Seorang gadis berusia menjelang 16 tahun, tinggal dan tumbuh di gunung sejak usianya 3 tahun. Tinggal bersama sng kakek, setelah kedua orang tua nya meninggal karena kecelakaan.
Qaisara Aulia Syahrizky, gadis yang memiliki 2 sahabat makhluk tak kasat mata. Memiliki banyak keahlian, menyembunyikan identitasnya.
Happy Reading All🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUCHESS SUO JURE
"Apa yang harus di bawa ke ruang kerja?" tanya ayah Brahma
Saat mendengar, suara pesan masuk di ponsel Dhira. Dhira memperlihatkan isi chat nya, pada calon ayah mertuanya. Bukan hanya ayah Brahma yang melihat, Arkan dan sang ibu pun penasaran.
"Hah?" ketiganya serempak terkejut, namun juga heran.
"Ini... serius?" tanya ibu Ayu, Dhira mengangguk
"Emang itu yang Aulia minta, dan harus ibu dan ayah tau. Masakan ibu Ulfa, ennnaaaakk pake banget. Iya kan yang? Dan?" jawab Dhira, yang di angguki kedua pria tersebut.
"Emang seenak itu?" tanya ibu Ayu, ketiganya mengangguk serentak
"Ibu mau dong belajar masak sama ibunya Aulia" ucap ibu Ayu, membuat ketiga orang terdekatnya kaget
"JANGAN!!" teriak mereka spontan, Danish terkejut bukan main mendengarnya. Bahkan ia berjingkat, hampir jatuh dibuatnya. Posisi mereka saat ini, sedang berdiri di depan pintu utama. Entah apa yang akan mereka lakukan, karena berdiri di situ.
"Kenapa?" tanya Danish, sembari memegang dadanya
"Iya, kenapa?" tanya bu Ayu, dengan wajahnya yang masam.
"Ahhh... ng nggak, bukan gitu. Ibu kan sibuk sama toko perhiasan, mendingan ibu mah cek and ricek pemasukan aja." ucap ayah Brahma
"Mmm.. iya bener, apalagi di tambang dapet perhiasan baru. Mendingan ibu ke sana, buat desain baru yang cocok. Iya kan yah?" sambung Arkan, membuat ayah Brahma mengangguk cepat
"Ibu mau belajar masaknya dimana? Kalo mau, di rumah aja. Nanti Dhira hubungi ibu Ulfa buat kemari, biar ajarin ibu masak di sini. Sekalian bawain pesenan Aulia, yang udah di buat sama ibu Ulfa." saran Dhira, yang langsung di setujui ibu Ayu dan yang lainnya.
"Boleh, buruan telepon bu Ulfa nya." jawab bu Ayu, Dhira segera melakukan panggilan tersebut. Sopir keluarga Mubarak sudah dalam perjalanan, menjemput bu Ulfa.
"Assalamu'alaikum bu, ini Dhira."
'......'
"Bu, Aulia ada urusan di sini. Katanya minta bawain...." Dhira menyebutkan permintaan Aulia
'......'
"Sopir dari sini udah berangkat dari tadi bu, mungkin sebentar lagi sampe. Ibu bawa aja, yang udah ibu buat di rumah. Supaya Aulia ga nunggu kelamaan, sisanya ibu buat di sini. Kebetulan ibunya Dhira, ingin belajar masak sama ibu."
'......'
"Wa'alaikum salam"
"Bentar lagi sampe, jaraknya ga terlalu jauh kok dari sini ke sana." ucap Dhira, setelah mengakhiri panggilannya
"Kalau gitu, ibu siap-siap di dapur." ucap bu Ayu, di angguki Dhira. Bu Ayu pergi dengan riang, wajahnya terlihat bersemangat.
Saat bu Ayu sudah pergi, ayah Brahma dan Arkan langsung mendapatkan pelototan dari Dhira.
GLEK
"JANGAN PERNAH LARANG IBU, UNTUK BELAJAR MASAK!!" ucap Dhira penuh penekanan, kedua pria itu mengangguk. Dhira pergi menyusul bu Ayu, Ayah Brahma dan Arkan, menghembuskan nafas lega.
"Lu sama om, kenapa?" tanya Danish bingung
"Dhira itu ga pernah marah, tapi kalo udah kaya gini. Ngeri Dan, dia kaya punya kepribadian ganda." jawab Arkan
"Asal kamu tau ya, istrinya om itu ga bisa masak. Rumah sebelum ini, hancur karena kebakaran. Waktu tante Ayu belajar masak nasi pertama kali, hhhh..." ayah Brahma dan Arkan menghela nafas
"Serius? Kok sampe segitunya?" tanya Danish tak percaya
"Dulu itu bu Ayu masak nasi pake magic com, tapi dia salah paham sama tutorial yang dia liat. Tutorial yang di liat, masak nasi secara tradisional. Pake kompor, pake panci. Ibu ga liat ke layar ponsel, cuma dengerin doang. Magic com yang udah di colokin, malah di taro juga di atas kompor. Ya meledak lah, untung ga ada korban jiwa." jawab Arkan, membuat Danish melipat bibirnya.
