Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meraih Harapan dan Impian
Pagi itu, udara di kawasan Depok tempat berdirinya Universitas Indonesia terasa sejuk namun menyimpan gelombang campuran antara kegelisahan, harapan, dan tekad yang membara. Kabut tipis masih menyelimuti puncak deretan pohon trembesi yang rindang sepanjang jalan utama kampus, dedaunannya berkilau terkena sisa embun pagi seolah menyambut hangat siapa saja yang berani melangkah masuk ke lembaga pendidikan tertua dan paling bergengsi di Indonesia ini. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kenanga yang tumbuh di taman kampus, beradu dengan hiruk-pikuk suara langkah kaki, obrolan antusias, dan deru kendaraan yang mulai berdatangan ke halaman utama yang sangat luas.
Di tengah kerumunan ribuan calon mahasiswa baru yang berkumpul di sana, terlihat beragam raut wajah: ada yang tampak sangat gugup hingga terus meremas ujung seragam OSPEK berwarna putih bersih, ada yang berusaha tampil tenang sambil menatap peta kampus yang tercetak di pamflet, ada yang sibuk berdiskusi dengan teman barunya, dan tak sedikit yang diam berbisik menghafal nama fakultas, almamater, serta moto kampus “Ilmu Padi” yang sudah menjadi identitas abadi Universitas Indonesia. Di antara lautan manusia itu, berdiri dua sosok pemuda yang memiliki kemiripan luar biasa—begitu serupa hingga sekilas pandang siapa pun pasti akan sulit membedakan keduanya—namun memancarkan aura yang sedikit berbeda namun saling melengkapi: Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang dan Naga Bayu Arka Denta Sikumbang, saudara kembar yang baru saja resmi dinyatakan lulus seleksi masuk universitas impiannya.
Kedua kakak beradik ini berdiri berdampingan dengan sikap tegap, bahu tegak namun santai, mengenakan seragam peserta OSPEK yang persis sama: kemeja putih polos, celana kain berwarna gelap, dan sepatu pantofel hitam yang dipoles mengkilap. Meski sering kali orang lain salah menyebut nama mereka atau bahkan mengira mereka adalah satu orang yang terbelah dua, namun di dalam hati mereka masing-masing sudah menata arah tujuan dan jalan yang akan ditempuh selama bertahun-tahun ke depan. Meskipun melangkah dari titik yang sama, meski sama-sama bermimpi mencapai puncak keberhasilan yang bermanfaat, namun jalur yang dipilih sudah berbelok ke arah yang berbeda: satu akan masuk ke lorong keadilan, sementara yang lain melangkah ke dunia penyelamatan nyawa.
Suasana yang tadinya riuh rendah perlahan berubah seketika menjadi hening tertib saat sekelompok mahasiswa tingkat akhir berjalan mendekat dengan langkah tegap, berbaris rapi layaknya barisan pasukan yang disiplin. Mereka adalah para senior yang bertugas sebagai panitia pembimbing Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Seragam mereka berbeda dengan peserta, dilengkapi dengan rompi identitas, lencana fakultas, dan tanda pengenal yang tersemat rapi di dada; sikap mereka berwibawa namun sorot matanya tetap menyiratkan kehangatan serta keramahan kakak yang menyambut adik baru di rumah kedua mereka.
“Perhatian seluruh peserta OSPEK!” seru salah satu senior pria bertubuh jangkung dengan suara menggelegar namun tidak kasar, bergema jelas terdengar hingga ke barisan paling belakang. “Mohon tenang dan berbaris rapi sesuai kelompok pendaftaran! Kalian saat ini berdiri di halaman Universitas Indonesia—tempat para pemikir, penemu, dan calon pemimpin bangsa dibentuk. Disiplin, sopan santun, rasa hormat pada sesama, dan semangat belajar adalah kunci utama yang harus kalian pegang teguh selama berada di sini.”
