Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Sisa Badai dan Hangat yang Tertinggal
Bab 29: Sisa Badai dan Hangat yang Tertinggal
Mansion Dirgantara kembali dalam kondisi siaga satu. Sirine perimeter luar berbunyi senyap, hanya memancarkan lampu indikator biru taktis di sepanjang dinding luar. Tim siber internal klan sedang sibuk menghapus semua rekaman jejak digital insiden di Hotel Grand Gala dari server publik, sementara jajaran mobil pengawal berbaris rapi di pelataran depan.
Namun, di dalam sayap kanan mansion, atmosfer terasa jauh berbeda.
Adrian melangkah melewati koridor panjang menuju kamar tidur si kembar, masih dengan posisi menggendong Aline. Langkah kakinya konstan dan stabil, seolah bobot tubuh gadis itu tidak memberinya beban sama sekali. Dada bidang Adrian yang keras terasa hangat menempel pada pipi Aline, mengalirkan detak jantung yang berdegup dengan ritme yang tenang namun kuat.
Aline tetap memejamkan matanya separuh, melingkarkan lengannya yang gemetar secara canggung di sekeliling leher kokoh Adrian. Kacamata bingkai emas barunya sedikit miring, dan ia sengaja mengembuskan napas pendek-pendek untuk mempertahankan sisa-sisa efek "gadis desa yang syok pasca-trauma." Namun, di balik kelopak matanya yang merapat, otaknya justru sedang merekam dengan saksama denah pengamanan internal teranyar yang dilewati mereka.
"D-Tuan Besar..." cicit Aline pelan, suaranya parau menahan kantuk buatan. "Tolong turunkan saya saja toh... Saya ndak enak dilihat pelayan lain. Nanti Pak Yusuf mengira saya ndak sopan..."
"Diamlah, Aline," potong Adrian rendah, suara baritonnya yang berat bergetar langsung di rongga dadanya, mengirimkan sensor taktil yang aneh ke punggung Aline. "Atau kau ingin aku menjatuhkanmu di atas lantai marmer yang dingin ini?"
Aline langsung bungkam, mengeratkan remasan jemarinya pada kerah kemeja putih Adrian yang kini sudah kehilangan beberapa kancing atasnya akibat kekacauan di basemen tadi. Aroma maskulin bercampur samar bau mesiu dari tubuh Adrian mendominasi seluruh indra penciumannya, memicu debaran yang entah mengapa kini terasa... sedikit nyata.
Di belakang mereka, Kenzo dan Keira berjalan beriringan dengan langkah jinjit yang sangat pelan. Keira menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berbinar-binar kegirangan menyaksikan pemandangan romantis di depan mereka, sementara Kenzo hanya memasukkan kedua tangan ke saku celana taktisnya dengan senyum tipis yang sarat akan kemenangan kalkulatif.
Begitu memasuki kamar si kembar, Adrian dengan perlahan meletakkan tubuh Aline di atas sofa beludru panjang berwarna abu-abu. Gerakannya teramat lembut, bertolak belakang dengan reputasinya sebagai eksekutor berdarah dingin di dunia bawah tanah.
Adrian kemudian berlutut di atas satu kaki di hadapan Aline. Pria itu mengabaikan luka robek di bahunya sendiri yang sempat terkena serpihan peluru, dan justru meraih kotak pertolongan pertama (P3K) yang baru saja dibawakan oleh seorang pelayan medis klan.
"T-Tuan... biar saya obati sendiri saja..." Aline panik sejenak saat melihat Adrian membuka botol cairan antiseptik.
"Kubilang diam," ucap Adrian tanpa membentak, namun memiliki otoritas yang mutlak.
Tangan besar Adrian yang kasar penuh kapalan akibat latihan menembak itu perlahan meraih telapak kaki kanan Aline yang telanjang. Di sana, terdapat beberapa goresan merah dan memar akibat berlari tanpa alas kaki di atas semen kasar basemen. Dengan sapuan kapas yang teramat lembut, Adrian mulai membersihkan noda debu hitam dan mengoleskan krim antibiotik di kulit pualam Aline.
Aline menahan napasnya. Sentuhan jemari Adrian terasa begitu kontras—kasar namun penuh kehati-hatian, seolah-olah ia sedang memegang seonggok porselen langka yang mudah retak. Di bawah pendaran lampu tidur kamar yang temaram, Aline bisa melihat dengan jelas guratan lelah di wajah tegas Adrian. Rahang pria itu mengeras, namun sepasang mata elangnya memancarkan kilat emosi yang sangat rumit. Ada rasa bersalah, ada ketertarikan yang coba ia tekan, dan ada rasa protektif yang teramat pekat.
Pria ini... benar-benar monster yang membunuh Kak Rena? batin Aline, sebuah keraguan mendadak menyelinap masuk ke dalam hatinya yang selama ini beku oleh dendam. Bagaimana bisa seorang pembunuh memiliki tatapan semurni ini saat melindungi keluarganya?
