NovelToon NovelToon
Diujung Harapan

Diujung Harapan

Status: tamat
Genre:Patahhati / Poligami / Duda / Tamat
Popularitas:399.9k
Nilai: 5
Nama Author: El Geisya Tin

Perjalanan hidup Nayana yang mengalami sakit hati karena suaminya menikah lagi. Padahal saat ini kehidupannya bersama suami belum sempurna dari segi ekonomi, juga karena belum memiliki anak. Rudian suaminya tidak perduli dengan perasaan Nayana karena ia mendapatkan dukungan dari ibunya. Karena ibunya sangat menginginkan cucu dari Rudian.

Meski demikian Nayana tetap sabar, ia tetap bekerja sebagai pelayan restoran demi menopang kehidupan rumah tangganya. Ia tetap tabah menjalaninya walau ia masih belum tau kehidupannya selanjutnya akan seperti apa.

Pertemuannya dengan seorang anak perempuan kecil yang berwajah manis akan menghiasi hari-harinya ditengah cobaan dan ujian yang diterimanya.

Tanpa disadari sebuah hubungan unik antara anak kecil bernama Yoni itu dengan dirinya, telah sesikit demi sesikit menorehkan sebuah perasan berbeda dihati Ares ayah Yoni yang berstatus sebagai duda.

Cobaan yang diterima Naya tidak hanya itu saja, karena takdir membawa Naya untuk tetap merawat suaminya yang jatuh sakit setelah menyakiti dirinya.
kesabaran dan ketabahan Naya diuji sampai berulang kali. Permintaannya untuk bercerai tidak juga dikabulkan suaminya. Hingga suaminya mempunyai takdir lain yang memilukan. Mungkin inilah yang disebut karma.
Bagaimana karma yang harus Rudian, suami Naya hadapi? Dan bagaimana hubungannya dengan Ares?
Yuk baca saja di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 27. Oh Sayang Sekali

Ares melihat interaksi antara anak-anaknya dan Nayana. Ia memperhatikannya sejak Naya mulai menghampiri Yoni dan menggendong anaknya. Tapi seperti biasanya Naya tidak melihat kearah Ares sama sekali. Ia sudah diabaikan untuk kesekian kali.

Ia sebenarnya ingin sekedar menyapa Naya, menanyakan kabar atau berkata, 'apa kamu baik-baik saja?' tapi semua kata itu ia simpan dalam benaknya. Ia bagai udara yang menguap, tak terlihat.

"Naya!" tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Naya dari arah dapur.

Naya segera bangkit meninggalkan keluarga kecil itu dimejanya. Naya ke dapur untuk mengambil pesanan Ares yang sudah disiapkan. Ia kembali ke meja makan mereka dengan sebuah nampan besar ditangannya.

'Apa ini kesukaan mereka?'

Ada tiga porsi makanan yang dipesan, masing-masing adalah sop iga dan iga bakar lengkap dengan nasi. Naya menghidangkan makanan itu dengan hati-hati. Pertama ia sajikan untuk Ares, sebagai penghormatan karena dialah orang yang akan membayarnya. Lalu ia menyajikan untuk Yoni, baru kemudian Raya.

Raya melihat kearah papanya yang tanpa disadari masih menatap wajah Naya. Gadis remaja itu bergantian menatap papanya, Naya dan makanan yang ada di depannya.

"Tante sudah sarapan?" tanya Raya.

"Itu, gampang." jawab Naya sambil menyimpan nampan di bawah meja dan duduk di samping Yoni, membantu memotong daging iga pada piringnya.

"Tante, suapin." kata Yoni merengek. Ia menyodorkan piringnya ke hadpan Naya. Tapi Ares menarik kembali piring Yoni.

"Makan, sendiri. Yoni sudah bisa kan?" kata Ares.

Naya hanya tersenyum dan membelai kepala anak kecil itu lembut. Ia tak berhak mengatur bagaimana Ares mendidik anak-anaknya.

"Anak pintar" sahut Naya. Ia semakin gemas melihat Yoni yang cemberut. Semakin lucu menurutnya, membuat Naya tertawa kecil.

"Hei, jangan cemberut. Jadi tambah lucu kamu." kata Naya sambil berlalu meninggalkan keluarga itu agar segera menikmati makanannya. Sementara Raya masih sesekali melirik papanya. Wajahnya sedikit masam.

'Apa papa menyukai tante Naya? Bolehkah aku berharap agar tante berpisah saja dengan suaminya dan bisa bersama kami selamanya. Mengapa kita bertemu sekarang, padahal tante masih memiliki keluarga dan kami tidak memiliki seorang ibu."

'Mengapa harus dia, mengapa bukan wanita lain saja yang tidak bersuami?'

"Papa, sampai kapan papa bekerja di sini?" tanya Raya disela-sela makannya.

