NovelToon NovelToon
Xiao Yun : Anak Tanpa Qi

Xiao Yun : Anak Tanpa Qi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.

{ Update setiap hari }

Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁

Terima kasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.21 — Langkah Pertama Menuju Dunia

Xiao Yun mengangkat pandangannya ke arah utara, ke tempat cakrawala bertemu dengan deretan pegunungan yang memanjang tanpa ujung. Dari tempatnya berdiri, ia tentu tidak mungkin melihat Kerajaan Yan Utara ataupun Pegunungan Tulang Naga yang ditunjukkan oleh Kristal Warisan Altar Pertama, tetapi sejak peta kuno itu terukir di dalam ingatannya, arah tersebut seolah berubah menjadi tujuan yang terus memanggil langkahnya. Tanpa disadarinya, jalan hidup yang selama ini hanya berputar di sekitar Desa Kabut kini telah bergeser menuju dunia yang sama sekali baru. Sejak runtuhnya Altar Pertama, perjalanan itu tidak lagi ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh takdir yang diwariskan kepadanya sebagai Pewaris Kesepuluh Nadi Kekosongan.

Perlahan Xiao Yun mengayunkan langkahnya meninggalkan jalan setapak yang mengarah ke Lembah Iblis. Langkahnya tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak lagi dipenuhi keraguan seperti sebelumnya. Di pundaknya tergantung tas perjalanan sederhana yang berisi beberapa pakaian, perbekalan, dan tanaman obat kering yang telah dipersiapkannya. Di pinggangnya tergantung Pisau Naga Kuno, peninggalan satu-satunya dari sang kakek yang selalu dijaganya dengan penuh hormat. Pisau itu masih tampak tua dan biasa di mata orang lain, tetapi setelah mendengar penjelasan dari roh penjaga serta Ye Wuchen, Xiao Yun memahami bahwa benda tersebut jelas bukan sekadar kenang-kenangan. Di balik tampilannya yang sederhana tersembunyi rahasia yang bahkan belum mampu ia pahami sepenuhnya.

Luo Hai tidak lagi berjalan di sampingnya seperti sebelumnya. Tubuh roh tua itu telah kembali memasuki Pisau Naga Kuno untuk menghemat kekuatan jiwanya, sehingga sepanjang perjalanan hanya suara langkah kaki Xiao Yun yang memecah kesunyian pagi. Angin pegunungan bertiup lembut melewati pepohonan tua, membawa aroma tanah basah yang masih tersisa setelah malam berlalu. Cahaya matahari perlahan menembus sela-sela dedaunan, menciptakan garis-garis keemasan yang jatuh di sepanjang jalan setapak. Suasana itu terasa damai, seolah alam sendiri sedang mengantarkan kepergian seorang bocah yang akan memulai perjalanan panjangnya.

Tidak lama kemudian, Xiao Yun tiba di sebuah bukit di luar hutan terlarang batas Desa Kabut.

Di hadapannya terbentang jalan tanah sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya penghubung desa kecil itu dengan dunia luar. Jalan tersebut tidak lebar, bahkan sebagian sisinya telah ditumbuhi rumput liar, tetapi bagi penduduk desa, jalan itulah yang menghubungkan mereka dengan kota-kota terdekat dan para pedagang yang sesekali datang membawa kabar dari luar. Selama hidupnya, Xiao Yun belum pernah melangkah melewati batas itu seorang diri. Kini, untuk pertama kalinya, ia berdiri tepat di ujung jalan tersebut sebagai seorang pengembara.

Langkahnya perlahan terhenti.

Ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.

Desa Kabut tampak begitu kecil jika dilihat dari kejauhan. Rumah-rumah kayu sederhana berdiri berdekatan di antara pepohonan hijau, sementara asap tipis masih mengepul dari beberapa cerobong dapur sebagai tanda bahwa kehidupan di dalam desa baru saja dimulai. Anak-anak kecil mungkin sebentar lagi akan berlarian di lapangan, para pemburu akan memasuki Hutan Terlarang, sedangkan para wanita mulai menyiapkan makanan untuk keluarga mereka. Semua pemandangan itu begitu akrab, karena di situlah seluruh masa kecil Xiao Yun berlalu.

Tatapannya perlahan menyapu setiap sudut desa seolah ingin mengingat semuanya sekali lagi. Ia melihat rumah kayu tempat dirinya dibesarkan bersama sang kakek, halaman kecil tempat mereka biasa menjemur tanaman obat, serta lapangan desa yang dahulu menjadi tempatnya bermain bersama anak-anak lain sebelum ia mengetahui bahwa dirinya berbeda karena tidak mampu menyerap Qi. Sedikit lebih jauh dari sana terbentang tepian Hutan Terlarang yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber bahaya bagi seluruh penduduk desa.

Pandangannya akhirnya berhenti pada sebuah bukit kecil yang tampak samar di kejauhan.

