk setelah RUPS."
"Memang sibuk," jawab Kiana. "Tapi masih bisa minum kopi."
Vanya menurunkan pandangan ke meja, lalu ke tangan Kiana yang kosong. "Hari ini... kamu sendirian?"
"Tidak semua orang perlu rombongan untuk minum kopi."
Senyum Vanya sedikit retak.
Jovian melangkah setengah langkah. "Kiana, kalau kamu mau, kami bisa duduk bersama sebentar."
Kiana menatapnya datar. "Tidak perlu."
Penolakan itu cukup pelan, tetapi meja di dekat mereka mulai memperhatikan. Kafe di pusat perbelanjaan bukan ruang privat. Ada ibu muda dengan stroller, dua pekerja kantor, tiga mahasiswa, dan kamera CCTV tepat di sudut langit-langit.
Vanya melihat semua itu. Seperti biasa, ia memilih panggung.
"Aku sebenarnya cuma mau menyapa." Ia mengangkat tangan kiri, seolah baru ingat ada sesuatu di jarinya. "Oh, iya. Jovian baru kasih hadiah ulang tahun."
Cincin blue diamond di jari manisnya menangkap cahaya kafe.
Batu biru itu tidak terlalu besar, tetapi potongannya rapi. Di sekelilingnya, berlian kecil membentuk kelopak tipis. Kiana mengenali desain itu sebelum Vanya sempat memamerkannya lebih dekat.
Di kehidupan sebelumnya, Jovian pernah berjanji akan membelikan cincin itu untuknya.
Saat itu ia baru keluar dari rumah sakit setelah prosedur yang gagal. Tubuhnya masih sakit, kepalanya berat oleh obat, dan Jovian duduk di samping ranjang sambil berkata, "Nanti kalau kamu pulih, aku belikan cincin yang kamu suka."
Cincin itu tidak pernah datang.
Hari ini, cincin itu ada di tangan Vanya.
Kiana menatap batu biru itu selama satu detik, lalu kembali ke tablet.
"Bagus," katanya.
Vanya menunggu reaksi lain. Ketika tidak mendapatkannya, matanya berubah lebih tajam.
"Kamu tidak suka?"
"Bukan milikku. Untuk apa aku harus suka?"
Beberapa mahasiswa di meja sebelah saling pandang.
Vanya tertawa kecil. "Aku cuma pikir... dulu kamu kan suka perhiasan dari Jovian. Maaf ya, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman."
Jovian mengerutkan kening. "Vanya."
"Apa?" Vanya menoleh kepadanya dengan mata polos. "Aku hanya bicara. Lagi pula, Kiana sekarang sudah menikah. Katanya dengan pemadam kebakaran, ya?"
Kiana menutup tablet.
Suara kafe seperti menipis.
Vanya menurunkan nada, tetapi cukup keras untuk didengar meja sebelah. "Aku dengar dari orang Bintang Grup. Mereka bilang kamu buru-buru sekali menikah. Aku sempat khawatir. Jangan-jangan karena terlalu sakit hati, kamu asal pilih orang untuk membuktikan sesuatu."
Kiana memandangnya.
Vanya tersenyum semakin manis. "Maksudku, Jovian pernah bilang kamu itu keras kepala. Kalau sudah merasa ditinggal, kamu bisa melakukan hal ekstrem."
Jovian tidak segera membantah.
Itu yang membuat Kiana akhirnya tersenyum.
Tipis. Dingin.
"Pernikahanku tidak perlu kamu cemaskan," katanya. "Yang perlu kamu cemaskan adalah apakah hadiahmu benar-benar dibeli dari uang Jovian sendiri."
Wajah Vanya berubah.
Jovian menatap tajam. "Apa maksudmu?"
Kiana mengangkat gelas iced latte, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali. "Aku cuma bertanya. Belakangan banyak uang berpindah tangan lewat orang yang terlalu percaya diri. Cincin kecil seperti itu kadang tidak semahal rasa malu ketika sumber dananya dibuka."
Itu bukan tuduhan langsung.
Tetapi cukup untuk membuat Jovian mengerti bahwa Kiana sedang menyentuh sesuatu yang tidak ingin dibicarakan di tempat umum.
Vanya mengepalkan tangan. Blue diamond di jarinya berkilat, tiba-tiba terlihat dingin.
"Kamu memang iri," bisiknya. "Dari dulu kamu iri karena Jovian tidak pernah benar-benar melihatmu. Kamu punya nama Lim, punya Mama yang pura-pura anggun, punya semua orang yang membelamu, tapi Jovian tetap memilih aku."
Nama Mama membuat udara di antara mereka retak.
Kiana berdiri perlahan.
"Jangan bawa Mama ke mulutmu."
Vanya mundur setengah langkah, tetapi matanya berair cepat, terlalu cepat untuk luka yang asli. "Aku hanya mengatakan kebenaran. Jovian dari dulu tidak pernah mencintaimu. Kamu cuma tidak mau menerima itu."
Jovian mengulurkan tangan, entah hendak menahan Vanya atau Kiana.
"Cukup."
Kiana menatapnya. "Ya. Cukup."
Ia mengambil tas kecilnya dari kursi. "Aku tidak punya waktu untuk drama ulang tahun kalian."
Vanya menangis tanpa suara. "Lihat? Dia selalu seperti ini. Selalu merasa paling benar. Bahkan setelah menikah dengan orang lain, dia masih ingin menghina hadiahmu untukku."
Jovian memandang Kiana.
Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya. Bukan penyesalan. Bukan pengertian. Itu kemarahan orang yang kehilangan kendali atas cerita yang selama ini ia tulis sendiri.
