*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Surat Cerai.
Junee pergi diam - diam ke dalam ruang kerja sang suami, saat pria itu telah terlelap. Ia membuat surat permohonan cerai.
Junee sudah mencari tau, jika surat permohonan perceraian itu bisa di ketik sendiri. Asal sesuai dengan aturan pengadilan.
Surat itu selesai diketik pukul 02.17 dini hari.
Junee menatap layar laptopnya untuk terakhir kali. Dua halaman, spasi 1.5, font Times New Roman 12. Formal. Dingin. Seperti kontrak yang dulu pernah memisahkan mereka.
Perihal: Permohonan Perceraian Secara Baik-Baik.
Tangannya ragu di atas tombol “Print”.
Jika ia menekan tombol itu, tidak ada jalan untuk kembali.
“Enam bulan sudah cukup, Ben.” Bisiknya pada ruang kerja yang kosong. “Aku tidak mau menjadi alasan kamu kehilangan semuanya.”
Printer di sudut ruangan mendengung pelan. Satu lembar keluar. Lalu disusul lembar yang kedua.
Junee melipat kertas itu dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam amplop cokelat polos. Tidak ada nama penerima. Tidak perlu. Ben pasti akan mengetahuinya.
Ia meletakkan amplop itu di laci paling atas meja kerja sang suami. Di antara tumpukan dokumen milik perusahaan Ben Holding.
Jika Ben tidak pernah menemukannya, mungkin hidup akan berjalan seperti biasa.
Tetapi, jika Ben menemukannya… setidaknya Junee sudah mempersiapkan jalan keluar.
Pagi harinya, Junee berpura-pura baik-baik saja.
Ia membuatkan sarapan untuk Ben seperti biasa. Roti bakar, telur mata sapi, dan kopi hitam tanpa gula.
“Pagi, Ben.” Sapanya sembari menyodorkan piring. Suaranya normal. Ekspresinya pun tenang.
Ben menatapnya lama sebelum mengangguk. “Pagi.”
Sarapan itu berjalan hening. Hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu di atas piring.
Setelah selesai, Ben mencium kening Junee sebelum berangkat kerja. Kebiasaan baru yang belum pernah ia lewatkan sejak mereka resmi menikah.
“Hati-hati di kantor.” Pesan Junee pelan.
Ben mengangguk. “Kamu juga. Jangan lupa makan siang.”
Pintu penthouse pun tertutup.
Junee berdiri di tengah ruang tamu yang luas itu, merasa lebih kesepian dari hari - hari sebelumnya.
---
Siang harinya, telepon dari kantor Ben masuk.
“Bu Junee, maaf mengganggu. Pak Ben meminta tolong diambilkan file kontrak PT. Mahardika di atas meja kerjanya. Katanya urgent untuk meeting jam tiga.” Terdengar suara mbak Rina di seberang sana.
Junee mengangguk meski di seberang sana mbak Rina tidak melihatnya.
“Baik, Mbak. Saya antar sekarang.”
Junee bergegas pergi ke ruang kerja sang suami. Mengambil sebuah map di atas meja kerja. Wanita itu melirik ke arah laci. Masih tertutup dengan rapat seperti semalam waktu ia tinggalkan.
Junee kemudian bergegas ke kantor sang suami yang berada hanya 3 lantai di bawah tempat tinggal mereka.
Sekretaris Ben, Mbak Rina, menyambutnya dengan senyum.
“Silakan, Bu. Bapak meminta ibu menyimpannya langsung di ruangan beliau. Dan meletakan di dalam laci. Bapak masih di luar kantor.”
Junee mengangguk. Ia pun masuk ke ruang kerja Ben yang luas, dindingnya penuh sertifikat dan foto-foto proyek perusahaan.
Tangan Junee sedikit gemetar saat menarik laci.
Ada sebuah map berwarna biru di dalamnya. Tapi di bawah itu… ada amplop cokelat yang terlihat tidak asing.
Jantung Junee seakan berhenti satu detik.
Secepat inikah Ben menemukannya?
Ia seharusnya menyembunyikannya lebih baik.
Junee kemudian meletakan map yang ia bawa di dalam laci itu, dan menutupnya kembali tanpa melihat isi amplop coklat itu.
