Keluarga Ashford membesarkan dua putri. Sayangnya, yang mereka sayangi adalah orang yang salah.
Selama dua tahun, Sera Ashford hidup seperti bayangan di rumahnya sendiri. Saat adik angkatnya, Yara, memakai barang bermerek dan menerima telur Star Beast tingkat Gold di hari ulang tahunnya, Sera hanya diberi 500 kredit sebulan dan tidur di gudang sempit seluas tujuh meter persegi.
Tiga kakaknya selalu memukul dulu, lalu tidak pernah bertanya. Ayahnya melihat semuanya, tetapi memilih diam. Ibunya, seorang kontraktor tingkat Raja yang mampu meratakan satu blok kota, bahkan tidak pernah sekali pun memeriksa rekaman keamanan yang bisa membuktikan bahwa semua tuduhan terhadap Sera adalah fitnah.
Jadi, ketika Yara kembali menjebaknya dan menyuruhnya merangkak, Sera tidak berlutut.
Dia menandatangani surat pemutusan hubungan keluarga, menerima satu pukulan terakhir di wajahnya, lalu pergi ke wilayah pinggiran Dustmere Colony yang tidak mengenal hukum. Di dagunya masih ada darah, dan di kepalanya terdengar suara asing yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Supreme Star Beast System aktif.
Sekarang Sera membuka Star Beast Station di tengah tempat rongsokan. Dia menyembuhkan Star Beast yang gagal diselamatkan klinik papan atas, mengevolusi makhluk yang seharusnya mustahil berevolusi, dan memasang harga yang bahkan membuat para penguasa perang terdiam.
Pelanggan pertamanya? Pewaris keluarga terkaya di koloni itu. Pria dingin yang tidak pernah tersenyum pada siapa pun, tetapi selalu menemukan alasan untuk kembali.
Sementara itu, kakak-kakak Sera mulai menonton rekaman lama. Ibunya mulai gelisah.
Dan Sera? Dia baru saja memulai.
Kisah fantasi progresi sci-fi tentang penjinakan Star Beast, tokoh utama wanita yang tajam dan tidak mudah ditindas, romansa slow burn dengan pewaris dingin, serta sebuah keluarga yang terlambat menyadari siapa yang sudah mereka buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 003 - Evolution
Keesokan paginya, Lucian Blackwell datang pukul sembilan.
Mobil hover hitam milik House Blackwell berhenti di depan Star Beast Station yang masih terlihat seperti bangunan tua dari luar. Pintu terbuka tanpa suara, lalu Lucian turun dengan jaket putih yang rapi, wajah dingin, dan Fire Squirrel yang duduk di bahunya seperti raja kecil berbulu merah tembaga.
Sera berdiri di balik meja depan. Healing Pod sudah dicek, Evolution Pod sudah dipanaskan, dan data Fire Squirrel dari semalam sudah terbuka di panel.
"Kau datang," ucap Sera.
Lucian menatapnya. "Kau menyuruhku kembali."
"Dan kau percaya?"
"Aku mengecek data Fire Squirrel semalam. Kenaikan output energinya tidak turun."
Jawaban itu sangat singkat, seolah dia sedang menjawab soal ujian yang hanya membutuhkan satu kata.
Sera melirik Fire Squirrel di bahunya. Binatang kecil itu jauh lebih segar daripada semalam. Bulunya sudah tidak kusam, napasnya stabil, dan matanya kembali cerah. Jika semalam ia seperti lilin yang hampir padam, sekarang ia seperti bara api yang baru diberi angin.
"Kelihatannya sudah pulih total," kata Sera.
Fire Squirrel mengangkat dagu kecilnya dan mencicit pendek.
Lucian meletakkan sebuah kotak logam kecil di atas meja.
Sera menatap kotak itu. "Apa ini?"
"Untuk wajahmu."
Sera melihat kotak itu lagi, lalu membuka kait pengamannya.
Lucian tidak menjelaskan lebih lanjut. Dia hanya berdiri di sana dengan ekspresi datar, seolah memberi perempuan yang wajahnya masih memar sekotak obat mahal adalah hal biasa yang dilakukan orang pada pagi hari.
