HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Bab 34
Sherkan masih memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar santai di jendela mobil saat kendaraannya melaju membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi kerlap-kerlip lampu malam. Cahaya lampu jalan dan lampu kendaraan lain melintas cepat di kaca jendela, menciptakan pantulan yang bergerak teratur, seolah mengikuti irama detak jantungku yang terasa sedikit lebih tenang malam ini.
Aku masih sesekali menunduk, menatap cincin sederhana namun kokoh yang melingkar rapat di jari manisku. Entah kenapa, semakin lama aku memandanginya, semakin terasa nyata bahwa hidupku kini telah berubah total, tidak lagi berjalan di jalur yang sama seperti sebelumnya. Aku bukan lagi Violet yang dulu menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk mengejar perhatian Arga. Bukan lagi Violet yang rela mengorbankan harga diri, impian, bahkan kebahagiaannya sendiri demi seorang laki-laki yang ternyata tidak pernah benar-benar mencintaiku sepenuh hati. Dan sekarang... satu kenyataan yang masih terasa seperti mimpi namun tak bisa dipungkiri lagi: aku adalah istri Sherkan Satria. Pikiran itu masih terasa asing, bahkan terasa sangat aneh, namun lambat laun mulai terasa menjadi bagian dari kenyataan yang harus kujalani.
“Kau ingin makan di mana?”
Suara rendah dan tenang milik Sherkan tiba-tiba memecah keheningan, membuatku segera menoleh ke arahnya.
“Hm?” jawabku sedikit terkejut karena lamunanku terputus.
“Tempat makan malam,” ulangnya lagi dengan nada yang tetap datar namun jelas terdengar.
Aku mengangguk pelan, baru menyadari bahwa ia sudah lama menunggu jawabanku. “Oh, baiklah.”
Jujur saja, sejujurnya aku tidak terlalu memikirkan tujuan makan malam kami malam ini. Bagiku, selama perut terisi dan tempatnya cukup nyaman, semuanya terasa sama saja dan tidak menjadi masalah.
“Ke mana saja tidak apa-apa,” jawabku dengan nada santai, berharap ia bisa memutuskan saja seperti biasanya.
Namun beberapa detik berlalu, mobil tidak mengubah arah dan tetap berjalan lurus, sementara Sherkan justru melirik sekilas ke arahku dari balik kaca spion, lalu menatapku sebentar.
“Putuskan sendiri,” perintahnya tegas namun tidak terdengar memaksa.
Aku mengernyitkan dahi, merasa bingung. “Aku yang memilih?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Lebih baik kamu saja yang tentukan,” usulku lagi.
“Kau yang memilih,” tegaskannya sekali lagi.
Aku menghela napas panjang, merasa pria ini benar-benar memiliki pendirian yang kuat dan agak keras kepala. “Aku tidak terlalu pilih-pilih soal makanan, sungguh.”
Sherkan tetap tenang, tidak tergesa-gesa sedikit pun. “Aku tahu itu.”
“Kalau begitu kenapa harus aku yang menentukan?” tanyaku penasaran.
“Karena kau istriku,” jawabnya singkat.
Aku terdiam seketika, mencoba mencari hubungan logis antara status sebagai istri dan kewajiban memilih tempat makan malam. Namun rupanya, bagi Sherkan jawaban itu sudah lebih dari cukup, karena ia tidak berniat menjelaskan lebih lanjut dan hanya menunggu keputusanku.
Akhirnya aku pun menyerah, membiarkan pikiranku melayang mencari satu tempat yang paling pas. Kalau memang harus memilih, ada satu tempat yang sudah lama terpatri di ingatanku—restoran steak terbaik yang ada di kota ini. Tempat yang sering kudatangi bersama Papa saat aku masih kecil dan remaja, tempat yang menyimpan banyak kenangan indah sebelum kehidupanku perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang menyakitkan.
“Kalau begitu...” Aku menoleh sepenuhnya ke arahnya. “Aku ingin makan malam dengan menu steak.”
Pria itu hanya menunggu dengan sabar, matanya tetap fokus mengemudi namun telinganya jelas mendengarkan.
“Ada satu restoran yang sangat aku sukai sejak lama,” lanjutku, lalu menyebutkan nama serta lokasi tempat itu dengan jelas.