Di sanalah makam sang kakek berada.

Hanya dengan melihatnya dari kejauhan, berbagai kenangan perlahan bermunculan di dalam benaknya. Ia masih mengingat bagaimana tangan tua itu selalu menggenggam tangannya ketika mereka memasuki hutan untuk mencari tanaman obat. Ia masih mengingat suara lembut yang menceritakan kisah-kisah tentang para kultivator hebat, kerajaan-kerajaan besar, serta dunia luas yang saat itu terasa begitu jauh dari kehidupannya. Bahkan ia masih mengingat pesan terakhir sang kakek agar dirinya tidak pernah menjual ataupun kehilangan Pisau Naga Kuno, meskipun saat itu Xiao Yun sama sekali tidak memahami alasan di balik pesan tersebut.

Kini semuanya mulai menjadi jelas.

Kakeknya mungkin telah mengetahui jauh lebih banyak daripada yang pernah diceritakannya.

Namun apa pun rahasia yang disembunyikan lelaki tua itu, Xiao Yun tidak lagi merasa sedih. Yang tersisa di dalam hatinya hanyalah rasa syukur karena orang yang membesarkannya telah meninggalkan bekal yang akan membimbingnya menuju jalan yang benar.

Senyuman tipis perlahan terukir di wajah bocah itu.

Tidak ada air mata yang jatuh.

Tidak ada pula penyesalan.

Karena ia memahami bahwa setiap pertemuan pasti memiliki perpisahan, dan setiap perpisahan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal menuju langkah berikutnya.

"Aku akan kembali suatu hari nanti," ucapnya lirih sambil menatap ke arah bukit tempat makam sang kakek berada.

Suaranya begitu pelan hingga hampir tertelan oleh hembusan angin pagi, tetapi kata-kata itu terasa begitu tulus. Ia tidak tahu kapan akan kembali. Mungkin beberapa tahun lagi, mungkin jauh lebih lama daripada itu. Namun satu hal yang ia yakini adalah ketika dirinya kembali menginjakkan kaki di Desa Kabut, ia tidak lagi akan menjadi bocah lemah yang dahulu selalu dipandang rendah karena tidak memiliki Qi.

Saat itulah cahaya lembut muncul dari Pisau Naga Kuno.

Sosok Luo Hai perlahan melayang keluar, lalu berdiri di samping Xiao Yun sambil ikut memandang desa kecil tersebut. Wajah tua sang guru tetap tenang seperti biasanya, tetapi jauh di dalam matanya tersimpan sedikit rasa nostalgia. Selama ribuan tahun kehidupannya, ia telah menyaksikan begitu banyak orang meninggalkan kampung halaman mereka demi mengejar jalan kultivasi. Kini ia kembali melihat pemandangan yang sama melalui muridnya sendiri.

"Setiap kultivator," ucap Luo Hai dengan suara tenang, "pada akhirnya harus meninggalkan tempat asalnya."

"Tidak peduli seberapa besar rasa cintanya terhadap tempat itu, dunia tidak akan pernah datang menghampiri seseorang yang memilih untuk terus diam."

Xiao Yun mendengarkan setiap kata tanpa memotong.

Luo Hai melanjutkan, "Jalan kultivasi bukan hanya perjalanan untuk menjadi lebih kuat."

"Jalan itu juga merupakan perjalanan untuk mengenal dunia, menghadapi bahaya, bertemu orang-orang baru, serta memahami siapa dirimu sebenarnya."

"Jika kau terus tinggal di Desa Kabut, maka hidupmu akan berakhir di sini bersama desa ini."

"Tetapi jika kau berani melangkah keluar, seluruh Benua Tianxu akan menjadi tempatmu belajar."

Xiao Yun menarik napas panjang.

Ia kembali menatap desa itu untuk sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepala dengan mantap.

"Aku mengerti, Guru."

Senyum tipis muncul di wajah Luo Hai.

"Kalau begitu, jangan sia-siakan langkah pertamamu."

Xiao Yun tidak lagi menoleh ke belakang.

Ia memutar tubuhnya menghadap jalan panjang yang membentang menuju utara, lalu mulai berjalan dengan langkah yang jauh lebih mantap dibandingkan sebelumnya. Setiap ayunan kaki membawanya semakin jauh dari kehidupan lamanya, sementara pemandangan di hadapannya terus berubah menjadi semakin luas.

Perbukitan hijau membentang tanpa batas, diselingi sungai-sungai jernih yang berkelok di antara lembah, sementara pegunungan tinggi berdiri kokoh di kejauhan laksana dinding raksasa yang memisahkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Bagi Xiao Yun, semua itu merupakan pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dunia yang selama ini hanya hadir di dalam cerita sang kakek kini perlahan terbuka di depan matanya.

"Indah sekali..." gumamnya tanpa sadar.