Sera membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat enam vial gel medis berwarna biru muda. Setiap vial disimpan dalam busa pelindung transparan. Logo kecil di bagian tutupnya membuat mata Sera sedikit melebar.
Gel medis tingkat militer.
Barang yang biasa dipakai Star Patrol setelah pertempuran berat.
Satu vial saja bisa membeli makanan cukup untuk beberapa bulan di distrik pinggiran. Enam vial berarti harganya lebih mahal daripada seluruh uang saku yang pernah diberikan House Ashford kepadanya selama setahun.
Sera menutup kotak itu pelan.
"Tuan Blackwell," katanya, "kau sadar ini terlalu mahal untuk diberikan begitu saja?"
"Healing Pod milikmu menyembuhkan Star Beast," jawab Lucian. "Bukan manusia."
Sera menatapnya.
Nada Lucian tetap dingin. Matanya tetap tenang. Tetapi kalimat itu menusuk dengan cara yang aneh.
Dia melihat luka Sera.
Dia melihat memar di wajahnya, goresan di punggung tangannya, dan bekas darah yang belum sepenuhnya hilang dari sudut bibirnya.
Orang-orang di House Ashford melihat semua itu dan menyebutnya pantas.
Lucian melihat semua itu dan memberinya obat.
Sera tertawa kecil. "Kau memang tidak pandai bicara, ya?"
"Tidak perlu."
"Benar juga." Sera menyimpan kotak obat itu di bawah meja. "Terima kasih."
Lucian hanya mengangguk.
Namun Fire Squirrel di bahunya tiba-tiba mencicit sekali, seolah merasa tuannya baru saja melakukan sesuatu yang sangat baik.
Sera menahan senyum.
"Baiklah," katanya sambil membuka panel hologram Evolution Pod. "Sekarang giliranmu membayar kembali investasi mahal ini dengan menjadi lebih kuat."
Fire Squirrel langsung berdiri tegak di bahu Lucian.
Lucian menoleh sedikit. "Kau yakin aman?"
"Kalau tidak aman, semalam aku sudah mati karena menipu pewaris House Blackwell." Sera menunjuk Evolution Pod yang terbuka. "Ini adalah layanan gratis harian pertama dari sistem. Aku akan memakainya untuk Fire Squirrel milikmu."
Lucian tidak langsung menjawab.
Dia menatap Evolution Pod. Di matanya ada kehati-hatian, bukan ketakutan.
Sera bisa memahaminya. Bagi seorang Star Beast Contractor, Star Beast bukan alat. Mereka adalah rekan hidup, senjata, keluarga, dan bagian dari jiwa sendiri. Meletakkan Fire Squirrel ke dalam alat milik perempuan yang baru dikenal sehari tentu bukan keputusan mudah.
Namun pada akhirnya, Lucian mengangkat tangan.
Fire Squirrel melompat turun dari bahunya dan berjalan ke arah Evolution Pod.
Sebelum masuk, binatang kecil itu menoleh kepada Lucian.
Lucian mengangguk pelan.
Fire Squirrel masuk.
Sera menekan panel.
Pintu Evolution Pod tertutup.
Cahaya biru menyala dari dasar ruang kaca. Cairan energi tipis naik seperti kabut, membungkus tubuh Fire Squirrel tanpa menenggelamkannya. Di atas pod, layar hologram besar muncul.
[DING!!!]
[Daily Free Service digunakan.]
[Target: Fire Squirrel.]
[Analisis garis evolusi dimulai.]
[Simulasi tempur virtual dibuka.]
Lucian mengangkat mata.
Pada layar hologram, Fire Squirrel muncul di dalam arena virtual berwarna abu-abu. Tubuhnya tampak seperti bayangan cahaya, tetapi setiap gerakannya sama persis dengan tubuh asli di dalam pod.
Sera menyandarkan satu tangan di meja.
"Evolution Pod tidak hanya menuangkan energi ke tubuh Star Beast," jelasnya. "Ia memaksa potensi binatang itu keluar lewat simulasi tempur. Kalau Fire Squirrel ingin berevolusi, ia harus bertarung."
"Melawan apa?"