Barisan bergerak perlahan menjadi lebih teratur. Tak lama kemudian, seorang senior wanita dengan senyum teduh namun tatapan tajam berjalan menyusuri setiap barisan, memeriksa kerapian berbaris sekaligus menyapa peserta satu per satu. Saat ia tiba tepat di depan Bhumi dan Bayu, langkahnya terhenti sejenak, matanya menyelidik bergantian menatap wajah keduanya dengan rasa heran sekaligus kagum. Ia tersenyum tipis, lalu bertanya lembut namun tegas: “Wah, sungguh kembar persis ya? Kalian siapa yang berminat ke mana? Sebaiknya pastikan jelas sebelum nanti tertukar kelompok pengenalan fakultas, biar tidak tersesat mengenal kampus ini.”
“Benar, Kak,” jawab Bhumi tenang dan jernih tanpa ragu sedikit pun. “Saya Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang, calon mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dan di sebelah saya ini adalah adik kembar saya, Naga Bayu Arka Denta Sikumbang, yang akan bergabung dengan Fakultas Kedokteran.”
Senior itu mengangguk pelan, matanya berbinar puas mendengar jawaban yang mantap itu. “Bagus sekali penjelasannya. Fakultas Hukum butuh ketegasan, keberanian, dan ketelitian persis seperti yang terlihat dari sorot matamu, Bhumi. Sedangkan Fakultas Kedokteran membutuhkan ketenangan, kesabaran, dan kepekaan hati persis seperti tatapan tenang adikmu, Bayu. Pertahankan sifat-sifat itu, dan buktikan kalian memang pantas berdiri di sini.”
Bhumi mendengarkan setiap kata itu dengan saksama, menyimpannya rapat di dalam ingatannya. Ia sadar sepenuhnya bahwa jalan yang ia pilih untuk mendalami ilmu hukum bukanlah jalan yang rata dan mudah dilalui. Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah, ia sudah sering menyaksikan bagaimana keadilan kadang masih sulit dijangkau oleh mereka yang lemah, bagaimana aturan sering kali dipelintir demi kepentingan segelintir orang, dan betapa pentingnya adanya mereka yang memegang teguh prinsip kebenaran tanpa takut pada kekuasaan. Cita-citanya sederhana namun mulia: ingin benar-benar memahami seluk-beluk sistem hukum yang mengatur kehidupan bermasyarakat, mampu melindungi hak-hak orang lain yang tertindas, menegakkan keadilan yang memihak pada kebenaran, serta menjaga keseimbangan antara dunia usaha, hak asasi manusia, dan kewajiban warga negara. Itulah alasan mengapa ia berjuang keras hingga akhirnya diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, salah satu pusat studi hukum terbaik di Asia Tenggara.
Di sampingnya, Bayu pun tak kalah antusias dan bertekad bulat. Pikirannya melayang pada kenangan masa kecilnya saat sering menemani ibunya berkunjung ke rumah sakit, melihat penderitaan orang-orang yang sakit, dan betapa besar harapan mereka kepada tenaga medis. Baginya, tubuh dan jiwa manusia adalah ciptaan paling berharga sekaligus paling rapuh; satu kesalahan kecil bisa merenggut nyawa, sementara satu ketelatenan dan kasih sayang bisa mengembalikan semangat hidup seseorang. Ia ingin mendalami rahasia cara kerja tubuh manusia, memahami penyebab beragam penyakit, dan menjadi dokter yang tidak hanya pandai meresepkan obat, tetapi juga menjadi pendengar setia dan peneman yang menenangkan bagi pasiennya. Itulah motivasi yang membuatnya rela begadang berbulan-bulan lamanya belajar biologi, kimia, dan fisika, hingga akhirnya berhasil melewati seleksi ketat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang dikenal memiliki tingkat persaingan tertinggi.
