NovelToon NovelToon
Hutang Cinta Untuk Mr. Pilot

Hutang Cinta Untuk Mr. Pilot

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:566.9k
Nilai: 5
Nama Author: Risa Saputri

Binar Amanda, seorang gadis yang secara mendadak memiliki banyak hutang setelah sang ayahnya meninggal dunia. dengan tekad untuk menyelamatkan ayahnya dari api neraka dan menghindari dakwaan sebagai anak durhaka Binar pun bertekad untuk melunasi hutang-hutang milik almarhum ayahnya yang kemudian malah mengantarkannya pada seorang Captain Pilot bernama Angkasa Baskoro. Bisakah Binar melunasi hutang ayahnya?
lalu masa lalu seperti apa yang telah terjadi diantara keduanya yang akhirnya menuntun mereka pada sebuah takdir.

Dapatkan jawabannya di Hutang Cinta Untuk Mr.Pilot.

Mari berteman, ig : Risasaputri790

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Saputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

“Sedang apa?” Tanya Angkasa saat melihat Binar yang tengah asik dengan laptopnya

“Hanya memeriksa sedikit file dari kantor” jawab Binar tanpa menolehkan sedikitpun wajahnya dari layar laptop.

“Apa kantormu tidak tahu jika kamu masih sakit, kantor apa yang masih memberikan pekerjaan pada karyawan yang sedang cuti sakit” oceh Angkasa merasa tidak suka

“Hei Mr. Pilot, ini bukan pekerjaan berat. Lagi pula bukan kantor yang memnyuruhku mengerjaan ini tapi karena aku sendiri yang secara suka rela meminta kantor untuk mengirimkan pekerjaan yang bisa kukerjakan dari rumah”

Angkasa menatap Binar heran, “Kenapa?”

“Aku bosan, dengan pekerjaan ini bisa mengusir sedikir rasa bosanku”

Angkasa diam tampak memikirkan sesuatu,

“Kamu bosan di rumah?”

Binar memalingkan wajahnya dari layar laptop dan menatap Angkasa

“Sangat bosan” ucapnya

“Mau jalan – jalan keluar?”

Dengan cepat Binar menganggukkan kepalanya “Mauuu” ucapnya riang bak anak kecil yang diberikan coklat.

“Kalau gitu ayo kita siap – siap” lalu Angkasa menghampiri Binar yang masih duduk di kursi rodanya dan memindahkan laptop yang sedari tadi berada di pangkuannya ke atas meja, setelah itu mendorong kursi roda Binar ke kamar untuk bersiap – siap pergi.

***

“Kita kemana?” Tanya Binar penasaran saat mereka sudah di dalam mobil

“Ke tempat yang menyenangkan” jawab Angkasa ambigu

“Iya, tempat apa?” Tanya Binar lagi kerena merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Angkasa tadi.

“Kamu duduk santai saja menikmati perjalanan, nanti juga tahu akan kemana”

Binar pun memberengut saat mendapatkan jawaban dari Angkasa, dan setelah itu Binar pun diam menikmati perjalanan dengan melihat pemandangan kiri kana jalan diiringi dengan alunan lagu dari Maroon 5 yang berjudul Memories.

Everybody hurt sometimes,

Everybody hurt someday

But everything gon’ be alright

Go and raise a glass and say, aye

Binar tersenyum sembari menatap deretan pepohonan yang berada di sisi kiri jalan, Sepenggal lirik yang mengalun pada lagu itu mengingatkan Binar akan masa – masa sulit yang ia jalani selama ini. Begitu banyak cerita yang telah terlewati selama dua puluh empat tahun masa hidupnya mulai dari hari kelahirannya yang juga menjadi hari kematian ibunya, kerasnya hari- hari yang harus di jalani berdua dengan sang ayah hingga kepergian sang ayah yang membuatnya sempat terpuruk karena merasa tidak adil kepada tuhan yang harus membuatnya menjadi yatim piatu diusia yang masih muda.

