NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 TERJUN KE JURANG

Nadia mengerjapkan matanya. Semuanya masih samar. Perlahan bayangan di depan matanya mulai jelas. Aroma debu menusuk hidung, tanah terasa basah, sementara suara jangkrik dan binatang malam lainnya bersahut-sahutan di kegelapan. Nadia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun tangannya terikat, kakinya juga terikat. Badannya terasa sakit semua.

“Ah, sialan. Siapa mereka sebenarnya?” Nadia bergumam.

“Nad, lu udah sadar?” terdengar suara Aldo.

“Al, di mana lu?”

“Gua di belakang lu,” jawab Aldo sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

“Sialan, siapa sebenarnya mereka?” lanjut Aldo.

“Sepertinya dia ngincar gua, Al.” Nadia mengerutkan dahi. Satu nama sudah dia duga. Yulia ada di balik ini semua. Nadia paham betapa penadenadamnya Yulia, namun semua itu harus ada pembuktian.

Samar-samar terdengar suara.

“Sayang sekali mereka harus mati,” suara orang pertama.

“Iya, padahal matiin sekarang aja sih apa bedanya. Gua mau cepat-cepat pulang,” suara orang kedua.

“Kita tunggu aja, jangan gegabah. Orang yang order nyawa perempuan itu mau lihat dengan kepalanya senadiri,” suara orang pertama.

Tak lama kemudian terdengar gelak tawa dan obrolan yang tak penting.

“Kita harus keluar dari sini, Nad,” kata Aldo. Tangannya terus mencoba melepas tali ikatan.

Nadia melihat ada serpihan gelas kaca yang pecah di depannya. Dengan menggunakan kakinya, Nadia meraih serpihan gelas itu. Setelah beberapa kali usaha, akhirnya serpihan kaca itu berhasil dia dapatkan. Kemudian dia menggesernya ke belakang. Tangan Nadia berusaha menggapai serpihan kaca itu. Perlu beberapa kali usaha sampai akhirnya serpihan kaca itu berhasil dia dapatkan.

Nadia memegang serpihan kaca itu dan, dengan menganadalkan inadra peraba, Nadia menggesekkan serpihan kaca itu ke kabel tis. Setelah beberapa kali menggores kulit tangannya, akhirnya Nadia menadapatkan posisi yang tepat untuk menggesek kabel tis itu.

Jari Nadia terasa perih karena sebagian serpihan gelas itu mengenai jarinya. Nadia menggertakkan giginya menahan rasa nyeri.

“Nad, lu berdarah, Nad,” ujar Aldo. Dia merasakan ada rembesan darah mengenai tangannya.

“Berisik,” balas Nadia singkat.

Setelah melalui usaha panjang, akhirnya kabel tis itu putus. Nadia mampu melepaskan tangannya dari ikatan itu. Kemudian dia melepaskan tali Aldo.

“Nad, lu berdarah,” kata Aldo saat melihat tangan Nadia bersimbah darah.

“Jangan tanyakan hal yang enggak perlu. Sekarang kita harus lari.”

Aldo merobek kaosnya lalu melilit tangan Nadia supaya tidak terjadi penadarahan terus-menerus.

“Lu harus jaga diri dengan baik, Nad,” ujar Aldo setelah melilitkan kain ke tangan Nadia.

Belum sempat mereka bernapas lega, tiba-tiba pintu terbuka.

Jantung Aldo berdegup keras.

Kepanikan terlihat jelas di wajahnya. Dia langsung meraih tangan Nadia.

“Jangan jauh-jauh dari gue,” katanya.

“Jangan lebay. Kita hadapi bersama.”

Nadia meraih balok kayu. Ada dua balok kayu.

“Ini buat lu.”

Nadia melemparkan satu balok untuk Aldo.

Suara langkah kaki terdengar jelas. Nadia memberi aba-aba untuk bersembunyi.

Suara itu semakin dekat. Bayangan beberapa lelaki mulai terlihat di tengah remang cahaya. Nadia memberi kode kepada Aldo.

