Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Kakak Ipar
Pagi ini seperti biasa Intan pergi ke sekolah untuk mengantar Arkan. Karena kebetulan Intan ketemu dengan Tantri, Intan tidak langsung pulang, melainkan duduk di depan kantin sekolah sambil ngobrol santai. Tak lama kemudian salah satu ibu- ibu wali murid yang anaknya sekelas dengan Arkan datang ke kantin membelikan snack untuk anaknya.
"Eh, ada mama Arkan, mama Arkan itu menantunya umi Fatimah bukan sih...?'' tanya ibu dari Bila.
"Iya mama Bila... Mama Bila kenal sama ibu mertua saya...?'' sahut Intan.
"Ya cuma kenal sekilas aja sih, nggak kenal- kenal banget, dia kan tetangganya adik ipar saya..." jawab mama Bila.
"Ohw..." sahut Intan.
"Memangnya, mertuanya mama Arkan anaknya ada berapa sih...?'' tanya mama Bila.
Intan pun menjawab bahwa ibu mertuanya punya tiga anak yaitu Dirga, Aldy dan si bungsu Wulan. Intan juga memberitahu para menantu umi Fatimah, yaitu Inggit, Intan sendiri dan suami Wulan yaitu Baskara.
"Lha terus, perempuan yang saya lihat kemarin di rumah ibu mertuamu siapa ya...? Kirain dia menantunya juga...?'' tanya mama Bila.
"Perempuan yang mana...?'' sahut Intan.
"Itu lho yang kulitnya sawo matang, manis sih mukanya, dia pakai kaca mata. Kalau dilihat dari penampilannya sih sepertinya dia kayak pekerja kantoran. Tapi nggak tahu juga deh..." jawab mama Bila.
"Siapa ya...?'' sahut Intan.
"Saudara kali...?'' celetuk Tantri.
Intan diam beberapa saat untuk mengingat- ingat apakah ada salah satu saudara Aldy yang ciri- cirinya disebutkan oleh mama Bila. Intan
Kemudian mama Bila menceritakan pada Intan kalau dia pernah main ke rumah adik iparnya beberapa kali. Dan dia selalu melihat perempuan itu di rumah umi Fatimah.
"Atau mungkin dia temannya Wulan kali Intan..." sahut Tantri. Namun Intan diam.
"Oh iya kali, itu teman kantornya adik ipar mama Arkan. Kirain menantunya, soalnya saya lihat dia akrab banget sama mertua kamu. Apa lagi anak-anaknya nempel banget tuh sama umi Fatimah..." ucap mama Bila kemudian dia pamit untuk kembali ke kelas Bila untuk memberikan snack.
"Intan... Kamu kenapa...? Kok bengong...? '' tanya Tantri karena melihat Intan yang diam.
"Ah nggak kok..." jawab Intan.
"Pulang yuk. Aku belum nyuci..." ucap Intan.
"Yuk..."
Mereka berdua pun kembali ke rumah, dengan sepeda motor mereka masing- masing.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
"Intan.. '' Tantri memanggil Intan di depan pintu pagar rumah Intan.
Tak lama Intan pun keluar dari dalam rumah dengan pakaian rapi khas orang yang mau kondangan.
Iya, mereka berdua akan menghadiri pesta pernikahan ke salah satu tetangga.
"Cantik amat kamu Intan, awas lho nanti ada yang naksir..." ucap Tantri.
"Ih kamu ini..." Intan memukul pelan lengan sahabatnya.
"Eh tapi bener lho Intan, kamu tuh cakep banget, hati- hati lho, kamu kan jarang banget tuh kelihatan bareng sama suamimu. Awas lho nanti dikira kamu janda, trus ditembak sama duda..." sambung Tantri lalu tertawa.
"Ih ngawur kamu... Memangnya mukaku ini seperti muka janda, gitu...?" sahut Intan pura- pura cemberut.
"Iya kayak janda... Janda kembang... Kembang duren..." jawab Tantri kembali tertawa.
"Iiiiihhh... Enak aja kamu ini..." kali ini Intan mencubit lengan Tantri yang terus meledeknya.
"Tapi aku ini emang nggak jauh beda sama janda kok Tan..." ucap Intan dengan muka sedih.
