NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Orang yang Datang dari Masa Lalu

Angin malam yang bertiup kencang dari arah bibir pantai membawa aroma garam yang pekat, membuat pepohonan kelapa bergoyang liar menantang langit.

Di beranda rumah, Kael berdiri mematung dengan sepasang mata yang berkilat tajam sebuah tatapan dingin yang sudah berbulan-bulan terkubur sejak ia memilih hidup damai di desa nelayan ini.

Kilatan petir mendadak menyambar, menerangi siluet seorang pria bertubuh tegap yang berdiri kaku di tengah halaman basah sambil menggenggam sebuah emblem logam hitam berbentuk mahkota. Lambang Shadow Crown.

"Ketua..." panggil pria di tengah guyuran hujan itu, suara beratnya bergetar hebat menahan luapan emosi.

"Teri..." Kael langsung menegangkan rahangnya, mengenali artikulasi vokal tersebut dalam sekali dengar.

Pria bernama Teri itu adalah salah satu anggota unit elit Shadow Crown yang terkenal paling setia sekaligus mematikan. Namun, Kael buru-buru menguasai ekspresi wajahnya agar kembali datar. Ia melirik sekilas ke arah pintu kamar Bu Ratih dan Rani yang sudah tertutup rapat, memastikan tidak ada aktivitas dari dalam rumah.

"Ikut aku sekarang, jangan membuat suara," desis Kael dengan nada rendah yang mutlak.

Teri tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya patuh dan langsung melangkah mengekor di belakang Kael tanpa banyak bicara.

Keduanya berjalan cepat membelah kegelapan malam, menuju area hamparan pasir pantai yang sepi dan jauh dari jangkauan rumah-rumah panggung warga desa. Langkah kaki mereka meninggalkan jejak-jejak dalam di atas tanah pantai yang basah berlumpur akibat air pasang.

Hujan deras terus mengguyur tubuh mereka hingga basah kuyup. Begitu dirasa jarak mereka sudah cukup aman dari pemukiman, Kael menghentikan langkah kakinya tepat di bawah deburan ombak yang memecah keheningan malam. Ia membalikkan badan, melemparkan tatapan sedingin es.

"Bagaimana bisa kau melacak koordinatku dan menemukanku di pelosok ini, Teri?" tanya Kael langsung ke inti masalah, mengabaikan air hujan yang mengalir di pipinya.

Bruk.

Teri tidak langsung menjawab, melainkan langsung mengambil posisi berlutut di atas pasir pantai yang basah demi menunjukkan rasa hormat tertingginya.

"Saya terus mencari Anda tanpa henti sejak hari terkutuk itu, Ketua."

Kael tetap diam, mendengarkan dengan tatapan mengintimidasi.

"Hari ketika kapal operasi penyelamatan kita mendadak berubah menjadi jebakan maut faksi pemberontak," lanjut Teri, mendongakkan wajahnya yang basah.

"Hari ketika Anda dinyatakan menghilang di lautan, dan seluruh petinggi Shadow Crown mengira pewaris tunggal mereka telah mati tenggelam."

Kael mengembuskan napas pendek lewat hidung. "Lalu apa yang kau lakukan setelah itu?"

"Saya menelusuri setiap rumor dan jejak sekecil apa pun yang tersisa di pasar gelap," papar Teri, suaranya bersaing dengan gemuruh ombak.

"Saya menyisir puluhan pelabuhan komersial, mendatangi belasan pulau terpencil, dan menyaring ratusan laporan intelijen fiktif. Sampai akhirnya, insting saya menuntun saya ke Desa Sekar ini."

Kael menyipitkan matanya tajam, mengedarkan pandangan ke sekeliling pantai yang gelap. "Kau bergerak sendirian kemari?"

"Ya, saya datang sendirian untuk mencari keberadaan anda berbagai desa telah saya telusuri sampai ke ujung desa ini," jelas Teri.

"Bagaimana dengan orang-orang yang tersisa di markas utama?" Tanya Kael lagi.

"Tuan Enzo saat ini memimpin seluruh operasi pencarian Anda dari pusat komando, Ketua," lapor Teri tanpa ragu.

Mendengar nama itu disebut, sorot mata Kael yang tadinya sedingin es tampak sedikit bergetar halus. "Enzo..."

"Benar, Ketua," sahut Teri cepat. "Shadow Crown secara legal masih berdiri kokoh di bawah bayang-bayang. Seluruh faksi anggota yang setia sampai detik ini masih setia menunggu kabar kepulangan Anda, dan Tuan Enzo sudah mengambil alih seluruh tanggung jawab birokrasi sementara waktu agar organisasi tidak runtuh."

