Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: DRAMA DI MEJA MAKAN
Malam hari pun tiba di mansion keluarga Wicaksono. Seluruh anggota keluarga kini telah duduk rapi mengitari meja makan yang penuh dengan berbagai macam menu yang menggugah selera.
Setelah rentetan kejadian menggemparkan sore tadi akibat ulah ajaib sang Princess, barisan ibu-ibu langsung dibuat sibuk bergotong royong di dapur untuk menyiapkan hidangan makan malam spesial bagi keluarga besar mereka.
Begitu deretan pelayan menata berbagai menu hidangan di atas meja, netra jernih Anaya seketika melebar.
“Woah, Mommy! Naya suka banyak-banyak!” girang Naya dengan mata berbinar cerah saat melihat begitu banyak makanan lezat tersaji di depannya.
Melihat adiknya begitu bersemangat, Marco tiba-tiba ingin menggoda. “Loh? Mommy, Mama, Mami, dan Buna kan memasak ini semua khusus buat para abang. Bukan buat Nanay,” goda Marco seraya menahan senyum.
Naya langsung melipat kedua tangannya di dada dengan bibir yang mengerucut maksimal. “Ish... Naya tidak like Abang Marco!” ketusnya sebal.
Gadis mungil itu kemudian menoleh ke ujung meja, menatap sang kakek dengan tatapan meminta pertolongan. “Opa! Lihat Abang Marco. Kata Abang, Naya tidak boleh mam,” adunya menggemaskan kepada Opa Darwin.
“Marco,” peringat Opa Darwin dengan suara berat yang penuh penekanan.
Mendapat pembelaan mutlak dari sang kakek, Naya langsung menjulurkan lidah kecilnya ke arah Marco dengan ekspresi mengejek.
“Wleee! Opa sayang Naya, tauu!” pamernya bangga, yang langsung dihadiahi tawa renyah dari Opa Darwin.
“Wah, si bocil bahaya nih. Jiwa mengadunya kuat banget,” bisik Utara pelan kepada kembarannya.
“Bisa-bisa kita masuk ring sama bapak-bapak kalau sampai membuat dia menangis,” sahut Selatan bergidik ngeri. Di dalam hatinya, Selatan langsung membuat strategi: ‘Di masa depan gue harus terus menempel dan cari muka sama adik gue ini. Biar kalau ada apa-apa, gue selalu dibela dan selamat dari omelan maut para orang tua.’
Tak lama kemudian, sesi makan malam keluarga pun resmi dimulai.
“Princess mau makan apa, hmm? Buna ambilkan, ya, Sayang,” tanya Buna Maya lembut, jemarinya sudah bersiap memegang sendok besar untuk mengisi piring kosong milik Anaya.
Anaya yang mengedarkan pandangan ke tengah meja mendadak menghentikan fokusnya pada satu mangkuk besar mata bulatnya berbinar. Melihat ayam balado yang menggugah selera.
“Naya mau yang itu, Buna!” tunjuknya bersemangat pada potongan ayam balado yang tampak sangat menggugah selera.
“No!”
Larangan keras itu keluar secara kompak dan serempak dari mulut hampir seluruh orang dewasa di meja makan. Suara ber-volume tinggi yang mendadak itu seketika membuat Anaya tersentak kaget. Mata bulatnya yang jernih langsung berkaca-kaca.
Menyadari bentakan kompak mereka barusan sukses mengejutkan sang Princess, atmosfer meja makan mendadak hening luar biasa.
“Sayang, jangan yang ini ya?” bujuk Buna Maya “yang ini pedas, nanti princess sakit perut. Princess nggak mau sakit perut kan?”
“Nanti nggak bisa makan mangga lagi loh”
Ucap maya selembut mungkin.
Naya terdiam sesaat. Ia akhirnya mengangguk pelan, bersamaan dengan sebutir air matanya yang jatuh luruh membasahi pipi tembamnya.
Mereka yang melihat itu pun merasa bersalah. Detik itu juga, mata para ibu-ibu—Siska, Karina, Maya, dan Luna—langsung melirik tajam penuh kilatan emosi ke arah Arga, yang memang request ayam balado pedas tersebut.
‘Mampus gue. Habis ini riwayat gue bakal tamat di tangan para betina ini,’ batin Arga menjerit ngeri, mendadak merasa salah tingkah di kursinya sendiri akibat tatapan menghujam dari sang istri dan ipar-iparnya.
Sementara itu, di sudut meja yang lain, Marco, Utara, Selatan, dan Arka mati-matian menggigit bibir mereka, menahan tawa mengejek melihat papi mereka yang biasanya garang di dunia bisnis kini mati kutu dikepung para ibu. Di sisi mereka, hanya Marvel yang tetap tenang dan hanya mendengus geli melihat pemandangan di hadapannya.
“Sayang, makan sayur sama ayam kecap yang Mommy masak khusus untuk Naya saja, okey?” bujuk Siska dengan suara yang amat lembut.
“Iya, Mommy,” jawab Naya dengan nada suara yang masih terdengar sendu.
“Cucu Oma sini, duduk di dekat Oma saja, Sayang,” panggil Oma Silya menengahi situasi.Anaya pun mengangguk patuh lalu segera berpindah tempat duduk ke kursi kosong di sebelah sang nenek.
