DOSENKU KILER
Nama : Darmaiyah
SINOPSIS
Aku Kayla, mahasiswa semester enam fakultas Sastra, salah satu kampus yang terkenal di ibu kota, gadis manis berwajah ayu, kulit putih bersih dan berhijab, perawakanku biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, aku tinggal dengan ayah dan adikku Dalila, kehidupan kami sangat bahagia.
Kata ayah ibu pergi dengan lelaki lain. waktu itu usiaku 2 tahun dan Dalila 2 bulan. ibu pergi membawa bang Denis yang waktu itu berusia 6 tahun, hanya itu yang aku tahu, aku tak pernah berani bertanya pada ayah, karena dia akan sangat murka apabila mendengar, aku menyebut ibu. Kemudian ayah menikah dengan tante Dania, yang kemudian ku panggil bunda, menurutku tante Dania sangat baik padaku dan Dalila
Ayahku seorang pengusaha sukses, pembisnis handal yang punya perusahaan di mana-mana, musuh bisnis ayah juga banyak. mereka bisa saja saling menindas untuk menjatuhkan satu sama lain, dengan uang, ayah bisa mengatur hidup siapa saja sesuka hati. Termasuk hidupku dan Dalila adikku.
Aku dan Dalila, dua gadis dengan karakter yang sangat berbeda, aku pekerja keras dan sangat penurut, sementara Dalila sangat manja dan pembangkang, kecantikan Dalila dua kali lipat di atas aku, Dalila sangat sempurna, dia selalu berpenampilan glamor dan hanya bergaul dengan golongan atas. Ayah sangat sayang dan bangga padanya.
Sekarang ayah dalam masalah, adikku Dalila ditipu dan terbelit hutang puluhan miliaran di meja judi. jika dalam waktu 2 x 24 jam hutang beserta bunga tidak dilunasi, maka seluruh aset dan perusahaan ayah akan disita dan diambil alih, Dalila adik terancam masuk panjara.
Untuk menyelamatkan adikku, aset dan perusahaan ayah, aku dijadikan jaminan oleh ayah (kasarnya aku dijual ayahku) dengan seorang invertor yang memiliki saham terbesar di perusahaan nomor satu di kota X.
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmaiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membohongi Kakek
Angin pagi menjemput embun, Kayla menghirup udara segar di taman belakang, sambil menatap bunga-bunga mawar yang sedang bermekaran. kupu- kupu terbang dengan riangnya, menyambut sang mentari. Berangsur embunpun menipis menghilangkan jejaknya.
Suara langkah kaki terdengar mendekat, Kayla membalik tubuhnya refleks, sosok tampan Viktor berdiri gagah di depannya. Tumben Viktor sepagi ini sudah rapi, dengan setelan kemeja biru lengan panjang dipadu celana hitam, dan dasi warna senada.
"Ganti bajumu, kita segera ke kampus." ujar Viktor memerintah.
Kayla melonjak girang begitu mendengar Viktor mengajaknya ke kampus, itu artinya dia masih boleh kuliah, dia segera berlari kecil masuk ke kamar, mengganti baju dan mengambil tasnya.
"Dasar gadis tak waras." batin Viktor ketika melihat tingkah Kayla yang kekanakan.
Kayla turun dengan setelan dres warna ungu, dengan jilbab senada. Dia sudah siap berangkat ke kampus.
"Ayuk sayang." ujar Viktor menggapit tangan Kayla, begitu melihat kakek Arman mendekat.
"Mau ke mana?."
"Ke kampus kek, hari ini jadwal aku masuk kelas Kayla, iyakan sayang?." Viktor menatap Kayla sambil mengerlingkan mata nakalnya, berharap Kayla mengiyakannya.
"I-iya, kek." ujar Kayla, sambil mengangguk, menguatkan kebohongan Viktor.
Bergegas Viktor menarik tangan Kayla, agar segera terhindar dari pertanyaan-pertanyaan kakek Arman, dia membuka pintu mobil untuk Kayla. Mereka pun meluncun meninggalkan rumah mewah itu, menuju kampus. Kampus masih terlihat sepi, karena mereka sampai masih terlalu pagi.