Dan untuk pertama kalinya sepanjang perjalanan malam itu, aku melihat sudut bibir Sherkan sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat namun cukup jelas untuk aku tangkap.
“Baiklah,” jawabnya singkat namun terdengar setuju. “Kita ke sana.”
Perjalanan pun berlanjut dengan tenang, dan tanpa kusadari, obrolan di antara kami mulai mengalir jauh lebih mudah dan lancar dibandingkan hari-hari sebelumnya. Awalnya hanya percakapan sederhana seputar pekerjaan, situasi perusahaan, hingga beberapa proyek bisnis yang sedang dalam tahap penyelesaian. Namun perlahan-lahan, topik pembicaraan meluas menjadi hal-hal yang lebih ringan, bahkan hal-hal kecil yang tampak tidak penting sekalipun. Namun justru pembicaraan semacam itulah yang membuat suasana terasa semakin hangat dan nyaman.
“Apa makanan favoritmu selain steak?” tanya Sherkan tiba-tiba, membuatku agak terkejut.
Selama ini aku tidak pernah membayangkan pria yang terlihat serius dan kaku itu akan tertarik menanyakan hal-hal pribadi yang sederhana seperti ini.
“Hm...” Aku berpikir sejenak, lalu menjawab jujur. “Aku sangat menyukai makanan yang memiliki rasa pedas yang kuat.”
Sherkan melirik sekilas ke arahku, matanya menampakkan sedikit rasa penasaran. “Kau suka makanan pedas?”
“Sangat suka,” tegaskanku sambil tersenyum tipis.
“Kau tidak terlihat seperti penyuka makanan pedas,” komentarnya polos.
Aku langsung tertawa mendengarnya. “Lalu menurutmu aku terlihat seperti orang yang suka makan apa?”
Sherkan terdiam sebentar seolah mempertimbangkan jawabannya, lalu menjawab tenang, “Makanan yang sehat, ringan, dan tidak berlebihan rasanya.”
Aku menatapnya sesaat, lalu tertawa lebih keras lagi. Untuk pertama kalinya aku mendengar seseorang menilai selera makanan berdasarkan penampilan luar saja.
Percakapan terus berlanjut, dan semakin lama aku menyadari satu hal penting: Sherkan memang bukan tipe pria yang banyak bicara, bahkan bisa dibilang sangat hemat kata. Namun setiap kali ia berbicara, ia benar-benar mendengarkan jawabanku dengan saksama, tidak sekadar bertanya lalu melupakan apa yang baru saja kukatakan. Ia mengingat hal-hal kecil, memperhatikan perubahan nada bicaraku, dan tanpa sadar membuatku merasa dihargai sebagai lawan bicaranya.
Pikiran itu perlahan membawaku kembali mengingat masa lalu saat aku masih bersama Arga. Dulu, hampir seluruh percakapan kami selalu berpusat pada dirinya sendiri—tentang pekerjaannya, masalah yang dihadapinya, ambisi yang ingin ia capai, hingga rencana hidupnya. Sedangkan aku? Sering kali hanya berperan sebagai pendengar pasif. Bahkan saat aku mencoba bercerita tentang diriku sendiri, matanya sering terlihat kosong dan pikirannya jelas melayang ke tempat lain. Sekarang aku baru mengerti alasannya: karena sejak awal, fokus dan perhatian Arga memang tidak pernah tertuju padaku, melainkan selalu tertuju pada Eliana, wanita yang dicintainya secara diam-diam.
Sedangkan Sherkan? Ia sangat berbeda, bahkan terasa berbanding terbalik. Ia bukan pria yang pandai merangkai kata-kata manis, tidak pandai menggombal, dan ekspresi wajahnya hampir selalu terlihat datar dan sulit dibaca. Namun perhatian yang ia berikan terasa nyata, terasa menyentuh hati. Ia tidak mengucapkannya dengan lisan, melainkan membuktikannya lewat tindakan nyata. Cara dia melayani dan memperhatikan itulah yang membuatku merasa aman dan dihargai.