"Ehhh... Intan...jangan diambil hati dong, aku kan cuma bercanda ... Kamu tahu aku suka becanda kan... Jangan marah dong..." Tantri panik karena takut Intan marah padanya.
"Nggak... Aku nggak marah kok. Tapi apa yang kamu tadi omongin itu benar, aku memang seperti janda. Setiap hari aku cuma berdua aja sama Arkan, suami jarang di rumah. Sekalinya di rumah cuma sebentar, dan selalu saja bertengkar. Bahkan sudah hampir lima bulan ini mas Aldy nggak pernah nyentuh aku..." ucap Intan.
Tantri menghela nafas sambil menatap iba pada Intan.
"Udah Intan... kamu jangan sedih, kita berangkat saja yuk... Siapa tahu nanti di tempat kondangan ada cowok ganteng yang bisa kita lihatin. Lumayan buat cuci mata..." ucap Tantri sambil menuntun tangan Intan menuju sepeda motor miliknya.
Iya, kali ini Intan tidak membawa motor sendiri. Dia akan membonceng pada Tantri.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Sampailah mereka berdua di sebuah pesta pernikahan yang cukup mewah. Setelah menyalami ke dua mempelai dan orang tuanya, Intan dan Tantri menuju ke meja prasmanan untuk mengambil makanan yang disuguhkan untuk para tamu undangan. Kemudian mereka mencari bangku untuk duduk dan makan.
"Enak ya Intan, makanannya..." ucap Tantri sambil menyuap makanan ke dalam mulut.
Intan pun mengangguk. Iya, makanannya memang enak- enak, pelaminannya pun megah.Maklumlah orang kaya yang hajatan, jadi semua serba diperhitungkan dan dipersiapkan dengan sebaik mungkin agar tidak mengecewakan para tamu undangan.
"Tantri, dulu waktu kamu nikah, pestanya kayak gini juga nggak...?'' tanya Intan pada sahabatnya sambil menyantap hidangannya.
"Ya ada sih pesta, tapi sederhana. Kalau dibanding sama ini sih antara bumi dan langit. Maklumlah, orang tuaku kan bukan orang kaya, lagi pula waktu itu kan pekerjaan mas Yogi masih belum seperti sekarang. Dari pada uangnya habis buat pesta mewah, mending buat hal yang lain yang lebih penting...'' jawab Tantri.
"Ya tapi alhamdulillah Tantri orang tua kamu masih mau membuat pesta pernikahan untukmu dan mas Yogi. Sedangkan aku dua kali menikah nggak ada pesta apapun...." sahut Intan merasa miris dengan kedua pernikahan yang dia jalani.
"Lho, jadi waktu kamu menikah sama suami pertamamu, nggak dipestain...?'' tanya Tantri.
Intan menghela nafas. Lalu Intan menceritakan pada Tantri bahwa sang ibu yaitu bu Yuyun tidak menyukai Ridwan karena dia bukan orang kaya. Jadi jangankan membuat pesta, memberi restu saja dia seperti tidak ikhlas.
"Sedangkan pernikahan keduaku kamu tahu sendiri kan, aku hanya dinikahi secara siri sama mas Aldy..." ucap Intan sambil tersenyum miris pada dirinya sendiri.
"Ya ampun Intan... Yang sabar ya.." Tantri mengusap lengan Intan.
"Aku heran deh kenapa sampai saat ini mas Aldy belum juga menikahimu secara hukum negara. Padahal kan dia cuma butuh mendaftarkan pernikahan kamu ke KUA, apa susahnya sih..." sambung Tantri yang tidak paham apa maksud Aldy.
"Aku juga heran Tantri, aku sudah minta berkali- kali sama mas Aldy agar dia mendaftarkan penikahan ke KUA, tapi yang ada dia marah, dan akhirnya kita jadi bertengkar. Kan aku capek jadinya..." jawab Intan yang terlihat geram.
"Aneh memang suamimu.... atau jangan- jangan dia memang beneran punya istri lain di luar sana sehingga dia nggak mau menikahi kamu secara resmi..." ucap Tantri.
"Aku juga suka mikir begitu Tantri, tapi kalau aku terus bertanya dan mencurigainya, mas Aldy marah. Dia bilang aku nggak percaya sama dia..." jawab Intan.
"Oh ya ampun...." Tantri menggeleng- gelengkan kepalanya.
