Selamat datang di kisah cinta rakyat jelata. Yang di tulis di pinggir kota. Tidak perlu mengkhayalkan yang serba wah. Karena ini hanya tulisan receh dari seorang rakyat jelata. Silahkan di baca dan nikmati! Barangkali nasib kita sama.
Alya Rahmawati (18 tahun) gadis manis, baik hati, dan rajin menabung. Demi cita-citanya yang mulia, dia bekerja sebagai petugas tiket di bus kota milik pemerintah kota Semarang.
Pertemuannya dengan seorang laki-laki bernama Gusti Agung Prasetyo (29 tahun) yaitu laki-laki mapan, salah satu Direktur utama di PT. Asia Maju Abadi membuat gadis itu ragu. Haruskah dia membuka kisah cinta baru atau bertahan terbelenggu dengan kisah masa lalunya bersama Mas Rudi (21 tahun) yang entah tiada ujung dan kejelasannya.
Akan aku buktikan kalau cintaku tidak pernah salah. Aku akan tetap menunggu~Alya Rahmawati
Jika ucapan adalah doa, maka setiap hari aku akan berucap, bahwa kamu adalah jodohku~Gusti Agung Prasetyo
Biarkan aku egois untuk memilikimu. Karena hanya aku yang berhak untuk itu~Rudi Setiawan
Bagaimana kisah mereka bergulir, jatuh bangun Alya mengejar cita-citanya, konflik internal didalam lingkungan kerja, dan perjuangan Gusti mendapatkan cinta Alya.
Mampukah Alya lepas dari belenggu kisah masa lalunya bersama mas Rudi???
.
.
.
.
❤️❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Telur Rebus Made in Sikidang
"Sebenarnya aku sangat ingin melihat sunset dari puncak Sikunir." Keluh Alya sedikit kecewa.
"Hem...kita lihat ini dulu. Kapan-kapan kita bisa kesini lagi. Lagi pula kita tidak ada persiapan untuk tracking kan. Besok kamu juga harus masuk kerja."
"Iya juga...ya sudah ayok kita masuk!" Ajak Alya dengan spontan menggandeng lengan Gusti.
Deg!
Aku melihat Tuhan dalam dirinya. Apa yang harus aku lakukan?
Bolehkah aku berdoa agar dia menjadi milikku. Menjadi Ibu dari anak-anak ku?
Hati Gusti benar-benar berdebar kencang. Sadar akan kesalahannya, Alya menjadi canggung.
"Maaf, tidak seharusnya aku menggandeng tangan om!" Alya menunduk malu dan menyesali sikapnya.
"Santai saja, ayo masuk!" Gusti berjalan lebih dulu. Alya mengekor di belakangnya.
Masuk di pintu utama, mereka di sambut dengan musik tradisional angklung yang terdengar indah. Bau belerang dari kawah-kawah kecil sudah tercium sangat menyengat. Lagi-lagi mata mereka di manjakan oleh landscape pemandangan yang menakjubkan. Perpaduan warna tanah kawah putih cerah, kontras dengan hijaunya hutan dan semak belukar. Asap putih yang mengepul dari kawah utama yang paling besar bagaikan kabut di negeri sakura.
Jalur jembatan obyek yang terbuat dari kayu terbentang dari titik pintu masuk sampai titik kawah utama. Memudahkan wisatawan saat berjalan menuju kawah utama.
"Wow keren ya om!"
"Kamu mau foto disini? Kelihatannya spot dari sini cukup bagus!"
"Boleh, kita gantian ya."
Berdiri di tengah jembatan dengan background kawah, Alya berpose layaknya selebgram. Tidak hanya satu kali jepret, Gusti bahkan memotret berkali-kali. Dari expresi wajah tersenyum, candit, sampai cemberut. Bahkan saat Alya berjongkok membetulkan tali sepatunya, tanpa dia sadari Gusti membidiknya dan hasilnya sungguh luar biasa, sangat natural.
Kamu cantik, sangat cantik.
Sekarang giliran Gusti yang berpose. Tak perlu banyak gaya. Cukup hanya berdiri dan memasukan tangannya di celah saku celananya. Cekrek! Ketampanannya memperindah alam dan seisinya. Sungguh mahakarya Tuhan yang sempurna.
Sial kenapa dia begitu tampan!
Mereka kembali berjalan sambil mengobrol. Kecanggungan yang tadi sempat menghampiri kini berangsur hilang.
"Lihat Om di sana ramai sekali!"
