Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : KETENANGAN YANG DIBAWA DARI TANAH SUCI
...BAB 20...
...KETENANGAN YANG DIBAWA DARI TANAH SUCI...
Suasana ruang tengah masih tegang. Alina duduk menunduk, Farhan di sampingnya memegang bahunya erat, Bu Kirana menghela napas berulang kali. Dimas sudah berada di rumah ini sejak tiga hari lalu sebelum tanggal pernikahan Kakaknya berlangsung. Namun pernikahan mereka terpaksa ditunda karena masalah itu.
Sejak turun dari pesawat dari Madinah, tapi ia lebih banyak diam, mengamati, menemani Pak Aditya yang sering terbaring lemah di kamarnya. Malam ini barulah ia duduk di tengah mereka semua dengan wajah teduh dan tenang sekali.
“Maafkan Dimas ya, Bu, Kak Lin, Mas Farhan. Tiga hari ini Dimas banyak diam, jarang bicara soal masalah ini,” buka Dimas pelan, suaranya rendah dan menenangkan sekali. “Dimas cuma ingin mengamati dulu semuanya dari dekat, mendengar satu per satu cerita, sebelum akhirnya bicara.”
“Kami mengerti, Nak,” jawab Bu Kirana lembut sambil mengelus punggung anak kandungnya itu. “Ibu saja sampai sekarang masih sering bingung, mana benar mana bohong. Semuanya terlihat begitu nyata, tapi hati Ibu juga sering bilang tidak mungkin Alina berbuat begitu.”
“Dimas dengar semuanya, Bu. Dimas dengar bagaimana orang luar berbicara, bagaimana bukti‑bukti tertata rapi sekali seolah tidak ada celah, bagaimana ada yang sengaja kirim pesan‑pesan aneh buat adu domba. Tapi ada satu hal yang Dimas pelajari dalam‑dalam di Madinah, yang ternyata semua orang di sini lupa melihatnya.”
“Apa itu, Dim?” tanya Farhan condong ke depan, tertarik.
Dimas menatap mereka satu per satu dengan tenang.
“Bahwa sesuatu yang terlihat terlalu sempurna membuktikan kesalahan, justru di situlah letak kepalsuannya yang sebenarnya. Lihatlah, dalam waktu sangat singkat, tiba‑tiba semua bukti muncul serentak. Semuanya mengarah tepat hanya ke satu nama, Kak Alina. Tidak ada satu pun yang mengarah ke orang lain. Tidak ada satu pun celah, tidak ada satu pun keraguan di angka, di tanggal, di catatan. Bagi orang awam itu bukti kuat. Tapi bagi akal yang tenang… itu terlalu rapi. Terlalu diatur. Seolah‑olah memang sengaja disusun dari awal agar berakhir di satu titik saja.”
Alina mendongak mendadak, matanya berkaca‑kaca.
“Itu yang selalu Kakak rasakan, Dim! Tapi setiap kali Kakak omongkan begitu, semua orang bilang itu cuma alasan pembelaan diri saja.”
“Karena mereka melihat pakai mata yang sudah dipenuhi praduga, Kak. Bukan pakai hati yang jernih. Dimas juga dengar, orang bilang Kakak memanfaatkan kesalehan, memanfaatkan kebaikan Ibu sebagai ibu tiri, memanfaatkan kepercayaan semua orang. Tapi coba kita jawab dengan jujur kedalam hati masing‑masing. Selama belasan tahun ini Kak Alina ada di tengah‑tengah kita, apa ada satu hal buruk saja yang pernah Kakak perbuat secara nyata, yang bisa dilihat mata kepala sendiri? Bukan omongan orang, bukan kertas, bukan rekayasa data. Apa ada?”
Diam seketika memenuhi ruangan. Bu Kirana menggeleng perlahan sambil mengusap sudut matanya.
“Tidak ada, Nak. Selama ini Alina, anak yang paling sabar, paling menjaga diri, paling perhatian sama Papa yang sakit‑sakitan. Sampai‑sampai kalau dia terlambat makan saja, dia selalu minta maaf dulu.”
“Nah, itulah fakta sesungguhnya yang Tuhan titipkan buat kita, Bu. Fakta yang tidak bisa diubah oleh berkas apa pun di dunia ini. Seseorang yang menjaga hatinya siang malam belasan tahun, tidak mungkin tiba‑tiba berbalik 180 derajat melakukan semua kejahatan itu hanya dalam hitungan bulan, lalu meninggalkan jejak sedemikian rupa seolah dia ingin ketahuan. Itu tidak masuk akal sama sekali apalagi secara hati.”
“Tapi masalahnya, Dim… semua bukti tertulis ada di sana. Semua saksi bicara searah. Kami sudah berputar‑putar cari celah tapi selalu buntu,” keluh Farhan menghela napas panjang. “Sampai aku sempat berpikir, mungkin pelakunya benar‑benar orang yang terlalu cerdik sampai tidak menyisakan jejak sama sekali.”