"Tahun depan. Papa kontrak hanya dua tahun di sini" jawab Ares sambil sesekali membereskan makanan Yoni.

"Raya cape, pa. Pindah-pindah terus. Tahun depan, kalau papa pindah ke tempat lain lagi, Raya akan tinggal sama Nenek di Kota Batu saja."

"Tahun depan kamu SMA? Baiklah, tinggalah di sana dengan nenek. Ada sekolah yang bagus disana."

"Apa ayah masih mau terus pindah kemana-mana?"

Ares tertegun mendengar ucapan anaknya. A diam tak menjawab. Ia juga lelah, tapi ia harus menjalani pekerjaan yang sangat ia sukai ini. Merancang sebuah bangunan dan bekerja sama dengan banyak perusahaan yang beebeda, bisa pergi keberbagai daerah, sangat menyenangkan baginya.

Ares sudah menjalani pekerjaannya sejak lama, menjadi arsitek dan berada dibawah sebuah perjanjian dengan beberapa kontraktor. Ia selalu sanggup ditempatkan dalam kawasan manapun dibelahan bumi Pertiwi.

Tapi sekarang menghadapi kenyataan anak-anaknya sudah besar dan akan semakin sulit untuk berpindah-pindah. Mereka jadi tidak memiliki teman, karena kadang Raya harus pindah sekolah lagi hanya dalam waktu satu tahun.

Ares enggan menetap di kota tempat tinggalnya dulu, kota Batu. Karena banyak kenangan dengan istrinya yang tak ingin ia ingat lagi. Kecuali ada seorang yang memang bisa membuat Ares mengganti kenangan buruk itu dengan kenangan yang lebih manis.

Beberapa saat setelah mereka menyelesaikan sarapannya.

"Huaa...!" terdengar suara tangisan Yoni di dekat pintu. Anak itu teepeleset dan terjatuh. Naya yang masih membersihkan meja segera berlari kearah Yoni, Ares sedang membayar makanan di kasir, sementara Raya masih asyik dengan ponsel ditangannya.

"Yoni!" kata Naya sambil memangku gadis kecil itu diatas kedua pahanya.

"Apakah sakit?' tanyanya lagi, sambil mengusap-usap tangan, kaki dan badan Yoni. Anak kecil itu hanya diam sambil melihat kearah kakinya yang tadi sempat terantuk lantai.

Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya berdiri di depan Naya, ia memakai pakaian yang sederhana tapi terlihat elegan dan anggun. Ia menatap kedua perempuan yang masih saling memeluk, Yoni dan Naya, dengan tatapan heran sekaligus takjub. Ia tampak menarik nafas berulang kali seperti meyakinkan diri dengan apa yang dilihatnya.

" Yoni?" kata perempuan itu.

Naya dan Yoni melihat kearah wanita itu.

"Nenek!" kata Yoni, ia turun dari pangkuan Naya dan menghampiri wanita yang dipanggilnya nenek.

"Ayo, pulang sama nenek. Biar papa bekerja." kata nenek Yoni.

"Iya. Tante mau ikut?" kata Yoni sambil meraih tangan Naya. Sementara Ares dan Raya sudah mendekati mereka.

"Ibu sudah selesai belanja?" tanya Ares pada nenek Yoni dan wanita itu mengangguk.

Wanita itu menatap Naya dan mengulurkan tangan padanya. Ia ingin mengenal Naya. Tentu saja karena ia melihat sebuah kenyataan yang langka dengan Naya dan Yoni berada dalam pelukannya.

"Kenalkan, saya Rasti, nenek Yoni." kata Rasti dengan senyum yang hangat.

"Eh, saya...saya Nayana Haruni. Panggil saja Naya. Senang bertemu anda nyonya." kata Naya canggung.

"Oh. Ayo ikut kerumah kami, Yoni sepertinya menyukaimu. Jadilah ibunya." kata Rasti lagi membuat Ares dan Raya serta Naya melotot.

'Ibunya, apa maksudnya?'

"Maaf, nyonya. Saya sudah bersuami. Dan saya harus bekerja sekarang." jawab Naya mencoba tenang.

"Oh. Sayang sekali." kata Rasti sedikit kecewa. Ia hanya melihat ketulusan pada wajah Naya saat tadi dilihatnya sedang merawat Yoni yang habis menangis.

"Yoni, sudah tidak sakit lagi, kan?" tanya Naya sambil berdiri.

"Tidak." jawab Naya sambil menggeleng.

"Tadi Yoni jatuh di sini, tadi Yoni lihat ada kodok, loncat kesana, hii...' celoteh anak berpipi gembil itu riang.

Keluarga kecil itu pergi dengan mobil mereka. Dan Naya kembali bekerja dengan baik, walau pikirannya masih berkelana dengan kata-kata Rasti tadi. Bagaimana bisa seorang yang baru saja kenal langsung meminta untuk menjadi ibu bagi cucunya.