Kael mengangguk pelan, rahangnya sedikit mengendur. Tindakan tegas dan taktis seperti itu memang sangat mencerminkan kepribadian Enzo tangan kanan sekaligus sekretaris pribadinya yang paling ia percayai di dunia lama.

"Tuan Enzo sempat menitipkan sebuah pesan mutlak kepada saya sebelum saya berangkat menyisir wilayah pesisir ini," ucap Teri, kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Apa yang dikatakan oleh Enzo padamu?" tanya Kael datar.

"Beliau berkata 'Temukan Ketua secepat mungkin. Sisanya biar aku yang urus di pusat.'" Teri menirukan ucapan tegas Enzo dengan lancar.

Suasana di antara mereka mendadak kembali hening selama beberapa saat, hanya menyisakan deru angin laut yang membawa cipratan air asin ke wajah mereka.

"Kau sudah berhasil menjalankan tugasmu dan menemukan keberadaanku di sini, Teri," ucap Kael pelan namun penuh penekanan.

Teri mendongak, menatap langsung ke manik mata mantan komandannya. "Benar, Ketua."

"Sekarang, berbaliklah dan pulanglah kembali ke kota pusat," perintah Kael dingin.

Ekspresi wajah Teri seketika berubah drastis, gurat keterkejutan tercetak jelas di wajah tegapnya. "Tidak, saya menolak perintah itu, Ketua."

Kael menghela napas panjang, melangkah satu langkah lebih dekat. "Teri, dengarkan aku—"

"Saya tidak akan pergi dari sisi Anda lagi, Ketua!" potong Teri cepat dengan nada suara yang tegas dan keras, mengabaikan hierarki militer demi kesetiaannya.

"Saya sudah menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaga hanya untuk mencari keberadaan Anda di dunia ini. Mulai malam ini, saya akan tetap tinggal di sini untuk mengawal Anda."

Kael memejamkan sepasang matanya sesaat, merasakan kepalanya mendadak berdenyut ringan. Karakter keras kepala dan kaku yang dimiliki oleh Teri ternyata sama sekali tidak berubah sedikit pun sejak dulu kala.

"Baiklah, jika itu maumu," ucap Kael akhirnya sembari menghela napas panjang pasrah, membuka kembali sepasang matanya.

Teri langsung menegakkan posisi badannya, berdiri tegap bagai tiang pancang dermaga. "Saya siap menerima perintah baru, Ketua."

"Tapi aku memiliki beberapa syarat mutlak yang tidak boleh kau langgar selama berada di sini," sela Kael cepat, menudingkan jari telunjuknya ke dada Teri.

"Apapun syaratnya, saya siap melaksanakannya," sahut Teri tanpa ragu.

"Catat ini baik-baik di dalam batas wilayah Desa Sekar, tidak ada yang namanya Ketua Shadow Crown," tegas Kael dengan nada mengancam.

Teri mengangguk paham. "Saya mengerti."

"Dan di tempat ini juga tidak ada bawahan atau prajurit elit bernama Teri," lanjut Kael lagi.

"Siap, saya pahami."

"Mulai besok, status kita berdua hanyalah dua orang asing yang kebetulan baru saling bertemu," papar Kael secara taktis. "Dan yang paling terpenting, kau harus tunduk dan mengikuti seluruh aturan sosial di desa nelayan ini."

Untuk pertama kalinya sepanjang malam yang dingin itu, raut wajah Teri tampak berubah menjadi sedikit kebingungan. "Aturan sosial desa? Maksud Anda seperti apa, Ketua?"

"Jangan pernah melakukan tindakan konyol yang bisa membuat warga desa ketakutan," jawab Kael dengan wajah lempeng tanpa ekspresi.

Teri berkedip bingung. "..."

"Jangan pernah memicu perkelahian fisik dengan siapa pun di sini," tambah Kael lagi.

Teri menelan ludahnya berat. "..."

"Dan jangan pernah sekali-kali menunjukkan kemampuan bertarung atau insting membunuhmu di depan umum," tandas Kael mutlak.

Mendengar rentetan syarat tersebut, Teri mendadak merasa bahwa mematuhi aturan desa nelayan ini jauh lebih menyiksa dan sulit dibanding harus menjalankan misi pembunuhan tingkat tinggi di wilayah konflik.

Bersambung...

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!