Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dengan dada yang bergemuruh dipenuhi kepanikan, Daniel melangkah lebar keluar dari rumah.
Daniel masuk kembali ke dalam mobilnya dan mulai melacak keberadaan Amira.
Sambil menyalakan mesin mobil yang menderu keras di keheningan malam, tangan kirinya bergerak cepat di atas kemudi, sementara tangan kanannya menempelkan ponsel di telinga.
Ia menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk melacak nomor taksi yang ditumpangi Amira dari restoran.
Sebagai seorang CEO dengan jaringan yang luas, tidak butuh waktu lama bagi tim kepercayaannya untuk menghubungi pihak manajemen restoran dan melacak rekaman CCTV di area lobi luar guna mendapatkan pelat nomor taksi tersebut.
"Cepat cari tahu ke mana taksi itu pergi! Aku mau datanya dalam sepuluh menit!" perintah Daniel dengan nada suara yang bergetar menahan amarah dan ketakutan, lalu memutus sambungan telepon.
Mobil mewah itu melesat membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang.
Di sepanjang jalan, Daniel merutuki semua kesalahan dan ketidakpekaannya yang telah membuat Amira merasa terasing dan lelah menjadi ibu pengganti bagi Felia.
Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan bagi Daniel.
Bayangan wajah Amira yang menunduk menahan tangis, kebaya tradisionalnya yang kotor disenggol Anita, hingga tatapan mata istrinya yang teramat terluka di depan toilet restoran terus berputar di benaknya bak kaset rusak.
Daniel memukul kemudi dengan frustrasi. Ia sadar, ia telah membiarkan keluarganya menginjak-injak harga diri wanita yang bahkan belum sepenuhnya pulih dari kecelakaan yang ia sebabkan.
Ia telah gagal menjadi pelindung, dan kini ia terancam kehilangan Amira untuk selamanya karena kebodohannya sendiri.
Ponsel di atas dasbor bergetar nyaring, memecah keheningan kabin mobil yang mencekam. Daniel segera menekan tombol pengeras suara.
"Halo, Bos. Kami sudah mendapatkan datanya. Taksi dengan pelat nomor tersebut baru saja menurunkan seorang penumpang wanita dengan ciri-ciri Ibu Amira di Hotel Grand Asri," lapor suara di seberang telepon.
Daniel menerima informasi dari orang kepercayaannya mengenai koordinat taksi yang menurunkan Amira di sebuah hotel kelas menengah di pinggiran kota.
Tempat itu jauh dari kemewahan, sebuah hotel sederhana yang sengaja dipilih Amira agar keberadaannya sulit terendus.
Tanpa membalas ucapan anak buahnya, Daniel langsung memutuskan sambungan telepon.
Ia menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Daniel mengendarai mobilnya di atas kecepatan rata-rata, berpacu dengan waktu dan badai batin yang menyiksanya.
Deru mesin mobil berkejaran dengan detak jantungnya yang berdegup liar dipenuhi rasa takut akan kehilangan.
Kurang dari dua puluh menit, mobil Daniel berhenti berdecit di halaman parkir hotel yang tampak sepi.
Daniel tiba di hotel, melangkah lebar memotong lobi dengan aura intimidasi yang kuat.
Di depan meja penerima tamu, ia tidak menyia-nyiakan waktu untuk berdebat.
Daniel mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, menyuap resepsionis untuk mengetahui nomor kamar Amira, dan langsung menuju Kamar 304 di lantai tiga tanpa memedulikan tatapan terkejut sang petugas.
Langkah kakinya yang berat bergema di koridor hotel yang sunyi.
Begitu sampai di depan pintu kayu bernomor 304, Daniel mengetuk pintu kamar dengan tidak sabar. Ketukannya terdengar memburu, mencerminkan kepanikan yang sudah berada di ubung-ubung kepala.
"Amira! Amira, buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam!" seru Daniel dengan suara parau.
Di dalam kamar, Amira yang berada di dalam terkejut mendengar suara bariton yang sangat ia kenali.
Jantungnya mencelos pahit. Ia mengira telah berhasil bersembunyi dari cengkeraman pria itu.
Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang tersisa, Amira melangkah tertatih mendekati pintu.
Ceklek.
Pintu terbuka seadanya. Amira akhirnya membuka pintu dengan tatapan mata yang bengkak dan dingin, sisa dari tangis histerisnya sepanjang jalan tadi.
Ia masih mengenakan kebaya tradisionalnya yang kini tampak kusut dan bernoda.
Daniel terpaku melihat kondisi istrinya. Rasa bersalah yang teramat besar membuat tenggorokannya mendadak tercekat. Namun, sebelum sepatah kata maaf pun berhasil lolos dari bibir pria itu, Amira sudah mengambil kendali udara di antara mereka.
Kalimat Pembuka yang Menusuk: Sebelum Daniel sempat meminta maaf, Amira langsung melayangkan kalimat tajam yang meremukkan seluruh pertahanan Daniel:
"Buat apa lagi kamu mencariku, Daniel? Aku ingin kita bercerai. Aku tidak bisa meneruskan drama menjadi ibu pengganti dan bayang-bayang di rumahmu lagi."
Kata "cerai" yang keluar dari bibir Amira bergetar hebat, namun terdengar begitu mutlak.
Amira menyatakan bahwa ia lelah menjadi boneka pajangan, lelah dihina oleh keluarga Daniel, dan lelah hidup di bawah bayang-bayang masa lalu.
"Aku ini manusia, Daniel! Bukan robot yang bisa kamu pasang di rumahmu hanya untuk menyenangkan anakmu dan membungkam ibu mertuamu !" seru Amira dengan suara serak.
Air mata baru mulai menggenang lagi di pelupuk matanya yang sudah membengkak.
Mendengar keputusan sepihak itu, Daniel tidak bisa lagi menahan diri.
Ia melangkah maju menembus ambang pintu, memaksa masuk ke dalam ruang hotel yang bersahaja itu dan menutup pintunya rapat-rapat.
Pertengkaran hebat di dalam kamar hotel yang sempit.
Suasana seketika memanas, dipenuhi oleh ego dan luka yang saling berbenturan.
Daniel mencoba menahan Amira dan menjelaskan bahwa tindakannya malam ini murni karena ketidakpekaan, bukan kesengajaan.
"Amira, tolong dengarkan aku dulu! Demi Tuhan, soal gaun itu, murni kebodohanku!"
Daniel mencengkeram kedua bahu Amira dengan lembut namun kuat, memaksa istrinya untuk menatap matanya yang dipenuhi rasa sesal.
"Aku tidak pernah berniat menjadikanmu bayang-bayang Selena. Aku hanya ingin kamu tampil percaya diri di depan mereka. Aku tidak berpikir panjang, Amira!"
Namun, penjelasan Daniel justru terasa seperti bensin yang menyiram kobaran api di dada Amira.
Tembok pertahanan runtuh. Amira yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit hatinya berteriak histeris, menumpahkan segala kecemburuan dan rasa rendah diri yang dipendamnya rapat-rapat sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah mewah itu.
"Bohong! Kamu bohong, Daniel!" teriak Amira histeris, menyentakkan tubuhnya untuk lepas dari cengkeraman Daniel.
Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menegang.
"Kamu hanya melihat dia saat menatapku! Kamu hanya mencintai Selena, bukan aku! Dan putrimu butuh Selena, bukan aku!!"
Suara teriakan Amira menggema, memecah kesunyian kamar hotel yang pengap.
Kalimat itu lolos bersamaan dengan seluruh rasa sesak yang selama ini mencekik ulu hatinya.
Amira merasa sekecil debu, hancur berkeping-keping di bawah kemegahan nama mendiang istri Daniel.
Detik berikutnya, air mata Amira pecah, napasnya memburu naik-turun dengan begitu hebat hingga dadanya terasa sakit.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba mendorong dada bidang Daniel untuk keluar dari kamarnya.
"Pergi kamu! Pergi! Bawa semua kemewahan dan masa lalumu pergi dari hidupku!" jerit Amira sambil terus memukul dan mendorong dada Daniel, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi kebayanya yang kotor.