Setelah drama air mata itu, akhirnya makan malam keluarga besar Wicaksono pun berjalan dengan khidmat tanpa ada percakapan berat lagi, diiringi suasana hangat di mana Anaya disuapi dengan penuh kasih sayang oleh Oma Silya.
...****************...
Setelah makan malam yang penuh huru-hara itu selesai, di sinilah mereka sekarang. Semua orang kembali berkumpul di ruang tengah yang luas, dengan Anaya yang tampak asyik duduk bersandar di dalam pangkuan hangat Papi Langit.
“Perut Naya besar sekali,” cicit Naya pelan sembari mengelus perutnya sendiri yang terasa membuncit di dalam pangkuan papi langit.
Langit yang mendengar cicitan itu tidak bisa menahan tawa renyahnya. “Perut Naya besar karena tadi makannya banyak sekali, kan?”
“Oma suapin Naya banyak-banyak, Papi. Perut Naya sampai tidak muat lagi,” adunya menggemaskan.
“Hayoloh, nanti perut Nanay bisa meledak!” ledek Marco tiba-tiba. Ya, selain Arka, Marco memang menjadi orang nomor satu yang paling gemar menjahili Anaya.
“Abang Marco jelek! Naya tidak like banyak-banyak!” sergah Naya spontan sambil melotot sebal.
“Nanay juga jelek, mirip seperti bebek,” jahil Marco lagi, semakin memanas-manasi adiknya.
“Ishhh... Abanggg! Mommy look, Abang Marco nakal!” adunya dengan suara cempreng kepada Siska yang sedang mengobrol di sofa seberang.
“Abang Marco yang jelek, Princess. Princess-nya Papi Langit selalu cantik,” bela Papi Langit telak, membuat Marco langsung melotot tidak terima karena dipojokkan oleh ayahnya sendiri.Mendapat pembelaan dari papinya, Naya langsung terkekeh puas.
“Abang Marco jelek, hihi!” ejeknya lucu.
Melihat keriuhan anak-anak muda sudah mulai mereda, Hendra memutuskan untuk membuka obrolan serius yang sejak tadi ingin ia bahas bersama saudara-saudaranya.
“Jadi bagaimana dengan kalian? Apa ada rencana untuk menetap di Jakarta?” tanya Hendra membuka topik utama.
“Aku ada rencana untuk pindah ke sini saja. Untuk urusan perusahaan, akan aku alihkan kantor pusat ke Indonesia. Yang lain pun tampaknya pasti akan ikut pindah juga,” ucap Paman Bumi, yang langsung dihadiahi anggukan setuju dari Arga dan Langit.
“Baiklah, jika keputusannya seperti itu, kita harus memperketat penjagaan untuk Princess,” putus Hendra mutlak dengan raut wajah yang berubah serius.
“Bukan tidak mungkin musuh-musuh bisnis kita akan mulai berdatangan setelah tahu kalian pindah ke Indonesia lagi. Dan tentu saja, mereka pasti akan mengincar Princess sebagai titik kelemahan terbesar keluarga kita,” ujar Hendra mengingatkan risiko yang ada.
“Ya, kamu betul, Hendra. Keselamatan Princess adalah yang paling utama di atas segalanya,” tutur Opa Darwin membenarkan ucapan putra bungsunya dengan tegas.
Saat semua orang sedang fokus mendengarkan obrolan serius tersebut, Papi Langit yang sejak tadi memangku Anaya mendadak dibuat heran. Ia tidak lagi mendengar celotehan atau sahutan dari putri kecilnya itu. hanya terdengar halus dari Anaya yang menandakan bahwa gadis mungil itu sudah tertidur dengan sangat pulas.
“Loh, sudah tidur ternyata,” ucap Papi Langit melembut saat menatap wajah damai Anaya yang bersandar di dadanya.
“Biar Marvel yang bawa Adek ke kamar, Pi,” pinta Marvel yang langsung bangkit dari duduknya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh kelembutan, ia mengambil alih tubuh mungil Anaya ke dalam gendongan dewasanya.
Cup!
“Good night, Princess,” ucap seluruh pria dan wanita di ruangan itu berbisik serempak setelah secara bergantian mengecup sayang pipi bulat Anaya sebelum gadis itu dibawa naik ke lantai atas.
Sesampainya di dalam kamar tidur Naya, Marvel meletakkan tubuh adiknya di atas kasur empuk dengan sangat perlahan agar tidak mengusik tidurnya. Setelah memastikan Anaya tidak terbangun, ia menarik selimut tebal dan menutup tubuh mungil itu sebatas leher, lalu membungkuk untuk mencium kening sang adik dengan penuh kasih sayang.
(Naya bobo🤭)
“Selamat malam, adik kesayangan Abang,” ucap Marvel lirih seraya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan.Ia memandangi wajah damai Anaya yang tertidur pulas sembari mengenyot jempol mungilnya sendiri seperti seorang bayi. Benar-benar sebuah pemandangan murni yang membuat siapa saja berjanji akan melindunginya dari bahaya apa pun di dunia ini.
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB 18..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP PAGI DAN MALAM JAM 08.00-09.00 dan 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 08.00-09.00 dan 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
udah bikin satu kelas mikir berjamaah dianya malah anteng anteng aja🤭
Jangan lupa like, komen dan klik favorit yaa🥰
HAPPY READING & HOPE YOU ENJOY GUYSSS💜