Begitu Lucian selesai bertanya, seekor Steel-Jaw Beetle muncul di arena virtual.
Tubuh kumbang itu besar, hitam, dan keras seperti baja. Rahangnya terbuka lebar, cukup kuat untuk menghancurkan batu.
Fire Squirrel tidak mundur.
Ia melompat ke samping ketika Steel-Jaw Beetle menerjang. Ekornya menyala. Bola api kecil melesat dan menghantam celah sendi di bawah cangkang kumbang.
Ledakan kecil terjadi.
Steel-Jaw Beetle roboh.
Mata Sera berbinar. "Lumayan."
Lucian tidak bicara, tetapi pandangannya tidak pernah lepas dari layar.
Pertarungan kedua dimulai.
Kali ini lawannya adalah Frost Serpent.
Begitu ular es itu muncul, suhu di layar seolah ikut turun. Tubuhnya putih kebiruan, sisiknya memantulkan cahaya dingin, dan setiap embusan napasnya meninggalkan kristal es di udara.
Elemen es menekan elemen api.
Fire Squirrel bergerak cepat, tetapi Frost Serpent lebih panjang dan lebih licin. Semburan es menghantam kaki belakang Fire Squirrel. Pada layar, bulu merah tembaganya mulai tertutup lapisan putih.
Sera menggenggam tepi meja.
"Ayo," gumamnya. "Jangan kalah."
Lucian tetap diam.
Namun jari-jarinya yang tergantung di sisi tubuh sedikit menegang.
Frost Serpent membuka mulut dan menyemburkan es lagi.
Kali ini Fire Squirrel tidak menghindar.
Ia menancapkan cakarnya ke tanah virtual, membuka mulut, dan mengeluarkan jeritan kecil yang tajam.
Api di ekornya tiba-tiba membesar.
Bukan hanya ekor.
Seluruh tubuhnya terbakar.
Nyala api putih keemasan menyelimuti bulu Fire Squirrel. Ia melompat, berputar di udara, lalu berubah menjadi pusaran api kecil yang terus membesar.
Udara virtual terdistorsi.
Frost Serpent yang hendak menyerang langsung terseret ke dalam pusaran itu.
Api berputar seperti badai.
Boom!
Tubuh Frost Serpent pecah menjadi cahaya.
[DING!!!]
[Fire Squirrel berhasil memperoleh skill baru: Fire Tornado.]
[Kualitas tubuh meningkat.]
[Stabilitas energi meningkat.]
Sera tanpa sadar mengepalkan tangan. "Berhasil!"
Lucian menoleh kepadanya.
Sera langsung menurunkan tangannya, batuk sekali, lalu berkata dengan wajah serius, "Maksudku, hasilnya sesuai perkiraan."
Fire Squirrel di dalam layar terus bertarung. Setelah Frost Serpent, ia menghadapi tiga lawan kecil berturut-turut. Gerakannya semakin cepat. Api di tubuhnya semakin stabil. Tubuh aslinya di dalam Evolution Pod juga mulai berubah.
Bulu merah tembaga menjadi lebih cerah.
Pola emas tipis muncul di sepanjang ekor.
Tubuhnya tidak membesar terlalu banyak, tetapi ototnya terlihat lebih padat. Energi bintang yang mengalir di sekitarnya menjadi jelas, seperti lapisan panas yang berdenyut.
Dua puluh tujuh menit kemudian, Evolution Pod berbunyi.
Pintu terbuka.
Kabut energi menghilang.
Fire Squirrel melompat keluar.
Gerakannya begitu cepat hingga hampir seperti garis api.
Ia mendarat di bahu Lucian, lalu menggosokkan kepala kecilnya ke rahang Lucian dengan suara mencicit bangga.
Lucian mengangkat tangan dan menyentuh kepalanya.
Ekspresi pria itu berubah sedikit.
Kecil, tapi Sera melihatnya.
Sudut mata Lucian melembut.
"Lebih kuat," ucapnya.
"Jelas lebih kuat," kata Sera. "Tapi kalau hanya kita yang bilang, orang lain bisa mengira aku membuka toko penipuan. Kita perlu sertifikasi resmi."
