Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
Homestay Terbuka
Tiga bulan setelah komentar pertama tentang sewa rumah muncul, kamar-kamar belakang rumah gadang sudah tidak lagi menjadi gudang kain lama dan kardus kosong.
Ayu mengubahnya menjadi empat kamar homestay.
Tidak mewah seperti hotel bintang lima tempat ia dulu bekerja, tapi bersih, hangat, dan punya jiwa. Dinding kayu dipoles ulang sampai warnanya hidup. Seprai putih diganti setiap tamu. Ada selimut tebal karena udara Sungai Tanang dingin saat malam. Di setiap kamar, Ayu meletakkan teko kecil, dua gelas, kopi sachet, teh, sajadah bersih, dan keranjang anyaman berisi kerupuk sanjai.
Di teras belakang, kursi rotan menghadap sawah.
Di depan kamar, Sofia kadang tidur seperti resepsionis yang tidak mau diganggu.
"Kalau ada tamu alergi kucing bagaimana?" tanya Dian Saputri sambil menempel label nomor kamar.
"Sofia kita pindahkan."
"Sofia mau?"
Ayu melihat kucing berbulu tebal itu. Sofia membalas dengan tatapan datar.
"Kita negosiasi."
Dian tertawa. Ia datang dari Jakarta tiga hari sebelum pembukaan, membawa koper kecil, sepatu kets, dan energi manajer hotel yang langsung mengatur semua orang. Begitu tiba, ia memeriksa kamar, mengecek toilet, memotret sudut ruangan, lalu mengomeli Ayu karena belum membuat template balasan untuk tamu.
"Kamu bisa masak rendang sampai orang menangis, tapi kalau membalas chat tamu cuma `iya kak`, reputasi homestay bisa hancur."
"Galak sekali."
"Aku dibayar dengan rendang. Aku harus profesional."
"Aku belum bilang mau bayar."
"Aku sudah memutuskan."
Dian membuat daftar kecil di buku tulis. Jam check-in. Nomor darurat. Aturan tidak merokok di kamar. Area hewan peliharaan. Sarapan. Menu tambahan. Kontak WhatsApp. Foto kamar untuk platform penginapan. Ia juga membantu Ayu mengunggah listing dengan deskripsi yang membuat rumah gadang terdengar seperti tempat orang bisa bernapas lagi.
Sebelum menerima tamu umum, Ayu mengundang dua kerabat jauh untuk mencoba menginap semalam. Hasilnya langsung berguna. Kamar nomor dua butuh gantungan baju tambahan. Air hangat di kamar mandi belakang harus ditunggu hampir lima menit. Lampu teras terlalu redup kalau tamu pulang setelah isya. Sarapan lontong sayur disukai, tapi tamu dari luar daerah lebih ingin mencoba bubur kampiun dan Teh Talua.
"Lihat," kata Dian sambil mencentang daftar. "Trial itu penting."
"Aku merasa seperti ujian hotel lagi."
"Bedanya, sekarang hotelnya punya kamu."
Kalimat itu membuat Ayu berhenti sejenak. Ia memandang empat kunci kamar yang tergantung di papan kayu kecil. Benar. Tempat ini bukan milik manajemen mana pun. Kalau ada yang kurang, ia memperbaiki bukan karena takut dimarahi atasan, melainkan karena ia ingin tamu merasa dirawat.
Ia akhirnya menetapkan harga yang tidak terlalu murah, tapi sudah termasuk sarapan, teh sore, dan tur kecil ke sawah belakang. Dian menyetujui keputusan itu. "Jangan jual murah sesuatu yang kamu rawat dengan hati-hati."
Sementara itu, Restoran Padang milik Ayu akhirnya menjalani soft opening.
Bangunannya berdiri di samping jalan dengan bentuk yang menyatu dengan rumah gadang. Tidak terlalu tinggi, tidak berlebihan. Bagian depan memakai kayu dan kaca besar. Dari ruang makan, tamu bisa melihat sawah dan bukit. Dapur profesional di belakang berkilat bersih, dengan alur kerja yang membuat Ayu puas setiap kali berjalan dari area bumbu ke kompor.
Papan nama belum dipasang besar-besar. Ayu ingin mulai pelan.
Tapi Nenek Sari tidak mengenal kata pelan.