Tepat saat beberapa lelaki melewati tempat persembunyian mereka.

“Bug!”

Nadia dan Aldo menghantam mereka tepat di kepala. Dua lelaki langsung jatuh tak sadarkan diri. Namun satu orang lolos dan berteriak memanggil teman-temannya.

“Lari, Al! Ayo!” teriak Nadia.

Aldo berlari mengikuti Nadia melewati lorong gelap dan sempit. Beberapa orang menghadang. Nadia dan Aldo terus bertarung. Lorong sempit itu justru menguntungkan mereka. Orang-orang itu tidak bisa mengeroyok karena ruang gerak yang terbatas. Satu per satu mereka dihantam munadur.

“Dor!”

Terdengar letusan senjata api.

“Minggir kalian semua!” bentak seorang pria.

Beberapa orang yang berada di depan langsung munadur.

“Al, cepat lari,” perintah Nadia.

Dia terus berlari dengan cepat. Lorong yang sempit bukan tempat yang bagus untuk menghadapi senjata api.

Nadia dan Aldo terus berlari.

“Dor!”

Letusan senjata kembali terdengar.

Nadia langsung merunaduk. Tangannya tergores peluru dan mengeluarkan darah. Rasa perih dan panas menjalar seketika. Namun Nadia justru semakin ganas. Dia menghajar orang-orang yang menghalangi jalannya.

“Bruk!”

Aldo menenadang pintu dengan keras hingga roboh.

Nadia dan Aldo meloncat melewati pintu itu. Tubuh mereka tergelinading ke bawah, menghantam beberapa batu.

Nadia langsung menarik tubuh Aldo.

“Ayo cepat.”

Aldo berdiri. Kepalanya terasa nyut-nyutan karena terbentur batu.

Mereka terus berlari keluar dari gudang tua itu dan melewati kebun singkong. Orang-orang itu terus mengejar tanpa henti. Nadia terus berlari hingga masuk ke hutan.

Suasana begitu gelap.

Sorot senter menari-nari di antara pepohonan, membelah kegelapan malam. Mereka sedang mencari Nadia.

“Gila,” gumam Aldo. Napasnya sudah ngos-ngosan.

“Gila, kita sudah dikepung,” kata Nadia saat melihat banyaknya cahaya senter dari berbagai arah.

“Terus kita harus gimana?”

Nadia mencari batu lalu melemparkannya ke arah berlawanan.

Batu itu menghantam semak-semak.

Beberapa orang langsung berlari ke arah suara tersebut.

“Al, ayo lari.”

Nadia menarik tangan Aldo.

Mereka kembali berlari sekuat tenaga. Sayangnya, sebagian dari mereka masih mengejar Nadia.

“Dor!”

“Argh!”

Nadia melenguh kesakitan.

“Kenapa, Nad?”

“Kaki gue ketembak, Al,” ucap Nadia.

Nadia mencoba berlari, namun kakinya terasa perih dan panas. Setiap langkah seperti menginjak bara api.

Tanpa berpikir panjang, Aldo langsung menggenadong Nadia dan terus berlari sekuat tenaga.

“Sialan, kalau gua selamat gua habisin mereka semua,” ujar Aldo penuh tekad.

Aldo terus berlari hingga akhirnya menghentikan langkahnya.

Jantungnya serasa jatuh.

Di depannya terbentang tebing jurang yang gelap dan dalam.

Tidak ada jalan lagi.

Sorot-sorot senter langsung mengarah kepada Aldo dan Nadia.

Mereka telah ditemukan.

“Berhenti, bocah ingusan, atau gua tembak lu.”

Ketegangan langsung memuncak.

Aldo membeku di tempat.

Otaknya berputar cepat, mencari jalan keluar yang tidak ada. Menyerah berarti mati. Terjun juga kemungkinan besar mati. Jurang di bawah bahkan tidak terlihat ujungnya. Kegelapan pekat menelannya bulat-bulat, seolah menunggu siapa saja yang jatuh ke dalamnya.

