Bimo yang semula anak manja dan nakal tiba -tiba mendapat didikan keras dalam hidupnya , menjadikannya seorang yang mandiri, berpendirian dan ulet. Sebagai lelaki yang suka dengan tantangan dan tidak terpaku dengan gaya hidup ikut ikutan. walaupun wajahnya sengat tampan tapi dia bukan lelaki yang suka berdandan dan suka menjual tampang tanpa beraksi. prinsipnya sedikit gaya banyak aksi, tidak perlu banyak bicara namun penuh pembuktian
Bahkan dia suka bertarung sebagai lelaki sejati di arena hexagon.
Dengan tubuh kekar wajah tampan dia siap mempesona gadis manapun.
Dan jangan lupa dia seorang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sigi Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Bimo Jagoanku
Meytta mengendarai mobilnya dengan sedikit tergesa, dengan di pandu Iwan dia menuju GOR arena pertandingan tersebut.
" Pelan pelan mbak, banyak mobil didepan," Iwan mengingat kan Meytta .
"Ya wan tenang aja, aku juga tidak mau celaka," kata Meytta menenangkan Iwan yang mulai ketakutan.
Mobil masih melaju dengan kecepatan agak kencang, menyalip beberapa mobil di depannya yang berjalan seperti siput menurut Meytta.
"Di depan belokan itu jalan pintas ke GOR itu mbak," kata Iwan sembari menunjuk ke arah yang di tuju.
Setelah melewati belokan itu, mobil mulai memasuki area gedung olahraga tersebut.
Meytta memutari area parkir yang luas itu mencari tempat yang longgar, karena lahan yang lumayan luas itu nampak penuh dengan kendaraan.
Setelah cukup lama mencari akhirnya menemukan juga tempat parkir yang lumayan strategis, karena dekat dengan pintu keluar.
"itu ada yang sedikit longgar mbak ," kata Iwan menunjuk sebelah kanan.
Tempat parkir itu dekat pintu keluar tapi jauh dari pintu masuk ke gedung olahraga.
Mereka harus berjalan agak cepat untuk mengejar ketertinggalan pertandingan itu.
"Lewat sana mbak," tunjuk iwan.
Setelah membayar tiket masuk Meytta dan Iwan mencari cari kursi yang kosong.
Sambil mencari kursi yang kosong pandangan Meytta melihat ke arah gelanggang Hexagon, masih kosong.
Meytta beranjak berdiri berniat menuju ruang persiapan, menurut nya Bimo pasti di sana.
Iwan mengikuti di belakang Meytta, mereka sampai di ruang persiapan.
Langkah kaki mereka di hentikan oleh pihak keamanan acara tersebut.
"Maaf mbak, kalian mau kemana..?"
"Saya mau menemui teman saya pak," kata Meytta .
"Maaf petarung tidak boleh di ganggu masih bersiap mau bertanding," kata penjaga itu tegas.
Meytta tetap ngeyel, hingga terjadi keributan di depan ruang persiapan itu.
Mendengar ada ribut ribut bang Fachri keluar.
"Ada apa sih ..kok ribut ribut," tanya Fachri kepada pihak keamanan.
"Ada yang mau ketemu sama petarung," balas pihak keamanan tersebut singkat.
"Ada apa bang ?" tiba -tiba Bimo mendekat dan bertanya kepada Fachri.
"Ada yang mau ketemu kamu," katanya.
"Siapa emang.?"
"Tahu... perempuan katanya," kembali Fachri menjawab.
" Suruh masuk aja gak masalah kok," dengan tenang Bimo membolehkan.
Meytta masuk dengan wajah cemas, dan sedikit ketakutan mendekati Bimo.
"Bimo...."
Bimo mengangkat kepalanya dia tidak menyangka yang datang adalah Meytta dan Iwan.
Meytta langsung mendekati Bimo dengan tanpa ragu memeluk Bimo, sambil terisak kecil.
"Kenapa kamu melakukan ini?" kata Meytta sambil terbata bata.
Masih dengan memeluk nya Bimo menenangkan Meytta yang sudah banjir air mata.
" Apa kamu tidak tahu aku menghawatirkan mu?" kata Meytta.
"Aku gak pa pa ,it's ok," jawab Bimo sambil menatap mata Meytta meyakinkan.
"Kamu bod*h, apa kamu tahu bahaya dari perbuatanmu ini hah ! ," Meytta masih berkata sedikit keras.
"Tenaglah aku janji ini terakhir kok," sambil mengecup rambut Meytta yang ada di dekapannya.
Walaupun berat hati Meytta tidak bisa menghentikan pertandingan tersebut.
Ingin rasanya membubarkan semua orang yang ada disana dan membatalkan pertandingan itu, agar pujaan hatinya tidak terluka tapi apa daya semua hanya harapan nya saja.
Akhirnya pertandingan di mulai, Bimo sudah memasuki arena Hexagon dan lawannya pun sudah siap di sana.
Jantung Meytta berdebar keras setiap kali ada pukulan yang mendarat di bagian tubuh Bimo.
Hampir setengah jam pertandingan itu berlangsung, namun bagi meytta seakan setahun pertarungan itu tidak kunjung selesai.
Teng..teng...teng.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang bel tanda berakhirnya pertandingan itu berbunyi.
Meytta bahkan tidak berani menatap ke arah arena, takut Bimo terluka. Ternyata Bimo lah yang memenangkan pertandingan tersebut.
Sorak Sorai penduduk yang menjagokan Bimo menggema, Meytta berdiri menyambut Bimo di sisi luar arena.
Setelah penyerahan piala dan hadiah selesai, Bimo keluar langsung menuju arah Meytta, dipeluknya gadis itu dan diangkatnya.
Meytta hanya tersenyum bahagia
"Jangan kau ulangi lagi, aku tak sanggup melihat semua ini,'' bisik Meytta di tengah hingar bingar suara penonton.
__________
Selamat membaca jangan lupa like vote dan koment-nya.
Happy reading...