Tangan Junee masih gemetar saat menekan tombol lift.
Ben pasti sudah melihat isi amplop itu.
Dan kalau Ben sudah melihatnya… semua akan berubah.
---
Ben pulang lebih cepat hari itu.
Pukul 17.00, ia sudah berdiri di depan Junee dengan wajah yang tidak bisa Junee baca. Marah? Kecewa? Hancur?
“Jelaskan.” Ucap Ben singkat. Suaranya rendah. Dan dingin.
Junee menelan ludah. Ia berdiri di depan sofa, tangan menggenggam ujung baju.
“Aku…”
“Jelaskan kenapa ada surat cerai di laci mejaku, Junee?” Ucap Ben lebih panjang.
Ruangan itu tiba-tiba terasa pengap.
Junee menutup mata. Tidak ada gunanya berbohong lagi.
“Karena aku ingin kamu bebas, Ben.”
“Bebas?” Ben mengulang kata itu seperti tidak percaya. “Bebas dari apa?”
“Dari aku.” Suara Junee pecah. “Dari wanita yang tidak bisa memberimu anak. Dari perempuan yang membuatmu terjebak di pernikahan tanpa masa depan ini.”
Ben tertawa pelan. Tapi tidak ada lucunya sama sekali.
“Jadi kamu memutuskan semua ini sendiri? Tanpa tanya aku dulu?”
“Aku tidak mau egois, Ben. Aku tidak mau kamu menyesal sepuluh tahun lagi karena menikahiku.”
“Menyesal?” Ben maju satu langkah. “Kamu pikir aku menikahimu karena kasihan? Kamu pikir aku buta? Kamu pikir aku tidak tau apa yang aku rasakan?”
Junee menggeleng. Air matanya jatuh tanpa izin.
“Aku takut, Ben. Aku takut kalau suatu hari kamu bangun dan menyadari kamu bisa punya hidup yang lebih baik tanpa aku.”
Ben berhenti di depannya. Jarak mereka hanya sekitar sepuluh sentimeter.
“Dengarkan aku baik-baik, Junee.” Suaranya pelan, tapi setiap kata seperti pukulan.
“Aku tidak membutuhkan hidup yang lebih baik. Aku butuh hidup bersamamu. Kalau itu berarti tidak punya anak, ya sudah. Kalau itu berarti kita harus berjuang lebih keras, ya kita harus berjuang. Tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu hanya karena rahimmu.”
Junee menggeleng lagi.
“Kamu bisa bilang begitu sekarang. Tapi nanti…”
“Tidak ada nanti.” Potong Ben. “Aku sudah memilih kamu sejak awal. Dan aku tidak pernah menarik pilihanku.”
Junee menatapnya. Mencari keraguan. Mencari kebohongan.
Tidak ada.
Hanya ada kemarahan, luka, dan cinta yang begitu besar hingga menakutkan.
“Ambil surat ini.” Ucap Ben pelan sembari menyodorkan amplop coklat itu. “Robek di depan aku. Sekarang.”
Junee menggeleng.
“Aku tidak bisa.”
“Kalau kamu tidak bisa, aku yang akan melakukannya.” Ben mengeluarkan suratnya, dan merobeknya menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan.
Kertas putih itu berjatuhan di lantai seperti salju.
“Selesai.” Ucap Ben pelan. “Tidak ada lagi surat cerai. Tidak ada lagi kamu pergi diam-diam. Kalau kamu mau pergi, katakan langsung padaku. Tatap mataku. Jangan sembunyi.”
Junee menangis lebih keras.
Ia tidak tahu apakah dirinya menangis karena lega, atau karena takut.
Takut kalau suatu hari Ben akan menyesali kata-katanya sendiri.
Ben menariknya ke dalam pelukan. Kuat. Seolah takut Junee akan hilang kalau dilepaskan.
“Aku tidak butuh anak untuk mencintaimu, Junee.” Bisik Ben di telinganya. “Aku butuh kamu. Jangan pernah berpikir untuk berpisah. Karena sejauh mana pun kamu pergi, aku akan menyusulnya. Seumur hidup, kamu hanya boleh tinggal sama aku.”
---
pesan 1 kak