Luo Hai tertawa pelan.

"Jika menurutmu tempat ini sudah indah, berarti kau benar-benar belum melihat apa pun."

"Benua Tianxu masih menyimpan lautan yang luasnya tidak bertepi, gunung-gunung yang menjulang menembus awan, kota-kota raksasa yang dihuni jutaan manusia, hingga sekte-sekte kuno yang berdiri di atas puncak langit."

"Semua itu suatu hari nanti akan kau lihat dengan matamu sendiri."

Semakin lama Xiao Yun mendengarkan, semakin besar pula semangat yang tumbuh di dalam hatinya. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai tujuan yang kini harus ia capai. Pegunungan Tulang Naga menantinya bersama Altar Kedua. Di balik altar itu mungkin tersimpan jawaban mengenai sembilan segel yang membelenggu Nadi Kekosongan. Di tempat lain mungkin tersembunyi petunjuk mengenai identitas orang tuanya, rahasia Pisau Naga Kuno, ataupun musuh misterius yang pernah memburu para pewaris terdahulu.

Perjalanan di depannya jelas tidak akan mudah.

Ia mungkin akan bertemu lawan yang jauh lebih kuat daripada dirinya.

Ia mungkin akan menghadapi bahaya yang belum pernah dibayangkannya.

Namun tidak sedikit pun rasa gentar muncul di dalam hatinya.

Sebaliknya, darahnya justru berdesir penuh semangat.

Luo Hai memperhatikan perubahan itu dalam diam. Sebagai mantan Dao Master, ia pernah melihat banyak jenius lahir di berbagai penjuru Benua Tianxu. Sebagian memiliki bakat luar biasa, sebagian memiliki garis keturunan yang agung, sementara yang lain memperoleh keberuntungan besar. Namun pada Xiao Yun, ia melihat sesuatu yang berbeda. Bocah itu bukan hanya memiliki bakat tersembunyi yang luar biasa, tetapi juga kemauan untuk terus melangkah meskipun tidak mengetahui apa yang menantinya di depan.

Dalam hati Luo Hai perlahan bergumam, "Mungkin... suatu hari nanti bocah ini benar-benar akan mengguncang seluruh Benua Tianxu."

Sementara itu, sosok Xiao Yun terus berjalan menjauh tanpa pernah berhenti. Cahaya matahari pagi menerangi jalan yang membentang di depannya, seolah membuka lembaran baru bagi kehidupan seorang bocah yang dahulu dikenal sebagai Anak Tanpa Qi. Kini ia telah menjadi Pewaris Kesepuluh Nadi Kekosongan, membawa harapan para pewaris terdahulu sekaligus memikul rahasia kuno yang telah tersembunyi selama ribuan tahun.

Dengan satu langkah meninggalkan Desa Kabut, masa lalunya resmi tertinggal di belakang.

Di hadapannya terbentang dunia yang sangat luas, dipenuhi misteri, bahaya, peluang, dan takdir yang perlahan mulai bergerak menuju dirinya.

Perjalanan Xiao Yun baru saja dimulai.

...BERSAMBUNG...

1
asri_hamdani
Sepertinya tidak ada paragraf yang menceritakan kemunculan tanda hitam tersebut
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: terima kasih koreksinya🙏🏻
kesalahan teknis auto koreksi keypad nya menyala,jeleknya keyboard handphone. 😅

segera di revisi.
total 1 replies
asri_hamdani
Sepertinya ada paragraf yang kurang.🤔
asri_hamdani
Ada yang aneh. Apa sebabnya dia jatuh kedalam jurang 🤔. Kesandung kelereng atau terpeleset 🤔?
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: ada yg tertinggal di notepad sudah di revisi kak.

makasih sudah di koreksi 🙏🏻
total 1 replies
Jojo Shua
up
Jojo Shua
7
Arinto Ario Triharyanto
muter-muter terus Thor, tinggal pake warisan, satset satset beres
Arinto Ario Triharyanto
lama, muter-muter mulu
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ🏡⃟ªʸѕ⍣⃝
ujian nya adalah pilihan
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ🏡⃟ªʸѕ⍣⃝
sama kek berapa waktu kah ini?
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Jejak
𝐀⃝🥀ᴀʟᴇᴀˢ⍣⃟ₛ
gmn nasibmu stelah ini Xiao Yun ,ngeri juga ya masuk ke lembah iblis
☠️⃝✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘᎪℓ☘𝓡𝓳
aku kasih vote ya kk, semangat berkarya kk
☠️⃝ вͬяͦσᷤηᷠιͣк🏀zc❖
best
THE GIRL COOL😑
cerita panjang banget jirrr😭
Ney
aku hadir
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: makasih 🙏🏻
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ🏡⃟ªʸѕ⍣⃝
jejak jejak...
Yun ada kaitannya sama tokoh sblm nya nggak sih?
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: gak ada
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!