"Mungkin itu kawah utama, kita jalan kesana."
"Ayok!"
Banyak orang berkerumun melihat kawah terbesar di dataran Dieng itu. Mereka juga asyik bersua dan berfoto. Dari sumber kawah terlihat lava yang mendidih dan mengeluarkan asap yang mengepul. Yang lebih menarik lagi, ada seorang bapak-bapak yang menjual telur ayam dan bebek dipinggir kawah. Telur itu kemudian di rebus dengan cara di masukan kedalam keranjang yang di ikat dengan kayu panjang layaknya sebuah pancing. Kemudian di celupkan kedalam lava yang mendidih selama kurang lebih sepuluh menit. Telur pun matang dan bisa langsung di nikmati. Dari penjelasan sang Bapak suhu lava bisa mencapai 98°C hampir mencapai titik didih, pantas saja bisa untuk merebus telur. Karena penasaran Alya pun ikut memesan tiga butir telur bebek. Setelah menunggu, telur mereka pun matang.
"Ini bagaimana memakannya?" Tanya Gusti dengan wajah polosnya.
"Hahaha...tunggu sampai panasnya hilang. Baru bisa di makan. Aku juga sudah tidak sabar makan telur rebus made in kawah Sikidang. Hehe..."
"Kenapa kamu pesan tiga butir? Kita kan hanya berdua."
"Satu untuk Om, dua untuk aku. Hehe..."
"Hem...aku lupa kalau perutmu itu seperti kantong ajaib. Apalagi hanya dua biji telur, pasti langsung tatas." Ledek Gusti.
"Hush...jangan keras-keras Om. Aku kan malu. Habis ini kita cari makan ya. Cacing di perutku sudah memberontak dari tadi. Aku hanya tidak tega kalau mereka menderita dan berubah kurus. Kasihan kan!"
"Hahaha..." Sangking gemasnya Gusti mengacak-acak rambut Alya. Tentu Alya langsung cemberut memonyongkan bibirnya.
"Rambut taat ku, kenapa Om merusaknya. Hah!"
"Kamu sebut apa? Rambut taat?" Tidak percaya dengan pilihan kata Alya.
"Iya rambut taat, rambut ini kan mudah diatur dan tidak pernah mengkhianati ku. Dia selalu membuatku lebih cantik. Benarkan?"
Gusti tertawa terbahak-bahak mendengar filosofi rambut taat bagi Alya. Bagaimana dia bisa memilih kata yang tidak pernah terbesit di benak kebanyakan orang. Walaupun terdengar ngawur, tapi masuk akal juga. Rambut Alya memang indah, hitam dan lurus alami tanpa obat-obatan salon. Karena rambutnya yang indah itu juga, dia terlihat semakin cantik.
"Sepertinya sudah tidak panas telurnya, ayo di makan." Dengan telaten Alya membersihkan cangkang telur. Dan memberikan kupasan telur pertama pada Gusti.
"Makanlah dulu, aku bisa sendiri nanti."
"Hey...mana boleh menolak kebaikanku." Dengan senyuman manis Alya mengulurkan telur itu. Gusti pun memakannya dengan perasaan berbunga-bunga.
"Al, apa kamu tidak ingin berfoto berdua denganku? Maksudnya, dari tadi kita hanya foto sendiri-sendiri."
"Hem...apa tidak akan ada yang marah. Kalau kita foto berdua?" Tanya Alya ragu.
"Kalau ada yang marah, tentu saat ini kita tidak disini."
"Hem...terus bagaimana kita menggambil foto. Aku bahkan tidak membawa tongsis (tongkat narsis)."
"Kita minta bantuan orang. Sebentar ya!"
Gusti berlari kecil menghampiri segerombolan pemuda yang berdiri tidak jauh dari mereka. Seorang pemuda bersedia membantu mengambil gambar.
"Oke...siap ya kak! Satu, dua, tiga! Cekrek!
Pasangan yang serasi bikin iri saja. Jiwa jomblo ku meronta. Batin pemuda itu.
"Terimakasih ya." Ucap Alya dan Gusti berbarengan.
"Iya..." Pemuda itu pun bergabung lagi dengan temannya.
Sebuah foto yang sangat berarti bagi Gusti.
Mereka berdua berdiri tepat di depan pagar pembatas kawah utama, dan saat hitungan ketiga Gusti merangkul pundak Alya. Sontak Alya kaget dan reflek menoleh, menatap Gusti dengan heran.
"Om, hapus saja ini jelek sekali!"
