Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Awal
...----------------...
Tiga hari aku menginap di rumah Iksan setelah insiden di rumah utama Albian, aku menghabiskan waktu di rumah Iksan dengan mengurus berkas berkas ku untuk menikah. Selama itu aku selalu menutup nutupi dari Iksan, dan juga aku tidak banyak bicara. Aku hanya merenung, memikirkan bagaimana cara memulai hidup yang sama sekali asing bagiku.
Setelah semua urusan administrasi dan berkas kepemilikan rumah di Bandung diselesaikan sebuah rumah peninggalan yang dulunya jarang sekali kami kunjungi awalnya mau aku jual lalu aku dan Astrid akan tinggal di rumah Astrid. Karena saat ini Astrid sedang kuliah di jakarta, lagi pula semenjak kejadian itu aku menjadi putus kuliah.
aku akhirnya menjemput Astrid di rumahnya, lalu kami berdua pergi ke kantor KUA dengan menggunakan motor Astrid.
Kami tidak merayakan apa-apa. Tidak ada gaun mewah, tidak ada saksi dari kalangan sosialita. Hanya aku, Astrid, penghulu, dan saksi dari pihak KUA di sebuah kantor kecil di Jakarta yang beraroma kayu tua dan debu. Saat penghulu menyatakan kami sah sebagai suami istri, aku tidak merasakan euforia. Yang kurasakan adalah beban tanggung jawab yang tiba tiba menekan pundakku dengan sangat kuat. Aku baru saja mengikat takdirku dengan wanita yang tengah mengandung anakku, di saat aku sendiri tidak tahu bagaimana cara memberi mereka makan esok hari.
Kehidupan kami di rumah peninggalan Ibunya Astrid itu dimulai dengan suasana yang sangat canggung. Rumah itu tidak semegah rumah ku dulu, tapi cukup luas untuk kami berdua. Masalah pertama muncul di malam pertama kami sebagai pasutri. Kami duduk di ruang tamu dengan jarak yang cukup jauh, saling melirik, merasa canggung dengan status baru yang kami sandang.
"Ka..." suara Astrid memecah keheningan. Dia menunduk, memainkan jemarinya. "Karena kita belum lama kenal dan kondisinya juga dadakan karena keadaan... gue rasa kita pisah kamar dulu ya? Gue belum siap buat... ya, lu tau lah. Gue masih butuh waktu buat nerima semua perubahan ini."
Aku menarik napas panjang, berusaha menekan rasa kecewaku, meski sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama. "Oh, iya. Tentu, Strid. Gue ngerti kok. Gue juga butuh waktu. Pintu kamar gue gak bakal dikunci, kalau lu butuh apa-apa, panggil gue aja."
Malam itu, aku tidur di kamar tamu yang berdebu, menatap langit-langit sambil memikirkan nasibku. Aku yang biasanya tidur di ranjang yang empuk dengan sprei sutra, kini harus tidur di atas kasur pegas yang berdecit setiap kali aku bergerak.
Keesokan paginya, aku terbangun karena aroma masakan yang menguar dari arah dapur. Astrid sudah sibuk dengan celemeknya, menyiapkan sarapan sederhana untuknya dan juga sarapan untuk ku. Dia tampak cantik meskipun hanya mengenakan kaos rumahan.
"Ka, gue berangkat kuliah jam 8 ya. Hari ini kelas gue padat banget, terus lanjut kerja paruh waktu di kafe dekat kampus. Kayaknya gue baru bisa pulang jam 8 malam. Tolong jaga rumah ya," ucapnya tanpa menoleh, tangannya sibuk mengemas bekal ke dalam tas.
"Iya, tenang aja. Gue bisa jaga rumah," jawabku enteng, meski aku sebenarnya bingung apa yang dimaksud dengan 'menjaga rumah' bagi orang yang sepanjang hidupnya selalu dijaga oleh orang lain.
Setelah Astrid pergi, aku benar-benar ditinggal sendiri. Rumah itu mendadak sunyi. Aku berjalan mondar-mandir, mencoba mencari kegiatan. Biasanya, kalau di rumah, aku akan memesan makanan lewat aplikasi atau minta pelayan menyiapkan ini itu. Tapi sekarang? Kulkas hanya berisi sisa bahan makanan seadanya. Aku memutuskan untuk menyalakan game console yang kubawa.