Intan pun menghela nafas, merasakan sesak di dadanya karena merasa tidak diinginkan oleh sang suami sehingga sampai saat ini belum juga dinikahi resmi secara hukum.
"Memangnya apa sih alasan mas Aldy belum mau menikahimu secara resmi...?'' tanya Tanti.
Intan kembali menghela nafas.
"Katanya sih, mau nikah siri atau nikah resmi, sama saja. Sama- sama sah di mata Alloh..." jawab Intan.
" Ya nggak dong Intan... Kalau nikah siri itu tidak cukup kuat. Kalau misalnya terjadi sesuatu dalam rumah tangga kamu, dan kamu merasa dirugikan, kamu nggak bisa menuntut mas Aldy secara hukum. Soalnya kan pernikahan kalian tidak tercatat di KUA..." ucap Tantri.
"Itu mah akal- akalan lelaki aja Intan. Supaya kalau dia minta cerai, nggak ribet, tinggal jatuhkan talak, sudah deh selesai nggak harus capek- capek ke pengadilan agama buat sidang cerai..." sambung Tantri.
Intan pun terdiam mendengar ucapan Tantri.
"Eh, maaf ya Intan... Aku nggak bermaksud mendoakan yang tidak baik buat rumah tangga kamu. Di luar sana banyak juga kok orang yang menikah secara siri tapi rumah tangganya tetap awet. Semoga rumah tangga kamu dan mas Aldy langgeng ya Intan..." ucap Tantri merasa tidak enak pada Intan.
"Iya Tantri, aaminnn..." jawab Intan.
Mereka berdua pun melanjutkan makannya. Dan setelah makan nasi mereka juga sama seperti tamu undangan lain mencicipi makanan ringan yang telah disediakan.
Intan... Lihat deh, itu bukannya itu kakak ipar kamu ya..." Tantri menunjuk seorang laki- laki tampan memakai baju batik warna coklat sedang duduk di antara para tamu.
Intan yang sedang makan puding pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Tantri. Dan benar saja di sana ada kakak ipar Intan yaitu Dirga yang sedang ngobrol dengan beberapa tamu undangan lain.
"Iya itu mas Dirga..." jawab Intan sambil memperhatikan mas Dirga yang jaraknya dari Intan hanya sekitar tujuh meter.
"Eh Intan, mas Dirga umurnya berapa sih...? Kok kelihatan makin ganteng aja...? Badannya juga macho...'' tanya Tantri.
"Ish kamu ini nggak boleh banget lihat yang ganteng- ganteng, pasti langsung di puji- puji..." sahut Intan yang tidak heran dengan sahabatnya itu yang gampang kagum jika lihat laki- laki tampan.
"Ya habisnya kakak ipar kamu itu macho banget. Pasti dia itu... Ah... Oh my God...." jawab Tantri terlihat gemas sambil memegang kedua pipinya, entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Hei...hei... Ingat suami lagi kerja, jangan mikir yang aneh- aneh..." Intan mencolek pipi Tantri.
"Yaelah Intan sesekali boleh lah kita cuci mata lihat yang ganteng- ganteng. Nggak ada salahnya..." ucap Tantri yang masih betah melepas pandangannya ke arah Dirga di sebrang sana.
"Eh Intan.... Dia menoleh ke arah kita... Ya ampun ganteng baget.. " sambung Tantri seperti baru pertama kali lihat pria ganteng aja.
"Tantri ih... Malu- maluin aja, nanti di dengar sama orang llho..." sahut Intan.
Sedangkan di sebrang sana Dirga nampak menatap ke arah Intan dan Tantri lalu tersenyum.
"Intan... Dia senyum.... Ya ampun manis sekali senyumannya..." ucap Tantri.
Dan Intan pun mengangguk sambil membalas senyuman Dirga. Dan Dirga pun kembali menoleh ke arah rekannya karena dia kembali diajak bicara.
"Intan... Istrinya mas Dirga mana...?" tanya Tantri.
Lalu Intan memberitahu Tantri jika istri mas Dirga yaitu mbak Inggit jarang ikut pergi dengan Dirga karena akhir- akhir ini keadaannya yang kurang sehat. Beberapa tahun belakang ini Inggit divonis menderita sakit jantung. Bahkan dia sudah pernah dioperasi pemasangan ring.
