Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Pengakuan yang Tidak Mengubah Segalanya
Selepas salat Maghrib, suasana rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Cahaya lampu ruang keluarga menyala hangat, memantul di lantai yang bersih. Diara duduk di atas sajadahnya sejenak, masih dalam diam setelah doa-doa yang ia panjatkan.
Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di samping mukena. Layar menyala, menampilkan satu notifikasi pesan masuk.
Nama pengirimnya: Jifan.
Diara membuka pesan itu perlahan.
💌 Jifan : Makan malam dulu ya, jangan tunggu aku.
💌 Jifan : Aku kemungkinan pulang agak terlambat malam ini
💌 Diara : baik mas.
Diara membaca pesan itu sekali, lalu mengulangnya lagi. Tidak ada nada perintah di sana, hanya perhatian yang disampaikan dengan cara yang sederhana.
Ia menghela napas pelan.
“Selalu saja seperti ini…” gumamnya lirih, nyaris tanpa suara.
Diara meletakkan ponselnya di pangkuan. Tangannya masih diam beberapa saat, sementara pikirannya melayang. Ada rasa hening yang tidak sepenuhnya kosong—lebih seperti ruang yang diisi oleh kebiasaan seseorang yang mulai ia pahami.
Ia lalu bangkit, melipat sajadah dengan rapi. Namun langkahnya terhenti di tengah ruang keluarga.
“Pulang terlambat…” Diara mengulang pelan, kali ini lebih jelas.
Ia menatap meja makan yang masih kosong. Biasanya, ia akan menunggu. Tapi kali ini pesan Jifan terasa cukup tegas untuk tidak diperdebatkan.
Diara berjalan menuju dapur.
Saat menyiapkan makan malam sederhana, pikirannya kembali ke beberapa waktu terakhir. Jifan yang berubah, yang lebih sering memperhatikan, yang kadang bersikap tiba-tiba dekat, lalu kembali tenggelam dalam kesibukan.
“mungkin ada urusan penting…” ucapnya pelan sambil menuang air minum.
Namun ada sesuatu yang berbeda kali ini. Bukan rasa kecewa. Lebih seperti… pengertian yang perlahan tumbuh.
Setelah makan malam siap, Diara duduk di meja. Ia tidak lagi menatap kursi di seberang yang biasanya menunggu Jifan. Kali ini ia makan lebih tenang, tanpa menunggu siapa pun.
Di tengah suapan kecilnya, ponselnya kembali ia lihat.
Tidak ada pesan tambahan.
Hanya satu kalimat tadi yang terus teringat di kepalanya.
“Jangan tunggu aku.”
Diara menarik napas pelan, lalu tersenyum kecil, tipis namun jelas.
“Baiklah…” katanya lirih, seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Di luar rumah, malam mulai turun lebih dalam. Dan Diara, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, belajar makan malam tanpa menunggu kepulangan seseorang—meski hatinya diam-diam tetap menyimpan harapan kecil bahwa pintu itu akan segera terbuka.
Setelah makan malam selesai, Diara kembali ke ruang tengah. Televisi menyala pelan, hanya menjadi pengisi keheningan malam yang mulai terasa panjang. Ia duduk di sofa, bersandar dengan posisi santai, namun matanya sesekali melirik ke arah pintu utama.
Sudah menjadi kebiasaan yang sulit diubah—menunggu kepulangan Jifan, meski pesan tadi sudah jelas mengatakan ia akan pulang larut.
“Katanya pulang terlambat…” gumam Diara pelan.
Jam di dinding terus bergerak. Satu jam. Dua jam. Hingga suara televisi mulai terasa samar di telinganya.
Kelopak matanya semakin berat.
Diara mencoba bertahan, duduk lebih tegak, lalu kembali menatap pintu.
“Sebentar lagi… mungkin sebentar lagi pulang,” ucapnya lirih, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.
Namun kelelahan hari itu lebih kuat daripada usahanya untuk tetap terjaga.
Dalam beberapa menit, kepala Diara perlahan miring ke samping. Napasnya menjadi lebih teratur. Dan tanpa ia sadari, ia tertidur di sofa ruang tengah dengan posisi masih menunggu.
Malam semakin larut.
Jam menunjukkan hampir pukul dua belas lebih ketika suara kunci pintu terdengar.
Klik.
Jifan masuk dengan langkah pelan. Kelelahan masih terlihat di wajahnya, namun begitu matanya menangkap sosok Diara di sofa, ekspresinya langsung berubah.
Diara tertidur, dengan posisi setengah bersandar, televisi masih menyala redup di depannya.
Jifan berhenti sejenak.
“Dia nunggu aku…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Rasa bersalah muncul di dadanya. Perlahan ia mendekat, lalu berjongkok di depan sofa, memperhatikan wajah istrinya yang tertidur pulas.
“Kenapa tidak tidur di kamar…” ucapnya lirih.