Aku kembali teringat berbagai gosip buruk yang selama ini beredar luas, termasuk yang sering kudengar saat aku masih hidup di masa lalu. Semua orang mengenal Sherkan Satria sebagai sosok yang ditakuti di dunia bisnis, dicap kejam, dingin, tidak memiliki rasa kemanusiaan, terlalu mengatur segalanya, dan sulit didekati siapa pun. Bahkan Arga sendiri sering menyebutnya sebagai monster yang tidak memiliki hati, yang hanya memikirkan kekuasaan dan keuntungan semata.
Aku menatap profil wajahnya dari samping—rahangnya tegas, garis wajahnya keras, dan tatapannya tetap fokus lurus ke depan. Namun kini, di mataku, semua gosip itu terasa semakin tidak masuk akal. Selama bersamanya, aku tidak melihat sosok yang kejam atau menakutkan. Aku justru melihat seseorang yang diam-diam memperhatikan banyak hal, memastikan aku makan dengan baik, memastikan aku pulang dengan selamat, memberiku cincin pernikahan karena merasa itu kewajibannya, dan bahkan meluangkan waktu menjemputku sepulang kerja. Tidak satu pun perlakuan seperti itu yang pernah Arga berikan selama dua tahun kami hidup bersama. Dan ironisnya, pria yang selama ini dicap buruk oleh banyak orang justru memperlakukanku jauh lebih baik daripada pria yang dulu dipuja dan dianggap sempurna oleh semua orang.
Aku masih tenggelam dalam pikiranku saat mobil akhirnya memasuki area parkir restoran itu. Sherkan segera turun lebih dulu, lalu dengan gerakan alami membukakan pintu untukku. Setiap kali ia melakukan hal seperti ini, aku selalu merasa sedikit terkejut, karena ia melakukannya seolah itu adalah kebiasaan yang sudah lama ia jalani.
Begitu masuk ke dalam restoran, suasana hangat langsung menyambut kami—cahaya lampu yang temaram, aroma daging panggang yang menggugah selera, serta alunan musik lembut yang terdengar di seluruh ruangan. Kami pun duduk di meja yang cukup privat dan jauh dari keramaian, lalu mulai memesan hidangan sesuai selera masing-masing.
Makan malam berlangsung jauh lebih menyenangkan dan lancar dibandingkan yang aku bayangkan sebelumnya. Kami berbicara, sesekali tertawa, dan sesekali hanya diam menikmati makanan masing-masing tanpa merasa canggung sedikit pun. Beberapa kali aku menangkap senyum tipis yang terukir di bibir Sherkan, meski hanya sesaat, namun itu cukup membuat suasana terasa jauh lebih hangat dan akrab.
Untuk sesaat, rasanya aku hampir melupakan segala beban yang menungguku—tentang Arga, Eliana, rencana Kakek Satria, masa lalu yang menyakitkan, hingga keinginanku untuk membalas segala ketidakadilan yang pernah terjadi. Aku hanya ingin menikmati malam ini dengan tenang, tanpa beban apa pun.
Namun keheningan dan ketenangan itu tiba-tiba terpecah seketika, saat sebuah suara yang sangat familiar terdengar memanggil namaku dengan nada terkejut.
“Violet?”
Aku langsung membeku di tempat, garpu di tanganku berhenti bergerak di udara. Suara itu terdengar terlalu jelas, terlalu akrab, dan membawa kembali ingatan yang ingin aku lupakan. Bersamaan dengan itu, aku dan Sherkan secara bersamaan menoleh cepat ke arah sumber suara.
Dan saat mataku menangkap sosok yang berdiri beberapa meter dari meja kami, jantungku seolah berhenti berdetak sesaat sebelum berdegup jauh lebih kencang dari biasanya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Suara perempuan itu terdengar kembali, penuh keterkejutan, kebingungan, dan ketidakpercayaan yang nyata. Matanya melirik bolak-balik antara diriku dan Sherkan, seolah tidak mampu memahami apa yang baru saja dilihatnya. Sedangkan aku, hanya bisa membelalakkan mata, terkejut bukan main melihat kehadiran sosok yang sama sekali tidak kuduga akan muncul di tempat ini pada malam ini.
suatu hari nnti kamu akan punyak anak bagaimana kl anak gadis mu dinikahi pria tanpa seizinmu🤣