Novel Korean ala Author ❤️❤️
Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim
Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.
Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!
Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingkar Hangat di Sekitar Bara Api
Desiran angin malam pegunungan utara berembus semakin kencang, membawa serta hawa dingin yang menusuk pori-pori kulit. Nyala api unggun di tengah perkemahan kecil kami memancarkan cahaya jingga kemerahan yang menari-nari di atas permukaan batu-batu besar. Suasana di sekitar tempat peristirahatan mendadak terasa senyap, hanya menyisakan suara kayu bakar yang berderik pelan.
Lee Do-Yun duduk di sampingku, bahunya bersentuhan dengan bahuku, memberikan kehangatan yang menenangkan di tengah cuaca yang membekukan.
Namun, saat aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, mataku menangkap pemandangan yang membuat hatiku sedikit merasa tidak tega. Kang Hyu-Jin dan Choi Min-Hyuk berdiri cukup jauh di dua sudut yang berbeda dari area perkemahan. Kedua pendekar hebat itu tetap patuh pada aturan ketat yang kubuat—menjaga jarak aman sepuluh langkah dariku.
Mereka berdua berdiri tegak di tengah kegelapan malam, terabaikan di pinggiran cahaya api unggun, menatap ke arah kami dengan sorot mata yang menyiratkan kesepian luar biasa di balik wibawa dingin mereka.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh... Kalau dilihat-lihat dari dekat, mereka berdua mirip banget kayak anjing penjaga setia yang diusir ke teras luar rumah pas lagi musim dingin. Meskipun mereka menyebalkan, posesif, dan hobi bikin kepala puyeng, tega juga ya rasanya membiarkan mereka kedinginan di pojok kegelapan sendirian sementara aku asyik dempetan hangat di sebelah Do-Yun.”
Aku menghela napas panjang, merenung sejenak. Meskipun aku menetapkan batasan itu demi kewarasan mentalku sendiri agar tidak terjebak dalam pusaran harem yang ribet, bukan berarti aku tega menyiksa mereka secara fisik di alam liar seperti ini. Toh, mereka sudah merelakan segalanya, meninggalkan sekte, dan mempertaruhkan reputasi besar mereka hanya untuk memastikan aku aman di perjalanan panjang menuju wilayah utara.
Aku menepuk pelan paha Do-Yun, lalu beranjak berdiri dari batu tempat dudukku.
Do-Yun menatapku kaget. "Mau ke mana, So-Bin? Apakah ada yang sakit?" tanya Do-Yun cemas.
Aku menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Bentar ya, Do-Yun. Duduk saja di sini."
Aku melangkah maju meninggalkan kehangatan sisi api unggun Do-Yun. Langkah kakiku terayun pelan menyusuri tanah berumput yang basah oleh embun malam, mendekati salah satu dari dua singa jantan yang sedang bersiaga di dalam kegelapan.
Kang Hyu-Jin, yang berdiri membelakangi pohon pinus dengan tangan bersilang di dada, langsung menegakkan tubuhnya begitu melihatku berjalan mendekat. Manik mata kelamnya membelalak kaget. Pria itu tampak siaga, seolah khawatir ia telah melanggar aturan jarak yang kuciptakan.
"So-Bin?" suara Hyu-Jin terdengar serak dan rendah, sarat akan kebingungan. "Ada apa? Apakah ada penyusup aliran sesat yang mendekat dari arah sini?"
Aku menghentikan langkahku tepat di hadapannya, berdiri dalam jarak yang jauh lebih dekat dari batas sepuluh langkah yang biasa kuizinkan. Aku melipat tanganku di dada, menatap wajah tampannya yang diterangi oleh bias cahaya api dari kejauhan.
"Tidak ada penyusup, Hyu-Jin," jawabku datar namun tidak bernada galak.
Aku kemudian menolehkan kepala sedikit ke arah Choi Min-Hyuk yang berdiri di sudut seberang, lalu kembali menatap Hyu-Jin.
