Semuanya berawal dari Wasiat yang di berikan Rima. Perempuan yang sudah ia anggap sebagai penolong hidupnya, meminta hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Bagaimana bisa Rima meminta Asyna untuk menikah dengan suaminya? Asyna memang sangat mencintai pria itu, tapi semenjak hatinya patah ia takut melangkah dalam aliran sakit itu lagi. Tapi demi apapun, Asyna akan melakukan semua permintaan perempuan itu, meskipun risikonya adalah di benci oleh laki-laki yang dicintainya, Raihan.
Akankah Asyna mampu membuat Raihan jatuh cinta dan melupakan masa lalunya bersama Rima?
Ikuti terus kisah mereka di novel ini yah. Happy Reading ☺️☺️☺️.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daundia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni
Suasana terasa sepi, hanya suara berisik dari televisi juga beberapa suara hewan yang melintas. Perempuan yang biasanya lalu lalang di depannya sedang dalam perjalanan pulang. Sebenarnya Raihan ingin menjemput perempuan itu, tapi perempuan itu menolak keras dan bilang akan pulang sendiri.
Raihan mengetukkan tangannya pada meja di depannya. Telivisi masih menyala nyaring menampilkan tayangan sinetron yang sama sekali tidak disukainya. Raihan sengaja menghidupkan televisi itu agar menghadirkan suasana ramai.
"Assalamu'alaikum...."
Suara Asyna terdengar, kemudian tak lama pintu depan terbuka. Raihan langsung berdiri dan menghampiri istrinya yang baru saja pulang.
"Wa'alaikumsalam Asy..."
Raihan mengambil alih beberapa kantong bingkisan yang di bawa oleh Asyna.
Asyna berjalan di depan Raihan. Tubuhnya sudah pegal semua. Rasanya ingin sekali tidur di kasur empuknya.
"Istirahat di kamar Asy"
Raihan melirik istrinya yang malah berbaring di sofa yang berada di depan televisi.
"Iya sebentar saja. Aku mau istirahat sejenak."
Asyna malas untuk berjalan, jadi dia merebahkan tubuhnya di sofa. Meskipun tidak melakukan hal yang berat, entah kenapa Asyna merasa lelah. Mungkin efek dari dia yang tidak pernah berolahraga.
Raihan membawa bingkisan berisi makanan ke dapur dan menyimpannya dengan rapi. Kemudian dia berbalik kembali dan mendekati Asyna yang sudah menutup matanya di atas sofa. Raihan mengelus kepala Asyna lembut seraya duduk di lantai.
Asyna bisa merasakan elusan lembut itu. Elusan itu malah membuatnya semakin terbuai dan tertidur nyenyak.
Raihan segera menggendong tubuh lelap Asyna dan menidurkannya di kamar mereka.
Raihan tersenyum kecil melihat Asyna yang tertidur dengan sangat damai. Jarang-jarang Asyna tertidur di jam 8 malam seperti saat ini.
Raihan melihat sekilas kalender di nakas dekat ranjangnya. Reuni itu, Raihan malas sekali menghadirinya tapi dia juga tidak enak pada semua teman-temannya. Sudah beberapa kali ia menolak untuk datang.
*********
Asyna mandi dengan cepat, dia tidak mau Raihan menceramahinya. Apalagi dia masih harus dandan pasti itu akan membuat pria itu lama menunggu. Dan ujung-ujungnya pasti akan mengatakan jika perempuan terlalu ribet.
Hari ini Asyna akan menemani Raihan untuk datang di acara reuni teman-temannya dulu. Asyna baru pertama kali ini mengikuti acara reuni seperti ini. Jika boleh sebenarnya Asyna tidak mau ikut, tapi berhubung statusnya sekarang adalah istrinya Raihan. Mau tidak mau dia harus tetap ikut.
"Asy...sudah belum?"
Itu adalah pertanyaan Raihan yang ke lima kalinya. Asyna mengerucutkan bibirnya sebal malas untuk menjawab. Saat ini dia sedang sibuk memoles beberapa make up ke wajahnya. Dia tidak ingin membuat Raihan malu pada penampilannya. Memang dirinya tidak cantik sama sekali tapi lumayanlah untuk di ajak bepergian. Asyna terkekeh geli atas pemikirannya. Dirinya memang terlalu percaya diri.
"Asy...."
Suara Raihan kembali bergema diiringi dengan telapak kaki yang mendekat ke arahnya.
Asyna segera menyelesaikan make up nya. Dan terakhir dia menyentuhkan lipstick berwarna ruby ke bibirnya.
Raihan berdiri di pintu sambil berdecak kagum dan kesal.
"Iya iya, aku baru saja selesai." Asyna mengambil semua alat make upnya dan memasukkan ke dalam tas khusus make up. Dia kemudian meloncat berdiri dan menyambar tas ukuran sedang untuk bepergian kali ini.
"Ayo Asy, kita bisa terlambat nanti!"
Raihan mendekat ke arah Asyna dan mengambil alih tas yang dipakai istrinya.
Asyna tersenyum, perlakuan kecil Raihan selalu membuatnya merasa dicintai. Oh ayolah wanita mana yang tidak baper jika suaminya berkelakuan manis seperti itu.
"Kenapa senyam-senyum ayo jalan."
"Iya."
