NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JERAT KEBOHONGAN DAN GERBANG PEMBALASAN

​Pukul tiga dini hari, atmosfer di dalam The Velvet Rose perlahan meredup seiring dengan kepulangan para tamu yang telah menghabiskan malam mereka dalam pelukan alkohol dan delusi kemewahan. Di sudut sofa bilik yang remang-remang, Adrian akhirnya tertidur dengan kepala bersandar lemas pada sandaran beludru. Napasnya teratur namun berat, berbau wiski murahan yang sengaja Kirana pesankan terus-menerus untuk melumpuhkan kesadarannya.

​Kirana perlahan menggeser tubuhnya, melepaskan diri dari rangkulan tangan Adrian yang telah melonggar. Ia berdiri dengan anggun, merapikan gaun hijau zamrudnya yang sedikit kusut di bagian lengan. Selama beberapa detik, ia berdiri mematung, menatap wajah Adrian yang tampak begitu polos dalam tidurnya. Pemuda ini tidak jahat secara langsung kepada keluarganya, namun kesombongan, kenaifan, dan fakta bahwa ia adalah putra dari seorang pejabat korup telah menjadikannya pion paling sempurna dalam papan catur pembalasan dendam Kirana.

​“Maafkan aku, Mas Adrian,” bisik Kirana di dalam hatinya, sebuah bisikan yang sama sekali tidak mengandung rasa bersalah, melainkan ketetapan hati yang kian membeku. “Cinta yang kamu rasakan malam ini adalah jerat yang sengaja kupasang untuk menyeret ayahmu dan Juragan Jaya masuk ke dalam neraka yang sama.”

​Kirana mengambil tas kecilnya dari atas meja marmer, lalu melangkah meninggalkan bilik tersebut tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya terasa begitu ringan saat menaiki tangga menuju lantai tiga. Topeng rapuh dan penuh kekaguman yang ia kenakan di depan Adrian beberapa jam lalu kini telah sepenuhnya tanggal, menyisakan tatapan mata yang sedingin es dan fokus yang tajam.

​Di koridor lantai tiga, Mbak Lastri rupanya belum tidur. Wanita itu sedang berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke arah jalanan Distrik Amethyst yang masih basah oleh sisa gerimis. Begitu mendengar suara langkah kaki Kirana, Lastri segera berbalik dan mendekat.

​"Kamu baru kembali, Rana? Bagaimana dengan Adrian?" tanya Lastri dengan suara rendah, penuh kecemasan.

​"Dia sudah tidur di bawah, Mbak. Besok pagi pelayan bar yang akan membangunkannya," jawab Kirana datar sembari membuka pintu kamar 303 dan mempersilakan Lastri masuk.

​Setelah pintu ditutup rapat dan dikunci, Kirana langsung berjalan menuju meja riasnya. Ia tidak menanggalkan gaunnya terlebih dahulu, melainkan langsung mengambil buku catatan kecil dari bawah tumpukan pakaian kurungnya di lemari. Ia duduk dan mulai menuliskan beberapa poin krusial yang ia dapatkan dari mulut Adrian semalam.

​Lastri berjalan mendekat, memperhatikan jemari Kirana yang bergerak cepat di atas kertas. "Dari wajahmu, sepertinya pemuda bodoh itu menceritakan semua hal yang kamu butuhkan."

​"Lebih dari yang saya bayangkan, Mbak," Kirana mendongak, sepasang matanya berkilat tajam di bawah temaram lampu kamar. "Jerat kebohongan saya malam ini berhasil membuka gerbang yang selama ini tertutup rapat. Kasus Juragan Jaya dan aliansinya ternyata jauh lebih busuk di dalam dibandingkan penampakan luarnya."

​Kirana menjelaskan dengan suara yang teratur namun sarat akan ketegasan. "Transaksi lima milyar rupiah itu ditunda hingga bulan depan karena ayah Adrian memperlambat proses perizinan. Dia sengaja memeras Juragan Jaya untuk menyerahkan aset tambahan sebagai jaminan pribadi. Dan yang paling penting... semua dokumen asli perizinan proyek pergudangan haram di Distrik Utara beserta berkas pemutihan pajaknya tidak disimpan di kantor dinas perpajakan."

​"Lalu di mana?" Lastri menyela dengan dahi berkerut.

​"Di dalam brankas ruang kerja rumah pribadi Kepala Dinas," bisik Kirana, menekankan setiap kata. "Mereka menyembunyikannya di sana agar tidak bisa diendus oleh inspektorat atau pemeriksaan hukum biasa. Rumah itu adalah benteng mereka, dan Adrian baru saja memberikan kuncinya kepada saya."

​Lastri tersentak mundur, tangannya secara refleks memegang pinggiran ranjang. "Rumah pribadi Kepala Dinas? Kirana, itu gila! Itu bukan lagi sekadar menguping pembicaraan di dalam kelab. Kamu berniat menyusup ke rumah seorang pejabat tinggi distrik? Penjagaan di sana pasti sangat ketat!"

​"Saya tidak perlu menyusup seperti pencuri, Mbak," Kirana menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin, senyuman seorang ahli strategi yang tahu persis kelemahan musuhnya. "Adrian sendiri yang akan membawa saya masuk lewat pintu depan sebagai wanita yang dicintainya. Pemuda itu sudah sepenuhnya percaya bahwa saya mengkhawatirkan keselamatan keluarganya. Dia merasa menjadi pahlawan yang harus melindungi saya dari Juragan Jaya."

