Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Kebenaran yang terungkap
Mata Gita tak pernah lepas dari pergerakan Rachel dan Rafael yang sedang duduk berdekatan diseberangnya. Sarah yang juga duduk disamping Rafael asyik berseda gurau. Hanya Gita yang tidak menikmatinya, "Ini semua gara-gara Rachel disini." pikirnya.
"Gita gimana pekerjaanmu?" tanya mama Rafael lembut.
"Lancar ma," Gita menjawab dengan tersenyum. Lalu terdiam ia bingung harus bicara apa. Jujur saja ia memang tidak pintar berkomunikasi dengan banyak orang kecuali dengan orang-orang yang sangat dekat atau orang yang sering ditemuinya.
"Kalau kamu ada waktu luang, main dong kesini. Atau ajak ibumu kesini." Mama Rafael berkata lagi, ia tahu mantu semata wayangnya ini tak banyak bicara.
"Baik, ma." hanya itu yang keluar dari mulut Gita.
"Ikut mama yuk, mama mau nunjukin foto-foto Rafael waktu kecil." ajak mama Rafael mencoba mencairkan suasana. Gita mengangguk lalu beranjak mengikuti sang mertua.
Mata Rafael otomatis melihat arah gerakan Gita. Sebenarnya ia sengaja berdekatan dengan Rachel untuk melihat bagaimana reaksi Gita, tapi seperti biasa Gita si perempuan tanpa ekspresi. Sulit menebak isi pikiran dan hati perempuan itu.
Gita menapaki tangga dengan kaki telanjang, di dinding sepanjang tangga terdapat tiga lukisan bunga anggrek dengan ukuran kanvas yang sama. Sepertinya mama Rafael sangat suka bunga anggrek. Gita juga melihat banyak tanaman anggrek di taman belakang rumah mertuanya.
Mereka memasuki kamar bernuansa krem dengan kusen kayu dengan motif asli yang cantik. Ada ranjang susun kayu yang tidak terlalu besar. Bawah ranjang terdapat laci empat pintu seukuran ranjang.
Mama Rafael duduk dilantai diikuti Gita yang duduk disebelahnya. Mama Rafael membuka laci nomor dua dari kanan, tumpukan album muncul saat lacinya dibuka.
"Ini kamar Rafael kecil dan..." kalimat mama Rafael menggantung. "Kakak Rafael." Gita terkejut, baru tahu Rafael punya kakak. Tidak ada foto kakak Rafael dimanapun. Bahkan di foto keluarga yang dipajang dilantai bawah pun tidak ada.
"Rafael sudah pernah cerita?" tanya mama Rafael. Gita menggeleng pelan.
"Ini salah mama," bisik perempuan paruh baya itu. Matanya berkaca-kaca.
"Mama sangat terpukul atas kematian kaka Rafael. Sehingga papa dan Rafael memutuskan untuk mencopot semua foto kakak Rafael agar kondisi mama tidak memburuk." tangan keriputnya menghapus air mata yang meleleh dipipinya. Gita diam menyimak.
"Sejak kecil kakak Rafael sering keluar masuk rumah sakit. Ia menderita kelainan jantung sejak bayi. Beruntung ia bisa hidup hingga umur 18 tahun. Sampai diusia 18 tahun kondisinya semakin memburuk. Itu tepat beberapa bulan setelah ia pindah ke Jakarta." kata mama Rafael, matanya menerawang.
"Dulu kami tinggal di Jogja, ayah Rafael mengelola usaha keluarga di Jogja. Tapi Rafael tinggal bersama neneknya di jakarta. Dari dulu cita-citanya sudah jadi aktor, jadi demi cita-citanya. Ia rela tinggal berjauhan sama mama." mama Rafael cemberut, Gita tertawa.
"Iya ma, siapa sih yang gak kenal Rafael. Dia pernah main sinetron yang terkenal banget jaman Gita masih SMP." ucap Gita.
"Apa jangan-jangan kamu fans Rafael ya?" tanya mama Rafael menggoda, Gita tertawa sambil menggelengkan kepanya. "Bukan-bukan ma."
"Rafael jarang sekali bertemu kakanya. Hanya beberapa kali dalam setahun. Rafael sibuk dengan kegiatannya dan jarang sekali pulang ke Jogja, sampai kita harus pindah ke Jakarta karena kondisi kakak Rafael semakin memburuk. Hanya satu tahun. Satu tahun ia tinggal bersama kakaknya."
"Ini coba liat." Mamanya membuka buku album bewarna biru muda. "Ini Rafael umur 5 tahun." mama Rafael menunjuk anak laki-laki kaos kuning dengan celana jeans pendek, ekspresinya lucu. Gita tersenyum. Matanya teralih pada anak laki-laki satunya dengan setelan yang sama umurnya pasti lebih tua, ini kah kakak Rafael.
"Ini Kaka Rafael?" tanya Gita. Wajahnya terlihat sedikit familiar.
"Dulu mama tinggal di Jogja daerah mana?" tanya Gita penasaran.
"Dekat Malioboro git."
"Aku juga waktu SD sama SMP di Jogja ma, ayah kebetulan ikut paman aku kerja disana." kata Gita sumringah. Mama Sekar tertawa.
"Bentar, kamu beneran gak inget?" tanya mertuanya itu. Gita menggeleng bingung.