'Aa-ada saja. Astagfirullah.'

Setelah jam kerjanya usai, Naya membereskan barang-barang miliknya, berupa mukena dan ponsel kedalam tas. Tak ada pesan apapun dari suaminya. Hingga ia yang berinisiatif mengirim pesan terlebih dahulu.

Kalau terus menerus mengharap agar pasangannya yang lebih dulu mengirim pesan sebagai bentuk perhatian, maka ia akan lebih banyak menelan kekecewaan. Sebenarnya sakit hati itu sebagian besar disebabkan oleh manusia yang terlalu banyak berharap.

" Naya." kata bu Nha saat Naya hendak berjalan keluar. Naya mendekat sambil memasukkan ponsel kedalam tas.

"Ini bonus buatmu bulan ini, buat belanja. Belilah keperluan kamu sendiri." kata bu Nha sambil mengasongkan sebuah amplop pada Naya.

"Terimakasih, bu."

"Kamu yang sabar, ya. Ibu mah gak bisa bantu kamu apa-apa. Mudah-mudahan ini bisa sedikit menghibur." kata bu Nha. Tentu saja bu pNha tahu apa yang terjadi pada Naya hingga ia berkata seperti itu.

Naya tersenyum dan ia berniat menuju mall kota untuk belanja. Benar juga kata bu Nha, belanja adalah salah satu kegemaran wanita yang bisa membahagiakan. Kenapa tidak?

Kesedihan itu ada, tapi tidak akan terus menerus bersedih. Sedang kebahagiaan itu juga ada, tapi tidak akan berlangsung selamanya. Perputaran kehidupan selalu berganti setiap harinya.

Naya menumpang sebuah angkutan kota untuk sampai di mall kota, suasana ramai menyergapnya, ia hampir lupa siapa dirinya saat itu. Keramaian yang sudah lama tidak ia rasakan selama beberapa bulan terakhir.

Naya memutuskan untuk sholat dulu dimoshola yang ada dalam mall. Sampai di toilet ia dikejutkan oleh orang yang ia temui disana.

"Yola?" kata Naya dengan ekspresi terkejutnya.

'Kenapa dia bisa ada di sini?'

1
Tien
ya Allah sedih banget endingnya.
suami yang terlalu ingin dihargai jadi mengabaikan istri. akhirnya hanya ada penyesalan yang tak berakhir
El_Tien: hehe, iya, soalnya harga diri bagi laki2 itu kadang diluar nalar sih.
total 1 replies
Diajeng lope
nay nay jgn jdi wanita bodoh baik boleh tpi bego jgn hdwh
Diajeng lope
rud msih kere saja bertingkah thor cepat2 bikin kapok ah bacanya emosi jiwa...
El_Tien: tenang, tenang 🤭
total 1 replies
Diajeng lope
lah terlalu baik atau gmn nay nay
Diajeng lope
lah author ceritanya ko wanitanya bucin gitu jdi mkn ati deh
El_Tien: jangan makan ati Kak, makan nasi aja enak 🤭
total 1 replies
Diajeng lope
bikin emosi jiwa thor ah...bikin wanita kuat
Diajeng lope
bego ya nikmati saja sakitmu nay jika aku di posisimu sdh out dri rmh
Diajeng lope
nay nay bikin emosi sja...thor jgn bikin nay lemah hdweh....
Diajeng lope
mknya jdi istri jgn terlalu lugu
Diajeng lope
nay nay kmu ko polos lugu atau bego terlalu mudah di bohongi jdi mls ah
El_Tien: terima kasih sudah membaca dan terima kasih juga atas kritikan nya
total 1 replies
Diajeng lope
nay ko lugu bgt sih cinta boleh tpi bego jgn naluri seorang istri itu peka.jika laki2 selingkuh mesti sok mengalihkan kesalahan ke kita walau kecil sok cemburu pdhl cuma buat topeng
Tien_marda: iya, kesel aku juga sama orang yang terlalu polos kayak Naya
total 1 replies
Diajeng lope
mf thor ktnya rudian g kerja ada demo ko tdi blng njemput krn plng kerja?apa aku yg galfok ya
Tien
ag terlalu kejam udah dimadu, jadi satu rumah lagi. klu madunya tau diri rada mending biasanya lebih bertingkah
El_Tien: madunya gak tahu diri 😭😭
total 1 replies
Nur Kediri
benih" masalah
Nurizan binti Abdul Malek
bisa merekomendasikn dari segi alur cerita penokohan dsb
El_Tien: terima kasih atas dukungan dan komentarnya
total 1 replies
Nagumo
luar biasa cerita yang bagus
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
alhamdulillah. hamil
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
kalo disimpan di bank. uang gak bakal bulukan.. 😁😁
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
akhirnya dinda ketemu jodohnya
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
cukuplah bahagia saja yg menyertai kali ini ya
El_Tien: wah, iya Kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!