Saat sesi pengenalan fakultas dimulai, seorang senior berbadan tegap dengan aura tegas namun bijaksana berjalan mendekati kelompok yang berisi Bhumi. “Selamat datang, calon penegak keadilan masa depan!” serunya lantang sambil menatap satu per satu wajah peserta. “Di Fakultas Hukum ini, kalian tidak hanya sekadar diminta menghafal ribuan pasal undang-undang, sekadar menghafal bunyi hukum tanpa memahami jiwanya. Kalian akan dilatih untuk berpikir kritis, menganalisis setiap peristiwa dengan logika yang tajam, berani bersuara melawan ketidakadilan, dan memegang prinsip bahwa hukum memang tajam, namun harus senantiasa diarahkan untuk keadilan, bukan sekadar kekuasaan.” Ia lalu menepuk bahu Bhumi pelan namun penuh arti. “Saya melihat ketegasan dan ketenangan di matamu—pertahankan mentalitas itu, jangan pernah mundur saat kebenaran terancam.”
Tak jauh dari sana, di area kelompok Fakultas Kedokteran, seorang senior perempuan yang ramah namun serius menyampaikan pesan mendalam kepada Bayu dan teman-temannya. “Kalian akan mempelajari hal yang paling berharga di dunia ini: kehidupan, dan juga batas kehidupan itu sendiri. Jangan pernah merasa diri kalian paling pintar, karena ilmu kedokteran berkembang setiap detiknya—apa yang dianggap benar hari ini bisa saja berubah seiring penemuan baru esok hari. Belajarlah dengan hati, bukan sekadar otak; ingatlah selalu bahwa pasien yang kalian hadapi kelak bukan sekadar kumpulan organ tubuh atau objek penyakit yang harus disembuhkan, melainkan saudara kita yang sedang ketakutan, kesakitan, dan berharap pertolongan kalian.” Bayu mendengarkan dengan kepala tertunduk hormat, menyimpan pesan emas itu paling dalam di hatinya.
Selama berhari-hari rangkaian OSPEK berlangsung, para senior membimbing mereka dengan cara yang unik: menggabungkan pelatihan fisik untuk menguji ketahanan dan disiplin, tugas-tugas menulis dan diskusi untuk melatih kerendahan hati serta wawasan luas, hingga pengenalan sejarah panjang perjuangan Universitas Indonesia sebagai warisan pendidikan bangsa. Kadang mereka diminta menghafal tanggal berdirinya fakultas, nama-nama tokoh alumni yang menginspirasi, atau menyampaikan pendapat tentang isu hukum dan kesehatan yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat. Ada satu momen lucu sekaligus berkesan saat seorang panitia senior sengaja menantang keduanya di depan ratusan peserta lain: “Hei kalian berdua yang kembar ini! Coba jelaskan dengan kalimat sederhana, apa perbedaan utama tujuan Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran bagi masyarakat?”
Bhumi melangkah maju setapak, menjawab dengan tenang dan mantap: “Jika saya boleh menjawab, Kak… saya berusaha menyembuhkan sistem yang sakit agar adil dan benar.”
Bayu pun ikut maju berdampingan dengan kakaknya, menyambung dengan senyum tulus: “Sedangkan saya… saya berusaha menyembuhkan tubuh dan jiwa manusia yang sedang sakit.”
Jawaban sederhana namun bermakna dalam itu langsung disambut tepuk tangan meriah, sorak sorai, dan tawa hangat dari para senior maupun peserta lain. Para senior saling berpandangan senang melihat kecocokan dan kejernihan pikiran kedua pemuda itu.
Hari penutupan OSPEK akhirnya tiba. Ribuan mahasiswa baru kembali berkumpul di lapangan utama, mengenakan seragam lengkap dengan lencana dan tanda kebanggaan fakultas masing-masing yang disematkan rapi di dada. Langit pagi itu tampak cerah bersih tanpa awan mendung, seolah ikut tersenyum menyambut babak baru perjalanan mereka. Setelah seluruh acara seremonial—mulai dari menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu almamater “Padamu Negeri”, hingga penyerahan bendera fakultas—selesai dilaksanakan, giliran Rektor Universitas Indonesia naik ke atas panggung utama untuk menyampaikan pesan penutup yang khidmat dan berharga.
