"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di rumah
Tubuh Aira yang dasarnya tinggi dan ramping ternyata membawa keuntungan tersendiri dalam situasi rumit ini. Struktur tulang panggulnya yang cenderung lebar dan postur tubuhnya yang proporsional membuat pertumbuhan janin menyebar secara alami tanpa membuat perutnya menonjol drastis ke depan. Bagi orang awam yang melihatnya sekilas, Aira hanya terlihat sedikit lebih makmur dari biasanya, bukan seperti wanita yang sedang mengandung.
Melihat fakta itu, sebuah rencana nekat muncul di kepala Aira saat dia sedang merapikan pakaian di depan cermin kamar privat Rayyan.
"Aku... aku mau tetap merahasiakan kehamilan ini sampai melahirkan, Pak," ujar Aira pelan, berbalik menatap Rayyan yang sedang mengancingkan kembali lengan kemejanya.
Rayyan yang sedang merapikan jam tangan mahalnya langsung menghentikan gerakannya. Dahinya berkerut dalam, memancarkan ketidaksetujuan yang sangat jelas. "Merahasiakan pernikahan di kantor, aku masih bisa maklum, Aira. Tapi menyembunyikan kehamilan sampai sembilan bulan? Itu terlalu berbahaya untuk fisikmu."
Aira melangkah mendekat, memberanikan diri menggenggam tangan besar Rayyan. "Tubuhku ramping, Pak. Kalau aku pakai baju yang tepat, orang-orang di kantor atau di rumah Tante Santi tidak akan sadar. Lagipula, masa magangku hanya tinggal beberapa bulan lagi. Begitu semester 4 selesai dan aku melahirkan, aku bisa mengambil cuti kuliah dengan alasan kesehatan biasa tanpa memicu gosip."
Aira menatap Rayyan dengan mata bulatnya yang dipenuhi permohonan. "Aku hanya ingin melindungi anak kita dari pandangan miring orang-orang. Aku tidak mau mereka menghitung bulan pernikahan kita dan mengira anak ini adalah hasil... hasil perbuatan kotor."
Mendengar kekhawatiran tulus dari istrinya, rahang tegas Rayyan perlahan melunak. Pria itu tahu betapa kejamnya dunia luar, dan sebagai anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang rumit, Aira pasti trauma dengan penilaian negatif orang-orang. Rayyan menarik Aira ke dalam pelukannya, mengusap punggung gadis itu dengan protektif.
"Baiklah. Jika itu maumu, kita akan lakukannya," bisik Rayyan pasrah, meski di dalam otaknya dia sudah menyusun rencana cadangan. "Tapi dengan satu syarat mutlak dariku: kamu tidak boleh kelelahan. Aku akan menyuruh Haris mengirimkan semua pakaian khusus maternity berkamuflase longgar yang dirancang desainer privat ke apartemen rahasia kita. Dan setiap minggu, dokter pribadi akan datang memeriksa kalian berdua secara sembunyi-sembunyi."
Aira mengangguk lega di dalam dekapan dada bidang Rayyan. Rahasia besar itu kini tidak lagi dia pikul sendirian. Di balik setelan blazer oversized dan kemeja longgar yang akan dikenakannya setiap hari ke kantor, ada konspirasi manis antara dirinya dan sang CEO tertinggi untuk melindungi malaikat kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Setelah merasa tubuhnya jauh lebih bugar berkat suntikan vitamin dari dokter pribadi Rayyan, Aira bersikeras untuk pulang. Rayyan awalnya menolak keras dan ingin menahannya di kamar privat, namun Aira mengingatkan pria itu tentang perjanjian mereka di kantor. Dengan berat hati, Rayyan akhirnya mengizinkan Aira pulang menggunakan taksi daring yang dipesankannya secara khusus, sementara dia mengawasi dari jauh melalui anak buahnya.
Namun, ketenangan yang baru saja Aira rasakan di Menara Wijaya menguap tanpa bekas begitu dia melangkah masuk ke dalam rumah keluarganya.
Suasana di dalam rumah itu terasa sangat dingin dan mencekam. Di ruang tamu yang luas, ayahnya—Hendra—sudah duduk di sofa dengan wajah yang memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Di sampingnya, Santi sang ibu tiri dan Siska sang adik tiri, duduk dengan senyum sinis yang tertahan di bibir mereka. Mereka menatap kedatangan Aira bagai melihat seorang pesakitan yang siap dieksekusi.