"Kalau buka usaha, orang harus tahu," katanya sambil memotret gulai ayam dengan ponsel baru.
Ponsel itu dibeli dari Shopee, bersama rak bumbu, taplak meja, tempat sendok, lampu gantung, kotak tisu, dua belas piring bermotif bunga, dan entah kenapa, mesin pembuat es serut.
"Nek, kenapa beli mesin es serut?"
"Diskon."
"Kita restoran Padang."
"Anak kecil suka es."
"Tapi ini mesin besar sekali."
"Berarti rezekinya juga besar."
Ayu tidak punya jawaban untuk itu.
Pada hari pembukaan, warga sekitar datang lebih banyak daripada perkiraan. Ada yang benar-benar ingin makan, ada yang penasaran melihat hasil renovasi, ada yang ingin memastikan apakah cerita biaya tiga miliar itu benar. Nenek Sari menyambut semua orang seperti sedang mengadakan pesta keluarga. Datuk Harun duduk di dekat kasir, tidak banyak bicara, tapi memastikan teh panas selalu tersedia.
Mamak Darto datang bersama Tante Rina dan beberapa kerabat. Ia melihat ruang makan, dapur, mushala kecil, lalu mengangguk.
"Kamu tidak mempermalukan rumah gadang," katanya.
Untuk Ayu, itu pujian paling penting hari itu.
Pesanan pertama adalah nasi rendang untuk seorang ibu tetangga yang dulu sering memberi Ayu kue waktu kecil. Ibu itu mengambil suapan pertama, mengunyah pelan, lalu menatap Ayu.
"Rasanya seperti masakan Tania, tapi lebih berani."
Nama ibunya membuat tangan Ayu berhenti di atas meja.
Nenek Sari yang berdiri di sampingnya ikut terdiam. Beberapa detik kemudian, Nenek pura-pura sibuk menata piring, tapi Ayu melihat matanya basah.
"Terima kasih, Bu," kata Ayu pelan.
Siang itu, dapur tidak berhenti bekerja. Rendang, ayam pop, sambal lado hijau, sayur nangka, dendeng balado, gulai tunjang. Aroma santan dan rempah memenuhi ruangan. Dian membantu di area depan sambil tetap sempat merekam video. Luna dilarang masuk restoran, jadi ia duduk di halaman dengan wajah sedih yang justru membuat pengunjung ingin memotretnya.
Menjelang sore, sebuah keluarga datang bertanya apakah restoran Ayu bisa menerima pesanan baralek bulan depan.
"Untuk berapa orang?" tanya Ayu.
"Kurang lebih dua ratus lima puluh."
Dian yang sedang minum langsung batuk.
Ayu menahan senyum. "Bisa. Tapi kita bicarakan menu dan tanggal dulu."
Di kepala Ayu, angka-angka bergerak cepat. Bahan baku, tenaga tambahan, alat, waktu masak, harga paket. Inilah yang ia inginkan. Bukan hanya restoran untuk foto cantik, tapi dapur yang benar-benar hidup dan menghasilkan.
Malamnya, setelah pengunjung terakhir pulang, Ayu duduk di lantai ruang makan bersama Dian. Kaki mereka sama-sama pegal. Di meja, ada sisa teh, buku catatan pesanan, dan ponsel Ayu yang tidak berhenti menerima notifikasi.
"Kamu sadar hari ini kamu resmi jadi bos?" kata Dian.
"Bos yang masih cuci piring."
"Bos bagus memang tahu cara cuci piring."
Nenek Sari masuk membawa paket Shopee yang baru diantar kurir malam-malam.
Ayu langsung menoleh. "Nek, itu apa lagi?"
"Tirai bambu."
"Nek."
"Diskon juga."
Dian menutup mulut, menahan tawa.
Ayu baru mau memprotes ketika ponselnya berbunyi dengan nada berbeda. Notifikasi dari platform penginapan.
Ia membuka layar.
Ada pemesanan baru.
Satu kamar.
Durasi menginap: tiga puluh malam.
Asal tamu: Jakarta.
Ayu, Dian, dan Nenek Sari sama-sama menatap layar itu.
"Sebulan?" bisik Dian.
Ayu membaca ulang notifikasi, memastikan matanya tidak salah.
Di luar, angin malam menggerakkan tirai yang belum sempat dipasang.
Besok, tamu dari Jakarta itu akan datang.