"Bawa buku-buku itu." perintah Viktor ke Kayla yang baru saja keluar dari mobil.
"Ini saatnya mengerjai gadia lugu ini." batin Viktor sambil menarik garis lurus dipipinya, hingga tercipta senyuman yang dipaksa.
Tanpa membantah Kayla mengangkat buku yang berjumlah 10 buah, dengan kedua tangannya. Dia berjalan pelan sambil menjaga keseimbangan, agar buku-buku yang menopang kedua tangannya tidak terjatuh dan berserakah.
"Hay, cepatan!, jalan aja kayak pengantin." teriak Viktor mengagetkan Kayla, hingga mengganggu keseimbangan tubuhnya, akibatnya semua buku yang dibawanya berserakan di lantai.
Viktor yang melihat kejadian itu, bukannya menolong, malah mentertawakannya.
"Lima menit buku-buku ini harus segera sampai keperpustakaan, kalau tidak kamu dapat hukuman." ujar Viktor terus berjalan menuju perpustakaan.
"Dasar manusia batu." batin Kayla, sambil berjongkok memunguti buku-buku itu, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menolongnya. Kayla memandang tangan itu, dan tatapannya naik keatas mengenali sosok penolongnya.
"Mas Dava!." Hati Kayla bersorak senang, ternyata yang menolongnya lelaki yang selama ini menaruh hati padanya.
"Mau dibawa ke mana buku-bukunya." ujar Dava terus menatap Kayla, gadis yang selalu dirindukannya itu, yang akhir-akhirnya tidak bisa dihubunginya.
"Ponselnya kok gak pernah aktif, kenapa?." tanya Dava sambil berjalan menuju perpustakaan, tentu dengan setumpuk buku-buku di tangannya.
"Po-ponsel aku yang lama hilang mas, jadi nomor kontak mas hilang juga." ujar Kayla berbohong, sejak dirinya dibeli Viktor, ponselnya disita sama Viktor, dia tidak boleh berhubungan dengan siapan, termasuk dengan ayahnya.
"Ponsel kamu yang baru mana, sini aku simpan nomor kontakku." Dava meminta ponsel Kayla begitu mereka sudah sampai di perpustakaan dan menyerahkan buku-buku itu kepenjaga pustaka.
"Mana ya?." Kayla merogoh tasnya dan berpura-pura mencari ponsel barunya.
"Kok gak ada?, mungkin tinggal di rumah, iya tinggal di rumah mas, tadi aku cas, lupa ngambilnya." Kayla berbohong lagi. Dava mengambil secarik kertas, menulis nomor kontaknya dan menyerahkan ke Kayla.
"Telpon aku, kalau sudah di rumah ya." pinta Dava dengan penuh harap, disambut dengan anggukan Kayla.
"Baiklah, habis perkuliahan nanti tunggu aku disini jam 10, aku kelas dulu ya."
"Ta-tapi mas." belum sempat Kayla meneruskan ucapannya, Viktor sudah berdiri di depannya dan Dava pun sudah menghilang di balik pintu perpustakaan.
Viktor menarik tangan Kayla dengan kasar, tidak diperdulikannya pandangan aneh dari beberapa mahasiswa. Dia terus menyeret Kayla kembali ke parkiran
Entah kenapa dia sangat tidak suka melihat Kayla beramah tamah dengan lelaki lain, terutama Dava, karena Viktor tahu kalau Dava asistennya itu menyukai Kayla.
Perlakuan manis Dava, mengusik sesuatu rasa di hati Viktor, dia seperti tidak rela kalau Kayla bahagia dengan lelaki lain.
"Masuk." sentak Viktor mendorong tubuh Kayla ke mobil.
"Ta-tapi pak, aku ada kelas pagi ini." Kayla menatap Viktor dengan mata berkaca-kaca.
"Mulai hari ini, tidak ada lagi kampus untukmu."
"Aku mohon pak, biarkan aku menyelesaikan kuliahku." ujar Kayla mulai terisak.
