NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Partner Menyebalkan

Pukul sembilan pagi tepat.

Ruang rapat utama Valencia Group dipenuhi suara diskusi, ketukan keyboard, dan lembaran dokumen yang berpindah tangan dari satu orang ke orang lain.

Di ujung meja panjang, Almira Valencia Pradipta sedang mempresentasikan hasil evaluasi kerja sama yang baru saja dibahas selama dua minggu terakhir.

Dengan pakaian formal berwarna krem dan rambut yang diikat rapi, ia tampak profesional seperti biasa.

Tegas.

Percaya diri.

Dan hampir sempurna.

Hampir.

Karena ada satu hal yang terus mengganggu konsentrasinya.

Seseorang yang duduk tepat di seberang meja.

Seseorang yang sedang memperhatikan layar presentasi dengan ekspresi tenang seolah tidak memiliki masalah apa pun di dunia.

Reynard Arsenio Mahardika.

Entah siapa yang menentukan posisi duduk rapat pagi itu.

Namun Almira mulai curiga bahwa orang tersebut memiliki niat jahat.

"Jika tidak ada keberatan, kita bisa melanjutkan ke tahap berikutnya."

Almira menutup presentasinya.

Beberapa direktur mengangguk setuju.

Namun Reynard mengangkat tangan.

Dan itu selalu menjadi pertanda buruk.

"Silakan."

Reynard membuka dokumen di depannya.

"Ada satu bagian yang perlu dibahas ulang."

Almira langsung menyipitkan mata.

"Tentu saja ada."

"Apa?"

"Kamu selalu menemukan sesuatu."

"Itu sebabnya aku dibayar."

Beberapa orang di ruang rapat menahan senyum.

Mereka mulai terbiasa dengan pola percakapan tersebut.

Sejak rapat pertama dua minggu lalu, kerja sama antara Valencia Group dan Mahardika Holdings berkembang jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang.

Awalnya kedua perusahaan hanya berencana melakukan proyek percobaan kecil.

Namun setelah beberapa kali pertemuan, para direksi menyadari bahwa potensi kerja sama tersebut jauh lebih besar.

Masalahnya...

Semakin besar proyeknya, semakin sering Almira dan Reynard harus bertemu.

Dan itu menciptakan situasi yang cukup unik.

Karena setiap rapat selalu berjalan dengan pola yang sama.

Mereka berdebat.

Mereka saling membantah.

Mereka mengkritik ide satu sama lain.

Lalu pada akhirnya menghasilkan keputusan terbaik.

Awalnya para direksi sempat khawatir.

Namun sekarang?

Mereka justru menikmati pertunjukan tersebut.

Setelah rapat selesai, para peserta mulai meninggalkan ruangan.

Almira mengumpulkan dokumen-dokumennya dengan cepat.

Ia berniat langsung kembali ke kantornya.

Namun suara Reynard menghentikannya.

"Tunggu."

Almira menoleh.

"Apa lagi?"

"Kamu lupa berkasmu."

Reynard mengangkat sebuah map biru yang tertinggal di kursinya.

Almira berjalan kembali dan mengambilnya.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Hening.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada yang bergerak.

Kemudian Almira mengerutkan dahi.

"Kenapa masih berdiri di situ?"

Reynard tampak berpikir.

"Aku juga tidak tahu."

Mereka saling menatap.

Lalu secara bersamaan menggelengkan kepala.

Kadang-kadang mereka sendiri tidak mengerti kenapa percakapan sederhana bisa berubah menjadi aneh ketika dilakukan bersama.

Di luar ruang rapat, dua sekretaris yang kebetulan melihat kejadian tersebut saling melirik.

"Menurutmu mereka sadar tidak?"

"Sadar apa?"

"Kalau mereka mulai akur."

Sekretaris kedua tertawa kecil.

"Aku rasa belum."

"Kasihan."

Siang harinya, Almira sedang bekerja di ruangannya ketika Nadia tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan.

Seperti biasa.

"Nadia!"

"Aku membawa makan siang."

"Kamu membawa masalah."

"Itu juga benar."

Nadia menjatuhkan diri ke sofa.

Kemudian memperhatikan Almira yang sedang membaca laporan.

"Kamu kelihatan lebih santai."

"Aku memang santai."

"Bohong."

Almira mengangkat alis.

Nadia menunjuk layar laptop.

"Itu laporan kerja sama dengan Mahardika Holdings."

"Lalu?"

"Kamu sedang tersenyum."

Refleks Almira langsung menutup laptop.

Nadia tertawa puas.

"Kena."

"Aku tidak tersenyum."

"Tentu."

Sementara itu, di gedung Mahardika Holdings, Reynard sedang menghadapi gangguan serupa.

Raka datang tanpa diundang dan langsung mengambil minuman dari meja kantornya.

"Kamu tahu sesuatu?"

"Tidak."

"Karyawanmu mulai membicarakan kalian."

Reynard berhenti mengetik.

"Kami?"

"Ya."

"Tidak ada kami."

Raka tertawa.

"Itulah yang membuatnya lucu."

Reynard melemparkan sebuah bolpoin.

Raka berhasil menangkapnya sambil tertawa lebih keras.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang hampir sama.

Rapat.

Diskusi.

Presentasi.

Evaluasi.

Dan semakin lama, hubungan Almira dan Reynard perlahan berubah.

Mereka masih sering berdebat.

Masih sering tidak setuju.

Masih saling menyebalkan.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Kini mereka mulai memahami cara berpikir satu sama lain.

Almira tahu Reynard akan fokus pada peluang.

Reynard tahu Almira akan fokus pada risiko.

Dan tanpa sadar, mereka mulai menyesuaikan diri.

Perubahan itu pertama kali disadari oleh para direktur.

