NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kursi penumpang di sebelah kiri

Hari Jumat siang itu, panas kota terasa sangat menyengat kulit. Aku berdiri di depan gerbang kayu kosan Mbak Rika sambil memeluk tas ransel bututku erat-erat. Di sebelah kakiku, sebuah koper kecil berwarna biru pudar berisi pakaian dan beberapa buku kuliah penting tergeletak pasrah di atas tanah yang berdebu.

Aku melirik jam tangan murahku berulang kali.

Pukul satu lewat lima puluh delapan menit. Kurang dua menit lagi menuju jam dua siang, waktu yang ditentukan oleh Pak Arkan.

Tin!

Sebuah klakson mobil yang pendek sukses membuatku sedikit terlonjak. Sebuah mobil sedan hitam berlogo tiga berlian yang sangat mengkilap perlahan berhenti tepat di depanku. Kaca mobil bagian depan yang gelap perlahan turun, menampilkan sosok Pak Arkan yang sedang mengenakan kacamata hitam.

"Masuk. Taruh koper kamu di bagasi belakang," perintah Pak Arkan tanpa basa-basi. Nada suaranya terdengar sangat dingin, persis seperti saat dia menyuruhku keluar dari ruang dosen kemarin lusa.

"Baik, Pak," sahutku pelan.

Aku berjalan ke bagian belakang mobil dengan sedikit kesusahan karena membawa ransel sekaligus menyeret koper. Untungnya, pintu bagasi terbuka otomatis dari dalam. Setelah meletakkan koper dengan aman, aku buru-buru berjalan ke pintu sebelah kiri bagian tengah mobil. Aku berniat duduk di kursi belakang agar jarak di antara kami tetap aman dan tidak terasa canggung.

Namun, baru saja jemariku menyentuh gagang pintu belakang, suara berat Pak Arkan kembali terdengar melalui jendela yang terbuka.

"Karin."

Aku menghentikan gerakanku, menoleh bingung. "Iya, Pak?"

"Saya ini calon suami kamu, bukan sopir taksi online kamu. Duduk di depan," ketus Pak Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan depan.

Wajahku mendadak terasa sedikit panas karena malu. Dengan langkah kaku dan canggung, aku memutar arah lalu membuka pintu penumpang bagian depan di sebelah kirinya. Begitu bokongku mendarat di atas jok kulit mobil yang sangat empuk dan wangi aroma kopi arabika ini, aku langsung merapatkan tubuhku ke arah pintu sebelah kiri, berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin dari posisi duduk Pak Arkan.

Mobil perlahan bergerak membelah jalanan Kayu Tangi yang mulai padat oleh kendaraan di siang hari.

Suasana di dalam kabin mobil benar-benar sunyi senyap. Tidak ada suara radio, tidak ada musik yang berputar, bahkan suara embusan napas kami sendiri pun rasanya bisa terdengar saking sepinya. Hanya ada suara dingin AC yang berembus pelan menerpa wajahku.

Aku menatap lurus ke depan, meremas tali ransel yang kupangku di atas paha dengan gugup. Sesekali, mataku melirik ke arah samping melalui pantulan kaca jendela luar. Pak Arkan tampak sangat fokus menyetir dengan satu tangan berada di atas kemudi, sementara tangan kirinya sesekali memindahkan tuas persneling dengan gerakan yang sangat tenang dan terlatih.

"Kenapa melirik-lirik? Ada yang aneh dari muka saya?" tanya Pak Arkan tiba-tiba, membuatku langsung membuang muka ke arah jendela kiri dengan panik.

"N-nggak ada, Pak! Siapa juga yang melirik," jawabku ketus, mencoba menutupi kegugupanku yang telanjur ketahuan. "Oh ya, Pak... masalah izin absensi saya hari ini, Bapak beneran sudah urus?"

"Sudah. Saya sudah mengirimkan surel resmi ke Pak Bambang selaku dosen pengampu kelas sistem basis data kamu siang ini. Kamu tidak akan dianggap bolos," jelas Pak Arkan dengan nada suara yang datar namun jelas. "Jadi kamu tidak perlu khawatir nilai indeks prestasi kamu hancur sebelum kita menikah."

Aku mengangguk-angguk pelan mendengarnya. Setidaknya beban pikiranku berkurang satu.

"Lalu... setelah sampai di Jakarta nanti, apa yang harus saya lakukan, Pak? Maksud saya, di depan keluarga besar Bapak?" tanyaku lagi, mencoba memberanikan diri untuk membuka obrolan penting ini.

Pak Arkan memperlambat laju mobilnya saat mendekati lampu merah daerah bundaran Kayu Tangi. Ia melepas kacamata hitamnya, lalu menoleh menatapku langsung dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang sangat tajam.

"Di depan Kakek dan keluarga saya, kamu cukup bersikap biasa saja. Jangan kelihatan terlalu tegang atau takut seperti sekarang ini. Kakek orangnya sangat peka, dia bisa dengan mudah membaca kebohongan kalau kamu terus-menerus gemetaran seperti itu," ujar Pak Arkan dengan nada yang sedikit melembut, meskipun masih terdengar kaku.

"Gimana saya gak tegang, Pak... saya ini mau menikah dengan dosen killer yang minggu lalu hampir membuat saya menangis di depan kelas karena draf skripsi saya dicoret semua," gumamku pelan, setengah berbisik ke arah jendela luar.

"Saya dengar itu, Karin," sahut Pak Arkan cepat, membuatku langsung menggigit bibir bawahku sendiri karena merutuki kebodohanku yang berbicara terlalu keras.

Aku meliriknya dengan takut-takut, namun yang kutemukan justru pemandangan yang sangat langka: sudut bibir kanan Pak Arkan tampak sedikit terangkat naik, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat samar sebelum ia kembali menatap ke depan saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.

"Masalah skripsi itu murni urusan akademis. Di kampus, saya adalah dosen pembimbing kamu yang harus memastikan tulisan kamu layak uji. Tapi di luar kampus... status kita berbeda," lanjut Pak Arkan dengan suara rendah yang terdengar sangat berwibawa di telingaku.

"Berbeda gimana, Pak?"

"Di luar kampus, saya adalah pria yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kebutuhan hidup kamu. Jadi, kalau kamu butuh bantuan apa pun yang tidak berhubungan dengan revisi skripsi, katakan saja langsung kepada saya. Paham?"

Kalimat terakhir Pak Arkan terasa seperti ketukan pelan yang mendarat tepat di dadaku, membuat detak jantungku mendadak bergeser dari ritme normalnya. Ada rasa hangat yang asing yang tiba-tiba menyelinap di sela-sela rasa takutku terhadap sosoknya selama ini.

Ternyata, di balik topeng dingin dan kejamnya sebagai dosen killer di ruang sidang kampus, pria bernama Arkananta Dewangga ini memiliki sisi tanggung jawab yang sangat kokoh dan tidak bisa disepelekan begitu saja.

"Paham, Pak," jawabku sangat pelan, menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan semburat merah tipis yang perlahan mulai menghiasi kedua pipiku.

Sedan hitam itu terus melaju dengan kecepatan sedang menuju Bandara. Di dalam keheningan yang kini tidak lagi terasa sedingin sebelumnya, aku mulai menyadari bahwa perjalanan satu tahun ke depan bersamanya tidak akan berjalan sesederhana yang tertulis di atas kertas kontrak bermeterai itu.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!