Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Sena, I love you.
“Istirahat saja, kau pasti capek,” ucap Sena sambil mengangkat tas berukuran sedang yang berisi baju-baju kotor Aruni.
Setelah meeting, Sena langsung pulang ke Rumah Sakit, menyelesaikan administrasi setelah itu memboyong Aruni pulang. Awalnya Aruni menolak diantar Sena. Dia merasa tak enak hati karena Sena pasti sangat repot, harus mengurus pekerjaan ditambah mengurus dirinya di Rumah Sakit. Tak ada di angan-agan Aruni dia bakal merepotkan suaminya sampai seperti ini. Dia pikir, Sena bakal cuek dan tak peduli pada Aruni yang sakit, mentok paling bayarin biaya rumah sakit, tapi nggak bakal mengurusnya seperti ini. Tapi ternyata Sena -biarpun terlihat dingin, dia selalu memperhatikan Aruni dan semua kebutuhannya. Sena tak terlihat keberatan, dia tak mengeluh, bahkan menghela tanda dia lelah tidak dia lakukan. Aruni jadi merasa sedikit lega dan senang –tentu saja.
“Aku kan sudah seharian istirahat di Rumah Sakit, capek.” Aruni memandang jam dinding, “Eh sudah jam lima, sebentar lagi makan malam, aku buatkan makan, ya?” tawar Aruni, dia berjalan cepat menuju dapur ingin memasak untuk sang suami.
Sena memicing, “kau itu baru sembuh! Bagaimana mungkin mau masak!” ketusnya kesal sambil mengikuti Aruni dari belakang.
“Tapi aku bosan, Mas…” rengek Aruni. Astaga! Aruni sendiri kaget, kenapa dia berani merengek manja begini pada Sena. Apakah dia sudah merasa terlalu nyaman sampai berani merengek?
Sena memutar bola matanya, “jangan macam-macam Aruni! Aku nggak mau kau sakit lagi, dan membuatku bolak balik ke Rumah Sakit! Melelahkan, tau!”
Aruni terdiam, dia menunduk, “iya, Mas. Maaf…” desis Aruni.
Sena menghela panjang, “Kamu mau makan malam apa? Biar kubuatkan!” Sena menarikcelemek, dan mencuci tangannya di wastafel.
“Mas Sena bisa masak?” pekik Aruni takjub. Bagimana tidak takjub, Sena sudah ganteng, badannya bagus, kaya, pengusaha sukses, bisa masak lagi! Sempurna sekali, kan?
“Bisa kalau yang simple-simple. Kamu mau pasta?” Sena menunjukkan sebungkus pasta pada Aruni yang baru saja diambil dari lemari penympanan.
“Boleh juga!’ seru Aruni senang. Dia langsung duduk di dekat meja bar dan menghadap langsung ke dapur. Dari sini Aruni bisa melihat punggung kokoh dan kekar itu. Mas Sena memang tak terlalu berotot seperti atlet binaraga, tapi tubuhnya sangat sempurna, pas untuk di peluk dan dijadikan sandaran hidup. Haiss!
Aruni terkekeh lirih sambil menutup wajahnya –malu sendiri dengan hayalannya. Dia jadi teringat ucapan Vivi untuk menggoda Sena.
“Pakai saja baju-baju seksi saat dirumah. Jangan pakai dalaman biar dia bisa melihat betapa seksinya kamu, Runi! Aku yakin kalau dia lelaki tulen, dia pasti tergoda.
Aruni melipat bibirnya ke dalam, ‘baiklah… malam ini aku mau mencobanya.’ Batinnya.
Aruni mengambil ponselnya lalu mengetik sebuah pesan untuk Vivi.
“Aku sudah memutuskan. Aku akan melakukannya. Aku ingin mendapatkan hati Mas Sena. Apapun akan aku lakukan. ‘
Tak menunggu waktu lama, Vivi langsung membalas pesan dari Aruni.
‘Bagus! Aku dukung. Kalau perlu sampai punya anak, jadi dia nggak akan tega ninggalin kamu, meskipun kakak angkatmu ngajak dia balikan lagi nanti!’
Aruni terdiam setelah membaca pesan dari Vivi. Ya, kemarin dia sudah menceritakan semuanya pada sahabatnya itu. Cerita bahwa dia sudah dua tahun memendam perasan pada Sena, dan cerita ketika Bianca meninggalkannya di hari pernikahan lalu Aruni-lah yang menggantikan posisinya.
