NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Pagi itu, Aurora Quinn baru saja melangkah keluar dari apartemennya ketika ponsel di dalam tasnya bergetar lembut. Satu notifikasi pesan masuk dari seseorang yang akhir-akhir ini terlalu sering muncul dan mengusik ketenangannya.

Siapa lagi kalau bukan Alexander Kingsley.

Aurora menghela napas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pesan tersebut.

Alexander:

"Selamat pagi, Coffee Girl."

Aurora:

"Aku punya nama, tahu."

Balasan dari seberang sana datang hanya dalam hitungan beberapa detik saja.

Alexander:

"Selamat pagi, Aurora yang keras kepala."

Aurora langsung memutar bola matanya malas membaca julukan baru itu, namun jemarinya tetap membalas.

Aurora:

"Apa maumu pagi-pagi begini?"

Alexander:

"Aku lapar."

Aurora:

"Terus hubungannya sama aku apa?"

Alexander:

"Temani aku makan siang hari ini."

Aurora tertawa kecil menatap layar ponselnya.

Aurora:

"Nggak mau."

Alexander:

"Kenapa tidak mau?"

Aurora:

"Karena aku harus kuliah."

Alexander:

"Aku juga kuliah, Aurora."

Aurora:

"Bagus kalau begitu."

Alexander:

"Tapi aku tetap lapar."

Melihat tingkat kekerasan kepala pria itu, Aurora langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas tanpa berniat membalasnya lagi. Pria kaya itu benar-benar tidak ada obatnya.

---

Siang harinya.

Aurora sedang berjalan sendirian menyusuri koridor kampus menuju perpustakaan ketika seseorang tiba-tiba menyamakan langkah dan berjalan tepat di sampingnya.

Tanpa perlu menoleh pun, Aurora sudah bisa menebak siapa orang itu dari aroma parfum maskulinnya yang khas. "Aku tahu itu kamu, Alex," cetus Aurora langsung membuka suara.

Alexander tersenyum lebar mendengar sambutan itu. "Hebat sekali tebakanmu," puji Alexander.

"Itu karena kamu terlalu sering muncul tiba-tiba di sekitarku," keluh Aurora.

"Aku akan menganggap ucapanmu itu sebagai sebuah pujian," sahut Alexander dengan nada percaya diri.

Aurora mendengus pelan mendengar rasa percaya diri pria itu yang setinggi langit.

Alexander melirik Aurora dari samping dengan senyum yang belum pudar. "Ngomong-ngomong, kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi," tagih Alexander.

"Menjawab apa?" tanya Aurora berpura-pura lupa.

"Ajakanku yang di pesan singkat tadi pagi," jawab Alexander memperjelas.

Langkah kaki Aurora langsung berhenti, membuat Alexander ikut menghentikan langkahnya. "Kamu mengajakku lagi?" tanya Aurora heran.

Alexander mengangguk mantap. "Iya, lagi."

Aurora menggelengkan kepalanya. "Aku nggak bisa, aku sibuk," tolak Aurora halus.

Alexander memasang ekspresi wajah yang pura-pura kecewa. "Kamu selalu saja sibuk, Aurora."

"Kenyataannya aku memang sibuk kuliah dan bekerja," balas Aurora membela diri.

"Apa kamu nggak pernah meluangkan waktu sedikit saja buat bersenang-senang dan menikmati hidup?" tanya Alexander dengan nada menyelidik.

Seketika itu juga Aurora terdiam mematung. Pertanyaan sederhana dari Alexander barusan mendadak membuat pikirannya berputar ke belakang. Sudah lama sekali ia tidak benar-benar menikmati hidupnya sendiri. Kuliah, kerja paruh waktu, pulang ke rumah, lalu kembali kuliah keesokan harinya—seluruh hidupnya hanya berputar di lingkaran monoton itu demi menyambung hidup.

Alexander yang menyadari perubahan ekspresi wajah Aurora langsung tersenyum kecil. "Nah, benar kan tebakanku?" ucap Alexander memecah keheningan.

Aurora menghela napas panjang untuk mengusir rasa sesak di dadanya. "Aku cuma nggak punya banyak waktu luang, Alex," aku Aurora jujur.

Alexander memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan santai. "Kalau begitu, pinjamkan aku satu hari saja dari waktu luangmu yang sedikit itu," pinta Alexander.

Aurora mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. "Satu hari?" ulang Aurora.

Alexander mengangguk. "Hari Sabtu."

"Hari Sabtu aku harus bekerja di kafe," tolak Aurora instan.

"Kita pergi setelah jam kerjamu selesai," bujuk Alexander tidak mau kalah.

"Tapi aku pasti sudah capek," keluh Aurora lagi mencari alasan.

"Aku yang akan menjemput dan mengantarmu pulang," potong Alexander tangkas.

Aurora hampir saja tertawa melihat kegigihan pria di depannya ini. Pria ini benar-benar tidak mengenal kata menyerah dalam kamus hidupnya. "Sebenarnya, kenapa sih kamu bersikeras banget mau mengajakku pergi?" tanya Aurora heran.