Dengan suara yang cukup keras agar bisa didengar oleh mereka berdua di tengah kesunyian malam, aku melontarkan kalimat yang membuat kedua pendekar terkuat itu terperangah:
"Kalian berdua, mendekatlah. Aku tidak sejahat itu mengabaikan orang lain."
Deg!
Seketika itu juga, ekspresi di wajah Kang Hyu-Jin berubah total. Keangkuhan dingin dan sorot mata tajam yang biasa ia tunjukkan mendadak meleleh, digantikan oleh kilatan kehangatan dan ketidakpercayaan yang luar biasa mendalam.
Di sudut seberang, Choi Min-Hyuk yang mendengar undanganku langsung terpaku di tempatnya. Senior kaku itu menurunkan kedua tangannya dari dada, mengerjap beberapa kali, seolah ia sedang memastikan apakah pendengarannya tidak salah tangkap.
"Maksudmu..." Hyu-Jin bersuara ragu-ragu, manik matanya bergetar hebat. "Kami boleh mendekat ke dekat api unggun?"
Aku mendengus pelan, memutar bola mataku jengah namun diiringi senyuman kecil di sudut bibirku.
"Iya, Tuan Muda Kang. Kalau kalian berdiri di pojokan gelap terus sampai pagi, yang ada kalian malah masuk angin dan aku harus repot-repot ngurusin pendekar sakit di tengah hutan antah berantah ini," tukasku sewot. "Tapi ingat syaratnya: tetap jaga jarak wajar, jangan bikin keributan, dan jangan coba-coba berbuat aneh!"
Tanpa menunggu aba-aba dua kali, Hyu-Jin langsung melangkah cepat menghampiriku. Pria itu berjalan mendekat hingga ia berdiri hanya beberapa langkah dariku, sorot matanya memancarkan rasa terima kasih yang teramat sangat.
Dari arah seberang, Choi Min-Hyuk juga tidak mau kalah. Senior kaku berbalut jubah hitam bergaris emas itu berjalan mendekat dengan langkah mantap, meskipun ia berusaha menjaga wibawanya agar tidak terlihat terlalu antusias.
Tidak lama kemudian, formasi duduk kami di sekitar api unggun berubah drastis. Jika sebelumnya aku hanya duduk berdua dengan Lee Do-Yun sementara dua orang lainnya terasing di kegelapan, kini kami berempat duduk melingkar mengitari bara api yang kembali berkobar terang.
Lee Do-Yun yang duduk di sebelahku tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan melihat kebaikan hatiku yang kadang-kadang terlalu lembut pada orang yang salah.
"Kamu ini memang selalu punya cara untuk meluluhkan hati orang paling keras kepala di dataran tengah, So-Bin," bisik Do-Yun pelan di dekat telingaku.
Aku hanya mendengus kecil, menyandarkan punggungku dengan nyaman pada batu di belakangku.
Kang Hyu-Jin duduk bersila di sisi kiri seberang kami, menjaga jarak sopan namun kini wajahnya tersiram sepenuhnya oleh kehangatan cahaya api. Untuk pertama kalinya sejak malam pertama pelarian, guratan tegang di wajah pendekar es itu sedikit mengendur.
Di sisi kanan, Choi Min-Hyuk duduk dengan postur tegak khas seorang ketua pengawas disiplin, namun ia tidak lagi menolak keberadaan kami. Pria itu bahkan mengambil sepotong ranting kering untuk merapikan bara api agar panasnya menyebar merata ke seluruh lingkaran.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Fuh... Begini kan jauh lebih enak dilihat. Daripada tegang ala sinetron kolosal, mending kita kumpul melingkar kayak lagi acara pramuka malam keakraban. Urusan perasaan belakangan, yang penting malam ini nggak ada yang kedinginan sampai jadi patung es sungguhan.”
Suasana di sekitar perkemahan malam itu perlahan-lahan berubah menjadi jauh lebih hangat dan damai. Tidak ada lagi benturan energi Naegong yang mematikan atau tatapan permusuhan yang tajam. Yang ada hanyalah suara desir angin malam pegunungan utara dan gemeretak kayu bakar yang menemani langkah perjalanan panjang kami menuju gerbang Sekte Dewa Langit di depan sana.