"Ke mana?"
"Star Beast Academy. Mereka punya alat pemindai publik untuk registrasi dan verifikasi skill. Kalau Fire Squirrel terdaftar dengan skill baru, itu akan menjadi bukti pertama untuk Star Beast Station."
Lucian mengangguk. "Pergi sekarang."
Sera melihat pakaian lamanya, lalu melihat luka di wajahnya yang masih terlihat jelas.
Kalau dia pergi ke pusat Dustmere Colony seperti ini, pasti banyak orang akan menatap.
Namun kemudian dia tertawa.
Memangnya kenapa?
Dia sudah dipukul di rumahnya sendiri, difitnah mencuri, dipaksa memutus hubungan darah, dan diusir seperti sampah. Tatapan orang asing tidak ada artinya.
"Baik," ucapnya. "Tapi kita naik mobilmu."
Lucian menatapnya.
Sera mengangkat alis. "Toko baruku belum cukup kaya untuk membeli kendaraan."
"Masuk."
Itu berarti setuju.
Sera mengambil kunci stasiun, mengaktifkan mode perlindungan sistem, lalu keluar bersama Lucian.
Bangunan tua di belakangnya tetap terlihat seperti toko kecil yang tidak menarik.
Namun Sera tahu, sejak hari ini, toko itu mulai menunjukkan giginya.
Star Beast Academy berada di jalur utama Dustmere Colony.
Bangunannya tidak semewah kediaman House Ashford, tetapi jauh lebih ramai. Banyak Star Beast Contractor keluar masuk membawa Star Beast mereka. Ada anak muda dengan Iron-feather Hawk, pria paruh baya dengan Rock Turtle, dan beberapa siswa akademi yang masih mengenakan seragam latihan.
Ketika Lucian masuk, suara di aula langsung mengecil.
Pewaris House Blackwell bukan orang yang bisa diabaikan.
Ketika Sera berjalan di sebelahnya, tatapan orang-orang mulai berubah.
"Siapa perempuan itu?"
"Wajahnya terluka."
"Dia berjalan bersama Lucian Blackwell?"
"Apa dia dari keluarga besar?"
Bisikan itu datang dari segala arah.
Sera tetap berjalan. Dia sudah terlalu sering menjadi bahan bisikan.
Bedanya, dulu mereka membisikkan bahwa dia adalah anak tidak berguna House Ashford.
Hari ini, mereka berbisik karena dia berjalan di sebelah Lucian Blackwell.
Lucian membawa Fire Squirrel ke ruang sertifikasi. Petugas berseragam abu-abu awalnya terlihat bosan. Dia mengambil kartu registrasi Fire Squirrel, memasukkan data, lalu mengarahkan pemindai ke tubuh binatang kecil itu.
Layar menyala.
Petugas itu menguap.
Lalu menguapnya berhenti di tengah jalan.
Dia menatap layar.
Dia menatap Fire Squirrel.
Dia kembali menatap layar.
"Ini..." Petugas itu menelan ludah. "Data lama menunjukkan Fire Squirrel ini hanya memiliki Fireball dan Flame Tail."
"Benar," kata Lucian.
"Tapi sekarang..." Petugas itu memperbesar data. "Energi tubuh naik dua puluh delapan persen. Stabilitas inti naik. Ada skill baru."
Sera tersenyum tipis.
Petugas membaca dengan suara lebih keras, "Fire Tornado."
Orang-orang di sekitar ruang sertifikasi langsung menoleh.
"Fire Tornado?"
"Skill area?"
"Pada Fire Squirrel?"
"Bagaimana bisa?"
Fire Squirrel mengangkat kepala dengan sombong.
Petugas menekan beberapa tombol lagi. "Verifikasi selesai. Skill baru resmi terdaftar. Kualitas tempur Fire Squirrel meningkat satu tingkat. Sertifikat digital sudah masuk ke akun House Blackwell."
Lucian menerima kartu datanya.
Lalu dia menoleh kepada Sera.
"Berapa tarif evolusi normal di tokomu?"
Sera berkedip.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi sangat penting.