​Kirana berdiri, berjalan mendekati jendela kamar dan menatap kegelapan malam Kota Valerion. "Dengan tertundanya transaksi ini hingga bulan depan, proses penghancuran Juragan Jaya akan berjalan sedikit lebih lambat, namun jauh lebih alami dan mematikan. Saya memiliki waktu satu bulan penuh untuk masuk ke dalam rumah pribadi itu, menemukan kombinasi brankasnya melalui Adrian, dan mengambil semua dokumen yang diperlukan."

​Lastri menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Kirana dengan pandangan yang campur aduk antara keriangan yang tertahan karena melihat harapan keadilan dan kengerian yang amat dalam pada transformasi gadis di depannya. Kirana yang dahulu datang dengan air mata ketakutan akibat cambukan Tuan Robert, kini telah menjelma menjadi seorang wanita yang mampu merancang konspirasi tingkat tinggi menggunakan asmara palsu sebagai senjatanya.

​"Tapi Rana, jika Juragan Jaya tahu bahwa perizinannya diperlambat karena ulah ayah Adrian, apakah dia tidak akan curiga?" tanya Lastri mencoba mencari celah dalam rencana tersebut.

​"Juragan Jaya adalah orang yang serakah sekaligus penakut jika berhadapan dengan kekuasaan kota," jelas Kirana dengan analisis yang tajam. "Di desa dia bisa bertingkah seperti raja, tapi di Valerion, dia tahu dirinya bukan siapa-siapa tanpa stempel tangan ayah Adrian. Dia akan melakukan apa saja, termasuk menjual sisa aset pabrik gilingan padinya di desa, demi mengumpulkan uang tunai tambahan yang diminta. Dan di saat dia mengira kesepakatan itu akan selesai bulan depan, di situlah saya akan menjatuhkan seluruh dunianya."

​Keesokan harinya, siang hari yang terik membakar Distrik Amethyst. Di dalam aula bawah The Velvet Rose yang sepi karena kelab baru akan dibuka malam hari, Adrian terbangun dengan kepala yang berdenyut pening akibat sisa alkohol semalam. Ia memijat pelipisnya, mencoba mengingat apa yang terjadi.

​Saat matanya mulai terbiasa dengan cahaya ruangan, ia melihat sebuah gelas berisi air hangat dan selembar kertas kecil tergeletak di atas meja kaca di depannya. Adrian mengambil kertas tersebut. Di atasnya, tertulis sebaris kalimat dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan indah:

​“Terima kasih untuk malam ini, Mas Adrian. Maaf saya harus kembali ke kamar lebih cepat karena Mami mencari saya. Jaga kesehatan Mas, jangan terlalu banyak minum wiski lagi. Saya selalu mendoakan keselamatan Mas dan keluarga dari jauh. - Kirana”

​Membaca surat pendek itu, rasa pening di kepala Adrian seketika lenyap, digantikan oleh kehangatan yang menjalar di dadanya. Sebuah senyuman lebar mengembang di wajah kuyu pemuda itu. Di dunia malam Valerion yang penuh dengan kepalsuan, ia merasa telah menemukan satu-satunya mawar yang benar-benar peduli pada dirinya secara tulus. Ia melipat kertas itu dengan sangat hati-hati, menyimpannya di dalam saku kemejanya tepat di atas jantungnya.

​Adrian berdiri dengan penuh semangat. Di dalam kepalanya, sebuah tekad kekanak-kanakan mulai terbentuk: ia harus segera membawa Kirana keluar dari tempat jahanam ini, menjadikannya miliknya seutuhnya, dan membuktikan kepada gadis itu bahwa dirinya adalah pria kuat yang mampu melindunginya dari ancaman orang-orang seperti Juragan Jaya.

​Sementara itu, di kamar 303, Kirana sedang berdiri di depan lemari pakaian, menatap baju kurung usang miliknya yang masih menyimpan aroma tanah kering pedesaan. Ia mengusap kain kasar itu dengan ujung jemarinya, membiarkan ingatan tentang mendiang bapaknya kembali menguatkan jiwanya yang kini kian mengeras.

​"Kasus ini berjalan melambat, Bapak..." bisik Kirana dengan suara yang rendah namun bergetar penuh tekad. "Tapi ini justru membuat jalannya pembalasan dendam menjadi lebih sempurna. Juragan Jaya tidak akan hanya kehilangan uangnya di kota ini; dia akan kehilangan seluruh kehormatan, pabrik penggilingan padi, dan kebebasannya."

​Kirana tahu, dengan memanfaatkan Adrian, ia telah membuka gerbang pembalasan dendam yang paling lebar. Satu bulan ke depan akan menjadi permainan psikologis yang sangat melelahkan, di mana ia harus terus bersandiwara mengucapkan kata-kata cinta palsu kepada pria yang sebenarnya tidak ia pedulikan. Namun bagi Kirana, harga diri dan kenyamanan emosionalnya telah habis terbakar di malam pertamanya di kelab ini. Yang tersisa di dalam dirinya hanyalah mawar yang penuh dengan duri beracun, siap mencabik-cabik siapa saja yang telah menghancurkan hidup keluarganya.

​Roda takdir di Kota Valerion kini bergerak sesuai dengan ritme yang Kirana kendalikan, mengarah perlahan namun pasti menuju malam eksekusi di bulan depan yang akan meruntuhkan seluruh aliansi keserakahan tersebut hingga tak bersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!