Tapi semua itu sekarang bisa dilalui dan diterima oleh Binar, dan Binar merasa bangga telah melalui itu semua hingga hidupnya sudah berada ditahap saat ini. Di tahap dimana sebentar lagi dia akan menjadi seorang istri, mempunyai teman hidup yang akan membuatnya tidak merasa kesepian lagi.

“Kenapa senyum – senyum”

Suara Angkasa membuyarkan lamunan Binar yang tengah mengenang masa lalu.

“Kenapa lagi? Tadi katanya disuruh menikmati perjalanan” jawab Binar sedikit kesal karena lamunannya terganggu apalagi sekarang lagu sudah berganti dengan tajuk “Girls Like You” yang masih tetap milik

band Maroon 5.

“Lagu yang sangat tidak tepat” gerutu Binar dalam hati mengingat lagu tersebut yang dipenuhi dengan lirik  yang berisi pujian – pujian untuk seorang gadis yang dicintai.

“Ahh benar juga, memangnya dia mencitaiku?” gumam Binar lagi seolah menyadari bahwa sampai saat bahkan Binar belum mengetahui perasaan calon suaminya.

“Aku hanya bertanya tidak perlu sinis seperti itu” jawab Angkasa kemudian setelah merasa bahwa jawaban yang diberikan Binar tadi sedikit menyinggungnya.

“Sekarang lanjutkan senyummu karena kita sudah sampai”

Sontak Binar pun menatap sebuah padang rumput luas yang berada di depan dengan penuh semangat.

“Benarkah? Aku sudah tidak sabar” ucap Binar bersemangat

Angkasa keluar dari mobil lalu mengambil kursi roda yang diletakkan pada bagasi belakang setelah  itu membantu Binar untuk keluar dari mobil dan duduk di kursi rodanya.

“Woaaaa” suara kagum Binar terdengar lagi saat mereka sudah berada di tengah padang rumput itu. Binar dapat melihat sebuah danau kecil yang berada di tengah tengah padang rumput.

“Bagaimana bisa ada danau disini?” Tanya Binar keheranan

“Itu danau buatan, ayahku yang membuatnya” jawab Angkasa yang mengejutkan Binar

“Paman yang membuat danau ini?”

Dan Angkasa menjawab dengan Anggukan

“Ayo kita mendekat ke danau” Angkasa mendorong lagi kursi roda Binar agar bisa lebih dekat dengan danau.

“Indah kan?”

“Sangat” jawab Binar singkat karena tidak tahu lagi harus berkata apa. Tempat ini benar – benar indah dengan hamparan pemandangan padang rumput disertai tumbuhan dandelion yang banyak tumbuh disini, terdapat beberapa pohon besar yang dapat dijadikan tempat berteduh sembari menikmati pemandangan.

“Tempat ini sangat cocok untuk acara camping keluarga” pikir Binar

“Apa tempat ini milik ayahmu?” Tanya Binar

“Dulunya iya, tapi sekarang sudah menjadi milikku”

Binar mengerutkan dahinya,

“Betapa banyak harta milik ayahnya yang telah menjadi miliknya dan dia masih

menginginkan lebih” pikir Binar saat mengingat bahwa Angkasa yang mau

menikahinya karena ia akan mendapatkan seluruh harta yang dimiliki ayahnya.

“Aku tidak memintanya, tempat ini adalah kado ulang tahun dari ayahku saat aku umur 10 tahun” ucap Angkasa lagi seakan menjawab apayang dipikirkan oleh Binar.

Binar menggeleng – gelengkan kepalanya tidak percaya saat mendengar ucapan Angkasa. Bagaimana bisa anak umur sepuluh tahun mendapat hadiah sebidang tanah berisi danau buatan berukuran lebih dari dua hektar sedangkan dirinya yang sudah berumur dua puluh empat tahun masih harus kocar kacir untuk mendapatkan uang bahkan sampai harus menikahi orang yang baru dikenalnya untuk melunasi hutang sang ayah.

“Mumpung kita sudah disini, ayo kita melatih kakimu” ajak Angkasa lalu mengulurkan tangannya pada Binar yang langsung mendapat sambutan tangan pula dari Binar. Angkasa membantu Binar untuk berdiri dengan memegang kedua tangan milik Binar.