Dalam sebuah rapat besar, salah satu manajer mempresentasikan rencana distribusi baru.

Begitu presentasi selesai, Almira langsung menemukan beberapa kelemahan.

"Biaya operasionalnya terlalu tinggi."

Manajer tersebut tampak gugup.

Namun sebelum suasana menjadi tegang, Reynard ikut berbicara.

"Dia benar."

Semua orang menoleh.

"Kalau memakai metode ini, margin keuntungan akan turun."

Kemudian ia menunjuk bagian lain.

"Tapi jika kita mengubah jalur distribusi di wilayah timur, masalahnya bisa teratasi."

Almira membaca angka-angka yang ditunjukkan Reynard.

Lalu mengangguk.

"Itu bisa berhasil."

Hening.

Para direktur saling memandang.

Karena baru beberapa minggu lalu, kalimat seperti itu hampir mustahil terjadi.

Setelah rapat selesai, salah satu direktur senior mendekati rekannya.

"Aku baru sadar sesuatu."

"Apa?"

"Mereka saling percaya."

Direktur lainnya tersenyum.

"Akhirnya."

Namun tentu saja tidak semua berjalan mulus.

Karena meskipun hubungan mereka membaik, Almira dan Reynard tetaplah Almira dan Reynard.

Seperti sore itu.

Mereka sedang meninjau proposal pemasaran baru.

Almira membaca halaman terakhir.

Lalu langsung menggeleng.

"Tidak."

Reynard menatapnya.

"Tidak apa?"

"Tagline ini."

"Ada masalah?"

"Ini terdengar seperti iklan mi instan."

Reynard membaca ulang.

"Menurutku bagus."

"Karena standar humormu buruk."

"Setidaknya aku punya humor."

Almira melemparkan bantal sofa ke arahnya.

Reynard berhasil menghindar.

Beberapa staf yang berada di ruangan sebelah langsung menahan tawa.

Malam harinya, Almira pulang dengan perasaan sedikit lebih ringan dibanding biasanya.

Ia bahkan tidak menyadari bahwa sepanjang perjalanan pulang, pikirannya beberapa kali mengingat percakapan dengan Reynard.

Hal-hal kecil.

Candaan.

Komentar.

Perdebatan.

Yang anehnya tidak lagi terasa menjengkelkan.

Justru...

Menyenangkan.

Kesadaran itu membuatnya langsung menggeleng keras.

"Tidak."

Supir yang mendengar dari depan tampak bingung.

"Maaf, Bu?"

"Bukan apa-apa."

Di tempat lain, Reynard mengalami masalah serupa.

Ia sedang duduk di balkon apartemennya sambil membaca laporan.

Namun konsentrasinya terus terganggu.

Karena tanpa sengaja ia teringat bagaimana Almira melemparkan bantal kepadanya sore tadi.

Dan yang lebih mengganggu...

Ia tertawa saat mengingatnya.

"Ini buruk."

Sangat buruk.

Karena biasanya ia tidak pernah memikirkan orang lain setelah jam kerja.

Seminggu kemudian, proyek kerja sama mereka memasuki tahap baru.

Sebuah rapat besar diadakan untuk membahas perkembangan terakhir.

Semua direktur hadir.

Suasana serius memenuhi ruangan.

Sampai salah satu manajer mengangkat tangan.

"Ada satu hal yang perlu diputuskan."

"Silakan."

"Kita perlu melakukan kunjungan lapangan."

Almira mengangguk.

"Itu masuk akal."

Manajer tersebut melanjutkan.

"Karena proyek percontohan akan dimulai di Makassar."

Beberapa orang langsung membuka dokumen.

"Kita perlu mengirim perwakilan utama dari kedua perusahaan."

Almira tiba-tiba memiliki firasat buruk.

Firasat yang sangat buruk.

Manajer itu tersenyum.

"Dan kami sepakat orang yang paling tepat adalah Bu Almira dan Pak Reynard."

Ruangan mendadak hening.

Sangat hening.

Almira menutup mata.

Tidak.

Tolong jangan lagi.

Sementara Reynard menyandarkan tubuh ke kursinya.

Seolah sedang menerima takdir yang tidak bisa dihindari.

Salah satu direktur berkata,

"Perjalanan hanya tiga hari."

Direktur lain menambahkan,

"Ini kesempatan bagus untuk memastikan proyek berjalan lancar."

Yang mereka tidak tahu adalah masalahnya bukan proyek tersebut.

Masalahnya adalah siapa yang harus pergi bersama.

Setelah rapat selesai, Almira dan Reynard berjalan keluar ruangan dalam diam.

Beberapa langkah kemudian, Almira akhirnya berbicara.

"Makassar."

"Ya."

"Tiga hari."

"Ya."

Hening.

Kemudian Reynard berkata,

"Setidaknya kita tidak akan rapat."

Almira berpikir sejenak.

Lalu mengangguk.

"Itu poin yang bagus."

Untuk pertama kalinya sejak pengumuman tadi, keduanya tersenyum.

Meskipun kecil.

Meskipun singkat.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa sesuatu perlahan sedang berubah.

Mereka mungkin belum menjadi teman.

Belum menjadi sahabat.

Dan tentu saja belum menjadi pasangan.

Namun mereka tidak lagi menjadi musuh.

Dan tanpa mereka sadari, perjalanan ke Makassar yang akan datang akan menjadi titik balik penting dalam hubungan mereka.

Karena untuk pertama kalinya, mereka akan menghabiskan waktu bersama di luar ruang rapat, tanpa direktur, tanpa karyawan, dan tanpa perlindungan dunia profesional yang selama ini menjadi batas di antara mereka.

Sebuah perjalanan yang akan membuat mereka melihat sisi lain satu sama lain.

Sisi yang selama ini tersembunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!