Alexander tampak terdiam dan berpikir selama beberapa detik, lalu ia menatap tepat ke dalam manik mata Aurora dan menjawab dengan sangat jujur, "Karena aku suka menghabiskan waktu bersamamu."

Deg.

Jantung Aurora langsung berdetak dengan ritme yang aneh mendengarnya—sangat aneh dan cepat. Untung saja, Alexander terlihat tetap bersikap santai seolah baru saja mengatakan hal yang biasa, sementara Aurora justru mendadak salah tingkah sendiri di tempatnya berdiri.

"Aku... em, itu..." sahut Aurora terbata-bata.

Alexander tersenyum penuh kemenangan melihat kegugupan gadis itu. "Jangan bilang 'enggak' dulu untuk yang kali ini, Aurora," potong Alexander lembut.

Aurora menggigit bibir bawahnya dengan ragu. Entah kenapa, benteng pertahanannya perlahan runtuh, dan ia mulai kehabisan alasan masuk akal untuk menolak pria ini lagi.

---

Sore harinya.

Aurora sedang sibuk bekerja di balik konter kafe. Namun, fokusnya tidak sepenuhnya ada di sana; pikirannya terus-menerus melayang kembali pada ucapan jujur Alexander siang tadi di koridor kampus.

Lamunan Aurora buyar ketika Lily Parker tiba-tiba datang dan langsung duduk di kursi tinggi tepat di depan meja konter tempatnya berdiri. "Kamu kenapa, Wanita?" tanya Lily menyelidiki.

Aurora sentak mengangkat kepalanya terkejut. "Hm? Ada apa, Lily?" tanya Aurora balik.

Lily tertawa kecil melihat ekspresi sahabatnya. "Kamu itu dari tadi senyum-senyum sendiri sambil mengelap gelas, tahu," goda Lily.

Aurora langsung memasang wajah datar dan menyangkalnya, "Aku nggak senyum sendiri, kok."

"Halah, kamu bohong," tuduh Lily sambil tertawa semakin keras.

Aurora menghela napas pasrah karena tahu ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari sahabatnya ini. Akhirnya, Aurora menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi—tentang ajakan jalan dari Alexander, tentang kebingungan yang melanda hatinya, dan tentang debaran perasaan aneh yang belakangan ini mulai muncul setiap kali pria itu berada di dekatnya.

Lily mendengarkan seluruh cerita itu dengan saksama sampai selesai, lalu ia menyimpulkan dengan satu kalimat mutlak, "Kamu suka sama dia, Aurora."

Mendengar kesimpulan frontal itu, Aurora langsung tersedak ludahnya sendiri. "Hah?! Apa maksudmu?"

"Iya, kamu menyukai Alexander Kingsley," ulang Lily yakin.

"Nggak mungkin, Lily! Itu nggak mungkin," bantah Aurora cepat dengan wajah memerah.

Lily kembali tertawa melihat kepanikan sahabatnya. "Aurora, dengarkan aku," panggil Lily serius.

"Apa?" sahut Aurora cemberut.

"Kalau kamu nggak suka atau nggak punya perasaan apa-apa sama seseorang, kamu nggak bakal memikirkan ajakan orang itu seharian penuh sampai senyum-senyum sendiri begini," tutur Lily masuk akal.

Seketika itu juga Aurora langsung terdiam seribu bahasa. Apa yang dikatakan Lily... seratus persen benar, dan kenyataan itu justru membuat hatinya menjadi semakin bingung sekaligus takut.

---

Malam harinya di apartemen.

Aurora baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya ketika ponsel di atas kasur kembali berbunyi, menandakan sebuah pesan baru masuk.

Alexander:

"Aku masih menunggu jawabanmu, Coffee Girl."

Aurora tersenyum kecil menatap layar ponselnya. Pria itu ternyata benar-benar serius dengan ucapannya. Ia menatap ruang obrolan itu cukup lama, menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya, lalu jemarinya mulai mengetik balasan secara perlahan.

Aurora:

"Cuma untuk beberapa jam saja, ya."

Balasan dari Alexander datang dalam waktu kurang dari lima detik, seolah pria itu memang sedang menggenggam ponselnya demi menunggu balasan ini.

Alexander:

"Jadi, itu berarti jawabanmu adalah iya?"

Aurora bisa membayangkan dengan sangat jelas bagaimana senyuman lebar nan tampan terukir di wajah Alexander saat ini. Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, seulas senyuman manis juga ikut terbit di bibir Aurora.

Aurora:

"Iya."

Beberapa detik berlalu dalam keheningan, lalu sebuah pesan terakhir dari Alexander kembali muncul di layar.

Alexander:

"Aku janji kamu nggak akan pernah menyesali keputusanmu hari ini."

Aurora menatap layar ponselnya yang perlahan meredup dengan jantung yang berdebar hangat. Ia sama sekali tidak tahu bahwa keputusan sederhana yang ia ambil malam ini akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan—sesuatu yang perlahan namun pasti akan mengubah jalan hidupnya, dan mungkin juga... akan mengubah seluruh isi hati dari seorang pria bernama Alexander Kingsley.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!