Mama Rafael mengambil album lain kini album berwarna merah bludru, di baliknya lembar demi lembar. Rafael terlihat sudah lebih besar.Foto pemuda sekitar umur belasan dengan kaos garis biru putih melekat dialbum.
Gita mengenalnya. Mulutnya terbuka tak percaya. Jarinya menjelajahi foto itu. Pemuda yang sudah lama tidak ia lihat.
"Mas, Bintang" suara Gita lirih, suaranya tercekat. Perasaannya campur aduk, entah senang atau sedih. Bulir air mata jatuh. Ia menggigit bibirnya.
Mama Rafael memeluk nya erat Gita. Menyalurkan segala kesedihan lewat pelukan hangat mereka.
"Mama mau ucapkan banyak terima kasih sama kamu." mama Sekar mengambil napas dalam. Napasnya sedikit tersenggal karena menangis.
"Bintang anak yang pendiam dan sedikit dingin berbeda dengan Rafael yang lebih ekspresif. Tapi saat itu Bintang berbeda, ia lebih banyak tersenyum dan jadi lebih bersemangat saat berangkat sekola." mama Sekar menyeka air matanya dengan lengan bajunya.
"Setelah mama cari tau, ternyata ada anak perempuan yang sedang dekat dengannya. Anak SMP." mama Sekar tertawa kecil mengingat ekspresi Bintang dulu.
"Bintang lebih ceria. Ia juga rajin minum obat. Dulu sebelumya ia seperti enggan untuk hidup. Lelah dengan semua pengobatan yang ia jalani. Bintang jadi sering keluar rumah. Ia pamit pergi ke taman kota bersama temannya." Gita masih terdiam, mengingat semua. Yang dibicarakan mama Sekar adalah dirinya. Dirinya saat SMP dengan bintang yang saat itu Kelas satu SMA semester akhir.
Air mata Gita menetes semakin deras. Ia tidak tahu bahwa teman masa kecilnya menderita penyakit seperti itu. Pemuda dengan wajah teduh itu selalu menemani Gita waktu dulu. Pembawaannya yang tenang membuat Gita senang bermain dengannya.
"Dan terima kasih, sudah menyelamatkan Bintang waktu itu. Mama belum sempat berterima kasih dengan layak sama kamu waktu itu." Gita ingat, bintang yang hampir tenggelam karena mengambil bola yang terjatuh didanau saat bermain dengan Gita.
"Berkat kamu Bintang Mama masih hidup." Gita kembali menangis, isakannya semakin jelas. Saat itu Bintang seperti menggantikan sosok Bagaskara kakaknya yang sedang merantau setelah lulus SMA.
"Kamu cari kamu kemana-mana, tapi kata para tetangga kamu pindah ke Jakarta. Setelah itu kesehatan Bintang perlahan-lahan memburuk. Setelah lulus sekolah kami memutuskan pindah untuk mendapat pengobatan yang lebih baik diJakarta." mama Sekar bercerita dengan suara bergetar. Gita menatap foto itu lama. Manik mata yang Gita ingat, manik mata kesukaan Gita.
"Dari situ ada secercah harapan bagi Bintang karena kamu juga berada di Jakarta. Tapi sayang hampir setahun berlalu kalian belum juga bertemu. Kondisi bintang semakin drop....lalu ..lalu..." isakan mama Sekar menggema. Gita menarik mama Sekar dalam pelukannya menggosok punggungnya, menenangkannya. Gita menutup bibirnya rapat agar suaranya tak terdengar.
"Maaf ma. Gita nggak tahu. Bahkan Gita tidak pernah tahu seperti apa keadaan Mas Bintang waktu itu." pelukan mereka terlepas mama Sekar menggeleng.
"Bukan salahmu Bintang memang tidak senang orang yang disayanginya khawatir dengan keadaannya."
"Jadi...mulai kapan mama tahu kalau aku ..."
"Dari pertama kamu kerumah memperkenalkan diri. Mama selalu melindungi anak mama, dengan siapa mereka bergaul dan berhubungan. Mama sempat tidak percaya dan menyuruh orang papa Rafael untuk menyelidikinya. Kamu pikir kita ceroboh. Mengijinkan anak semata wayang kita menikah dengan sembarang orang." mama Sekar tertawa kecil. Perkataannya membuat Gita tertegun. Benar juga.
"Mama lega sudah melupakan semuanya kepada kamu. Orang yang sangat ingin bintang temui. Mama boleh gak minta tolong. Gita mengangguk.
"Tolong kamu doakan bintang, datanglah ke makamnya dengan Rafael kalau sempat." mama Sekar mengelus rambut Gita sayang.
"Maaf ma, Gita selama ini tidak tahu mas Bintang mencari Gita." suara Gita bergetar terdengar sangat menyesal.
"Mama titip Rafael juga ya, hormati dia sebagai suami kamu. Sayangi dia." ucap mama Sekar lembut. Gita tak kuasa menahan air matanya. Bagaimana bisa ia membohongi orang sebaik dan setulus mama Sekar. Gita menggenggam erat kedua tangan mertuanya itu.
"Pasti ma." ia berjanji, berjanji untuk menyayangi Rafael sepenuh hatinya. Walaupun nanti perasaan Rafael tak sama seperti yang ia rasakan.
Halo
Jangan lupa support dengan, like comment, subscribe dan vote ya
Like dan komen kalian begitu berarti buat author 🥰