Tanpa ingin membangunkan Diara, Jifan dengan hati-hati mengangkat tubuh istrinya. Gerakannya perlahan, memastikan Diara tetap nyaman dalam tidurnya.
Anehnya, Diara tidak bergerak sama sekali. Tidurnya terlalu dalam.
Jifan menatapnya sebentar.
“Capek ya…” gumamnya pelan.
Ia menggendong Diara menuju kamar. Setiap langkah dilakukan hati-hati, seolah takut mengganggu ketenangan istrinya.
Sesampainya di kamar, Jifan menidurkan Diara di ranjang dengan lembut. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuh Diara dengan rapi.
Beberapa detik, ia hanya berdiri memandang wajah istrinya yang masih tertidur.
“Aku pulang…” ucap Jifan pelan, meski tahu Diara tidak akan mendengarnya.
Dengan gerakan hati-hati, Jifan menunduk dan mengecup kening Diara singkat.
Hangat. Tenang. Tanpa kata.
Setelah itu ia melangkah mundur, lalu keluar kamar.
Di lorong, ia berhenti sejenak.
Sebenarnya ia ingin tidur di samping Diara malam ini.
Namun ia mengurungkan niat itu.
“Belum sempat izin…” gumamnya pelan. “Nanti kalau dia marah…”
Jifan menghela napas, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur di kamarnya sendiri.
Malam itu, dua hati berada di bawah satu atap—satu tertidur pulas karena menunggu, satu lagi terjaga dalam diam karena terlalu berhati-hati untuk tidak melangkah terlalu jauh.
🪻🪻🪻🪻
Pagi datang dengan cahaya lembut yang masuk melalui celah tirai kamar. Diara perlahan membuka matanya, masih merasa sedikit berat karena tidur yang panjang semalam.
Ia menoleh ke sekeliling kamar, lalu mengernyit pelan.
“Loh…” gumamnya pelan. “Kok aku di kamar?”
Diara duduk, mencoba mengingat kembali kejadian malam sebelumnya. Televisi di ruang tengah… menunggu… lalu gelap.
Ia menghela napas kecil, lalu menatap pintu kamar.
“Jangan-jangan… Mas Jifan yang gendong aku ke sini ya?” ucapnya lirih, lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Ada sedikit kehangatan di wajahnya saat memikirkan kemungkinan itu. Namun ia tidak terlalu lama larut dalam pikirannya. Diara segera bangkit dan turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
Di dapur, ia bergerak seperti biasa. Mempersiapkan makanan sederhana, menata piring, dan memastikan semuanya siap di meja makan. Aroma masakan memenuhi ruang makan yang masih sepi.
Beberapa menit kemudian, tepat saat ia meletakkan lauk terakhir, suara langkah terdengar dari arah tangga.
Jifan muncul dengan pakaian kerja yang rapi. Wajahnya tampak segar, namun tetap menunjukkan kesibukan yang sudah menunggunya sejak pagi.
Diara menoleh dan tersenyum kecil.
“Pagi, Mas.”
Jifan mengangkat pandangannya.
“Pagi, Diara.”
Suaranya tenang, seperti biasa. Tidak terlalu hangat, tapi juga tidak dingin sepenuhnya.
Ia melangkah mendekati meja makan, lalu melihat jam di tangannya.
“Aku setelah ini berangkat dulu,” ucap Jifan. “Maaf, aku tidak bisa mengantarmu. Ada rapat penting pagi ini.”
Diara mengangguk pelan.
“Oh… iya.”
Jifan tidak menyadari perubahan kecil di ekspresi istrinya. Ia meraih tas kerjanya yang sudah disiapkan di dekat kursi, lalu bersiap pergi.
“Kalau begitu aku berangkat dulu,” lanjutnya singkat. “Jaga diri.”
“Hmm,” jawab Diara pelan.
Jifan kemudian melangkah menuju pintu, tanpa banyak kata tambahan.
Setelah pintu tertutup, suasana rumah kembali hening.
Diara berdiri di dapur, menatap meja makan yang sudah ia siapkan dengan rapi. Tangannya perlahan melepas apron, lalu ia duduk di kursi dengan napas pelan.
“Mas Jifan tetap sama saja…” gumamnya lirih.
Ada rasa kesal kecil yang muncul, bukan karena Jifan tidak pulang atau tidak memperhatikan, tetapi karena ekspektasi Diara yang diam-diam tumbuh sejak malam pengakuan itu.
Dia bilang cinta… tapi tetap saja seperti ini.
Diara menghela napas panjang.
“Entah dia lupa… atau memang terlalu sibuk,” ucapnya pelan.
Ia menatap makanan di depannya, namun selera makannya sedikit menurun.
Diara bersandar di kursi, menatap kosong ke arah ruang tamu.
Di dalam pikirannya, ada harapan yang belum tersampaikan, dan kenyataan yang belum berubah—Jifan tetap Jifan: tenang, dingin, dan sulit ditebak, bahkan setelah kata “cinta” itu diucapkan dengan begitu jelas.