NovelToon NovelToon
Legenda Teratai Es Abadi

Legenda Teratai Es Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
​Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keangkuhan Sekte dan Aturan Darah

​Ledakan kehebohan seketika pecah di seluruh penjuru Alun-alun Utama Klan Ye.

​"Ye Chen?! Bukankah dia sampah cacat yang menghilang sebulan lalu? Katanya dia jatuh ke Jurang Kematian!"

"Lihat pakaiannya, dia seperti orang liar. Tapi... bagaimana dia bisa mengangkat pedang sebesar itu?"

"Tunggu, dia menantang Ye Feng? Jenius nomor satu kita? Apa dia sudah gila karena kepalanya terbentur batu di dasar jurang?"

​Bisik-bisik dan ejekan mengalir deras dari kerumunan penonton. Namun, bagi orang-orang di tribun kehormatan, kejutan ini jauh dari sekadar bahan tontonan.

​"LANCANG!"

​Sebuah bentakan keras yang ditenagai oleh energi spiritual meledak dari tribun. Tetua Pertama, Ye Tian, menggebrak meja hingga hancur berkeping-keping. Ia melompat dan melayang turun ke tepi arena, memancarkan aura tekanan dari Tahap Pengumpul Qi tingkat kedelapan untuk menindas Ye Chen.

​"Dasar anak haram tak tahu diuntung!" urat di dahi Ye Tian menonjol keluar karena marah dan panik melihat "hantu" yang seharusnya sudah mati itu kembali. "Sebulan menghilang tanpa kabar, membuat klan cemas, dan sekarang kau kembali dengan pakaian pengemis hanya untuk mengacaukan turnamen suci ini?! Berlutut dan minta maaf pada Tuan Muda Feng, lalu enyah ke ruang hukuman!"

​Angin spiritual yang berat menyapu arena, mencoba menekan bahu Ye Chen ke tanah. Jika ini adalah Ye Chen sebulan yang lalu, tekanan tingkat delapan sudah cukup untuk membuatnya memuntahkan darah dan tulangnya retak.

​Namun sekarang, Ye Chen berdiri tegak bagaikan gunung es. Angin spiritual Ye Tian hanya membuat ujung jubah kulitnya berkibar pelan.

​"Membuat klan cemas?" Ye Chen memiringkan kepalanya, bibirnya menyeringai mengejek. "Tetua Pertama sungguh pandai membalikkan fakta. Mengapa kau tidak bertanya pada putramu yang berharga itu, siapa yang menendangku ke dasar Jurang Kematian demi merampas jatah Pil Pengumpul Qi bulananku?"

​Mendengar tuduhan itu, kerumunan langsung terkesiap. Berita tentang pembunuhan sesama anggota klan demi merampas pil adalah skandal besar!

​Wajah Ye Feng di atas panggung berubah sedikit pucat, namun ia segera menutupi kepanikannya dengan tawa dingin. "Omong kosong macam apa ini, Sepupu Chen? Aku, Ye Feng, adalah murid Sekte Awan Putih. Mengapa aku harus merendahkan diriku untuk merampas pil sampah milik seorang cacat sepertimu? Kau pasti berhalusinasi karena terlalu lama hidup bersama monyet di hutan."

​"Benar! Dasar sampah pembohong!" Ye Tian segera menimpali, matanya menyiratkan niat membunuh yang pekat. "Pengawal! Tangkap pemberontak ini dan potong lidahnya!"

​Beberapa pengawal klan mulai bergerak maju menghunus senjata mereka. Namun, sebelum mereka sempat melangkah, sebuah suara yang sangat angkuh dan terdengar malas memotong keributan itu.

​"Cukup."

​Diakon Liu dari Sekte Awan Putih berdiri dari kursinya. Ia bahkan tidak memandang Ye Chen secara langsung, melainkan menatap ujung kukunya seolah Ye Chen hanyalah kotoran yang merusak pemandangannya.

​"Kepala Klan Ye," ucap Diakon Liu tanpa menoleh pada Ye Zhan yang masih terdiam syok. "Apakah ini cara klanmu mendidik anggotanya? Seekor anjing liar cacat tiba-tiba masuk dan menantang murid resmi dari Sekte Awan Putih. Jika kabar ini terdengar sampai ke telinga tetua sekte kami, mereka akan berpikir Sekte Awan Putih sekelas dengan pengemis."

​Kata-kata Diakon Liu itu seperti palu godam yang menghantam harga diri Ye Chen, namun sekaligus menjadi tameng absolut bagi Ye Feng. Di Benua Shenzhou, menyinggung sekte besar sama dengan mencari mati.

​Diakon Liu perlahan menatap Ye Chen dengan tatapan merendahkan. "Bocah, aku tidak peduli darimana kau mencuri pedang besi rongsokan itu. Ye Feng sekarang adalah naga yang sedang terbang ke langit, sementara kau tetaplah cacing lumpur. Tantanganmu adalah sebuah penghinaan bagi sekte kami. Enyah dari sini sebelum aku menghancurkan kultivasimu secara pribadi."