"Dasar anak kurang ajar! Mempermalukan nama baikku saja!"
Plak!
Sebuah benda plastik pipih dilemparkan Hendra dengan kasar, tepat mengenai dada Aira sebelum akhirnya jatuh tergeletak di atas lantai marmer.
Aira tersentak, tubuhnya refleks mundur satu langkah. Matanya bergerak turun menatap benda yang dilemparkan ayahnya. Jantung Aira seakan berhenti berdetak seketika, dan seluruh darahnya mendadak berdesir dingin.
Benda itu adalah testpack miliknya. Alat tes kehamilan dengan dua garis merah terang yang sangat jelas.
Aira membekap mulutnya sendiri. Jiwanya terguncang hebat. Dia baru teringat satu kecerobohan fatal yang dilakukannya malam itu—dia lupa bahwa dia membuang alat tes tersebut ke dalam bak sampah di dalam kamarnya tanpa dibungkus dengan benar. Dan di rumah ini, kamar Aira adalah wilayah yang sering diobrak-abrik oleh ibu atau adik tirinya jika mereka sedang mencari alasan untuk menjatuhkannya.
"Ayah... ini..." suara Aira tercekat di tenggorokan, bergetar hebat karena rasa takut yang luar biasa.
"Apa?! Kamu mau membantah apa lagi?!" Hendra bangkit dari duduknya, menunjuk wajah Aira dengan tangan yang gemetar karena murka. "Aku sudah bersusah payah membangun karier di perusahaan cabang Wijaya Group! Dan sekarang kamu... kamu malah hamil di luar nikah seperti wanita murahan! Siapa bajingan yang sudah menghamilimu, Aira?! Jawab!"
Santi menyandarkan punggungnya sambil tersenyum puas, memanas-manasi keadaan. "Tuh kan, Mas, apa aku bilang. Anak gadismu yang sok polos ini ternyata liar di luar rumah. Kemarin waktu Pak Rayyan Wijaya datang kemari kasih kartu hitam, aku sudah curiga. Jangan-jangan dia sengaja menjual dirinya pada pria-pria kaya!"
"Nggak, Tante! Aku nggak pernah jual diri!" tangis Aira pecah. Dia memegangi perutnya yang longgar secara refleks, mencoba melindungi janinnya yang ikut menegang di dalam sana. Dia ingin berteriak bahwa ayah dari anak ini adalah Rayyan Wijaya—pemilik dari tempat ayahnya bekerja, pria yang bahkan sudah menikahinya secara sah kelmarin.
Namun, ingatan tentang syarat yang diajukannya pada Rayyan untuk merahasiakan hubungan mereka membuat Aira bungkam. Dia takut jika dia menyebut nama Rayyan sekarang, ayahnya yang gila hormat akan menggunakan anak ini untuk memeras Rayyan, atau ibu tirinya akan membuat skandal yang merusak reputasi suaminya.
"Bicara, Aira! Siapa ayahnya?! Kalau kamu tidak mau bicara, angkat kaki dari rumah ini sekarang juga! Aku tidak sudi menampung anak haram di rumahku!" bentak Hendra kejam, tidak memikirkan perasaan anak kandungnya sendiri yang sejak usia 5 tahun sudah dia abaikan.
Aira menatap ayahnya dengan pandangan mata yang terluka dalam. Di tengah badai cacian itu, Aira mengepalkan tangannya. Rasa nyeri di dadanya akibat penolakan sang ayah mendadak berubah menjadi sebuah keteguhan. Rumah ini memang bukan tempatnya lagi.
Aira perlahan berjongkok, memungut testpack miliknya di lantai, lalu mendongak menatap ketiga orang di depannya dengan air mata yang mengalir namun tatapan yang tidak lagi takut. "Aku akan pergi," ucap Aira lirih namun mutlak.
Dia tidak tahu bahwa di luar pagar rumah itu, sebuah mobil hitam dengan anak buah Rayyan di dalamnya sudah merekam seluruh keributan tersebut dan langsung meneruskannya kepada sang CEO tertinggi yang siap meratakan siapa saja yang berani mengusik istrinya.