Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.
Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.
Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.
Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.
Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.
Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesetaraan
Malam semakin larut. Angin berembus pelan melewati halaman rumah. Yuda masih duduk di kursi kayu yang sama. Rokok keduanya kini sudah hampir habis. Bara kecil di ujungnya menyala redup setiap kali ia mengisapnya.
Namun sebenarnya ia tidak benar-benar menikmati rokok itu. Ia hanya butuh sesuatu untuk dilakukan… agar pikirannya tidak terlalu ramai.
Tangannya merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Layarnya menyala. Seperti refleks, jarinya membuka aplikasi yang belakangan ini terlalu sering ia buka.
Nama itu langsung muncul di bagian atas.
Nazwa.
Status yang diposting pagi tadi masih ada.
Video pendek itu kembali diputar yang berdurasi beberapa detik saja. Menampilkan Nazwa sedang duduk di bangku taman kampus. Rambutnya sesekali tertiup angin. Ia tertawa kecil pada seseorang dibalik kamera.
Tawa yang ringan dan tulus.
Yuda menatap layar itu dengan senyum tipis. Namun senyum itu terasa getir.
"Masih bisa ketawa ya…" gumamnya pelan.
Video itu selesai. Jarinya sempat melayang di kolom balasan status. Ia mengetik beberapa kata. Namun hanya dibiarkan tanpa tindakan lebih lanjut, membiarkan kursor masih berkedip pelan.
Akhirnya ia menghela napas.
"Buat apa juga?" gumamnya.
Dia masih memandangi nama kontak itu. Beberapa menit, ponsel perlahan meredup karena masih belum ada tindakan yang menyentuh layarnya. Dan akhirnya, memilih keluar dari status Nazwa.
Jarinya menggulir ke beranda chat.
Beberapa nama kontak dan percakapan grup kerja, tidak ada yang benar-benar ingin ia buka. Bahkan pesan masuk yang belum sempat ia baca pun, entah mengapa, tak membuatnya tertarik untuk segera membalasnya.
Beberapa detik kemudian jarinya berhenti di kolom status miliknya sendiri.
Ia mulai mengetik meski jemarinya kaku.
Jika Tuhan tak mengizinkan kita bersama, mengapa Dia menanamkan perasaan ini ke dalam sukma?
Ia membaca ulang sekali. Tidak mengubah apa pun. Setidaknya... hanya itu yang bisa membuat hatinya sedikit lega.
Ia mempostingnya. Status itu langsung terunggah. Beberapa nama kontak sempat tertera di layar sebagai tanda bahwa mereka sudah melihat isi hatinya.
Tapi ia tak peduli. Yuda kemudian menguncinya, dan ia letakkan di sampingnya.
Ia kembali bersandar. Menatap langit malam yang penuh bintang. Mendengarkan nyanyian jangkrik yang menggema.
Ia mengisap rokoknya lagi. Menghembuskan asap panjang. Namun rasa sesak di dadanya tidak ikut keluar.
Tiba-tiba—
Kriett...
Suara pintu rumah terbuka. Membuat pandangannya tertuju kesana. Bayangan kecil keluar dari dalam rumah. Langkahnya pelan menuju teras. Begitu sadar siapa yang datang, Yuda buru-buru menjauhkan rokoknya.
Gerakan refleks. Seperti biasanya.
Namun gadis kecil itu berhenti dan mengintip dari sebalik daun pintu. Suaranya terdengar tenang. Bahasanya masih terlalu rapi untuk anak seusianya.
"Kakak tidak perlu menyembunyikan rokok itu setiap kali aku datang." ucapnya datar.
"Aku sudah memahami bahwa kebiasaan itu merupakan bagian dari mekanisme koping yang Kakak gunakan ketika sedang berada dalam tekanan emosional."
Yuda menoleh.
Berkedip.
"Hah?"
Ia menatap adiknya. Yuna berdiri di sana dengan ekspresi tenang. Lalu melanjutkan dengan nada yang sama.
"Secara sederhana, rokok itu hanya alat bantu sementara untuk menenangkan pikiran Kakak."
Yuda menggaruk tengkuknya.