Aku bermain game sepanjang hari. Jam demi jam berlalu. Aku benar-benar lupa waktu, lupa menyapu rumah, bahkan lupa bahwa aku memiliki tanggung jawab untuk memastikan istriku mendapatkan tempat yang nyaman saat pulang nanti. Aku menghabiskan stok camilan yang ada di kulkas, membiarkan kemasan bungkus makanan berserakan di lantai ruang tamu seolah itu adalah tempat sampah pribadi.
Tepat jam 8 malam, pintu depan terbuka. Astrid masuk dengan wajah lelah yang sangat jelas terlihat. Dia memijat pundaknya, tampak begitu lelah setelah seharian kuliah dan bekerja. Namun, senyum yang sempat ia siapkan untuk suaminya langsung lenyap saat dia melihat ruang tamu yang berantakan, bungkus makanan berserakan di mana-mana, dan aku yang masih memakai headset, berteriak-teriak di depan televisi.
"ARKA?!" teriaknya dengan nada tinggi yang membuatku hampir jatuh dari kursi.
Aku melepas headset dengan panik. "Eh, Strid? Kok udah pulang? Baru jam 8 ya?"
Astrid tidak langsung menjawab. Dia berdiri mematung, menatap sekeliling rumah dengan tatapan yang mulai berkilat amarah. Dia berjalan mendekati tumpukan sampah di lantai ruang tamu, lalu menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena lelah dan kecewa.
"Lu lihat rumah ini?! Lu seharian cuma main game dan ngabisin stok makanan di kulkas? Gue capek kuliah, capek kerja buat kita berdua, dan gue pulang buat nemuin rumah kayak kandang babi?!" suaranya bergetar hebat.
"Gue cuma bosen, Strid! Gue beneran gak tau harus ngapain lagi di rumah kosong kayak gini!" aku mencoba membela diri, meski aku tahu pembelaanku sangat lemah.
"Bosen?! Lu laki-laki! Lu bentar lagi jadi Ayah! Kalau bosen, lu bisa bersihin rumah, lu bisa cari kerjaan sampingan, lu bisa bantu gue mikirin masa depan kita! Bukan malah jadi beban di rumah sendiri!" teriaknya lagi, kali ini dia membuang tasnya ke kursi dengan kasar.
Kata-kata itu bagaikan tamparan keras tepat di ulu hatiku. Aku tidak bisa membalas. Dia benar. Aku hanyalah seorang pria yang terbiasa disuapi oleh harta keluarga, dan sekarang, saat kemewahan itu hilang, aku tidak berguna sama sekali. Aku merasa sangat kecil di hadapannya.
Melihat kemarahannya yang tak terbendung, aku bangkit tanpa bicara sepatah kata pun. Aku mengambil sapu, pembersih lantai, dan mulai bekerja. Aku memungut sampah-sampah itu, membersihkan sisa makanan, hingga mengepel lantai sampai berkilau. Aku mengerjakannya sambil menahan rasa malu yang membakar dadaku.
Setelah semuanya selesai, rumah itu tampak jauh lebih baik. Aku berjalan ke arah kamar Astrid dan mengetuk pintu dengan pelan.
"Strid..." suaraku parau. "Rumah udah bersih. Gue... gue minta maaf. Gue bener-bener gak sadar kalau gue cuma jadi beban buat lu. Gue bakal berubah, gue janji."
Hening sejenak di balik pintu. Lalu suara ketus Astrid terdengar, "Hmm. Tidur sana."
Aku kembali ke kamar tamu dengan perasaan hancur. Aku merasa seperti pria paling gagal di dunia. Aku baru saja menikah, tapi istriku sendiri membenciku karena aku terlalu malas dan tidak berguna.
Saat aku merebahkan diri dan menatap langit-langit kamar yang gelap, ponselku tiba-tiba bergetar di atas meja kecil di samping kasur. Aku melihat layarnya. Panggilan dari Iksan.
