NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

​Sorot lampu jalanan ibu kota yang gemerlap menyambut kedatangan mobil Avanza carteran itu saat memasuki kawasan pusat kota Jakarta. Jam digital di dasbor menunjukkan pukul enam pagi. Zara terbangun dari tidurnya, mengerjap-erjap menyesuaikan cahaya matahari pagi yang mulai mengintip dari balik gedung-gedung pencakar langit.

​"Fahri... kita udah sampai Jakarta?" tanya Zara dengan suara khas orang baru bangun tidur, masih bersandar di bahu tegap Fahri.

​"Alhamdulillah, sudah, Neng. Selamat datang kembali di macetnya Jakarta," sahut Fahri santai sembari merapikan kupluk rajutnya.

​Zara buru-buru menegakkan posisi duduknya, mendadak sadar kalau dia ketiduran di bahu Fahri sepanjang jalan tol. Wajahnya merona tipis. "Eh, maaf ya... bahu kamu pasti pegal banget."

​"Pegal sih nggak, cuma baju saya aja agak basah. Gak tahu itu air hujan apa air liur kamu," goda Fahri sambil melirik bahu kirinya.

​"Ya ampun, Fahri! Nggaklah, ih! Aku gak ngiler tahu!" semprot Zara kesal, wajahnya makin memerah panas. Namun, sedetik kemudian raut wajahnya kembali cemas saat melihat keluar jendela. "Eh, tapi ini jalan ke arah Jakarta Pusat, kan? Rumah sakit tempat Ibu dirawat itu di daerah Salemba, Fahri. Kita kok malah belok ke arah Bundaran HI?"

​Fahri tidak menjawab. Ia malah mengetuk pundak sopir travel di depan. "Pak, depan belok kiri ya, masuk ke gerbang yang ada pos satpamnya itu."

​"Siap, Mas."

​Zara mengernyitkan dahi saat mobil berbelok memasuki sebuah area mewah dengan lobi megah berarsitektur modern dan air mancur besar di depannya. Sebuah papan nama kuningan besar bertuliskan nama salah satu hotel bintang lima paling prestisius di Jakarta terpampang nyata.

​"Lho? Lho? Fahri! Kok kita malah ke hotel bintang lima?!" pekik Zara panik, matanya membelalak sempurna saat mobil berhenti tepat di depan lobi mewah yang dijaga ketat oleh petugas bersetelan jas rapi. "Kamu salah rute ya?! Ibu aku di rumah sakit, Fahri! Ngapain kita ke sini?!"

​"Gak salah, Teh Jakarta. Memang tujuan kita ke sini dulu," ucap Fahri tenang sembari membuka pintu mobil. "Ayo turun."

​"Gak mau! Aku mau ke rumah sakit sekarang!" Zara bersikeras, mencengkeram erat sabuk pengamannya. "Lagian... uang dari mana coba buat menginap di tempat semewah ini? Kamar di sini semalamnya bisa jutaan, Fahri! Uang tabungan aku gak bakal cukup!"

​Fahri terkekeh melihat kepanikan istrinya. Ia membungkuk, menatap Zara lekat-lekat dengan senyum tengil andalannya. "Zara Amanta... dengerin suamimu yang tampan ini ya. Kamu lihat muka kamu di kaca spion gih. Acak-acakan, kucel, muka bantal, terus baju kamu juga belum ganti dari kemarin sore di pasar. Kamu mau datang ke rumah sakit nemuin orang tua dengan bentukan kayak gembel begini?"

​"Tapi—"

​"Gak ada tapi-tapi. Kita butuh tempat buat mandi, sarapan, dan menyusun strategi biar gak langsung didepak sama si Mas Batik begitu sampai di sana. Soal biaya..." Fahri mengeluarkan sebuah kartu plastik berwarna hitam mengilat dari dompet kulitnya yang agak usang, lalu menggoyang-goyangkannya di depan wajah Zara. "Tenang aja. Biarpun saya cuma santri kampung, saya punya black card hasil kerja sampingan jadi agen rahasia. Gak deng, bercanda. Ini fasilitas dari salah satu donatur besar pesantren Abah yang punya hotel ini. Jadi, gratis."

