Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahanlah untuk masa depan (part 3)
Saat azan isya berkumandang, semua aktivitas di pendopo terhenti. Bergegas mereka menuju Masjid Raya, guna mendirikan salat isya berjamaah.
Selepas salat isya berjamaah, mereka kembali berkumpul di pendopo.
"Aku pamit yo, wis bengi iki. Besok kalian juga masih harus bekerja," ujar Pak Wandi.
"Lhaa, masih sore ini, Pak. Baru selesai isya. Mangke mawon toh kunduripun," cegah Pak Kades, agar Pak Wandi mengurungkan niatnya untuk pulang.
"Inggih, Mbah. Ceritanya juga belum selesai," Linda ikut bersuara.
"Hehehe ... kalau mau dengar ceritanya, main ke rumah pas libur kerja. Sabtu prei toh?" tanya Pak Wandi sambil menatap Azra.
Azra mengangguk.
"Nah, tilik rumahmu, sekalian dibersihkan. Nginap sana sama Linda. Sudah dua bulan kamu tidak pulang ke rumahmu." Lanjut Pak Wandi sambil menghabiskan teh di cangkirnya.
"Eh, Kak Azra punya rumah di sini?" tanya Linda terkejut.
"Sebelah rumah Pak Wandi, agak ke belakang, itu rumahnya Azra. Peninggalan neneknya. Azra nggak cerita ke kamu?" tanya Sekar di akhir penjelasannya.
Linda menggeleng.
"Makanya, aku senang dengar cerita Mbah Wandi. Ini, beliau yang di sebelahku ini, pelit. Nggak pernah mau cerita banyak!" ucap Linda kesal.
"Arep nyritakne oopo," balas Azra datar. "Nggak ada bagusnya diceritakan. Lagipula, kisah kakek nenek, aku juga cuma tahu sedikit."
Azra beralih menatap Yanto serius. "Kamu ke sini bawa pick up kan, Mas? Jangan bilang bawa motor." tanya Azra lagi.
"Iya, Bu Dokter. Bawa pick up."
"Ya sudah, tunggu sebentar, saya ambil barang saya dulu." Azra masuk diikuti Bu Padma dan Arun.
Tak berapa lama, semua tamu berpamitan pulang. Dalam sekejap, pendopo omah ndalem menjadi sepi.
..........
"Kenapa Kak Azra nggak tinggal di rumah sendiri?" Linda masih penasaran dengan cerita Azra. Saat di mobil, buru-buru dia memuaskan rasa ingin tahunya.
"Jauh." jawab Azra datar.
"Ya, kan bisa pakai motor, Kak."
"Ada yang nempati, Mbak Linda," Yanto ikut bersuara membantu Azra, saat diliriknya gadis itu sudah terpejam, bersandar pada pintu mobil.
"Eh ... ada yang nempati? Maksude piye toh, Mas?"
"Ya ada yang menempati. Jadi rumah peninggalan neneknya Bu Dokter, ditempati adiknya Pak Wandi." jelas Yanto.
"Kok bisa?"
"Ya bisa. Wong yang ngasih izin dr. Azra. Saat itu Bu Azra masih kuliah di kota. Rumahnya kosong ..."
"Oooo, daripada kosong, disuruh tempati adiknya Pak Wandi?"
"Pinter ..." sahut Azra sambil mengusap kepala Linda.
"Hehe ... siapa dulu, Linda!
Eh, sampai sekarang masih ditempati adiknya Mbah Wandi?" tanya Linda menoleh ke Azra.
"Sudah enggak. Alhamdulillah, mereka punya rumah sendiri sekarang. Sudah! Jangan tanya lagi!" perintah Azra sambil meletakkan telunjuknya di bibir Linda.
Mobil pick up Yanto mulai memasuki gapura dusun Teduh. Pembuatan gorong-gorong terlihat sudah sampai tahap peletakan pipa beton ke dalam galian. Sebentar lagi sudah memasuki tahap pemasangan besi tulangan.
Mata Linda masih bergerak ke sana kemari. Memikirkan cerita rumah Azra.
"Ssst ... Mas Yanto. Sekarang yang nempati rumah Bu Azra siapa?" tanya Linda sambil berbisik pelan.
Azra tersenyum mendengar bisikan Linda. Semakin dilarang, berasa seperti disuruh. Itu lah Linda.
"Ditempati Mas Azzam sama Sari," balas Yanto dengan berbisik juga.
"Hah??" Mata Linda makin membola. Kepalanya pusing, menebak-nebak cerita rumah Azra.
Akhirnya, dia diam dan berusaha menganalisa sendiri.