“Sakit?” Tanya Angkasa saat Binar sudah dapat berdiri dengan sepenuhnya

“Tidak begitu sakit”

“Kamu mau coba berdiri sendiri?” Tanya Angkasa lagi, dan Binar mengangguk. Setelah itu Angkasa mulai melepaskan genggaman tangannya dengan perlahan hingga Binar benar – benar berdiri sendiri. Binar tersenyum senang saat kedua kakinya bisa berdiri menopang tubuhnya sendiri dan mulai mengangkat kakinya secara perlahan untuk melangkah hingga belum sempat kaki kanannya menyentuh tanah tubuhnya oleh Karena belum kuat sepenuhnya dan dengan cepat Angkasa menangkap tubuh Binar yang hampir terjatuh. Angkasa merengkuh pinggang Binar untuk menyeimbangkan diri.

“Harusnya lebih berhati – hati, lain kali bilang kalo mau belajar melangkah jangan tiba –tiba seperti tadi. Bahaya, kalo jatuh”  ucap Angkasa di telinga Binar dengan nada khawatir dan deru napas tersengal – sengal. Sementara Binar hanya terkekeh kecil mendengar ocehan Angkasa, entah kenapa saat inidirinya merasa lucu dan senang secara bersamaan. Dengan posisi yang masih sama, Angkasa dengan rengkuhan tangannya di pinggang Dan Binar dengan tangannya yang berada pada dada dan bahu Angkasa yang tadi secara reflek menahan tubuhnya. Mereka Nampak berpelukan jika dilihat dari belakang, atau bisa saja disebut berpelukan jika melihat dari tangan Angkasa yang merengkuh pinggang Binar.

“Dasar keras kepala”

ucap Angkasa saat mendengarkan suara kekehan dari Binar sementara dirinya

khawatir jika Binar jatuh.

Dan Binar masih tersenyum, apalagi ketika meraskan debaran jantung Angkasa yang berdegub kencang.

“Dia berdebar keras karena berada di dekatku atau hanya karena khawatir tadi aku mau terjatuh?”

gumam Binar dalam hati penuh Tanya.

Tbc.

Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak - banyaknya ya temen - temen 💙

1
Danny Muliawati
kejujuran itu sangat penting dlm rumah tangga
Sofia Dewi
bagus ceritanya
Sofia Dewi
smangat author aku sdh tekan subribe
Sofia Dewi
hallo k author.... senang bs bc karya anda
Danny Muliawati
wah apa yg akan terjadi thor ....
ayu
keren ceritanya 😍😍
ayu
bagus binarmending kamu nikah aja sm angkasa biar gak di ganggu lg ama sepupu mu
Baihaqi Sabani
-heee...binar berhrp d cium x....😄😄😄
Siti Nurjanah
tamara apa binar nih yg menunggu Hadrian
Siti Nurjanah
tanya angkasa
Siti Nurjanah
gumam hadrian
Vivi Bidadari
Binar kamu tuh knapa juga pake peluk2 Hardian, pastinya Angkasa kesel toh..

Sebel deh lihat nya
Vivi Bidadari
Binar mestinya kamu ga usaha dekat dgn adek tiri Angkasa bisa salah paham kan ... gimana sih kamu Binar
Vivi Bidadari
Knapa Binar dipertemukan dulu dgb Pak Burhan Thour
Rahmat Wijaya
kapan up
Ely Sawaliah
akhirnya othor benar2 menghilang. meninggalkan emak2 dlm kegalauan karna diphp in.kumenangiiiiiis......😭😭😭😭😭
Siti Umroh Anwar
Thor,kapan up lagi.udah ganti tahun gk up up terus.ceritanya jadi ngambang pdhl nunggu banget cerita selanjutnya
Rahmat Wijaya
ini tamat apa gimana ya, kok gak pernah up
🥀🥀🥀🥀
visual thorrrrrr
🥀🥀🥀🥀
visual thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!