Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 26
Pagi datang perlahan di rumah sakit. Sinar matahari yang menembus jendela kamar perawatan menghadirkan kehangatan yang kontras dengan suasana hati orang-orang di dalamnya. Malam yang panjang telah berlalu, tetapi tidak satupun dari mereka benar-benar merasa beristirahat.
Nayana masih tertidur di sofa dengan posisi yang tidak nyaman. Wajahnya tampak lelah akibat terlalu banyak menangis. Gayatri baru saja kembali dari kafetaria rumah sakit membawa beberapa gelas minuman hangat, sementara Keenan masih duduk di kursi dekat ranjang pasien.
Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Tatapannya tidak pernah jauh dari wajah Shakira. Sesekali ia melihat monitor di samping ranjang, memastikan semuanya baik-baik saja. Sesekali ia mengusap wajahnya sendiri yang terasa berat akibat kurang tidur.
Dan setiap kali pandangannya kembali jatuh pada Shakira, rasa bersalah itu kembali menghantam tanpa ampun.
Shakira masih tertidur. Namun tidak lama kemudian, wanita itu mulai bergerak pelan.
Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Keenan langsung menegakkan tubuhnya. “Shakira? Kau sudah bangun, Sayang? Bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang terasa sakit?”
Suara itu membuat Nayana ikut terbangun. Gayatri yang baru masuk ke dalam kamar juga langsung menghentikan langkahnya.
Shakira memandang sekeliling ruangan beberapa saat.
Kali ini kesadarannya jauh lebih baik dibanding malam sebelumnya. Ia melihat tiga orang yang disayanginya secara bergantian dengan tatapan lesu.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Hingga akhirnya Shakira mengerutkan dahi. “Aku masih di rumah sakit?”
“Iya, Sayang,” jawab Nayana cepat. “Dokter masih ingin memastikan kondisi tubuhmu pulih sepenuhnya.”
Shakira mengangguk kecil. Tubuhnya memang masih terasa lemah. Namun ada sesuatu yang terasa aneh. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia kembali meletakkan tangan di atas perutnya. Lalu terdiam lama, ekspresinya perlahan berubah.
“Kenapa aku merasa ada yang aneh?”
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi. Gayatri langsung menahan napas. Sementara Keenan menundukkan kepala. Sedangkan Shakira tetap menatap mereka bergantian. Tatapannya semakin bingung.
“Dan kenapa kalian terlihat seperti ini?” tanyanya lagi dengan suaranya yang masih terdengar lemah.
Tidak ada yang menjawab. Justru keheningan itulah yang perlahan menumbuhkan kegelisahan di dalam hati Shakira.
“Apa ada sesuatu yang tidak kalian katakan?”
Nayana langsung menggenggam tangan putrinya. “Jangan terlalu banyak berpikir dulu, Sayang. Kondisimu masih lemah, kau harus lebih banyak beristirahat.”
“Tapi … kenapa aku merasa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?”
Suara Shakira terdengar lebih tegas kali ini. Matanya mulai bergerak dari wajah Nayana ke Gayatri, lalu berhenti pada Keenan.
Dan saat ia melihat mata suaminya yang merah serta wajahnya yang penuh penyesalan, dada Shakira mendadak terasa tidak nyaman.
“Keenan.”
Pria itu langsung mengangkat kepala.
“Lihat aku.”
Dengan perlahan, Keenan memenuhi permintaannya.
Tatapan mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya sejak Shakira sadar, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya di mata suaminya.
Ketakutan, penyesalan dan kesedihan yang begitu dalam.
Jantung Shakira mulai berdegup lebih cepat.
“Apa yang terjadi?”
Tidak ada jawaban. Keenan tetap memilih diam. Pria itu hanya menatap Shakira dengan sayu.
“Keenan.” Shakira mulai memaksa.
Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu membuang wajah, tak kuasa menatap wajah istrinya lebih lama.
“Katakan padaku, Keenan. Apa yang sebenarnya terjadi?” Shakira menggoyangkan lengan Keenan meski gerakannya masih lemah.
Suasana kamar terasa semakin tegang. Gayatri dan Nayana saling berpandangan cemas. Mereka tahu momen ini akan datang. Cepat atau lambat, Shakira pasti akan mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.
Dan semakin lama kebenaran disembunyikan, semakin besar pula kemungkinan Shakira merasa dikhianati ketika akhirnya mengetahui semuanya.
Keenan menelan ludah dengan susah payah. Tatapannya kembali jatuh pada wajah istrinya. Wajah wanita yang kini menunggu jawaban dengan mata penuh kecemasan. Dan untuk pertama kalinya sejak tragedi itu terjadi, Keenan sadar bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi dari kenyataan.
Namun saat itu juga, ia juga belum memiliki keberanian untuk menghancurkan dunia Shakira dengan tangannya sendiri. “Kau harus fokus untuk sembuh dulu,” kata Keenan akhirnya dengan suara serak.
Shakira tidak terlihat puas dengan jawaban itu. Tatapannya justru semakin tajam menelisik. Dan di dalam hatinya, sebuah firasat buruk mulai tumbuh perlahan. Firasat yang membuat dadanya terasa dingin.
Firasat bahwa ada sesuatu yang telah hilang dari hidupnya.
Sesuatu yang sangat berharga. Dan semua orang di ruangan itu sedang berusaha menyembunyikannya darinya.
***
“Kau mau ke mana?” tanya Nadya yang sudah melihat Mahesa rapi berpakaian.
Mahesa menoleh, ia lebih dulu menyemprotkan parfum sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Nadya. “Ke rumah sakit, menjenguk Shakira. Kau mau ikut? Jika kau mau ikut, cepatlah bersiap.”
Alih-alih menjawab suaminya, tatapan Nadya justru memicing, menelisik penampilan Mahesa yang rapi dan wangi. “Kau benar-benar ingin menemui Shakira?” tanyanya lagi, seolah tak puas dengan jawaban Mahesa tadi.
Mahesa menghela napas. “Iya, Nadya. Kenapa kau menatapku dengan curiga begitu? Jangan bilang kalau kau berpikir bahwa aku ingin mencari muka kepada Gayatri,” tebak Mahesa yang langsung membuat Nadya berkacak pinggang.
“Apakah salah jika aku mencurigaimu? Sebagai istrimu, tentu saja aku merasa cemburu!” sentaknya tak suka. “Dan lihat penampilanmu sekarang, kau tidak terlihat seperti ingin menjenguk Shakira, tetapi menarik perhatian mantan istrimu itu!”
“Nadya, cukup!” Mahesa tak kalah emosi. “Mau sampai kapan kita terus berdebat tentang hal ini? Aku dan Gayatri sudah bercerai, hubungan kita sudah selesai! Kami bahkan sudah melanjutkan hidup kami masing-masing. Kenapa kau suka sekali mengungkit masa lalu?”
“Aku tidak mengungkit masa lalu! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Mahesa! Bahwa sampai saat ini, kau masih saja perhatian terhadap mantan istrimu itu! Kau pikir aku tidak tahu? Huh?”
Mahesa mengacak rambutnya sendiri, merasa frustasi dengan perdebatan mereka yang terus berulang. “Terserah kau saja, yang jelas hari ini aku ingin menjenguk menantuku,” katanya sambil melenggang pergi sebelum emosinya naik ke puncak.
Nadya memanggilnya, tak terima ditinggalkan begitu saja, tetapi Mahesa tak lagi peduli, ia terus melangkah keluar.
kehancuran menantimu..