"Ya ampun kasihan, serem banget sih penyakitnya..." sahut Tantri setelah mendengar cerita Intan tentang sakit Inggit.
"Iya, dia sudah berkali- kali keluar masuk rumah sakit. Kecapekan sedikit saja langsung drop..." jawab Intan.
"Ya ampun... Trus kalau lagi begituan bagaimana Intan...?'' tanya Tantri.
"Begituan bagaimana...?'' sahut Intan menoleh ke arah sahabatnya.
"Ya kalau lagi berhubungan suami istri. Itu kan cepek, keringetan. Trus gimana tuh drop juga dong...? " bisik Tantri agar tidak kedengaran tamu lain.
"Ish kamu .... Ya mana ku tahu... Aneh- aneh aja nanyanya..." sahut Intan.
Tantri pun terkekeh.
"Tapi setahu aku ya Intan, kalau orang kena jantung itu nggak boleh melakukan hubungan badan takutnya drop karena kecapekan, nggak bakalan kuat juga. Trus gimana dong kakak ipar kamu, masa puasa terus, apa main sendiri di kamar mandi...?'' tanya Tantri yang kepo.
"Idih kamu ini, ngeres deh..." jawab Intan.
Tantri kembali terkekeh sambil membayangkan betapa kasihannya Dirga jika tidak mendapat kepuasan batin dari istrinya.
"Tapi salut sih kalau dia tetap setia sama istrinya yang sakit. Coba kalau dia nggak setia, pasti udah selingkuh..." ucap Tantri.
"Ya setia lah Tantri, mas Dirga itu orangnya baik dan juga perhatian..." sahut Intan.
"Kamu pernah diperhatikan nggak sama mas Dirga...?" tanya Tantri.
"Ih kamu ini..." Intan menyikut lengan Tantri.
Tantri pun tertawa.
Setelah puas mencicipi makanan, Intan dan Tantri pamitan pada sang punya hajat. Mereka berdua lalu menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motornya.
"Intan... Kok bisa sih mertua kamu punya anak ganteng seperti mas Dirga...? Padahal mertua kamu mukanya biasa saja...?" tanya Tantri yang masih ingin membicarakan Dirga.
"Ya manaku tahu... Mungkin ada caranya kali biar anaknya ganteng...'' jawab Intan asal saja.
"Kamu dari tadi ngomongin mas Dirga mulu, kamu naksir ya...?'' tanya Intan.
Tantri tertawa.
"Hei ingat sama mas Yogi..." ucap Intan.
"Yee emangnya nggak boleh kagum lihat orang ganteng..." sahut Tantri sambil memundurkan motornya agar menghadap jalanan.
"Kok aku kalau lihat cowok ganteng jiwa selingkuhku meronta- ronta ya..." ucap Tantri.
"Gila kamu emang..." sahut Intan. Dan keduanya pun tertawa.
"Emang gimana sih rasanya selingkuh...?'' tanya Intan.
"Tau... Aku belum pernah. Katanya sih enak..." jawab Tantri.
"Kamu nggak pengin selingkuh, Intan...? Kamu kan dianggurin mulu sama mas Aldy...'' tanya Tantri.
"Stres kamu ah..." sahut Intan. Dan lagi- lagi Tantri pun tertawa.
"Intan..." ucap Dirga.
Intan dan Tantri pun menoleh ke sumber suara. Begitu mereka melihat Dirga, entah kenapa keduanya terlihat salah tingkah. Tantri menyikut lengan Intan.
"Ma...mas Dirga..." ucap Intan. Sedangkan Tantri hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kalian mau pulang...?'' tanya Dirga.
"Iya mas..." jawab Intan.
"Ya pulang dong mas, masa iya kita mau di sini sampai besok..." sahut Tantri.
Dirga pun tertawa.
"Kamu bawa motor juga Intan...?'' tanya Dirga.
"Nggak mas, aku bonceng Tantri..." jawab Intan.
"Biar mas antar kamu pulang ya, sekalian mas ingin ketemu Arkan, sudah lama mas nggak ngobrol sama dia..." ucap Dirga.
"Ehm..." Intan lalu menoleh ke arah Tantri.
"Udah sana... Ikut mas Dirga aja, kan lumayan ditemenin cowok ganteng..." bisik Tantri.
Bersambung....