"Tidak, ini sangat bagus. Lihat sepertinya kamu suka sekali menatapku. Hahaha..."
"Hish...itu hanya reflek karena Om merangkul ku tanpa ijin." Alya memukul lengan Gusti.
"Hahaha...baiklah besok-besok aku akan ijin jika ingin merangkul mu."
"Ti-dak boleh!!!
"Hahaha...Sudahlah ayo kita cari makan!" Gusti masih tertawa puas.
Karena sudah cukup lama berada di area kawah Sikidang, mereka memutuskan untuk keluar. Saat menuju pintu keluar, mereka melewati pasar oleh-oleh. Banyak pedagang yang berjualan aneka macam camilan khas Dieng, seperti keripik carica, sirup carica, keripik welut, keripik bayam dan lain-lain. Ada juga bermacam-macam sayuran hasil bumi dari petani lokal. Seperti Kubis, kol, wortel, kentang, sawi, cabe hijau besar dan terong Belanda. Semua terlihat segar-segar. Rasanya ingin di borong semua buat oleh-oleh. Tapi karena takut merepotkan saat membawanya. Mengingat mereka naik motor. Alya hanya membeli tiga pack Carica, tiga bungkus keripik belut, dan satu bungkus teh Purwoceng. Gusti dengan cepat membayar semuanya.
"Kenapa kamu membeli ini?" Tanya Gusti dengan wajah malu. Tapi dengan lugunya Alya menjawab tanpa dosa.
"Oh ini teh Purwoceng. Kamu tahu Ariyanto kan? Tadi dia lihat story ku, jadi dia nitip ini. Memang kenapa Om?"
"Hmm...ga papa." Gusti mengernyitkan dahi. Gadis ini lugu sekali.
...***...
Setelah melewati beberapa warung makan. Akhirnya mereka memutuskan makan mie khas Dieng. Makanan berkuah sangat cocok dengan hawa Dieng yang dingin. Mereka memilih menu Mie Ongklok Longkrak yang legendaris karena sudah berdiri sejak tahun 1975 silam, dan bahkan mie ini sangat terkenal di kalangan wisatawan mancanegara.
Mie Ongklok Longkrak terbuat dari mie kuning yang lembut dan memiliki kuah yang kental dengan bumbu khas yang pas di lidah. Ditambah sayuran kol dan sate sapi. Untuk camilan mereka memesan satu porsi tempe selimut. Tempe selimut mirip dengan tempe mendoan, bedanya tempe selimut lebih tipis dan banyak potongan daun kucai yang membuat lebih sedap.
"Mau nambah lagi?" tanya Gusti yang melihat mangkuk mie Alya yang sudah kosong dalam hitungan detik.
"Tidak terimakasih, aku sudah kenyang." Alya kembali meminum teh hangat dan mencicipi tempe selimut yang juga masih hangat.
"Enak ya?"
"Iya mienya sangat lezat. Begitu juga dengan tempe ini." Kali ini Alya bersiap membayar lebih dulu. "Berapa semuanya, Bu?"
"Heh! Biar aku yang bayar!"
"Hehe...sudah lanjutkan saja makan Om!" Alya menyerahkan uang seratus ribuan dan menerima kembalian empat puluh ribu. Murah juga pikirnya. Dia tersenyum karena sudah berhasil membayar duluan. "Habis ini kita kemana?"
"Candi Arjuna, tidak jauh kog dari sini. Tapi kita hanya punya waktu sebentar. Nanti jam empat sore kita harus pulang."
"Oke...cepat habiskan Om!"
Setelah menghabiskan makananya. Mereka melanjutkan jalan menuju candi Arjuna yang tidak jauh dari kompleks kawah Sikidang.
Mereka berjalan memasuki komplek candi. Sebelum masuk mereka menyempatkan membeli minuman dingin dan camilan. Diperkirakan luas kompleks candi Arjuna mencapai 1 hektar. Itu artinya mereka harus berjalan jauh dari pintu masuk sampai ke pusat komplek. Tapi sepertinya tidak masalah karena sudah disediakan jalur pejalan kaki yang bagus dan cukup adem. Kanan dan kiri jalan banyak pepohonan yang rindang sehingga melindungi mereka dari sengatan matahari. Di komplek ini terdapat lima candi Hindu diantaranya candi Arjuna, candi Semar, candi Srikandi, candi Puntadewa, dan candi Sembadra.