"Oh…"
Yuna berjalan mendekat. Lalu duduk di kursi di sebelahnya. Matanya menatap halaman depan.
"Kakak terlihat seperti sedang memikirkan seseorang."
Yuda langsung menoleh. Alisnya naik sedikit.
"Lho?"
Ia tertawa kecil.
"Kok bisa sampai situ?"
Yuna masih menatap lurus ke depan. Nada bicaranya tetap tenang.
"Karena pola perilaku Kakak berubah."
Yuda mengerjap lagi.
"Pola… apa?"
Yuna akhirnya menoleh sedikit.
"Frekuensi merokok Kakak meningkat sekitar dua kali lipat dibandingkan biasanya."
Yuda memandang rokok di tangannya.
Lalu kembali ke Yuna.
"Serius kamu ngitungin?"
Yuna mengangguk kecil.
"Lalu ekspresi wajah Kakak sejak pulang tadi menunjukkan indikasi kontemplasi emosional."
Yuda menatap puntung rokok yang hampir habis di jemarinya. Bara kecilnya masih menyala samar.
Ia menunduk. Lalu menjepit puntung rokok itu ke dalam asbak di meja kecil sebelah kursi.
Crek.
Bara merah itu padam.
Yuda mendorong asbak sedikit menjauh seperti kebiasaan lama. Ia selalu berusaha tidak merokok terlalu dekat dengan adiknya.
Yuna duduk di sebelahnya dengan tenang. Kakinya yang masih kecil bahkan tidak sepenuhnya menyentuh lantai. Namun cara duduknya… terlalu tegak untuk anak sepuluh tahun.
Punggung lurus. Tatapan stabil. Matanya menatap halaman depan yang gelap. Yuna memang selalu seperti itu.
Sejak kecil, pikirannya seakan melampaui usianya. Cara berbicaranya seperti orang yang sudah membaca terlalu banyak buku.
Kadang seperti dosen.
Kadang seperti peneliti.
Kadang malah seperti psikolog.
Namun bagi Yuda… semua itu tidak terasa aneh.
Bagaimanapun juga... Yuna tetap Yuna.
Adik kecilnya.
Anak kelas empat SD yang masih suka makan permen diam-diam di dapur. Dan masih suka memanggilnya saat takut petir.
Beberapa detik mereka sama-sama diam. Hanya suara angin malam dan jangkrik yang terdengar.
"Yun…"
Yuna menoleh sedikit.
"Hm?"
Yuda terdiam sebentar untuk mencari kata-kata. Jarang sekali ia bercerita pada orang lain. Namun entah kenapa… berbicara dengan Yuna selalu terasa lebih mudah. Mungkin karena gadis kecil itu tidak pernah menghakimi.
Akhirnya Yuda berkata pelan,
"Menurutmu…" ia berhenti sebentar. "Gimana caranya…"
Ia menarik napas kecil.
"Biar kita bisa ngerasa pantas dan setara sama seseorang?"
Yuna mengerutkan alisnya sedikit.
Malam terasa sedikit lebih sunyi setelah pertanyaan itu.
Yuna tidak langsung menjawab. Ia menatap kakaknya beberapa detik.
Lalu Yuna memalingkan pandangannya ke depan lagi.
"Pertanyaan Kakak memiliki dua kemungkinan makna."
Yuda langsung menghela napas.
"M-maksudnya?" gumamnya pelan.
"Kemungkinan pertama: Kakak merasa tidak pantas karena membandingkan diri dengan orang tersebut."
Ia berhenti sebentar.
"Kemungkinan kedua: Kakak merasa tidak setara karena menganggap orang itu berada di tingkat yang lebih tinggi."
Yuda menggaruk tengkuknya.
"Eh— oke?" jawabnya sembari mencerna kata-katanya.
"Kalau begitu, jawabannya sebenarnya cukup sederhana."
Yuna berkata tenang,
"Kakak tidak perlu menjadi setara."
Yuda tertegun atas jawaban adiknya itu. Tapi, dari segi tata bahasanya, Yuna tak sekedar berbicara kosong.
"Dalam relasi antarmanusia, konsep ‘setara’ sering kali disalahartikan. Bukan dari kesetaraan posisi, melainkan dari kesetaraan nilai."