Jika Lucian bertanya seperti itu di depan orang-orang, artinya dia secara tidak langsung mengakui bahwa evolusi ini memang berasal dari toko Sera.
Di depan Star Beast Academy.
Di depan para kontraktor.
Di depan saksi.
"Tergantung tingkat dan rute evolusi," jawab Sera dengan tenang. "Untuk saat ini, konsultasi awal gratis. Layanan evolusi dasar mulai dari 500.000 credits. Evolusi khusus dihitung terpisah."
Beberapa orang menarik napas.
Mahal.
Tetapi setelah melihat Fire Squirrel memperoleh Fire Tornado dalam satu pagi, harga itu tiba-tiba tidak terdengar mustahil.
Lucian memasukkan kartu data ke sakunya.
"Lain kali," katanya, "aku akan membawa teman."
Sera menatapnya.
Bagi orang lain, kalimat itu biasa.
Bagi Lucian Blackwell, itu hampir seperti pidato panjang.
Sera tersenyum. "Aku akan menunggu pelanggan berikutnya."
Mereka berjalan keluar dari Star Beast Academy bersama.
Lucian di depan setengah langkah.
Sera di sampingnya.
Fire Squirrel di bahu Lucian, ekornya menyala kecil seperti obor merah keemasan.
Tidak jauh dari gerbang akademi, seseorang berdiri di balik pilar.
Pria itu mengenakan jaket biasa dan topi rendah. Di tangannya ada alat komunikasi tipis. Saat Sera dan Lucian keluar berdampingan, dia mengangkat alat itu dan mengambil beberapa foto beruntun.
Dalam foto itu, Sera tampak berjalan dekat dengan Lucian. Wajahnya masih terluka, tetapi punggungnya tegak. Lucian tidak tersenyum, tetapi dia juga tidak menjauh.
Jarak mereka terlalu dekat untuk disebut orang asing.
Pria itu segera mengirim foto tersebut.
Penerima: Yara Ashford.
Malam itu, di kamar mewah House Ashford, Yara memegang gelas kristal dan menatap layar komunikasinya.
Awalnya dia masih tersenyum.
Namun ketika foto itu terbuka, senyumnya menghilang.
Sera.
Lucian Blackwell.
Berjalan berdampingan keluar dari Star Beast Academy.
Tangan Yara mencengkeram gelas begitu kuat hingga buku jarinya memutih.
"Tidak mungkin," bisiknya.
Lucian Blackwell adalah orang yang sudah lama dia incar.
Pewaris House Blackwell.
Pria dingin yang tidak pernah memberi wajah pada perempuan mana pun.
Target terbaik untuk mengangkat statusnya lebih tinggi dari sekadar putri angkat House Ashford.
Yara sudah membayangkan bagaimana suatu hari dia akan berdiri di samping Lucian, menjadi perempuan yang dipilih olehnya, lalu membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Tetapi sekarang, perempuan yang berdiri di samping Lucian adalah Sera.
Sera yang sudah dia injak.
Sera yang sudah dia usir.
Sera yang seharusnya menangis di jalanan seperti anjing tanpa rumah.
Crack.
Gelas kristal di tangan Yara retak.
Potongan kecil menusuk telapak tangannya, tetapi dia tidak merasa sakit. Matanya hanya menatap wajah Sera di foto.
"Kau benar-benar tidak tahu diri," ucap Yara pelan.
Di dekat pintu, seorang pelayan menunduk dan tidak berani bersuara.
Yara mengangkat komunikatornya dan menelepon nomor yang tadi mengirim foto.
Panggilan tersambung.
"Cari tahu," katanya.
Suaranya lembut.
Terlalu lembut.
Justru karena itu, pelayan di ruangan itu merasa punggungnya dingin.
"Cari tahu toko apa yang dia buka di distrik terbengkalai. Cari tahu siapa yang membantunya. Cari tahu bagaimana dia bisa mendekati Lucian Blackwell."
Orang di ujung sana bertanya sesuatu.
Yara menatap foto itu sekali lagi.
Lalu bibirnya melengkung.
"Anggaran?" gumamnya. "Lima juta credits."
Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan mata penuh racun.
"Aku ingin semuanya sebelum besok pagi."