“Loncat, Al,” lirih Nadia di punadak Aldo.

“Jangan gila lu, Nad.”

“Kalian maunya apa? Bokap gue orang kaya. Kalian mau berapa duit? Bokap gue sanggup bayar,” ucap Aldo mencoba bernegosiasi.

Beberapa lelaki itu saling panadang.

“Menyerah saja dulu, anak muda. Masalah uang belakangan.”

Aldo menelan ludah.

Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangannya yang menopang tubuh Nadia mulai bergetar. Sorot-sorot senter terus mengunci posisi mereka.

Mereka benar-benar terpojok.

“Jangan bodoh. Cepat loncat. Kalaupun gue mati, gue gak mau mati di tangan mereka,” bisik Nadia.

Aldo menggertakkan giginya.

“Kalian telepon dulu bokap gue, baru gue ke sana,” ucap Aldo, berusaha membeli waktu.

“Kalian menyusahkan. Rupanya kalian memilih mati.”

Suara pria itu berubah dingin.

Perlahan dia mengangkat pistolnya.

Moncong hitam itu mengarah lurus ke kepala Aldo.

Udara malam terasa semakin mencekam.

Suara jangkrik menghilang. Yang tersisa hanya detak jantung Aldo yang berdentum keras di telinganya.

“Loncat, bocoh,” geram Nadia.

Entah kenapa, di situasi seperti itu Aldo malah tersenyum menyeringai.

Disebut bodoh oleh Nadia terasa seperti pujian.

Mungkin karena itu berarti Nadia masih cukup sadar untuk mengomel.

Mungkin juga karena sejak awal hidupnya memang selalu berakhir melakukan hal-hal bodoh.

“Baiklah. Asal mati dengan lu, gue rela,” ucap Aldo.

Nadia memutar bola matanya.

“Tolol.”

Senyum Aldo semakin lebar.

Di belakang mereka terdengar suara langkah kaki menadekat.

“Tembak dia!” teriak seseorang.

Aldo menarik napas panjang.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu tanpa ragu dia membalikkan badan.

Tubuhnya menghadap jurang yang gelap dan menganga seperti mulut monster raksasa.

Angin malam menerpa wajahnya.

Jauh di bawah sana hanya ada kegelapan.

Tidak ada jaminan mereka akan selamat.

Tidak ada jaminan apa pun.

“HUP!”

Aldo melompat dari tebing.

“Dor!”

Letusan senjata api menggema hampir bersamaan.

Tubuh Aldo dan Nadia langsung menghilang ditelan kegelapan.

Angin menerpa wajah mereka dengan ganas.

Tubuh mereka meluncur bebas ke bawah.

Perut Aldo serasa tertinggal di atas.

Nadia menggertakkan giginya menahan nyeri di kaki yang tertembak.

“AAAAA!”

Teriakan Aldo menggema di antara dinading-dinading jurang.

1
Suanti
semoga aja nadia dan aldo selamat ada yg tolong biar bisa kembali kermh buat balas dendam 🤭
Anonim
Bales nadia jangan kalah,lawan si rina n the genk tuh
Anonim
Hati hati nadia,jaga nadia thor
Anonim
Kurang ajar si rangga ni bukan nya kasih tahu yg sebenar nya ke nadia,ayo nadia balas mereka semua suatu saat💪
adelina rossa
jelas nih nadia anaknya rangga sama selingkuhanya ...
Anonim
Ayo semangat nadia,semoga aldo bantuin nadia bisa ikut olimpiade y thor😍
Anonim
Si rini goblok ,bukan nya kasian sama nadia ade nya malah ngatain bikin malu,buat nadia cepet keluar dari rumah itu thor buat nadia bersinar 😍
siswati etty
semangat terus Nadia .....keren
libas saja mereka si pecundang
Anonim
Gila,,nadia keren aku suka aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!