Nikah SMA
˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ̮ ❝᷀ົ⁎⁺˳✧˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ
Taksa Liam. Ketua OSIS tampan, berkarisma. Namun dingin dan cuek, tak tersentuh.
Iva Kayra. Supel, cerewet, cenderung pemalas, dan bukan gadis populer.
Mereka harus menikah di usia muda demi memperluas wilayah kekuasaan kedua orang tuanya, di dalam dunia bisnis.
Bagaimana kisah pernikahan mereka? Dengan sifat yang bertolak belakang, akankah keduanya bahagia dengan pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum waktunya
Manga : thor kalo bisa up sehari 3x, kalo pengin level naik dan dapat reward.
Me : Aduh, aku pengin. But, aku lagi sibuk-sibuknya puasa ini.
Pagi gurusin rumah, nyuci, dll. Siang bantuin bocah darring. Sore masak. Malam Taraweh, Ngajarin bocah ngaji bentar. Jam 9 ngelonin bocah. Nugas dari kelas event nulis. Lanjut nulis 'Setitik harapan semu' sampe jam 23. Jam 2 dini hari bangun nulis lagi 'setitik harapan semu'. Jam 3 masak terus sahur. Jam 5 udah kelar salat tidur sampe jam 7 pagi
Readers : Lah thor kapan nulis Taksa dong?
Me : Taksa sesempetnya aja. Karena ide sampe cerita kelar udah digenggam erat, buat dia 1 eps cukup setengah jam doang.
Readers : thor 'setitik harapan semu' itu cerita yang mana? kok nggak di up di Manga?
Me : dia sengaja nggak di up di manapun karena permintaan eventnya. Dia minta setor naskahnya 1000 kata/hari dan itu sampe 30 hari. kalo aku bisa up sampe H-30 ceritaku akan dibukukan. Itu pasti. Kalo ceritaku bagus dan masuk juara lebih beruntung, tapi ya aku sadar diri lah siapa aku. Saingan aku 898 orang cuuy kan ngeri.
Target othor : Abis lebaran Taksa up sehari 3x.
_________________________________________________
"Taksa kamu sudah bangun?" Iva meletakan mangkuk bubur di atas meja kecil.
Dia berjalan cepat membantu Taksa yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kamu mandi?" Taksa menggeleng.
"Mau duduk di sini atau di sana?" Iva menunjuk tempat tidur dan sofa panjang dekat jendela.
"Di sofa aja, kamu buka jendelanya biar udaranya masuk."
Setelah membantu Taksa duduk, Iva membuka lebar jendela kaca besar itu. Sehingga udara pagi masuk memenuhi kamar Taksa.
"Kita ke rumah sakit, ya. Kamu dari kemarin panasnya nggak turun-turun." perlahan Taksa menelan bubur putih buatan Iva, dia menggeleng.
"Nanti juga sembuh sendiri kok." ia tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepala gadisnya.
"Iya. Tapi, lama. Hari ini kita sampe nggak sekolah 'kan?" gerutu Iva kesal dengan sikap keras kepalanya Taksa.
"Udah nggak usah ngedumel. Pijitin kepala aku, ya." ucap manjanya , Taksa berbaring di paha Iva.
"Jadi sekarang ceritanya nggak ada Taksa yang datar lagi nih?" kata Iva seraya menaik turunkan kedua alisnya. Tangannya memijat lembut kepala Taksa.
Taksa tidak menjawab, dia memilih menyembunyikan wajahnya di perut sang istri. Sementara iva sudah terang-terangan menenrtawakannya.
"Kamu semalam mimpi buruk ya? Sampe teriak-teriak begitu."
Taksa mengangkat wajahnya menatap mata Iva sendu. Malas sekali sebenarnya menceritakan masalah itu, tapi sepertinya Iva perlu tahu masa lalunya.
"Oh iya mengenai kesepakatan itu apa masih berlaku?" baru saja Taksa akan berbicara Iva sudah lebih dulu mengatakan hal lain.
"Nggak." jawab Taksa tegas, ia memeluk pinggang Iva erat.
Iva cemberut, tadinya dia ingin mengajukan beberapa hal.
"Kenapa?"
"Karena kamu adalah istriku sampai kapanpun, jadi tidak perlu membuat kesepakatan kalau kamu bisa melakukan semuanya dengan bebas." jelas Taksa, kini dia sudah duduk dengan tatapan tajam pada Iva.
"Jadi kita nggak akan bercerai nih?"
"Enak aja, ya nggaklah. Sejak awal aku menikahimu tidak terlintas sedikitpun untuk melepaskan apa yang sudah jadi milikku. Termasuk kamu."
"Ya sudah, nggak usah nge-gas juga dong ngomongnya."
Taksa mendengus, siapa tadi yang mulai duluan membuat dirinya kesal. Ia kembali berbaring, tapi kali ini dengan menarik Iva supaya berbaring di sofa yang sama degannya. Tangannya melingkar di perut Iva dengan wajah yang bersembunyi di ceruk leher gadis itu.
Tubuh Iva menegang, dia bahkan sampai kesusahan bernapas. Baru kali ini mereka benar-benar sedekat itu dalam keadaan sadar.
"T-Taksa,"
"Hm,"
"Kamu pernah jatuh cinta?"
"Iya, pernah. Kenapa?"
"Nggak, aku pikir cowok datar seperti kamu nggak pernah jatuh cinta. Apalagi hidup kamu 'kan dipenuhi sama rumus matematika."
Taksa terkekeh, "sudah lama, itu saat aku SMP."
"Kalian pacaran?" Taksa menggeleng.
"Kenapa?"
"Dia sudah punya calon suami, sejak lahir."
Kening Iva berkerut, emang ada orang yang sudah mempunyai calon sejak dia lahir.
"Terus kenapa nggak kamu coba perjuangin?"
"Nggak. Karena jika memang dia jodohku, dia akan menikah denganku. Aku tidak mau membuang waktu percuma hanya untuk sekedar mengejar cinta yang belum tentu akan menjadi milikku."
"Tapi, perjuangan itu perlu Taksa."
"Sudah kuperjuangkan, dan dia sudah menjadi miliku."
Iva beringsut, memiringkan tubuhnya supaya bisa menatap wajah Taksa. Ia heran siapa gadis yang Taksa maksud.
"Kenapa?" tanya Taksa.
"Gadis itu, siapa?"
"Em," Taksa memutar bola matanya mencari jawaban yang tepat. "Aku ngantuk, lain kali aku kasih tahu." ia meletakan tangannya sebagai penutup mata.
"Taksa ih kok gitu? Taksa jangan tidur dulu! Jelasin siapa gadis itu." Iva menggoyang lengan Taksa. Enak saja setelah membuatnya penasaran dia malah tidur.
"Berisik Iva."
"Tak..."
Cup
Taksa mencium bibir Iva dengan cepat, sedikit **********. Agar gadis itu berhenti merengek. Belum saatnya Iva tahu siapa gadis itu. Akan ada saat semua terbongkar suatu hari nanti, tapi tidak sekarang.