"Aku berjanji tidak akan macam-macam, aku akan turuti semua kemauan bapak, aku mohon!." ujar Kayla berderai air mata.
"Tidak!, sekali tidak, tetap tidak!." teriak Viktor penuh emosi, Viktor benci dengan air mata Kayla, entah kenapa setiap dia melihat air mata itu, hatinya terasa perih, ingin rasanya dia merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. Tapi pedulinya dikalahkan oleh egonya, sehingga dia tidak memperdulikan tangisan Kayla.
"Ingat!, ini perintah!, jangan menangis lagi." ujar Viktor menutup pintu mobil dengan kasar.
Kayla kaget, dia hanya menunduk, tanpa mau bicara apa-apa, percuma juga dia bermohon, karena Viktor tidak akan memenuhi permintaannya, pupus sudah harapan Kayla untuk menyelesaikan kuliahnya.
Sarjana sastra yang diimpikannya, kini hanya tinggal hayalan, dan menjadi igauan yang mengusik tidurnya.
"Sudahlah Kayla, terima saja takdirmu." batinnya sambil mengusap air matanya.
Pandangan Kayla nanar keluar mobil, dilihatnya Ami dan Chaca berhenti di parkiran. Dia tak akan pernah melihat teman-temannya lagi setelah ini.
"Ami!, Chaca, apa kamu merindukanku." batin Kayla, buliran air mata tiba-tiba menganak sungai dipipinya.
Mobil Viktor meluncur meninggalkan kampus, menuju jalan Akasia. Melewati jalan arah pulang.
"Mau ke mana Viktor?." tanya Kayla hanya dalam hati. Matanya menerawang memandang jalanan yang dilalui.
Mobil Viktor berhenti tepat di gedung berlantai 43 itu, Viktor berhenti di kantornya.
"Bawa tasku." Perintah Viktor sambil melempar tak kantornya ke arah Kayla. Kayla hanya diam, hatinya sakit bengat dibentak-bental Viktor.
Kayla meraih tas Viktor, dia keluar mobil mengikuti langkah Viktor, yang dengan gagahnya memasuki gedung megah itu.
"Selamat pagi pak." semua karyawan memberi hormat kepadanya. Beberapa karyawan berbisik-bisik sambil melirik Kayla yang berjalan dibelakang Viktor sambil menenteng tas Viktor.
Semua orang tahu siapa Kayla, gadis yang telah dijual ayahnya demi menebus aset-asetnya yang sudah berpindah tangan ke Viktor. Beritanya viral di mana-mana.
Seisi kantor memandang rendah Kayla, mereka berpendapat pasti Kayla sudah menjadi budak napsu tuan muda Viktor. Kayla berjalan hanya menunduk, sedikitpun dia tidak berani mengangkat wajahnya. Kalau boleh jujur dia tidak ingin berada di sini.
"Ngapain tuan membawa Kayla ke kantor." bisik Mery kepada Naila teman sekerjanya.
"Kaylanya aja yang tak tahu malu." ujar Naila sambil mencibir ke arah Kayla. Sementara Viktor pura-pura tak mendengar ocehan mereka.
lah.. kemaren" kemana aja pak
kan... situ sendiri yg ngundang ke dalem
pelakor itu ga bakalan bisa masuk kalau ga dikasih celah
lu nya aja yg celamitan matanya...
sebel ih kl liat tulang selingkuh nyalahin selingkuhan nya
sabar...sabar🤣🤣🤣
kabur 🤣
ini sekalian terima endors ya
abis...kalau nyebut merk lengkap amet🤣🤣🤣
bercandyaaa Thor jangan marah
🤣🤣
boleh dia liat ..liat aja
emang enak🤣🤣
jadi... Dalila mau ngerjain Viktor
tapi nya kayla nya mulai naksir Viktor juga
Dava juga ada rasa sama kayla tapi Ade nya yg dipanti amira juga ada rasa sama Dava?
wah...rumit ini
tapi karena tokoh utamanya Kayla Ama Viktor,kyknya ttp kan mereka yg jadian🤣🤣
anak gadis orang dibawa nginep