"Kalo lu mau ketawa, ketawa aja Dan. Ga usah sok di tahan kaya gitu lah..." ucap Arkan, pecahlah tawa Danish
"Maaf... maaf... ya Allah, ga nyangka ada kejadian kaya gini. Apa tante ga masuk dapur sama sekali?" Arkan dan ayah Brahma menggelengkan kepala serentak
"Sejak kecil, ibu sangat dimanja sama kakek dan nenek. Begitu juga dengan kakak-kakak nya ibu, ga ijinin ibu masuk dapur sama sekali. Ibu itu... permata yang sangat di jaga, oleh keluarganya. Sehingga ayah juga, ngelarang ibu masuk dapur. Ibu ngelakuin itu juga, waktu ayah lagi kerja. Aku yang waktu itu kelas 1 SMP, saat kejadian baru sampe depan pintu. Dan ibu, beruntung lagi baca majalah di ruang keluarga. Lu tau jawaban apa yang ibu katakan, waktu gue tanya kenapa dapur bisa meledak?" Danish menggelengkan kepalanya
"Ibu cuma bilang, ibu lupa kalo lagi masak pake magic com di atas kompor. Duaarrr... otak gue kaya meledak, di dalem kepala gue." lanjut Arkan
"Emang ga ada bibi?" tanya Danish
"Ada, cuma pas kejadian. Bibi di suruh ke mini market sama ibu, makanya gue bilang beruntung ga ada korban jiwa." jawab Arkan, Danish menggelengkan kepalanya
.
Lima menit kemudian, bel rumah berbunyi. Arkan mengerutkan dahi, jarak memang dekat. Tapi apa bisa secepat ini, sampe rumah?
"Assalmu'alaikum... maaf, apa benar Aulia ada di sini?" salam seorang pria muda ramah, dengan membawa paper bag di kedua tangannya. Di belakangnya juga berdiri, seorang pria yang terlihat dingin.
"Wa'alaikum salam... Mmm... iya, kalian siapa ya?" jawab Arkan seraya bertanya
"Ohh... kenalkan, saya Rayan dan itu kakak saya Rahman. Kami di utus ibu Ulfa, untuk membawa makanan ini ke sini." jawab pria, yang ternyata anak bu Ufa
"Oohh... masuk kak, Aulia udah nunggu pesanannya." ucap Arkan, seraya mengajak kedua pria tersebut.
Rahman dan Rayan masuk, melihat ada pria dewasa. Keduanya mencium punggung tangan ayah Brahma, Arkan mengajak keduanya ke dapur. Mereka menyiapkan pesanan Aulia, memindahkan semua makanan itu ke atas piring.
.
.
"Jadi... tanpa sepengetahuan ibunya Dhira, kalo ibu dari sepupu Dhira itu. Adalah mantan kekasih ayahnya Dhira, sebelum menikah dengan ibunya Dhira? Tunggu... bukankah ibu Ayu bilang, kalau ibu dari sepupunya Dhira ini.... adik darii ayahnya Dhira kan? Apa ini yang di sebut inces... atau... status kakak adik palsu?" Aulia terdiam lama di depan laptop, ia memutar ke kanan dan ke kiri kursi yang ia duduki.
"Aku harus menggali lagi, informasi tentang keluarga ayahnya Dhira. Jangan-jangan... satu file yang terkunci, merupakan rahasia besar milik ayahnya Dhira. Belum aku buka, karena aku mau lihat informasi yang mudahnya dulu. Aku yakin, kalo informasi yang di jaga ketat ini. Adalah informasi aib, dari keluarga ayahnya Dhira. Bahkan, aib tentang perusahaannya juga ada di sini." ucap Aulia, ia kembali menegakkan punggungnya dan kembali mengotak-atik laptop.
"Kalian pikir, dengan menjaga keamana menggunakan tingkat A. Aku tak bisa membukanya? Ck ck... kalian sudah bertemu lawan yang salah sayang, jangan pernah meremehkan DUCHESS SUO JURE." gumam Aulia, dengan tersenyum menyeringai
DUCHESS SUO JURE adalah identitas lain Aulia, di dunia peretas. Aulia merupakan peretas no 1, namun tak ada yang akan menyangka. Bila nama yang di takuti seua peretas, memiliki usia yang mau menginjak 16 tahun. Nama itu mulai terkenal, di usianya yang masih menginjak 11 tahun.
...****************...
Sedikit penjelasan.....
Di Eropa istilah DUCHESS SUO JURE memiliki makna bahwa wanita yang bersangkutan, menjadi DUCHESS atas namanya sendiri, bukan karena dia menikah dengan seorang DUKE.
Dan Aulia menamai dirinya, dengan predikat seperti itu. Karena apa pun yang ia dapatkan, tanpa ada bantuan dari siapa-siapa.
Jangan lupa jadiin favorit, kasih like, komen, gift dan vote nya yaaaaa....
lanjuttttt yg bykkkk🤭😄💪