​Tekanan yang jauh lebih mengerikan turun dari langit. Ini adalah aura dari seorang kultivator Tahap Pembentukan Fondasi awal! Lantai pualam di bawah kaki Ye Chen mulai retak.

​"Hahaha! Seekor anjing tua di Tahap Pembentukan Fondasi berani bertingkah sombong di hadapan pewarisku?" Tawa Ao Tian bergema liar di benak Ye Chen. "Bocah, biarkan aku meminjamkan setitik Aura Naga Kuno-ku. Buat mereka semua kencing di celana!"

​"Tidak perlu, Senior. Aku akan menyelesaikan urusan klanku sendiri," balas Ye Chen dalam hati dengan mata sedingin es.

​Tubuh Ye Chen mengeluarkan suara gemeretak tulang. Ia memutar kekuatan Meridian Naga secara diam-diam. Bukannya berlutut seperti yang diharapkan semua orang, Ye Chen justru mencabut pedang raksasanya dari lantai dengan satu tangan dan menunjuk tepat ke wajah Diakon Liu di tribun.

​Tindakan itu membuat seluruh alun-alun hening seketika. Bahkan napas mereka seakan berhenti.

​"Kau bilang tantanganku adalah penghinaan?" Suara Ye Chen terdengar parau dan penuh tantangan. "Buka matamu lebar-lebar, Anjing Sekte."

​Ye Chen mengayunkan pedang besarnya dan menggores telapak tangan kirinya di bagian bilah yang tumpul secara paksa hingga berdarah. Ia membiarkan darah segarnya menetes ke atas lantai arena.

​"Aturan Leluhur Klan Ye, Pasal Ketujuh," suara Ye Chen menggema ke seluruh penjuru dengan tegas. "Setiap keturunan klan berhak mengajukan Tantangan Darah kepada pewaris klan jika mereka merasa tidak terima. Tantangan ini murni, tidak dapat ditolak oleh siapa pun, bahkan oleh Kepala Klan, dan pemenangnya berhak atas segala kehormatan dari pihak yang kalah. Yang kalah... tinggalkan nyawa di arena!"

​Mata Kepala Klan Ye Zhan melebar tajam. Aturan kuno itu memang ada, namun sudah ratusan tahun tidak digunakan karena risikonya yang mengharuskan salah satu pihak mati.

​Ye Chen menatap Ye Feng dengan seringai haus darah. "Atau... mungkinkah sang 'Naga' dari Sekte Awan Putih ini tidak lebih dari seekor pengecut yang bersembunyi di balik rok gurunya? Jika kau tidak berani, berlutut, bersujud tiga kali di atas darahku, dan aku akan mengampuni nyawa anjingmu."

​Wajah Ye Feng seketika merah padam. Urat-urat bermunculan di lehernya. Dihina di depan seluruh penduduk kota, di depan ayahnya, dan di depan utusan sektenya... jika ia menolak, reputasinya akan hancur selamanya. Bahkan Sekte Awan Putih akan mencoret namanya karena dianggap memalukan.

​Ia menatap Ye Chen. Walaupun postur Ye Chen tampak kuat, Ye Feng tidak bisa merasakan fluktuasi energi spiritual yang besar darinya (Ye Chen menyembunyikan Qi-nya di dalam meridian naga yang sangat dalam).

​"Kau mencari mati, Sampah," desis Ye Feng, matanya memancarkan niat membunuh yang tak tertahankan. Ia menoleh ke arah Diakon Liu dan ayahnya. "Diakon Liu, Ayah, biarkan aku mengabulkan permintaan terakhir orang gila ini. Aku akan membersihkan aib klan kita dengan tanganku sendiri."

​Diakon Liu mendengus dingin dan duduk kembali. "Selesaikan dengan cepat. Jangan membuat tanganku kotor."

​Ye Tian mundur dari arena sambil tersenyum kejam. "Cincang dia, Feng'er."

​Kini, di atas arena pualam yang retak, hanya tersisa dua orang. Angin berhembus, membawa ketegangan yang sangat pekat.

​Ye Feng mencabut pedang ramping berwarna perak dari pinggangnya. Aura elemen angin berwarna sian meledak dari tubuhnya, membentuk pusaran angin kecil yang mengelilingi kakinya. Tahap Pengumpul Qi tingkat keenam ditunjukkan secara penuh!

​"Kau berhasil membuatku marah, Ye Chen," ucap Ye Feng, mengangkat pedangnya. "Aku akan memotong anggota tubuhmu satu per satu sebelum memenggal kepalamu."

​Ye Chen hanya berdiri santai, menggenggam gagang Pedang Besi Hitam dengan satu tangan yang rileks. Matanya tenang bagai permukaan danau yang membeku.

​"Banyak bicara. Majulah."

1
Luo Zheng
💪💪💪💪💪👍
Luo Zheng
lanjutkan
Aman Wijaya
semangat Ye Chen jadilah kuat bunuh mereka semua yang membully mu
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!