"Halo, Ka?" suara Iksan terdengar antusias, sangat kontras dengan suasana hatiku yang kacau.
"Ya, San? Kenapa?" jawabku dengan nada datar.
"Gue punya ide bisnis yang bikin kita cepet kaya! Lu mau denger nggak? Ini bisnis yang gak butuh modal gede, tapi hasilnya gede banget, Ka. Lu pasti butuh ini sekarang, kan?"
Jantungku berdegup kencang. Cepat kaya? Pikiran itu langsung merasuk ke otakku. Di saat aku sedang berada di titik terendah, saat aku dimaki oleh istriku sendiri karena aku tidak punya penghasilan, tawaran itu terasa seperti sebuah jawaban.
"Bisnis apa, San?" tanyaku, rasa penasaran mulai mengalahkan rasa lelahku.
"Dateng aja haru kamis ini ke kafe langganan kita deket kampus gue. Gue bakal jelasin semuanya. Lu butuh uang kan? Lu butuh buktiin ke keluarga lu kan kalau lu bisa sukses tanpa embel-embel nama Albian?"
"Iya, gue butuh banget, San." jawab ku dengan Semangat.
"Oke, sampai ketemu hari kamis ya. Jangan kasih tahu siapa-siapa, termasuk keluarga lu ya."
Setelah sambungan telepon itu terputus, aku tidak bisa tidur. Pikiranku melayang ke segala kemungkinan. Apa yang dimaksud Iksan dengan 'cepet kaya'? Apakah ini bisnis yang benar-benar bisa mengubah hidupku, atau justru jalan pintas yang berbahaya? Aku menatap langit-langit kamar, memikirkan wajah Astrid yang lelah tadi. Aku tidak ingin dia menderita lagi. Aku ingin membuktikan padanya, dan pada keluargaku, bahwa aku bisa menjadi pria yang layak.
Namun, di sudut hatiku yang paling dalam, ada kekhawatiran. Nama keluarga Albian adalah kehormatan, dan aku baru saja mempertaruhkannya sekali saat membawa Astrid. Sekarang, apakah aku akan mempertaruhkannya lagi demi uang?
Malam itu, aku tidur dengan segudang pertanyaan dan ambisi yang mulai tumbuh di balik rasa bersalahku. Malam Jakarta yang dingin tidak lagi terasa tenang. Jakarta kini terasa seperti tempat aku harus membuktikan diri. Besok, aku akan tahu apa sebenarnya yang direncanakan Iksan.
Aku tidak tahu bahwa keputusan untuk mengikuti ajakan Iksan adalah langkah awal dari sebuah permainan yang lebih besar, permainan yang mungkin akan menyeret Astrid ke dalam masalah yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar diusir dari rumah. Tapi saat itu, di dalam kamarku yang sepi, yang kupikirkan hanyalah satu hal: Bagaimana cara aku mendapatkan uang, menjadi sukses, dan tidak lagi menjadi beban bagi wanita yang sekarang mrnjadi istri ku.
Perjalanan ini baru saja dimulai. Dan entah mengapa, instingku mengatakan bahwa apa yang akan ditawarkan Iksan bukan sekadar bisnis biasa. Tapi apa pun itu, aku siap. Asalkan aku tidak lagi melihat Astrid yang marah karena rumah yang berantakan atau karena suaminya yang tidak berguna. Aku akan melakukan apa saja untuknya, bahkan jika aku harus menantang nasib sendiri di jalan yang tak kuketahui ujungnya.
Dengan napas yang diatur, aku menutup mata, mencoba mencari ketenangan di sela-sela pikiran yang riuh. Besok akan jadi hari yang panjang. Besok akan menjadi hari di mana hidupku mungkin akan berubah selamanya, entah ke arah cahaya atau menuju kegelapan yang lebih dalam. Aku hanya berharap, apa pun itu, Astrid tetap berada di sisiku, dan bayi yang ada di kandungannya akan lahir ke dunia yang lebih baik, bukan ke dalam kehidupan yang penuh dengan keterpurukan seperti ini. Aku memejamkan mata, membiarkan kelelahan merenggut kesadaranku, bersiap untuk menghadapi badai baru di esok pagi.
...----------------...