​"Serius?!" Zara melongo, tidak percaya melihat kartu di tangan Fahri. "Kamu gak lagi ngepet, kan?"

​"Astaga! Suami sendiri dituduh ngepet!" Fahri mengelus dadanya, pura-pura tersinggung. "Ya udah, ayo turun. Gak usah norak gitu mukanya, buruan."

​Dengan perasaan campur aduk antara bingung, takjub, dan cemas, Zara akhirnya mengekor di belakang Fahri. Petugas lobi menyambut mereka dengan ramah, dan dalam waktu singkat, mereka sudah berada di dalam lift menuju lantai dua puluh.

​Begitu pintu kamar Suite Room dibuka, Zara kembali dibuat takjub. Kamarnya sangat luas, dengan ranjang king size yang empuk, sofa beludru, dan jendela kaca besar yang langsung menyajikan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.

​"Wah... gila, ini bagus banget," gumam Zara takjub, sesaat melupakan ketegangannya.

​Fahri menutup pintu kamar dengan bunyi klik yang pelan. Ia meletakkan tas ranselnya di atas meja, lalu meregangkan otot-otot badannya yang kaku. Pandangan matanya kemudian beralih menatap Zara yang masih berdiri canggung di dekat jendela.

​Sebuah senyum usil nan jahil mendadak terbit di wajah Fahri. Ia melangkah perlahan mendekati Zara, mempersempit jarak di antara mereka hingga Zara refleks mundur sampai punggungnya membentur kaca jendela.

​"F-Fahri? Kamu mau ngapain?" tanya Zara gugup, jantungnya mendadak berdisko tidak karuan saat mencium aroma parfum Fahri yang menguar dekat sekali.

​Fahri sengaja menaruh satu tangannya di kaca jendela, tepat di samping kepala Zara, mengunci pergerakan gadis itu ala-ala adegan drama romantis. Ia menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Zara dengan suara yang sengaja dibuat berat dan berbisik.

​"Zar... kita kan udah sah nih semalam. Udah halal secara agama dan negara," ucap Fahri lambat-lambat.

​"T-terus?" Zara menelan ludah, wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus.

​"Ya... mumpung suasananya mendukung, kamarnya mewah, kasurnya empuk..." Fahri menjeda kalimatnya, senyum jahilnya makin melebar. "Gimana kalau pagi ini... kita unboxing kamu dulu?"

​"Hah?! Unboxing?!" Zara menjerit kecil, spontan menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan mata melotot. "Fahri! Kamu... kamu jangan macam-macam ya! Kita kan janjinya—"

​"Hahaha! Ya ampun, Zara! Pikiran kamu traveling-nya jauh banget ya!"

​Tawa Fahri langsung pecah seketika. Ia mundur dua langkah sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi horor di wajah istrinya.

​"Maksud saya itu, unboxing tas kresek isi baju ganti kamu yang di ransel saya! Terus kamu buruan mandi sana, biar otaknya agak segeran dikit gak mikir yang aneh-aneh! Lagian, mana ada unboxing pengantin baru mukanya sekucel kamu, gak estetik banget!" ledek Fahri puas di sela tawanya.

​"FAHRI!!! KELUAR GAK KAMU DARI KAMAR INI SEKARANG!!! RESE BANGET JADI ORANG!!!" semprot Zara histeris, melemparkan bantal sofa terdekat tepat ke arah wajah Fahri.

​Fahri dengan cekatan menangkap bantal tersebut sambil terus tertawa terbahak-bahak menuju pintu kamar mandi. "Iya, iya, ini saya yang mandi duluan biar makin tampan pas ketemu mertua. Kamu tunggu di situ ya, jangan kangen!"

​Pintu kamar mandi tertutup, menyisakan Zara yang berdiri dengan napas terengah-engah menahan kesal sekaligus malu yang luar biasa. Namun, di sela kejengkelannya pada keusilan Fahri, Zara memegangi dadanya yang masih berdegup kencang. Permainan mental dari suaminya itu anehnya sukses membuat rasa takut dan traumanya tentang Jakarta menguap begitu saja, digantikan oleh kesiapan baru untuk menghadapi apa pun yang ada di rumah sakit nanti.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!