Asyna mengikuti langkah Raihan dengan hati berdebar di belakangnya.
*****
Kafe
Raihan menjabat tangan teman-temannya satu persatu. Mereka sungguh sudah berubah drastis. Kebanyakan dari mereka sekarang sudah berganti status.
"Hai Rai. Gini dong dateng! Masak hingga dari dulu lo abaikan kita sih. Dasar kunyuk!" Ucap Risqon salah satu teman dekat Raihan dulu saat kuliah.
"Yah, sebenarnya gue juga gak mau dateng gegara ada lo Ris!" Raihan berkelakar.
"Oh ini istrimu?"
"Iya, ini istriku Ris namanya Asyna."
"Hai mbak Asyna, kalo semisal si kunyuk ini buat ulah tendang aja mba. Gak usah kasih jatah, hahahha!"
Risqon tertawa puas tak menghiraukan wajah Asyna yang sudah memerah bak kepiting rebus. Raihan memelototkan matanya dan menghantamkan pukulan kecil ke arah tangan sahabatnya.
"Mulut lo Ris, asli perlu disekolahin!"
"Yew, serah aing lah. Oh ya duduk sini aja. Temenin ngobrol istriku sekalian mba. Dia lagi ke toilet sekarang bentar lagi juga balik."
"Eh iya baiklah."
Raihan dan Asyna akhirnya memilih duduk semeja dengan Risqon dan istrinya.
"Btw bro, sepertinya reuni kali ini ramai banget."
"Benarkah? Aku gak tau Ris. Aku kan gak pernah ikutan!"
"Yew, lu mah. Lo tau gak gegara apa?"
Raihan menggelengkan kepalanya pertanda tak tahu.
"Sok-sokan polos lo! Yew gegera lu lah Rai!"
Asyna mendengar semua perbincangan itu dengan diam. Semua itu memang bisa ditebak sih, Raihan kan memang populer di sekolahnya. Raihan itu murid cerdas dan berprestasi apalagi wajah sangat tampan. Tak heran jika banyak perempuan menaruh hati padanya.
"Gak ngurus gue Ris!"
"Ah lo mah. Oh ya si Celine kok belum sampe sih! Gimana sih panitia kok telat yew. Gak profesional banget!"
"Celine pasti udah sampai lah Ris. Mungkin dia lagi ngurus apa gitu."
"Yew, belain aja terus tuh si Celine! Mbak Asyna ingat berhenti kasih dia jatah deh, biar kapok dia."
"Heheheh." Asyna tersenyum canggung.
"Eh mulut lo Ris, pengen gue sumpel rasanya!"
"Hahahha. Eh itu istri gue balik. Gimana Rai cantikkan?"
Asyna tersenyum lembut pada perempuan yang baru saja duduk di hadapannya.
"Namanya juga perempuan Ris!"
"Halah, jawaban opo kui!"
"Hahahhaha."
Beberapa orang sudah mulai berdatangan dan mengisi kursi kosong yang ada di kafe. Suara bising seketika memenuhi kafe tersebut Asyna merasa tidak nyaman dengan suasana ini semua. Beberapa orang bahkan melirik ke arahnya dengan begitu sering. Mereka pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya dirinya. Apa mereka cemburu gara-gara Raihan duduk bersebelahan dengannya? Atau mereka cemburu karena sudah mengetahui status Asyna dan Raihan? Asyna membuang muka dan menatap kembali perempuan di depannya yang tersenyum ramah.
"Tes-tes. Hallo semua, selamat datang di acara reuni ini."
Suara perempuan yang tak asing terdengar menyapa telinga mereka. Perempuan itu adalah Celine.
"Senang rasanya bisa mengadakan acara kecil ini. Semoga kalian bisa menikmati acara ini dengan rasa senang dan bahagia. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang sudah menyempatkan waktunya untuk datang. Sebenarnya aku malas berbicara formal dan panjang lebar hahah. Aku sudah menganggap kalian seperti keluarga keduaku. Kurasa cukup sekian pidato tak bermanfaat ini wkwkk. Sekali lagi terima kasih dan selamat menikmati acara Reuni kita!" Celine mengakhiri ucapannya dengan senyum lebar yang terpatri dalam wajah.
"Untuk menemani kalian makan, mari kita dengarkan suara merdu perempuan cantik satu ini. Kireina silakan."
Asyna melirik heran saat semua orang di sana berteriak riuh dan bertepuk tangan tak henti-henti. Asyna melirik ke sampingnya Raihan yang hanya terdiam kaku. Matanya menatap nanar pada perempuan yang sedang berjalan maju ke panggung mini itu.
"Rai, lupain semua. Lo sekarang udah punya bini! Ingat!" Ucap Risqon tiba-tiba.
"Yah, memang dia siapa? Aku sepertinya tidak mengenalnya "
Asyna terdiam kembali menatap perempuan di depan sana yang mulai menyanyikan lagu. Suaranya sangat merdu, dia adalah sosok sempurna seorang wanita. Asyna terheran kecil saat perempuan bernama Kireina itu balas menatapnya intens.
Asyna menghela nafas perlahan, "Sebenarnya siapa perempuan itu? Kenapa dia terus memperhatikanku?" ucap Asyna dalam hati.
****
TBC
JANGAN LUPA LIKE, RATE DAN VOTENYA YA. TERIMA KASIH