"Kiana," katanya rendah, "minta maaf."
Kiana hampir tidak percaya ia mendengar kalimat itu.
"Untuk apa?"
"Untuk Vanya."
Kiana tertawa sekali, tanpa humor. "Kamu masih sama."
Kalimat itu seperti menampar lebih dulu, tetapi bukan wajah Jovian yang menerima pukulan.
Jovian mengangkat tangan.
Gerakannya cepat.
Suara tamparan itu memecah kafe.
Plak.
Kepala Kiana terdorong ke samping. Rasa panas meledak di pipi kirinya, begitu tajam sampai pandangannya sempat putih. Gelas di meja bergetar. Seseorang di meja dekat stroller menutup mulut. Mahasiswa yang tadi berbisik langsung berdiri.
Selama dua detik, tidak ada suara.
Lalu rasa asin menyentuh sudut bibir Kiana.
Darah.
Vanya juga membeku, mungkin karena bahkan ia tidak menyangka Jovian akan melangkah sejauh itu di tempat umum.
Jovian melihat tangannya sendiri.
Di wajahnya muncul sesuatu yang mirip kaget, tetapi kaget bukan penyesalan. Kaget karena ia baru sadar tindakannya dilihat banyak orang.
"Kiana..." suaranya berubah. "Aku..."
Kiana mengangkat tangan, menyentuh sudut bibirnya, lalu melihat noda merah kecil di ujung jari.
Rasa sakit menjalar dari pipi ke telinga. Tetapi air mata tidak keluar.
Yang muncul justru ketenangan yang sangat dingin.
Ia mengangkat wajah.
Semua orang masih melihat.
Bagus.
Biarkan mereka melihat.
"Jovian Loe," katanya, tiap suku kata jelas, "tamparan ini saya ingat."
Jovian melangkah maju. "Aku tidak sengaja. Kamu memancing aku."
Kiana menatapnya seperti menatap benda mati.
"Tidak. Kamu memilih mengangkat tangan di tempat umum karena perempuan di depanmu tidak lagi patuh."
Beberapa orang di meja sebelah mengangguk kecil. Seseorang mengangkat ponsel, bukan untuk merekam dari awal, tetapi cukup untuk menangkap kalimat setelahnya.
Kiana menunjuk kamera CCTV di sudut. "Ada kamera. Ada saksi. Kalau kamu mencoba mengubah cerita ini menjadi kecemburuan atau salah paham, aku akan membuat laporan resmi."
Wajah Jovian memucat.
Vanya menangis lagi, kali ini kacau. "Kiana, kenapa harus sampai begini? Jovian cuma terlalu emosi karena kamu terus menyakiti..."
"Diam."
Satu kata itu membuat Vanya berhenti.
Kiana menoleh kepadanya. "Kamu ingin panggung. Sekarang kamu dapat. Berdirilah di sana dan ingat baik-baik: hadiah di jarimu tidak membuatmu menang. Itu hanya membuat semua orang melihat harga yang harus kalian bayar untuk mempermalukan orang lain."
Ia mengambil tasnya.
Pipi kirinya berdenyut. Mulutnya sakit saat bergerak. Tetapi langkahnya lurus.
Di pintu kafe, ia berhenti tanpa menoleh.
"Mulai hari ini, Jovian Loe, kita bukan lagi orang yang pernah saling mengenal."
Suara kafe menahan napas.
"Kita musuh."
Kiana berjalan keluar.
Pintu kaca menutup di belakangnya, memisahkan aroma kopi dari udara dingin mal yang terlalu bersih. Begitu ia berada di koridor, lututnya hampir melemah, tetapi ia memaksa dirinya tetap berdiri.
Seorang pegawai kafe menyusul dengan wajah pucat, membawa tisu dan kantong kecil berisi es.
"Bu, perlu kami panggil security?"
Kiana mengambil tisu itu. "Panggil manajer."
Pegawai itu mengangguk cepat.
Kurang dari satu menit kemudian, manajer kafe datang dengan name tag miring karena buru-buru. Ia tampak ingin meminta maaf, tetapi Kiana lebih dulu mengeluarkan kartu nama Navara Tech dari dompet kecilnya.
"Tolong simpan rekaman CCTV dari jam dua belas sampai jam satu siang," katanya. Suaranya masih tenang, meski pipinya berdenyut. "Jangan hapus. Jangan diberikan kepada pihak mana pun tanpa persetujuan saya atau kuasa hukum saya."
Manajer menerima kartu itu dengan dua tangan. "Baik, Bu. Kami catat."
"Dan catat nama pegawai yang melihat kejadian."
"Baik."
Kiana menekan kantong es ke pipinya. Dingin itu menggigit, tetapi membuat kepalanya kembali jernih.
Ponselnya bergetar.
Vani: Kia, malam ini jadi dinner? Hans bilang ada surprise kan?
Kiana menatap layar. Bayangan wajahnya terlihat samar di kaca toko seberang. Pipi kirinya mulai merah, membengkak pelan. Sudut bibirnya masih menyisakan darah tipis.
Ia menghapus darah itu dengan tisu, lalu membalas Vani dengan tangan yang tidak gemetar.
Nanti aku cerita.
Setelah pesan terkirim, ia menatap pantulan dirinya sekali lagi.
Pagi tadi, Hans meninggalkan mi ulang tahun dan janji kejutan.
Siang ini, Jovian meninggalkan bekas tangan di wajahnya.
Kiana memasukkan ponsel ke tas.
Malam nanti, ia tidak akan menyembunyikan luka itu.