Mereka berhenti mengamati bentuk candi dari setiap sisi. Dan membaca keterangan candi yang tertera di papan informasi Cagar Budaya Situs candi yang telah tersedia. Dari papan informasi mereka tahu bahwa ternyata candi Arjuna adalah candi terbesar dan tertua. Diperkirakan di bangun pada abad 9 Masehi oleh Dinasti Sanjaya dari kerajaan Mataram kuno. Walaupun tidak sebesar dan semegah candi Prambanan. Namun candi ini tetap cantik dan menarik, apalagi dikelilingi hamparan rumput yang hijau dan luas.
Puas berkeliling mereka beristirahat duduk di tengah-tengah hamparan rumput tak jauh dari pusat candi Arjuna. Meneguk minuman dingin yang sempat dibelinya tadi sebelum masuk.
"Sangat indah, menurutku orang zaman dahulu itu memang hebat dan sakti-sakti. Hahaha..." Ucap Alya yang masih mengagumi peninggalan sejarah itu.
"Oh ya, bukankah zaman sekarang juga hebat?"
"Masih hebat zaman dulu lah! Dengar ya Om, zaman sekarang cewek paling minta di belikan skincare, baju, atau tas branded. Tapi zaman dahulu para wanita bisa minta di bangunkan sebuah candi. Seperti kisah Roro Jonggrang. Bukankah itu lebih hebat! Padahal zaman dulu juga belum ada semen kan. Hahaha..." Alya tertawa sendiri dengan ocehannya.
"Hahaha...benar juga. Kalau kamu sendiri mau minta apa?"
"Apa ya kira-kira, yang anti-mainstream dong. Oh ya! Aku akan minta di belikan Helikopter. Dengan begitu aku bisa naik helikopter sepuasnya. Hahaha..."
"Wah luar biasa halusinasi mu nona!"
"Tapi beneran deh, aku ingin sekali naik helikopter. Menikmati pemandangan indah dari ketinggian, bukankah itu sangat menyenangkan?"
"Hemm...benar juga. Kalau begitu aku sarankan agar kamu ganti pacar anak presiden atau minimal TNI AU!" Goda Gusti.
"Ahhh...tidak lucu tahu Om. Pacarku hanya mas Rudi titik!" Alya memanyunkan bibirnya dan reflek memukul lengan Gusti.
"Hah...aku kan hanya memberi saran." Gusti bangun dari duduknya. "Lagian belum tentu anak presiden mau sama kamu. Wekkkk..." Dia berlari meninggalkan Alya. Sebelum mendapat pukulan lagi.
"Apa! Dasar Om-om jadi-jadian!" Teriak Alya.
Lari saja sana yang jauh. Jangan harap aku mengejar mu. Gumam Alya yang masih asyik menghabiskan cemilannya.
Setelah lari agak jauh dan tidak melihat Alya mengikutinya. Gusti menyusul Alya lagi, duduk terengah-engah disampingnya.
"Ah...kamu ga asyik. Harusnya kamu kan mengejar ku. Kenapa hanya duduk. Menyebalkan sekali!"
"Dasar om-om, memang kita sedang bermain film India. Harus kejar-kejaran! Hahaha..."
Alya terus tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Gusti gondok. Tidak terima di tertawa kan, Gusti memilih pura-pura ngambek. Hisshhh... mereka sama saja ternyata. Sama-sama Gila. Jangan senyum-senyum sendiri hlo ya bacanya. Nanti kamu ikutan gila. Hehe...
_
_
_
_
_
_
_
_
❤️❤️❤️
...Like dan komen...
...suwun🙏...
Otore kayak e tetangga satu kecamatan..
Krn di bab atas Ada tempat namanya Tlogosari...
Nuruti ego mulu tuch bocah..
Gedeg juga
OH Tuhan, otak itu apkh fungsinya?????
Tolol
Jangan Berlindung Dari kata anak berbakti klo km sendiri g mo Berjuang... Lemah
Gusti jg msh mau2nya di gituin
Kyk ga Ada cewex lain saja, Berjuang sudah tp klo sepihak yo bego namanya
Berjuang itu mesti 2 belah pihak klo Cmn sepihak yo ajur jum..
Bkn tdk mgk Dia akan gitu kelak..
Ya meski sdh ketebak klo gusti yg Sama alya, Cmn klo head to head rudi VS alya, kmd alya milih rudi ya jatuhnya oon...
Beberapa tahun g ngasih kbr, trs di mna letak tanggung jawabnya? Cowox kyk gini Pantesnya buang ke laut...