Yuna menatap kakaknya dengan senyum hangat kali ini.
Yuda balik menatapnya.
Kosong beberapa detik. Lalu Yuna mengalihkan pandangannya kembali ke halaman depan rumahnya.
"Kakak tidak harus jadi seperti dia kok. Cukup jadi seseorang yang punya nilai untuk dirinya sendiri."
Angin malam berhembus lagi.
Entah kenapa, pernyataan Yuna yang sangat rasional itu, membuat hatinya sedikit lega.
Yuna tersenyum hangat melihat ekspresi kakaknya yang sedikit berubah. Lalu ia menggeser tubuhnya dan menyandarkan kepala kecilnya ke lengan kiri kakaknya.
Yuda menerimanya. Kemudian memeluk kepala adiknya dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Yuna merasakan detak jantung kakaknya perlahan stabil. Lalu berkata dengan suara pelan yang menenangkan.
"Kamu tahu gak kak? Kalau perasaan kakak ini seperti perasaan saat pertempuran Thermopylae."
Yuda menoleh cepat.
"Maksudnya, Yun?"
"Pada saat itu Persia menyerang Yunani dengan pasukan yang sangat besar. Sedangkan Sparta hanya memiliki sekitar tiga ratus prajurit yang dipimpin oleh Raja Leonidas."
"Loh? Aku gak mau ke Yunani, Yun? Rumahnya Mbak Nazwa bahkan tinggal nyebrang kecamatan," sanggahnya sembari menatap adiknya yang tiba-tiba ngelantur.
"Raja Leonidas tak berusaha membalas penyerangan itu dengan menyaingi jumlah pasukan yang sama. Ia tak perlu," Yuna melanjutkan.
"Tetapi Raja Leonidas hanya percaya kekuatan yang ia miliki saat itu. Percaya bahwa dirinya mampu, meskipun tahu fakta bahwa perbedaan jumlah mereka sangatlah jauh," terangnya sembari pandangannya sesekali mengikuti motor yang melintas.
"J-jadi?" Yuda tak bisa berkata-kata lagi.
"Jika tidak bisa menyaingi satu hal, saingi dengan hal lain. Sesuatu yang Kakak pikir bisa, untuk menang bersanding dengannya." Kepalanya mendongak, dan memberikan senyum penuh nasehat bagaikan orang bijak yang memberikan petuah kepada muridnya.
"Eh—Anu, Yun. Itu masih bersangkutan sama perasaan Kakak, kan ya?"
"Aku hanya memberikan contoh sejarah yang relevan dengan kasusmu sekarang, Kak."
Yuda menatap langit.
"Ya Tuhan…"
Yuna melanjutkan dengan tenang,
"Jika Kakak merasa tidak setara dengan seseorang, bukan berarti Kakak harus mundur. Kakak hanya perlu memiliki keunggulan lain."
Beberapa detik hening.
Yuda memandang ke depan dengan tatapan kosong.
Bukan karena teman lelaki Nazwa tadi. Sekarang justru ia merasa kalah… oleh ceramah adiknya sendiri.
Ia akhirnya menghela napas panjang. Tangannya naik mengelus rambut Yuna pelan.
"Ehm… makasih ya, Yun. Udah dengerin kakak curhat dan nasehatnya," katanya sambil tersenyum tipis.
"Keknya kamu harus tidur deh."
Yuna menatapnya beberapa detik.
"Baiklah, Kak," katanya santai.
Ia berjalan cepat menuju pintu, lalu berhenti sebentar.
"Dan juga… Kakak jangan sampai menyerah hanya karena hal sepele."
Ia menoleh.
"Karena Raja Leonidas bahkan tetap optimis dengan kekuatan tempurnya."
Yuda mengangguk cepat.
"O-oke deh," katanya sambil mencoba mengingat nama itu.
"Aku akan mengikuti cara Raja Leominas itu."
Yuna akhirnya masuk kembali ke rumah. Sementara Yuda masih duduk di teras.
Ia kembali menatap langit. Lalu menghela napas panjang.
"Bukannya lega, malah bikin tambah galau," gerutunya setelah memastikan bahwa Yuna benar-benar masuk ke dalam kamarnya.