_______
Rumah Dinas Puskesmas Bumi Arum, di malam hari. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Lalu lalang kendaraan di depan puskesmas sudah mulai berkurang.
Rumdin dr. Pras juga sudah mulai sepi. Anak perempuan Dokter Pras yang berusia tiga tahun, sudah tidur satu jam yang lalu.
"Besok ke Pustu lagi, Mas?" tanya istri dr. Pras.
"Iya, kalau besok kan emang jadwalnya Mas ke Pustu."
"Dokter Azra besok sudah masuk?"
"Info staf Pustu tadi siang begitu," Prasetyo melepas kacamatanya, diletakkan di nakas.
Perlahan tubuhnya masuk ke dalam selimut, dipeluknya tubuh istrinya erat, "Sudah! Jangan berpikir macam-macam. Mas tidak ada rasa atau hubungan apapun sama Azra!" Diciumnya pucuk kepala istrinya lembut.
"Yang waktu kuliah itu?" Yeni, istri Prasetyo masih penasaran.
"Hehehe ... Kenapa masih berpikir ke situ. Kami beda kampus. Azra di Universitas Bumantara yang terkenal mahal itu, sementara Mas di Universitas Mahawira." Prasetyo bangkit dari tidurnya.
"Ayo, kita tuntaskan dulu semuanya malam ini. Tanyakan apa yang ingin kamu tahu, supaya tidak ada kecurigaan di antara kita," ujar Prasetyo sambil membantu istrinya duduk.
Mereka duduk berhadapan.
"Kalian beda kampus, bagaimana bisa saling kenal?"
"Aku yang kenal Azra, tapi dia tidak kenal aku. Waktu itu, tahun ketiga di Fakultas Kedokteran ada Olimpiade Kedokteran. Aku mewakili kampusku bersama dua rekan lain, begitu juga Azra mewakili kampusnya."
Prasetyo mencoba mengingat sesuatu, "Nah iya, waktu itu timku dan tim Azra sama-sama masuk semifinal. Aku ingat sekali, dia sangat cerdas saat menjawab semua pertanyaan dewan juri. Tapi wajahnya datar, tanpa ekspresi." Prasetyo berhenti bercerita.
Dipandangnya wajah Yeni yang mulai cemberut. Pras tertawa, dipeluknya Yeni, diciuminya wajah mungil itu sampai istrinya tertawa geli.
"Sudah, jangan cium lagi," Yeni mendorong wajah suaminya menjauh.
"Jadi lanjut nggak ceritanya?"
"Lanjutin aja, tapi nggak usah pakai muji-muji kayak gitu!" jawab Yeni sambil memeluk erat Prasetyo.
"Hmm ... ya sudah langsung intinya. Waktu itu yang keluar sebagai juara 1 adalah tim Azra. Sudah ketebak sih. Setiap babak mereka mendapat skor nilai yang memuaskan."
"Terus, apa yang membuat Mas Pras selalu ingat dia? Nggak mungkin kan kalau nggak pernah punya hubungan?!" Yeni merajuk lagi.
"Matanya beda dengan mata kita orang Indonesia. Matanya hazelnut, khas beberapa ras di Eropa. Jadi orang akan mudah mengingatnya." Digenggamnya tangan Yeni lembut.
"Tapi bukan itu juga yang membuat Mas langsung mengenalinya saat bertemu kembali."
"Apa dong, Mas?"
"Saat dia dinyatakan sebagai juara bersama Timnya, dia terduduk dan menangis. Padahal selama lomba berlangsung, wajahnya datar sekali." Menghela napas.
"Kami yang hadir waktu itu sampai speech less. Segitu terharunya kah, menjadi juara pertama Olimpiade?"
Ditatapnya mata Yeni dalam-dalam. Yeni menunggu kelanjutan cerita Pras dengan tegang.
"Ternyata, saat di belakang panggung, aku mendengar salah satu teman di timnya memeluk erat sambil berkata. 'Ini baru awal Azra. Kamu berhasil mendobrak pintu yang menguncimu. Bertahanlah untuk masa depanmu. Jangan berhenti apalagi menyerah!' Dari ucapan itu, aku langsung merasa, gadis ini tidak biasa."
Pras kembali tersenyum. "Sampai sekarang, aku masih penasaran apa yang 'mengunci' Azra. Itu saja. Tidak ada rasa atau hubungan apa-apa. Kamu mau percaya?" tanya Pras diakhir ceritanya.
"Belum sepenuhnya. Kalau ada waktu pertemukan aku dengannya, supaya aku bisa percaya."
Prasetyo mengangguk. Dengan hangat, dia memeluk tubuh istrinya dan mengajaknya tidur. Istirahat dari kelelahan hari itu.