Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menara Gading Dan Darah Yang Tak terlihat
Suara baling-baling helikopter militer Black Hawk membelah kebisingan angin malam yang pekat. Deru mekanis itu menciptakan dengungan konstan yang mengisolasi mereka sepenuhnya dari dunia di bawah sana. Di dalam kabin yang terus bergetar, cahaya lampu indikator merah memantul di wajah ketiga anggota tim yang baru saja dilantik, memandikan mereka dalam rona merah darah yang terasa begitu suram.
Manuel Vin duduk di kursi paling ujung. Jari jemarinya secara tak sadar mengusap permukaan lencana barunya yang bertuliskan Captain of Detective. Berat logam tersebut terasa sangat asing di telapak tangannya yang selama ini lebih biasa memegang senjata api dan borgol baja. Ia menatap keluar jendela, menyaksikan lampu lampu kota New York yang mulai mengecil menjadi titik cahaya redup. Manuel menyadari bahwa masa masa mengejar penjambret jalanan atau membongkar kartel narkoba kelas teri telah resmi berakhir malam ini.
Di seberangnya, Elena duduk dengan postur tubuh yang tetap tegak sempurna meskipun helikopter terus berguncang dihantam angin malam. Sepasang mata birunya yang jernih menatap lurus ke arah Arthur yang duduk diam membeku di hadapannya. Elena tahu persis apa yang sedang terjadi di balik keheningan mantan pembunuh berantai tersebut. Arthur tidak sedang melamun melainkan ia sedang memproses informasi dalam kecepatan yang mengerikan.
Di pangkuan Arthur, sebuah folder tebal bersegel emas dari Kepala Polisi Tertinggi telah terbuka lebar. Matanya yang berwarna hijau tajam menyapu setiap baris teks, lembaran foto tempat kejadian perkara, serta dokumen laporan keuangan yang terlampir di sana. Otak jenius dengan IQ 168 miliknya sedang membangun sebuah istana memori baru, mengkategorikan setiap variabel dari hutan beton yang akan segera mereka masuki.
"Ada yang menarik, Arthur?" tanya Elena. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin helikopter yang memekakkan telinga, namun Arthur yang memiliki pendengaran setajam elang tetap bisa menangkap pertanyaan itu dengan sangat jelas.
Arthur tidak langsung menjawab. Ia menutup folder tersebut secara perlahan, lalu menatap Elena dengan sebuah senyuman tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Menarik? Itu adalah kata yang terlalu lembut untuk situasi ini, Elena. Kepala Polisi kita tidak berbohong saat memberikan tugas ini. Target kita bukan sekadar kriminal biasa. Mereka adalah para arsitek realitas."
Manuel mencondongkan tubuhnya ke depan sembari mengerutkan kening karena penasaran. "Apa maksudmu? Kasus apa sebenarnya yang pertama kali mereka lemparkan ke pangkuan tim baru kita ini?"
Arthur mengetuk sampul folder tebal itu menggunakan jari telunjuknya. "Seorang pria bernama Elias Thorne. Dia adalah seorang auditor forensik tingkat tinggi di Aethelgard Capital, salah satu firma manajemen aset terbesar di pusat keuangan dunia. Tiga hari yang lalu, tubuhnya ditemukan telentang di dalam apartemen mewahnya yang terkunci rapat dari dalam. Laporan resmi dari kepolisian setempat langsung menyatakannya sebagai kasus bunuh diri akibat depresi berat dan tekanan pekerjaan."
"Dan kau pasti tidak mempercayai narasi itu," tebak Elena. Ia sudah hafal betul dengan pola pikir analitis dan skeptis pria di hadapannya.
"Tentu saja tidak," jawab Arthur dengan nada suara yang sangat dingin. "Seseorang yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari celah sekecil apa pun dalam laporan keuangan bernilai miliaran dolar tidak akan mengakhirinya begitu saja karena stres. Apalagi, cara kematiannya terlihat terlalu rapi dan terlalu teatrikal. Pembunuhnya tidak hanya menghilangkan nyawa Thorne, tetapi mereka juga menghapus seluruh eksistensi digital miliknya. Rekening bank, riwayat pencarian, bahkan rekaman CCTV lobi gedung semuanya lenyap tanpa meninggalkan satu pun cacat atau jejak forensik digital. Ini bukan sekadar pembunuhan biasa, Manuel. Ini adalah sebuah mahakarya pembersihan yang sempurna."
Manuel menghela napas panjang. Ia mulai menyadari betapa berat dan berbahayanya medan perang yang baru saja mereka masuki. "Jadi, singkatnya kita sedang berburu hantu."
"Lebih tepatnya, kita sedang berburu dewa dewa palsu yang berpikir bahwa mereka tidak akan pernah tersentuh oleh hukum," koreksi Arthur, sementara kilatan bahaya yang mematikan kembali menyala di kornea matanya. "Dan aku sangat suka meruntuhkan kuil kesombongan mereka."
Tiga puluh menit kemudian, helikopter mulai menurunkan ketinggiannya secara perlahan. Di bawah mereka, cakrawala pusat keuangan negara membentang luas seperti sebuah sirkuit raksasa yang berdenyut riuh dengan cahaya neon dan kilauan kaca baja. Gedung gedung pencakar langit menjulang sombong menembus awan rendah, menciptakan sebuah ngarai beton yang gelap, sunyi, sekaligus mengintimidasi siapa saja yang melihatnya.