Rektor berdiri tegak di tengah panggung, menatap lautan wajah penuh semangat di hadapannya dengan pandangan yang lembut namun menyimpan kewibawaan mendalam. Beliau berbicara dengan suara tenang namun menggema ke seluruh penjuru lapangan:
“Anak-anakku sekalian yang saya banggakan, hari ini kalian resmi menyandang status sebagai mahasiswa Universitas Indonesia, bagian tak terpisahkan dari keluarga besar almamater ini. Kalian telah berhasil melewati gerbang seleksi yang sangat ketat, bersaing dengan ribuan putra-putri terbaik bangsa dari Sabang sampai Merauke, dan selama beberapa hari ini kalian telah ditempa dengan nilai-nilai luhur kejujuran, kedisiplinan, dan pengabdian yang menjadi jiwa kampus ini. Namun izinkan saya mengingatkan satu hal yang sangat penting: gelar sarjana, dokter, atau profesi lain yang akan kalian sandang nanti bukanlah hak milik mutlak yang bisa kalian banggakan semata-mata untuk diri sendiri, melainkan sebuah amanah besar yang harus kalian pertanggungjawabkan seumur hidup di hadapan Tuhan, bangsa, dan sesama manusia.
Kepada kalian yang memilih jalan hukum: jadilah penegak keadilan yang tak memihak pada siapa pun kecuali kebenaran. Jangan pernah menutup mata pada ketidakadilan hanya karena takut pada kekuasaan atau tergiur keuntungan sesaat. Jadilah benteng bagi mereka yang lemah dan suara bagi mereka yang tak bersuara.
Kepada kalian yang meminang ilmu kesehatan: jadilah pelindung nyawa yang penuh kasih sayang. Ingatlah bahwa keterampilan tangan kalian harus disertai kehangatan hati; obat paling ampuh sering kali adalah perhatian dan penghargaan kalian terhadap martabat pasien. Jangan pernah menjadikan profesi ini sekadar mata pencaharian semata.
Dan kepada kalian semua, tanpa memandang jurusan apa pun yang kalian tekuni: jangan pernah melupakan dari mana kalian berasal, siapa orang tua yang mendidik kalian, dan untuk siapa sebenarnya ilmu yang kalian cari dan pelajari ini ditujukan. Jadilah cendekiawan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki hati nurani yang bersih. Jadilah generasi yang berani menjawab tantangan zaman, yang mampu melangkah beriringan mengatasi perbedaan demi kemajuan Indonesia.
Terbanglah setinggi langit cita-cita kalian, namun jangan pernah melupakan bumi tempat kalian berpijak, akar budaya yang membesarkan kalian, dan kewajiban kalian untuk berbakti pada tanah air. Universitas Indonesia menaruh harapan yang sangat besar pada kalian semua. Selamat menempuh pendidikan, selamat berjuang, dan buktikan bahwa kalian benar-benar layak disebut sebagai putra terbaik bangsa Indonesia.”
Kata-kata Rektor berakhir, disambut keheningan sejenak yang penuh penghayatan, lalu meledaklah tepuk tangan dan sorak sorai yang begitu riuh hingga terdengar sampai ke gedung rektorat di kejauhan. Bhumi dan Bayu saling berpandangan, mata mereka berbinar terang seolah memantulkan cahaya harapan yang tak akan pernah padam. Pesan Rektor itu tertanam kuat di dalam sanubari mereka, menjadi kompas dan cahaya penuntun yang akan mengiringi langkah panjang mereka melewati ujian, penelitian, dan pengalaman selama bertahun-tahun ke depan. Di gerbang Universitas Indonesia ini, di bawah langit Depok yang cerah, dua saudara kembar itu berjanji dalam hati: berbeda jalan, namun satu tujuan—menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan membanggakan nama bangsa.