Dimas tersenyum tipis, tenang sekali.
“Justru di situlah letak kesalahannya, Mas Farhan. Kita semua sibuk mencari jejak yang dia TINGGALKAN. Padahal orang yang terlalu cerdik, terlalu yakin dirinya tidak akan ketahuan, dia tidak lupa menghapus jejak. Dia lupa satu hal kecil, dia terlalu banyak berusaha terlihat tidak bersalah, terlalu banyak berusaha terlihat sempurna. Dan kesempurnaan yang dipaksakan, itulah celah aslinya.”
“Kamu curiga ada orang tertentu di balik semua ini, Dim?” tanya Alina pelan.
“Dimas tidak menuduh sembarangan orang, Kak. Dimas cuma bilang. Lihatlah siapa yang selama ini selalu ada di setiap momen. Siapa yang selalu muncul tepat saat ada masalah. Siapa yang namanya justru makin harum, makin dipuji, makin dianggap malaikat, tepat di saat nama Kakak sedang diinjak‑injak serendah‑rendahnya. Lihatlah siapa yang paling tahu hal‑hal kecil soal keluarga ini, soal kebiasaan Papa Aditya yang sakit, soal kebiasaan Kakak, hal‑hal yang seharusnya hanya keluarga saja yang tahu.” Dimas menatap mata kakaknya tegas.
Belum sempat ada yang menjawab, langkah terdengar dari arah teras. Arka berdiri di sana membawa kantong obat untuk Pak Aditya, wajahnya tampak begitu prihatin dan tulus.
“Maaf mengganggu. Saya dengar suara agak keras dari luar, jadi saya berhenti sebentar. Apa ada sesuatu?” tanyanya lembut, penuh perhatian.
Bu Kirana langsung mengangguk ramah. “Tidak apa‑apa, Arka. Cuma Dimas baru saja berbicara banyak hal, cara pandangnya dari Madinah sungguh membuka mata Ibu sekali.”
Arka tersenyum sopan, tapi di dalam dadanya berdebar kencang luar biasa. Sejak tadi dia mendengar SETIAP KATA utuh lewat alat sadap kecil yang selalu terselip di sakunya, benda yang sudah menemaninya lima tahun penuh mengawasi setiap detik hidup Alina. Ia kaget, sekaligus merinding. Dimas tidak menyebut namanya sama sekali, tapi setiap kalimat yang diucapkan adik tiri Alina itu, seolah‑olah ditujukan tepat mengarah lurus ke jantungnya. Ia sadar satu hal baru malam ini. Selama ini ia hanya takut pada bukti, pada jejak digital, pada saksi. Ia sama sekali tidak menduga, ketenangan dan cara pandang hati yang dibawa Dimas dari tanah suci, justru akan menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia hadapi.
“Benar sekali kata Dimas,” jawab Arka pelan sambil berusaha tetap tenang, senyumnya masih sempurna di bibir. “Kebaikan yang sesungguhnya tidak perlu diumbar, dan kebenaran pada akhirnya akan selalu muncul dengan sendirinya. Saya pun yakin sekali, pada waktunya nanti semua akan jelas duduk perkaranya.”
Setelah Arka pamit masuk menaruh obat ke kamar Pak Aditya, Farhan menatap Dimas tajam‑tajam.
“Kamu sengaja bicara begitu tadi, Dim? Padahal kamu tahu dia ada di luar mendengar?”
Dimas mengangguk pelan, sorot matanya tetap teduh namun dalam sekali.
“Biarkan saja dia dengar, Mas. Biarkan dia tahu, mulai malam ini, kita tidak lagi berjalan bingung di tempat. Mulai malam ini, kita sudah punya arah. Dan percayalah… orang yang berbuat salah, hatinya tidak akan pernah bisa setenang itu kalau dia tahu orang lain mulai melihat ke arah yang benar.”
“Terus apa langkah pertama kita sekarang, Dim?” tanya Alina menggenggam erat tangan adik tirinya itu. Tegang.
“Kita tenang dulu sepenuhnya, Kak. Marah, panik, takut — itu yang dia harapkan. Semakin kita kacau, semakin kuat posisinya. Mulai besok, kita tidak lagi sibuk membela diri mati‑matian. Kita mulai mengamati hal‑hal yang paling kecil, yang luput dari mata semua orang. Karena di sanalah, di hal yang dia anggap terlalu remeh untuk ditutupi, di situlah letak kebenaran yang akan menjatuhkan semuanya.”
Bu Kirana menghela napas panjang untuk pertama kalinya dalam berminggu‑minggu ini, napas yang terasa jauh lebih ringan dan lega. Sejak masalah ini meletus, baru malam ini ia merasakan ada ketenangan yang sungguh‑sungguh kembali masuk ke dalam rumah itu.
Bersambung....
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