Helikopter akhirnya mendarat dengan sangat mulus di helipad yang berada di atap Gedung Federal Distrik Keuangan. Begitu pintu kabin terbuka, angin dingin khas ketinggian langsung menyapu wajah mereka dengan keras. Seorang agen penghubung berjas hitam rapi sudah menunggu di sana. Ia tampak memegang sebuah payung besar meskipun langit malam itu sama sekali tidak sedang menurunkan hujan.
"Selamat datang di Markas Besar Divisi Investigasi Khusus Federal, Kapten Vin, Konsultan Rutherford, dan Konsultan Elena," sapa agen tersebut dengan nada suara profesional yang terdengar datar tanpa emulsi. "Silakan ikuti langkah saya. Ruang komando khusus kalian sudah disiapkan dengan matang di Lantai 42."
Perjalanan menuruni lift kaca transparan menuju lantai 42 memberikan pemandangan kota yang sangat memukau sekaligus mengerikan. Dari ketinggian ekstrem itu, manusia dan kendaraan di bawah sana terlihat kecil seperti semut yang tidak memiliki arti. Arthur menatap pantulan dirinya sendiri di kaca lift. Ia menyadari bahwa di kota metropolitan ini, nyawa manusia memang dihargai semurah itu di mata para elit korporat yang berkuasa.
Pintu lift terbuka dengan dentingan halus, menyingkap sebuah ruangan super luas yang areanya menyamai setengah lantai gedung tersebut. Dinding dindingnya terbuat dari teknologi kaca pintar yang bisa berubah menjadi buram total hanya dengan satu ketukan tombol sensor. Di bagian tengah ruangan, terdapat sebuah meja holografik raksasa yang saat ini sedang menampilkan logo elang emas megah milik Departemen Kehakiman.
"Tempat ini benar benar gila," gumam Manuel. Matanya bergerak menyapu deretan server kuantum berteknologi tinggi dan stasiun kerja berlayar ganda yang sudah menyala terang demi menunggu kedatangan mereka.
"Ini adalah kandang berburu kita yang baru," kata Elena sembari melangkah masuk dan meletakkan tas taktisnya di salah satu meja kerja. Ia langsung menyalakan komputer utamanya. Jari jemarinya mulai menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang sangat mengesankan, langsung bergerak membangun benteng pertahanan digital pribadi dan mengakses database rahasia milik federal.
Sementara itu, Arthur tidak peduli sama sekali dengan segala fasilitas mewah yang ada di sekitarnya. Ia berjalan lurus menuju meja holografik di tengah ruangan, lalu mengempaskan folder Elias Thorne di atasnya. Begitu ia menekan tombol aktivasi, seketika itu juga seluruh ruangan dipenuhi oleh proyeksi tiga dimensi yang memukau. Gambar tempat kejadian perkara, dokumen laporan otopsi, hingga visualisasi struktur korporat rumit dari Aethelgard Capital kini melayang layang di udara.
"Manuel," panggil Arthur tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun. Nada bicaranya kini telah berubah total menjadi nada seorang komandan tertinggi yang sedang mengatur strategi perang hidup dan mati. "Sebagai Kapten yang baru, gunakan otoritas dan akses barumu sekarang juga. Aku butuh surat perintah resmi untuk penyitaan aset seluruh server pribadi milik jajaran dewan direksi Aethelgard Capital. Lakukan semua itu dalam waktu satu jam sebelum para pengacara mahal mereka terbangun dari tidur dan menyadari bahwa kita sudah berada di kota ini."
Manuel tersenyum tipis. Rasa gelisah yang sempat menggelayuti hatinya perlahan menguap, digantikan oleh letupan adrenalin yang membakar semangat. "Satu jam saja. Kau akan mendapatkannya di atas meja ini."
"Elena," lanjut Arthur sambil menolehkan pandangannya ke arah wanita berambut pirang tersebut. "Masuklah ke dalam jaringan sistem apartemen Elias Thorne. Pembunuh jenius kita mungkin memang telah berhasil menghapus seluruh rekaman CCTV, tetapi mereka melupakan satu hal bahwa sistem rumah pintar di apartemen mewah selalu menyimpan salinan data suhu ruangan di dalam server lokal. Cari tahu pada jam berapa tepatnya suhu ruangan itu sempat turun secara drastis. Informasi itu akan memberitahu kita waktu pasti kematian yang sebenarnya."
Elena menyeringai lebar. Pantulan cahaya biru dari monitor komputer menerangi wajahnya yang penuh konsentrasi. "Sudah kucurigai dari awal bahwa mereka pasti akan melewatkan detail kecil itu. Beri aku waktu sepuluh menit saja."
Arthur kini berdiri tegak di tengah tengah proyeksi holografik yang berputar perlahan, menatap tajam foto wajah Elias Thorne yang melayang di udara. Dunia kejahatan kerah putih ini memang jauh lebih dingin, lebih licik, dan berkali kali lipat lebih mematikan. Tidak ada genangan darah yang tumpah di jalanan, juga tidak ada suara teriakan ketakutan di gang gang yang sempit. Darah di kota ini tersembunyi dengan rapi di balik deretan angka di layar bursa saham serta guratan tanda tangan di atas kertas kontrak resmi.
Namun, bagi seorang Arthur Rutherford, teka teki tetaplah sebuah teka teki yang harus dipecahkan. Dan malam ini, ia akan mengajarkan kepada para sosiopat berjas mahal itu bahwa ada seekor monster baru yang telah dilepaskan untuk menghancurkan menara gading tempat mereka bersembunyi.
"Permainan telah dimulai," bisik Arthur dengan suara yang sangat pelan khusus untuk dirinya sendiri, sementara senyuman miringnya yang penuh ancaman kembali terukir jelas di bawah pendaran cahaya hologram yang misterius.