"Lain kali," suara Adrian memecah keheningan, memutus gejolak batin Aline. Pria itu mendongak, mengunci manik mata Aline dari jarak dekat. "Jangan pernah melompat ke depan musuh seperti tadi. Kau hanya seorang pengasuh, Aline. Tugasmu adalah lari, bukan bertingkah sok pahlawan dengan tongkat besi pembatas antrean."
Aline memaksakan senyum polosnya yang canggung. "S-Saya kan ndak tahu kalau mereka bawa pistol beneran, Tuan... Saya cuma takut Tuan Muda dan Nona Muda lecet. Kalau mereka lecet, nanti saya ndak digaji..."
Adrian mendengus pelan, sebuah tawa ironis yang sangat tipis hampir lolos dari sudut bibirnya. Ia berdiri, merapikan kembali sisa perban, lalu berbalik menatap kedua anaknya yang sedang duduk rapi di tepi tempat tidur besar mereka.
"Kalian berdua, tidur sekarang," perintah Adrian pada si kembar. "Dan kau, Nona Sanyoto, setelah kakimu selesai diperban, kembali ke kamarmu dan istirahat. Mulai besok, pengamanan mansion akan diperketat dua kali lipat."
"Baik, Daddy..." jawab Kenzo dan Keira kompak dengan suara imut yang dibuat-buat.
Konspirasi di Balik Selimut
Satu jam kemudian, setelah memastikan Adrian telah kembali ke ruang kerja utamanya di lantai dua dan Aline sudah kembali ke kamar pelayan dengan langkah tertatih, suasana di dalam kamar tidur si kembar kembali hidup.
Keira langsung melompat dari kasur, berlari kecil menuju meja belajar Kenzo. "Ken! Kamu lihat tadi kan? Daddy pegang kaki Kak Aline lembut banget! Aku belum pernah lihat Daddy se-manis itu sejak... sejak dulu!"
Kenzo tidak langsung menjawab. Ia sedang duduk di depan monitor komputer kustomnya, memperhatikan algoritma enkripsi siber yang sedang berjalan di layar. "Itu dinamakan respons psikologis protektif, Keira. Daddy mulai mengalami disonansi kognitif. Insting mafianya tahu ada yang aneh dengan latar belakang Kak Aline, tapi hatinya menolak fakta itu karena Kak Aline selalu ada di titik kritis untuk menyelamatkan kita."
"Tapi itu artinya rencana kita berhasil 100%, kan?" Keira menopang dagunya dengan penuh semangat. "Misi menjadikan Kak Aline sebagai 'Ibu Baru' kita sudah berjalan ke tahap selanjutnya!"
"Belum sepenuhnya," sahut Kenzo, matanya menyipit menatap sebuah berkas data yang baru saja berhasil diunduh secara ilegal dari server internal Rendra. "Daddy baru saja memerintahkan Rendra untuk melakukan pengawasan fisik langsung ke desa asal Kak Aline malam ini. Jika tim Rendra menemukan fakta bahwa identitas digital 'Aline Sanyoto' adalah palsu, Daddy akan mengeksekusinya tanpa ragu."
Keira tersentak, wajah imutnya langsung berubah cemas. "Lalu kita harus bagaimana, Kak? Kita ndak boleh biarkan Daddy sakiti Kak Aline!"
Kenzo menarik napas pendek, jemari kecilnya dengan cepat mengetuk papan ketik, mengirimkan sebuah skrip instruksi palsu ke dalam sistem pelaporan lapangan tim Rendra.
"Aku sudah memanipulasi manifes data perjalanan lapangan tim keamanan. Laporan yang akan diterima Daddy besok pagi akan menyatakan bahwa seluruh tetangga di desa mengonfirmasi keberadaan 'Aline si gadis polos pengrajin sapu lidi'. Kita butuh waktu lebih banyak agar Daddy benar-benar jatuh cinta padanya sebelum kedok asli Kak Aline terbongkar dengan sendirinya."
Kenzo memutar kursi rodanya, menatap adiknya dengan tatapan genius yang teramat dingin namun penuh rencana licik. "Tahap menjebak secara fisik di mansion sudah selesai. Minggu depan, kita harus menciptakan situasi di mana Daddy dan Kak Aline terpaksa terikat dalam hubungan... yang tidak bisa dipisahkan oleh status hukum."
Di sisi lain koridor, di dalam kamar pelayannya yang sunyi, Aline sedang duduk di tepi ranjang sembari menatap jam tangan Rolex pemberian Adrian di pergelangan tangannya. Klip GPS di dalamnya berkedip merah setiap lima detik sekali.
Aline menyentuh permukaan kaca jam tangan mewah tersebut dengan jemari tangannya yang kini tak lagi gemetar. Alibi robekan gaunnya malam ini memang berhasil menyelamatkannya dari kecurigaan instan Adrian, namun ia tahu, waktu penyamarannya semakin menipis.
"Adrian Dirgantara..." gumam Aline lirih ke dalam kegelapan kamar, sepasang matanya berkilat penuh tekad yang tajam. "Siapa sebenarnya dirimu? Seorang pelindung... atau monster yang sesungguhnya?"