Vivi sempoat kaget dan tak percaya, namun setelahnya dia langsung berusaha mendukung Aruni untuk mendapatkan hati sang suami.
“WA dari Vivi?”
Suara berat dan datar dari Sena, sontak membuat Aruni terkejut. Dia bahkan hampir saja menjatuhkan ponselnya.
“I-iya…” jawab Aruni –gugup, lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celana –menyembunyikannya.
Sena mengangguk, meletakkan beberapa makanan yang sudah selesai dia buat di atas meja bar –tepat di depan Aruni. Dan tentu saja Aruni terkejut dibuatnya. Di depannya tersaji sepiring spaghetti Bolognese, dua potong garlic bread yang masih panas, semangkuk salad bersisi potongan alpukat, tomat ceri dan mentimun, dan segelas air putih.
“Mas? Yang buat ini semua?” kagetnya.
Sena mengangkat kedua bahunya, “memangnya ada siapa lagi di sini?” ucapnya cuek. Dia kembali ke wastafel, meletakkan spatula kotor di sana, lalu kembali lagi ke tempat Aruni.
Sena berdiri di sebelah Aruni –menyangga satu sikunya di atas meja bar dan memperhatikan sang istri. “makan.”
“I-iya…” Spagetti adalah pilihan pertama Aruni, dia memakannya dan menatap sang suami dengan mata terbelalak –tak percaya.
“Enak?’
“Banget…” pekik Aruni senang. Dia mengambil garlic bread, lalu meletakkan spageti di atasnya dan melahapnya bersamaan. Aruni menggerak-gerakkan tubuhnya sambil makan –kebiasaannya kalau sedang menikmati makanan enak. Dan tentu saja membuat Sena menahan senyum.
“Kalau kamu mau pergi ke pesta dan nggak ada gaun, pergilah beli apa yang kamu suka.” Sena mengambil dompet yang ada di saku celana, membukanya lalu mengeluarkan sebuah kartu kredit dan meletakkannya di atas meja. Menggesernya agar mendekati Aruni.
Aruni terdiam menatap kartu berwarna keemasan itu. “Apa itu, Mas?”
“Kartu buat belanja. Pergilah belanja dengan Vivi.” Sena beranjak dari tempatnya semula, lalu mengambil piring-piring kosong yang ada di depan Aruni.
“Tapi aku sudah punya gaun kok...”
Sena menoleh, menaikkan satu alisnya seolah bertanya ‘benarkah?’
“Aku beneran punya mas, dulu pernah dikasih kak Bianca. Memang si bekas dia, tapi masih bagus banget. Katanya baru dipakai satu kali-“
“Beli saja Aruni!” ucap Sena dengan sedikit memaksa. “Apa kamu nggak kapok pakai baju Bianca? Mau melorot lagi?!”
Aruni yang awalnya ingin bicara –langsung kicep.
“Belilah baju yang cocok untukmu. Yang sesuai dengan seleramu, yang pas di badanmu! Jangan pakai bekas Bianca atau siapapun!”
Aruni terdiam, matanya berkaca-kaca menatap suaminya yang terlihat kesal tapi mempesona.
‘Yang penting-“
“Yang penting apa mas?”
“Jangan pakai gaun yang terlalu seksi! Kamu itu masih kuliah! Nggak pantas pakai gaun-gaun seksi!” Sena langsung membalik badan dan menyibukkan dirinya di wastafel.
Aruni tersenyum, “makasih mas Sena…”
“I love you…” lanjutnya dalam hati.
pantes kalo malem suka kluyuran 🤭🤣🤣🤣
tak tunggu bgt ms brot bucin akut sama runi kk tam
emang mas brot ngeri juga vi kalo mode posesip .....
sampe ngaku kalo do'i jelose kalo perlu🤭🤣🤣🤣
kayake adit sama vivi satu frekuensi dah kk
..... asbun 🤭🤣🤣🤣🤣
kpn lagi numpak mobil mahal .......
trik mu emang siiip lah...👍
dalam benak mas broot ....
mbok yo kira kira lah vi . mosok macak cantik . mbahenol secara lo kan milih dress merah menyala ada belahanya dandan cetar membahana kok naik motor awut awutan loh nanti pas turun 🤭
padamu
bnyak tiponya
berasa godaan setan yang terkutuk itu run 🤭🤣🤣🤣
ternyata diam " jutek" ada rasa yang mulai menjalar tumbuh di hati mas brot..... gass lah mas brot runi kan hallal🤭
mungkikah.. mas brot jatuh cinta dgn runi ....?????
kk tam iki pie .......?
🤭🤭